Bab 5 – Hanya Dua Orang Asing

1676 Words
“Keevan.” Arletta bergumam lirih memanggil nama yang sudah lama tak pernah keluar dari mulutnya. Dia kembali dipertemukan dengan sosok pria yang telah berhasil menorehkan luka begitu dalam padanya. Mata Arletta berembun bahkan nyaris mengeluarkan air mata. Arletta menggelengkan kepalanya tegas. Dia tidak menyangka CEO dari perusahaan barunya bekerja adalah pria yang telah menghancurkan hidupnya. Sungguh, andai saja Arletta tahu Mahardika Company adalah milik Keevan maka Arletta tak akan mungkin bekerja di perusahaan ini. Arletta ingin berlari meninggalkan ruang meeting. Menjauh agar tak lagi bertemu dengan pria itu. Tapi bayangan Arletta terlintas tentang Keanu—putranya itu membutuhkan banyak biaya. Ya, Arletta tak bisa beranjak pergi karena putranya membutuhkan banyak biaya. Keevan terdiam kala melihat Arletta di hadapannya. Aura wajahnya begitu dingin tanpa ekspresi. Sorot mata tegasnya menangkap gerak gerik Arletta yang menunjukan kegelisahan. Dalam diam, Keevan sedikit terkejut melihat Arletta ada di hadapannya. Sosok gadis polos yang dia kenal dulu kala dirinya masih berkuliah tak lagi terlihat. Di hadapan Keevan saat ini adalah sosok wanita dengan penampilan rapi. Paras Arletta berubah lebih dewasa dan sangat cantik. Kulit wajahnya terawat. Putih dan mulus. Tubuh tinggi semampai. Meski tatapan Arletta menunjukan pancaran kegelisahan tetapi sorot mata Arletta menunjukan ketegasan. Tak ada lagi sorot mata lemah lembut dan polos seperti yang Keevan lihat lima tahun lalu. Ya, Keevan dan Arletta masih saling bertatapan. Seperti tidak ada orang yang ada di ruang meeting itu. Tatapan yang seperti menunjukan penuh arti dan maksud. Tatapan itu pun telah berhasil membuat Arletta merasakan dunianya luluh lantah. Seperti bumi yang berhenti pada porosnya. “Tuan Keevan … wanita yang diujung sana adalah Nona Arletta. Beliau arsitek baru di Mahardika Company,” ujar Angga dengan begitu sopan. Keevan kembali terdiam kala Angga memperkenalkan Arletta—yang ternyata adalah arsitek baru yang dimaksud oleh Angga. “Kita mulai meeting sekarang.” Keevan bersikap acuh mengabaikan Arletta. Pria itu duduk di kursi kebesarannya. Pun semua karyawan yang tadi bangkit berdiri kembali duduk di tempat mereka masing-masing. “Arletta … kamu mengenal Tuan Keevan?” bisik Rima pelan kala mendapati Arletta yang masih terus menatap Keevan. Arletta segera mengalihkan pandangannya kala mendengar ucapan Rima. Wanita itu menyadari kalau dirinya telah melampui batas. Batas yang sangat berbahaya. Detik selanjutnya, Arletta mengangkat dagunya. Memasang wajah dingin seakan tak mengenal siapa pun di ruangan ini. Walau tak dipungkiri hatinya hancur berkeping-keping tapi Arletta akan siap memakai topeng. Topeng yang menutupi kehancuran di hatinya. “Tuan Keevan, kita memiliki project pembangunan sebuah perusahaan di wilayah Jakarta Selatan. Design yang mereka minta harus dua konsep. Bernuansa Italia dan bercampur dengan nuansa Indonesia. Lalu kita juga memiliki project pembangunan perumahan di Kawasan Tangerang dan Karawaci. Mereka meminta design kotemporer, Tuan.” Salah satu manager yang ada di ruang meeting itu berujar memberikan laporan pada Keevan. Keevan tak langsung menjawab. Pria itu mengambil dokumen yang ada di hadapannya, membaca seksama isi dari dokumen itu. “Apa dari kalian memiliki ide dari project ini?” tanyanya dingin dan datar. “Tuan … kita bisa menonjolkan kesan dari design Italia. Nantinya perusahan tersebut akan terlihat berkelas. Sedangkan nuansa Indonesia hanya sebagai pemanis. Dan untuk pembangunan perumahan kita bisa membuat dengan kontemporer sedikit pemanis dengan gaya klasik agar lebih hidup,” ujar Merla—salah satu senior arsitek yang ada di ruang meeting itu. “Idemu untuk project pembangunan perumahan cukup bagus. Tapi aku tidak setuju idemu yang ingin menonjolkan design Italia dan menjadikan nuansa Indonesia hanya sebagai pemanis. Itu  bukanlah pilihan yang tepat. Dua design itu harus sama-sama kuat. Lalu kita kombinasikan menjadi satu,” sambung Keevan menegaskan. Mahardika Company adalah perusahaan arsitek yang belakangan ini menjadi sorotan karena perkembangannya begitu pesat. Dan selama ini Keevan juga telah menjalin kerja sama dengan beberapa design interior pilihanya. Pun Keevan selalu ingin memberikan yang terbaik untuk para client-nya. Jika client memintanya merancang sekaligus menata ruangan maka Keevan akan menuruti keinginan client-nya. Tentu para arsitek yang bekerja di Mahadika Company bukan hanya paham tentang merancang bangunan. Tapi cukup paham dan memiliki ide cemlerlang dalam penataan ruangan. Paling tidak para arsitek di Mahardika Company bisa memberikan saran dalam penataan ruangan. Selebihnya dalam penataan ruangan secara detail akan dikerjakan oleh design interior. “Baik, Tuan Keevan.” Merla mengangguk sopan merespon ucapan Keevan. “Apa ada ide lainnya?” Keevan kembali bertanya. Matanya menatap dingin semua arsitek yang ada di ruang meeting. Arletta mengatur napasnya. Ada suatu keraguan dalam benaknya. Tapi Arletta tidak mau menjadi seorang pengecut. Detik selanjutnya, Arletta mengangkat tangannya dan berkata, “Boleh saya berpendapat, Tuan?” Keevan mengalihkan pandangannya menatap Arletta. Pria itu kini memberikan tatapan yang begitu lekat pada Arletta. “Katakan … apa pendapatmu tentang project ini?” ujarnya dingin dan tegas. “Nuansa Italia bercampur dengan nuansa Indonesia sangatlah ide yang bagus, Tuan Keevan.” Arletta dengan berani mengeluarkan suaranya. “Tapi ada hal yang harus kita perhatikan yaitu besarnya gedung milik client tersebut serta kita harus menentukan budaya mana yang kental dengan Indonesia. Jika kita hanya menyebut nuansa Indonesia maka artinya luas. Indonesia kaya akan budaya. Setiap kota dari Indonesia memiliki budaya-budaya yang luar biasa indah. Di sini apa client tersebut menginginkan nuansa jawa atau menyerahkan sepenuhnya pada arsitek?” Perkataan yang terlontar dari Arletta itu sukses membuat semua orang melihatnya. Sebuah pertanyaan yang menunjukan bahwa cara pandang Arletta sangatlah cerdas. Ya, termasuk Keevan yang sempat terdiam kala mendengar ucapan Arletta. “Alright, kau benar. Angga akan mengatur pertemuan dengan client kita secepatnya. Sekarang yang aku minta pada kalian semua, kita harus menyiapkan beberapa contoh gambar sebagai bahan referensi untuk mereka,” tukas Keevan datar. Arletta mengangguk. “Baik, Tuan. Saya mengerti.” “Baik, Tuan Keevan.” Para manager dan arsitek mengeluarkan suara mereka. “Meeting cukup sampai di sini. Kita lanjutkan minggu depan.” Keevan menutup meeting itu. Kemudian, para arsitek dan para manager pamit undur diri. Pun Arletta hendak pamit undur diri. Namun, tiba-tiba… “Arletta. Kamu tetap di sini. Ada yang ingin aku bicarakan padamu,” tukas Keevan yang langsung membuat langkah kaki Arletta terhenti. Arletta bergeming di ambang pintu. Dia ingin sekali meninggalkan ruang meeting itu. Akan tetapi, Arletta harus tetap bersikap professional. Tujuannya di perusahaannya hanya untuk bekerja. Arletta telah meneguhkan hatinya, apa yang terjadi di masa lalu hanyalah sebuah mimpi buruk yang tak perlu lagi diingat. Kini Arletta berbalik—dia menatap Keevan dengan tatapan lekat. “Ada apa, Tuan Keevan?” tanya Arletta dengan suara tenang dan sopan. “Angga, tinggalkan aku berdua dengan Arletta,” ucap Keevan tegas, dan raut wajah tanpa ekspresi. “Baik, Tuan. Saya permisi.” Angga menundukan kepalanya, lalu pamit undur diri dari hadapan Keevan. Di ruang meeting yang megah itu hanya ada Arletta dan Keevan. Tampak jelas Keevan dan Arletta saling menatap satu sama lain. Sorot mata Keevan begitu dingin. Sedangkan Arletta menatap Keevan layaknya orang asing yang tak saling mengenal. “Kenapa kamu bekerja di sini?” Suara Keevan bertanya dengan nada yang menginterogasi. “Tuan Keevan. Saya adalah lulusan arsitek. Tentu yang saya cari adalah perusahaan arsitek. Dan kebetulan teman saya menawarkan saya bekerja di sini. Jujur saya tidan menyangka kalau Mahardika Company adalah milik Anda. Andai perusahaan ini menggunakan nama Danuarga maka saya pasti akan tahu kalau ini adalah perusahaan Anda,” Arletta menjawab dengan pelan, dan tersirat penuh ketegasan. Nada bicara Arletta begitu formal. Layaknya atasan dan bawahan. Keevan tak mengindahkan ucapan Arletta tadi. Pun dia tak berniat menjelaskan tentang Mahardika Company. Kini Keevan mendekat pada Arletta. Tatapannya tak lepas menatap Arletta yang ada di hadapannya. “Kenapa kamu pindah dari rumahmu?” tanyanya dengan serius. Ya, ingatan Keevan kembali muncul tentang Arletta yang pindah rumah. Selama lima tahun Keevan meninggalkan New York, masih ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan Keevan. Termasuk Arletta yang pindah rumah tanpa memberitahu dirinya. Di masa kuliah dulu, Arletta adalah gadis yang selalu menceritakan banyak hal pada Keevan. Hal itu yang membuat Keevan sedikit bingung. Kepindahan Arletta benar-benar mendadak. Senyuman samar di wajah Arletta terlukis mendengar apa yang diucapkan oleh Keevan. Tampak wajah Arletta berusaha untuk tenang. Senyuman itu hanyalah senyuman palsu yang Arletta tunjukan. Hatinya sudah hancur berkeping-keping setelah kembali melihat Keevan. Arletta seakan dipermainkan oleh takdir. Arletta berharap tak lagi melihat Keevan. Tapi kenapa sekarang dia harus kembali dipertemukan? Ya, Arlleta membenci ini semua. Namun, hal yang Arletta ingat adalah dirinya telah berjanji untuk menjadi wanita yang tangguh dan tidak lemah. “Saya pindah karena memang harus pindah dari rumah itu. Tidak ada alasan khusus,” jawab Arletta dengan sopan. Keevan tetap terdiam dan mengamati wajah Arletta. “Kenapa kamu tidak bilang padaku kalau kamu pindah?” Entah kenapa tiba-tiba Keevan mengeluarkan pertanyaan ini. Sungguh, Keevan sendiri tak mengerti kenapa harus dia ingin tahu urusan Arletta. Sudah jelas sejak dulu dia tak pernah peduli pada gadis itu. Tapi kenapa sekarang dia ingin tahu? Arletta seperti mersakan tersiram alkohol di tubuhnya yang terluka. Benar-benar perih dan menyakitkan. Tatapan Keevan itu seakan melumpukan tubuh Arletta. Ya, Arletta merindukan Keevan. Bahkan sangat merindukan. Hanya saja ingatan Arleta berputar pada ucapan Keevan yang mengusirnya layaknya boneka yang tak layak lagi untuk digunakan. “Tuan Keevan Danuarga. Kita adalah dua orang asing yang dipertemukan di lingkup dunia pekerjaan. Dulu Anda adalah senior saat saya masih kuliah tapi itu sudah lama sekali. Sekarang kita adalah atasan dan bawahan. Saya harap Anda tidak perlu mempertanyakan hal-hal pribadi saya. Jika Anda ingin bertanya tentang pekerjaan maka tentu saya akan menjawabnya. Saya permisi, Tuan keevan. Selamat pagi.” Arletta menundukan kepalanya ke arah Keevan—lalu dia pamit undur diri dari hadapan Keevan. Keevan bergeming. Dia terdiam melihat perubahan sifat Arletta. Ada rasa sedikit terkejut. Tapi Keevan mengerti karena memang lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Dalam lima tahun banyak orang yang pasti berubah. Sorot mata Keevan tak henti menatap punggung Arletta yang mulai lenyap dari pandangannya. Tampak sepasang iris mata cokelat Keevan menunjukan ribuan penuh maksud yang sulit untuk diartikan. Namun … Keevan tidak menyadari kalau bulir air mata Arletta menetes kala pergi meninggalkan ruang meeting itu. Terlihat jelas wajah Arletta muram dan tersirat penuh luka. Tepat dikala Arletta meninggalkan ruang meeting itu; Arletta seperti mencopot topeng sandiwara di wajahnya. *** -To Be Continued        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD