Chapt 2. Adyrta

2944 Words
---**--- Mansion Abraham Althaf, New York, USA., Kamar Dyrta., Malam menjelang pagi hari., Sebuah kamar beraroma maskulin, bernuansa gelap. Dengan warna dinding dan furniture yang serba hitam dan abu-abu, membuat kamar itu sangat cocok mendapat julukan kamar seorang Bandit.             Desain kamar yang terlihat menegangkan, mampu menciptakan suasana mencekam. Membuat siapapun yang masuk ke dalamnya dapat merasakan kalau sang pemilik kamar pasti penyuka tantangan dan memiliki adrenalin yang tinggi.             Di sudut ruangan tertentu, terdapat sebuah lorong kecil. Lorong penghubung kamar utama dengan ruang kerja pemilik kamar bernuansa hitam itu.             Seorang pria tengah duduk di kursi kayunya. Pandangannya tertuju pada jendela kaca anti peluru yang memampangkan luasnya halaman mansion mereka, hingga mampu dibentangkan bandara luas disana. Serta beberapa pesawat jet dan helikopter pribadi bertengger disana.             Mata tajamnya menyiratkan suatu kalimat licik untuk dia goreskan pada lembaran-lembaran putih yang tengah dia siapkan. Seakan mampu untuk bernegosiasi dengan kalimat licik yang ada di kepala seksinya saat ini, dia berjanji akan melakukan apa yang dia inginkan demi melancarkan rencananya atas rahasia yang telah terbongkar karena ulah dia.             Dia yang saat ini sudah menjadi buah manis dalam kalimat liciknya. Dia yang indah dan cantik dimatanya, namun menjadi perisai penghancur segala rencana manisnya dalam bisnis liar dan illegalnya.             Dia yang dimaksud, akan segera dia habiskan dengan kalimat licik yang sudah tersusun matang dan segera dijalankan oleh orang-orang suruhannya. Tring… Tring… Tring… Tring…             Tiba-tiba ponselnya berdering.             Pria itu langsung mengangkatnya. “Katakan.” Ucap pria itu dengan suara seksinya, menunjukkan bahwa dia sangat pantas mendapat julukan Master Bandit.             Tangan kirinya memegang ponsel dan masih mendekatkannya pada telinga kirinya. Mendengarkannya dengan baik, kalimat yang dilontarkan oleh lawan bicaranya dalam teleponnya saat ini.             Seseorang yang berada di seberang sana, langsung menjawab pertanyaannya. “…” “Lalu ?” Dyrta mulai menerbitkan senyuman iblisnya. Persis seperti Daddy nya, Azzura Abraham Althaf. “…” “Bagus. Berikan padaku, besok pagi.” “…” Tutt.. Tutt.. Tutt..             Dyrta mematikan ponselnya secara sepihak. Dan itu sudah menjadi hal biasanya untuk seorang Dyrga.             Pria yang hanya mengenakan singlet hitam dan tato yang melingkar di tangan kanannya itu, semakin melebarkan senyuman sinisnya. Seakan apa yang dia harapkan, akan membuatnya puas. “Kau berusaha untuk menghancurkan segala rencanaku, Sweety.” Gumam Dyrta menekuk lengan kirinya.             Dia mulai menggertakan rahangnya, sambil menggoyangkan bangkunya ke depan dan ke belakang. Telapak kakinya mulai menepak ke lantai, bagaikan sedang menghitung mundur nomor sebelum memulai pertandingan. “Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa.” Gumamnya pelan kembali, tersenyum sinis.             Dia mengusap wajahnya dengan tangan kanannya sembari beranjak dari duduknya. Dia menghela panjang nafasnya. “Ketika kau masuk ke dalam duniaku…” “Maka kau tidak akan pernah bisa keluar dengan mudah, kecuali…”             Dyrta lalu berjalan menuju kamar utamanya. Dan mendaratkan bokongnya di sofa empuk disana. “Kecuali aku yang mencampakkanmu…” “Setelah aku mencicipimu.”             Dyrta lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa empuk itu, lalu memejamkan kedua matanya. Tiba-tiba suara ponsel yang ada di tangannya berdering. Mr. Tsundere is calling…             Dyrta melihat siapa yang memanggil. Melihat nama itu, membuatnya mendengus kasar. “Hahhh!” Dyrta langsung menjawabnya. “Hmmm.” Sapanya dengan suara malas. “…” “Ya, aku segera turun.” Tutt.. Tutt.. Tutt..             Sambungan telepon terputus mendadak, bahkan sebelum dia memutuskannya. “Apa-apaan dia! Aku kalah cepat!” Ucap Dyrta mendengus kasar, sambil beranjak dari duduknya.             Yah! Yang memanggil dia melalui telepon adalah Dyrga. Abang tertua yang merupakan kembarannya, Adyrga Abraham Althaf.             Dyrta merasa kalah cepat karena sambungan teleponnya diputus oleh Dyrga. Seharusnya dia yang bersikap seperti itu. Tetapi jika berhadapan dengan abangnya, selalu saja Dyrta yang mendapat kekalahan.             Dyrta menyimpan nomor ponselnya dengan tulisan Mr. Tsundere. Karena baginya, abangnya itu adalah seorang pria dingin dan sama sekali tidak peka dengan keadaan. Bahkan tidak pandai untuk menunjukkan perhatiannya kepada seorang wanita, dalam bentuk romantis.             Itulah sebabnya, Dyrta menganggap abangnya sebagai seorang Tsundere yang jomblo. Tidak seperti dirinya yang selalu dikelilingi oleh para wanita cantik dan seksi.             Sungguh Dyrta adalah jiplakan dari Daddy nya, Zu. Dan Dyrga, kemungkinan dia menjiplak sifat dari Mommy nya, Anta.             Dyrta lalu meletakkan ponselnya diatas nakas, dan segera berjalan menuju lift yang ada di kamarnya. Untuk segera menyusul yang lainnya, yang mungkin sudah berada di meja makan saat ini. ..**..             Adyrta Abraham Althaf, seorang pria berusia 27 tahun. Saudara kembar sekaligus adik kandung dari Adyrga Abraham Althaf.             Sifatnya yang berbalik dengan Dyrga, membuat kedua orang tua mereka sedikit keras dalam mendidik Dyrta sejak kecil. Karena Dyrta lebih mengakses sifat dominan Daddy nya, Zu. Keras kepala dan tidak mau diatur.             Pria dengan tinggi badan 1.77 meter ini memiliki pesona tersendiri bagi para wanita yang menatapnya buas. Sifatnya yang lembut dan sangat perhatian kepada wanita manapun, membuat Dyrta selalu mendapat julukan playboy sejak dia duduk di Sekolah Menengah Pertama, saat dia menempuh pendidikannya di Indonesia.             Apalagi saat dia sudah dewasa seperti ini, bahkan dia mendapatkan julukan yang lebih kejam lagi dari para pebisnis kelas menengah ke atas. Terutama dalam bisnis illegalnya.             Mengingat Dyrta bukan tipe yang suka berbasa-basi dan mengulur waktu, membuat dirinya disebut sebagai Master Bandit. Bukan julukan sembarangan, tetapi julukan itu sangat pantas untuk seorang pria yang mampu menguasai bisnis gelap dan penakluk hati wanita itu.             Jabatannya sebagai CEO di Althafiance Corporation sekaligus Presiden Direktur di Althafa Sport Car, membuat Dyrta semakin digandrungi oleh para wanita pengincar harta, tahta, dan jabatan. Dan Dyrta memanfaatkan itu sebagai kesenangan pribadinya, melepas penat dalam kesehariannya. Tidak hanya itu, seorang Dyrta memang benar memiliki bisnis illegal. Sungguh, bukan Dyrta tidak mampu mendapatkan pundi-pundi uang. Tetapi bisnis itu merupakan hobinya. Dari hobinya itu lah sehingga dia disebut sebagai Master Bandit oleh para ajudannya. Atau para pengusaha yang juga memiliki bisnis illegal seperti dirinya.             Dyrta sungguh berbeda dengan Dyrga yang menjalani bisnis secara transparan tanpa harus menciptakan persoalan berbahaya ke depannya. Dari semua bisnis yang dia miliki, baik illegal maupun legal membuat Dyrta selalu mandi uang setiap harinya.             Setiap detiknya, uang selalu mengalir di perusahaannya. Dan itu menambah nilai plus tersendiri bagi seorang Adyrta Abraham Althaf. Seorang Master Bandit, pemilik Althafa Sport Car dan CEO Althafiance Corporation.             Hidupnya yang penuh dengan harta dan tahta, membuat Dyrta sangat dihormati bahkan mampu berteman dengan preman nomor 1 di USA. Itu dia lakukan juga demi keamanan bisnis keluarganya.             Apalagi dia juga ikut meneruskan bisnis Althafiance yang bergerak dalam bidang persenjataan. Dan itu membuat Dyrta harus memiliki banyak relasi, agar bisnis persenjataannya itu terus berkembang pesat selain Negara yang membutuhkannya.             Bisnis illegal yang dia jalani, membuat Dyrta harus ekstra hati-hati dalam bertindak agar bisa mengelabui polisi jika mereka mengusut kasus-kasus kejadian tentang maraknya peredaran barang haram di USA.             Sudah hampir 7 tahun Dyrta menjalankannya bersama dengan beberapa pengusaha lainnya. Juga para ajudan yang selalu setia menemani dirinya kemana pun dia pergi.             Saat kejadian yang tidak dia inginkan itu terjadi, membuat semua rencana yang sudah dia susun dengan matang dan diyakinkan tidak akan diketahui oleh pihak kepolisian, akhirnya hancur berantakan. Akibat ulah seorang wanita yang saat itu mengetahui jejak salah satu ajudannya.             Akibat ulah wanita itu, Dyrta harus mengalami kerugian besar hingga mencapai 2 juta dollar Amerika Serikat. Sebenarnya, untuk ukuran seorang Adyrta Abraham Althaf. Kerugian 2 juta dollar Amerika Serikat bukanlah hal penting baginya.             Tetapi misi yang dia jalankan hancur berantakan, itu adalah fokus utamanya. Setelah dia tahu, bahwa misinya hancur berantakan hanya karena seorang wanita, Dyrta semakin menggeram dan menghabisi semua anak buahnya pada saat itu juga.             Tidak mau berlama-lama dalam keterpurukannya, Dyrta langsung menyuruh mereka untuk mencari tahu siapa wanita itu. Dan bagaimana bisa dia mengetahui misi gelap yang selama bertahun-tahun ini sukses dia sembunyikan dari penciuman pihak kepolisian USA.             Setelah dia tahu, bahwa wanita itu adalah seorang dokter umum yang bekerja di salah satu Rumah Sakit ternama di New York dan salah satu mahasiswa kedokteran spesialis anak di salah satu Universitas ternama di New York. Informasi itu membuat Dyrta akhirnya tersenyum bahagia.             Selayaknya terobati, dia sudah menyiapkan rencana matang untuk memberi pelajaran kepada wanita itu. Wanita yang sudah menghancurkan bisnisnya, sampai hal itu membuat namanya menjadi taruhannya.             Sejak rencana itu dibuat dan mulai dia lakukan satu persatu, sejak saat itulah hidup barunya dimulai. Hidup baru yang membawanya pada suatu kisah yang tidak akan pernah dia sangka sebelumnya. *** Dapur.,             Anta sudah selesai menghidangkan makanan sederhananya di meja makan bundar kecil yang hanya cukup untuk mereka berempat saja.             Dia tahu, tiga pria yang sangat dia sayangi itu menyukai menu Indonesia dari pada menu ala New York. Itu lah sebabnya Anta semakin rajin di dapur untuk berkreatifitas mengolah makanan agar tiga pria itu semakin betah di mansion ini. Dan tidak berpaling pada masakan chef lain.             Pandangannya tertuju pada sebuah meja makan yang sudah penuh dengan lauk pauk kesukaan tiga pria dewasa itu. Telur dadar favorit Dyrta, Arsik ikan mas favorit suaminya, Zu. Dan sayur capcai kesukaan Dyrga. Semua menu makanan itu sangat sederhana sekali, tetapi sangat disukai oleh ketiga pria yang sangat dia sayangi itu.             Dia kembali mengingat saat dulu kedua putranya masih kecil dan beberapa anggota keluarganya yang lain masih hidup. Dia merasa hidupnya sangat sempurna.             Ketika bulan Ramadhan tiba, semua keluarga Abraham Althaf dan juga Fakra, Asyafa, dan Zizil. Mereka semua pasti berkunjung ke Indonesia untuk merayakan puasa pertama di Indonesia, di mansion Zu dan Anta yang terletak di Perumahan Cemara Hijau, Medan, Indonesia.             Mereka merasa sangat lengkap saat itu. Bercanda sambil menikmati makanan di ruangan televisi sambil menggelar karpet berbulu. Makanan tersedia diatasnya.             Tanpa makan diruangan makan pun, saat itu mereka sudah sangat bahagia. Kedua putranya yang masih kecil, serta Zizil yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Sungguh, saat itu sangat dia rindukan saat ini.             Itulah sebabnya, Anta mengganti meja makan di mansion mereka dengan meja makan bundar sederhana untuk menghalau pikirannya dengan kenangan-kenangan dulu. Kenangan saat dia masih berkumpul bersama dengan keluarga lengkap Abraham Althaf dan Nawwar Rizky.             Mengingat kenangan manis di keluarga besarnya, membuat Anta tidak sadar dan meneteskan air mata di wajahnya yang masih cantik alami itu.             Tiba-tiba sebuah tangan kekar yang sudah terlihat mengeriput menghapus air mata di kedua pipinya. “Honey.” Sapa pria itu bersuara lembut, menangkup wajah istri yang sangat dia cintai itu.             Anta seketika tersenyum lembut membalas senyuman manis suaminya, Zu. Yah! Pria itu adalah Azzura Abraham Althaf. Pria yang akrab disapa Zu, yang sudah menemani hidupnya selama ini, hingga mereka sama-sama sudah berusia senja. “Hey, kenapa menangis hmm ?” Tanya Zu seraya tidak tahu apa-apa.             Zu sendiri tahu penyebab istrinya menangis saat ini. Istrinya pasti lagi-lagi mengingat kenangan manis mereka bersama Grandpa dan Grandma mereka, juga Kakek dan Nenek mereka.             Tidak hanya saat Ramadhan, sahur atau berbuka puasa. Tetapi saat istrinya sedang berada di dapur dan berhadapan dengan meja makan, bisa dipastikan istrinya pasti akan meneteskan air matanya.             Mendengar pertanyaan suaminya, membuat Anta menggelengkan pelan kepalanya sambil tersenyum. “Tidak ada Mas. Anak-anak kok belum pada turun ya ?” Tanya Anta memakai bahasa khas Medannya.             Zu tertawa pelan mendengar istrinya berbicara dengan bahasa Medan.             Beginilah sekarang. Sejak mereka bertiga tahu kalau Nyonya Besar di rumah ini selalu menangis mengingat kenangan lama. Akhirnya mereka memutuskan kalau sedang berada di rumah, mereka wajib berbahasa Indonesia untuk mengobati rasa rindu si Nyonya Abraham Althaf terhadap Indonesia, Negara kelahirannya.             Anta mengalihkan perasaannya sendiri dengan menanyakan keberadaan kedua putra mereka yang belum sampai di meja makan. Karena dia sadar, bahwa kenangan tetap lah kenangan. Dia hanya bisa mengenang atau mengunjungi makam dari keluarganya yang sudah meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.             Zu tersenyum dan mengerti dengan kebiasaan istrinya yang sudah sangat dia pahami ini. Dia mengangguk iya. “Iya Honey. Sebentar lagi mereka pasti datang.” Jawab Zu lalu mengecup singkat puncak kepala istrinya.             Anta tersenyum tulus. Tetapi masih tampak kesedihan di wajahnya.             Melihat itu, Zu kembali memasang wajah datarnya. “Honey, jika kau rindu. Kita akan ke Indonesia atau ke Dubai setelah sahur nanti, hmm ?” Tanya Zu menawarkan pada istrinya.             Dia yakin, istrinya pasti rindu dengan orang tuanya yang ada di Dubai saat ini. Zharif dan Syarifah. Juga orang tuanya yang ada di Indonesia, Arsyad dan Ghaniah.   Mendengar pertanyaan suaminya, membuat Anta kembali dirundung rasa sedih. Dia kembali meneteskan air matanya. “Honey…” Ucap Zu lalu memeluk erat istrinya dan mengelus punggungnya dengan lembut.             Tiba-tiba seorang pria membuka suaranya. “Daddy apakan Mommy kami ?” Ucap pria itu seraya bertanya dengan suara datarnya persis seperti Daddy nya, Zu. Dia melangkah berjalan mendekati mereka berdua.             Mendengar suara dari salah satu putra mereka membuat Zu melepas pelukan mereka. Zu hanya diam dengan wajah senyum-senyumnya. Dia tahu kalau putranya pasti mencoba untuk menghibur Mommy mereka.             Pria itu, Dyrga mendekati Mommy nya lalu memeluknya lembut sambil mengecup singkat puncak kepala Mommy nya, Anta. “Mommy, kalau Daddy berani macam-macam bilang padaku ya. Biar aku yang membereskannya.” Ucap Dyrga dengan senyuman tampannya dan direspon sentilan kecil oleh Daddy nya, Zu. “Kalau bicara yang benar.” Ucap Zu menyentil telinga putra pertamanya itu. Dia lalu berjalan mendekati meja makan dan mengambul segelas air minum disana.             Melihat tingkah suami dan putranya membuat Anta senyum-senyum sendiri. “Nah gitu dong Mom. Kan cantik kalau senyum begini. Biar makin muda dan….” Ucap Dygra dan disela cepat oleh seorang pria yang berjalan ke arah mereka. “Seksi.” Ucap pria itu singkat, lalu menggeser tubuh Dyrga. Dan memeluk lembut Mommy mereka.             Yah! Dyrta, pria itu selalu saja membuat ulah nakalnya. Mempermainkan kata-kata vulgar untuk menambah kelucuan di keluarga mereka.             Dyrta melakukan itu bukan tanpa alasan. Dia melakukannya demi membuat tersenyum Mommy nya agar terlepas dari rasa kesedihan.             Dia tidak peduli, apakah sikapnya itu sopan atau tidak. Baginya kebahagiaan dan senyuman Mommy nya adalah yang utama untuknya.             Mendengar ucapan putra keduanya, membuat Zu melirik tajam ke arahnya.             Dyrta yang mengerti hanya mengedipkan satu mata genitnya pada Daddy nya.             Dyrga yang mendengar dan melihat itu hanya menggelengkan pelan kepalanya.             Zu berjalan mendekati istrinya, dan menyodorkan segelas air putih kepadanya.             Dyrta mengambil gelas itu. “Mommy, ayo minum dulu.” Ucap Dyrta lalu menyodorkan gelas itu ke mulut Mommy mereka, Anta. “Ayo, kita duduk.” Ucap Zu menyuruh mereka semua.             Dyrga membuka suaranya. “Ayo kita duduk, Mom.” Ucapnya masih berdiri menunggu Mommy nya duduk.             Dyrta lalu mengarahkan Mommy mereka pada kursi makan.             Dyrga menarik kursi itu.             Dyrta kembali membuka suaranya. “Silahkan duduk, My Queen.” Ucap Dyrta mengedipkan satu mata genitnya pada Mommy nya, dan direspon pukulan pelan di lengan kekarnya yang bertato itu. “Dasar genit!” Ucap Anta sambil tertawa kekeh.             Semua terkekeh pelan melihat wanita yang sangat mereka sayangi kembali tersenyum dan malu-malu.             Anta terdiam sebentar, lalu membuka suaranya kembali. “Apa kalian sayang sama Mommy ?” Tanya Anta dengan wajah sendunya.             Mendengar itu, Zu hanya diam.             Dyrga juga diam, tetapi Dyrta langsung memeluk Mommy mereka. “Hey, Mom. Kenapa bertanya seakan-akan kami tidak menyayangi Mommy ?” Tanyanya.             Anta hanya diam mendengar ucapan putra keduanya itu. “Mommy, kami sangat menyayangi mu. As always. Jadi, jangan tanyakan itu lagi, Oke.” Ucap Dyrta masih memeluk Mommy nya.             Sungguh bagi seorang Dyrta, Mommy nya adalah segalanya. Dia tidak suka dengan pertanyaan Mommy nya barusan. “Berjanjilah. Jangan tinggalkan Mommy sendirian.” Ucapnya mengelus pelan lengan kekar putra keduanya.             Zu dan Dyrta saling melirik satu sama lain.             Melihat itu, Dyrga sigap mengambil keputusan untuk mengakhiri drama Mommy mereka. “Ayo, waktu sahur kita hampir habis. Makanan ini sudah memanggil ku sedari tadi.” Ucapnya dengan wajah sumringah.             Akhirnya mereka memutuskan drama pagi mereka.             Dyrta duduk di kursinya.             Sebelum mereka memulai acara sahur mereka, Dyrga yang sadar lalu berjalan menuju Mommy nya. Anta yang mengerti, dia mengecup kening putra pertamanya itu.             Begitu juga Dyrta yang duduknya di sebelahnya. Dia menyodorkan keningnya.             Terakhir Zu, dia tidak hanya dicium pada bagian kening. Tetapi Anta juga mengecup bibirnya lama. Dan melumatnya singkat. “Mom, cukup!” Ucap Dyrta berwajah kesal sambil menaikkan satu alisnya ke atas. “Sahur, Mom.” Ucap Dyrga menyambung kalimat Dyrta.             Zu dan Anta terkekeh melihat respon kedua putra mereka. “Kalian mau yang seperti ini ?” Tanya Zu seraya memancing kedua putra mereka.             Zu sengaja memancing, agar kedua putranya mau memikirkan untuk segera memiliki pendamping hidup.             Karena Zu sudah merasakannya sekarang. Mereka sangat kesepian dan butuh seorang cucu untuk menemani hari-hari mereka di mansion.             Mendengar ucapan Daddy mereka, mereka hanya diam dan tidak merespon sedikit pun.             Melihat kedua putranya diam, Anta paham mereka tidak mau membalas karena tidak mau ketahuan bisikan hati mereka di hadapan suaminya, Zu. “Oke. Sudah, Mommy yang akan memimpin doa.” Ucap Anta seraya memutuskan.             Mereka menikmati sahur mereka seperti biasa. Hanya berempat saja, di mansion yang sangat luas dan besar ini. ..**..             Begitu lah suasana sahur mereka ketika Ramadhan tiba. Biasanya mereka akan berlibur ke Indonesia selama satu minggu. Kemudian lanjut lagi berlibur ke Dubai.             Tetapi untuk tahun ini, mereka tidak bisa berlibur saat Ramadhan tiba. Mengingat jadwal pekerjaan yang padat serta bisnis yang mulai maju hingga ke tingkat Internasional.             Kesibukan yang terus merambah membuat Dyrga dan Dyrta tidak bisa untuk memenuhi keinginan Mommy mereka tahun ini. Untuk bisa berlibur ke Indonesia dan Dubai. ---**--- 1 Bulan kemudian., Mansion Abraham Althaf, New York, USA., Taman Belakang Mansion., Pagi hari., Terdapat dua mobil sport dengan logo perusahaan mereka, Althafa. Merk mobil sport yang merupakan anak perusahaan yang berada dibawah naungan Althafiance Corporation. Mobil berbeda warna itu berbaris berdampingan di halaman belakang mansion. Menunggu sang pemilik memakai, mengendarainya.             Pria berpakaian serba hitam. Dengan jas hitam melekat menutupi tubuh seksinya, pria itu berjalan menuju belakang mansion.             Pandangannya tertuju pada satu pria dan satu wanita yang sangat dia cintai itu. Pria itu lalu membuka suaranya. “Giliran aku yang memeluk Mommy.”             Ucapnya menggeser pelan tubuh pria berkaos biru dongker itu. “Mom, aku izin pergi karena ada urusan selama beberapa hari di luar kota.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD