Rheina berusaha untuk tidak panik. Dia mendekat ke arah pintu rumah itu. Semakin lama, semakin terdengar jelas kalau yang kini ada di luar rumahnya adalah Vano. Tapi untuk apa? Kenapa pagi-pagi begini pria itu membuat keributan di rumahnya?
Rheina sejenak berpikir. Urusannya dengan Vano sudah selesai. tak ada sedikit pun hal tertinggal. Lalu untuk apa pria itu datang?
Perlahan, Rheina membuka pintu rumahnya, didapatinya Vano yang tengah menahan amarah. Rheina bisa melihat wajah pria itu yang memerah. Sorot matanya tajam seperti hendak berburu mangsa.
Bukan. Lebih tepatnya Vano tampak seperti orang kerasukan.
PLAKK
Sebuah tamparan tiba-tiba dilayangkan oleh Vano. Wajah pria itu merah padam. Entah apa yang merasuki pria itu hingga emosinya memuncak pagi ini.
"Sekarang aku tau kenapa kamu buru-buru mengajukan gugatan cerai! Semua itu karena pria itu, 'kan?" hardik Vano.
"Kamu apa-apaan, sih!" Rheina yang tak terima, meninggikan suaranya juga.
"Jujur saja! Kamu udah gak sabar, 'kan supaya bisa bersama pria itu? Dasar murahan!" Vano kembali menghardik Rheina dan melayangkan sebuah tamparan lagi untuk Rheina. Namun, Rheina berhasil menangkis tamparan pria itu.
"Aku, murahan???! Sadar! Yang gak bener itu kamu,Van!! Sudah jelas kamu sendiri yang mengkhianati aku dan memilih wanita tak tahu diri itu!!" teriak Rheina tak kalah sengit.
Rheina pun ikut tersulut emosi. Rheina bukanlah orang yang salah dalam hal ini. Tapi Vano. Pria itu yang lebih dulu menyulut api yang membuatnya terbakar sendiri.
Vano mencengkeram wajah Rheina. Pria itu tak terima dengan perkataan Rheina yang mengatakan dirinya bukan pria baik-baik. Vano menekan kedua rahang Rheina dengan keras.
"Jaga bicara kamu! Kamu lebih tak tahu diri dibandingkan Novita!"
Rheina berusaha melepas cengkeraman dikedua pipinya.
Setelah berhasil melepaskan diri dari Vano, Rheina berangsur mundur. Ia berniat menutup kembali pintu rumahnya. Dengan sekuat tenaga, Rheina menutup pintu agar Vano tak bisa masuk dan tak bisa berlaku kasar lagi padanya.
Vano menggedor-gedor pintu lagi. Rheina bergegas menuju kamarnya, mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Revan.
Belum sempat menghubungi Revan, Vano ternyata berhasil mendobrak pintu depan dan pintu kamarnya. Pria itu menepis ponsel Rheina. Tak membiarkan Rheina mendapatkan bantuan dari orang lain. Vano sudah benar-benar hilang akal. Tanpa Vano sadari, benda pipih itu tergeletak tak jauh dari meja rias Rheina dengan posisi terhubung dalam panggilan.
Rheina yang menyadari bahwa ponselnya masih menyala dan dalam keadaan tersambung panggilannya dengan Revan, berusaha mengulur waktu agar Vano tak menyakitinya. Benar Rheina bisa bela diri, namun tetap saja ia kalah kuat jika dibandingkan dengan Vano. Rheina juga sudah lama tak melatih dirinya karena semenjak bekerja dan berumah tangga, dia menjadi sibuk mengurus pekerjaan dan keluarga kecilnya.
Baru saja Vano hendak menyakiti Rheina lagi, Rheina mendengar suara keributan yang berasal dari depan rumahnya.
Beruntung tak lama kemudian Revan datang. Pria itu melayangkan bogemannya ke arah Vano. Revan datang tak sendiri. Pria itu bersama warga membantu menyelamatkan Rheina dari Vano yang gelap mata.
Vano tidak terima jika Rheina dekat dengan pria lain. Namun ia juga tak terima jika dikata mengkhianati Rheina.
Kedua pipi Rheina memerah. Belum lagi luka lebam di bahu kanan Rheina akibat ulah Vano tadi.
Revan segera membopong Rheina yang baru saja mengalami kekerasan. Revan membawa Rheina menuju rumah sakit terdekat agar mendapat pertolongan pertama.
***
Revan duduk di kursi di samping brankar Rheina. Entah karena bius lokal atau apa, Rheina masih belum membuka matanya. Revan masih setia memandang wanita itu. Keinginan untuk melindungi Rheina semakin besar. Pria itu tak ingin kejadian serupa terulang kembali.
Revan sadar diri, dia masih bukan siapa-siapa Rheina. Satu-satunya cara yang dapat ia pikirkan hanya menyewa bodyguard untuk menjamin keselamatan Rheina.
Pria itu yakin, setelah ini, pasti Vano akan berusaha menyakiti Rheina lagi. Pria itu terobsesi dengan Rheina, namun dia tak ingin melepas Novita.
Selang beberapa menit kemudian, mata Rheina tampak bergerak-gerak. Rheina membuka matanya. Pusing masih ia rasakan. Badannya juga masih terasa linu.
"Syukurlah kamu sudah sadar, Re," ucap Revan di sebelah brankarnya.
"Emang berapa lama aku terlelap?" tanya Rheina memijat ringan pangkal hidungnya.
"Sekitar satu jam, Re. Aku udah minta izin ke Mbak Ella supaya kamu diberi izin cuti," ucap Revan menjelaskan.
Rheina hanya mengangguk. Dia tak ingin membantah karena dia sendiri masih merasakan ngilu di sekujur tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, perawat memasuki kamar Rheina. Perawat itu membawakan ransum makanan dan juga obat untuk Rheina minum.
"Syukurlah Ibu Rheina sudah bangun. Nanti siang mungkin dokter jaga akan mengecek kondisi ibu kembali. Ibu bisa makan dan minum obat dulu. Lekas sembuh ya, Bu," ucap Perawat itu ramah.
Di lain tempat, Mama Revan mendengar kabar kalau Revan ada di rumah sakit. Hal itu membuat sang Mama panik. Wanita paruh baya itu bergegas untuk pergi ke rumah sakit di mana sang anak berada.
Sesampainya di rumah sakit, Mamanya Revan bergegas menuju meja resepsionis menanyakan lokasi kamar di mana Revan berada.
"Tak ada pasien yang bernama Tuan Revan, Bu," ucap sang resepsionis.
"Coba di cek sekali lagi, Sus," pinta Mama Revan.
"Kalau pasien yang bernama Revan tak ada, Bu. Yang ada wali pasien yang bernama Bapak Revan Adipraja, ada," ucap Resepsionis itu lagi.
Mendengar nama anaknya disebutkan, Mamanya Revan gegas menanyakan identitas pasien yang kini dijaga oleh Revan.
"Ibu Rheina Nabila, di kamar VVIP 3, tadi pagi masuk rumah sakit ini karena mengalami penganiayaan, Bu-"
Belum sempat sang Resepsionis menyebutkan detailnya, mamanya Revan sudah beranjak menuju ruang yang tadi diinformasikan.
Saat tiba di depan pintu yang dituju, mamanya Revan berdoa agar semuanya tak seperti pikiran buruknya.
Ceklekk!
Pintu terbuka. Di sana Wanita paruh baya itu menangkap dua orang yang sedang berpelukan.
Ya, siapa lagi kalau bukan Rheina dan Revan. Meski pelukan mereka tampak biasa, tidak dengan mamanya Revan yang melihat kejadian itu sebagai hal yang luar biasa.
Wanita paruh baya itu tersenyum. Melihat tingkah putranya yang begitu menyayangi dan menjaga Rheina, membuat hatinya tersentuh dan juga bahagia. Rasa cemas dan panik saat mendengar bahwa Revan ada di rumah sakit, kini terbayarkan dengan bisa melihat putranya itu dekat dengan seorang wanita.
Wanita itu memasuki ruangan Rheina tanpa suara. ia tak ingin membuat Revan menyadari kehadirannya. Ia memilih memberi kejutan kepada anaknya yang tampaknya sedang dimabuk cinta. Hingga akhirnya ia berhasil mendekat ke arah dua orang yang berpelukan itu.
"Ekhemm..."