“Arletta? Kenapa kamu di dalam lama sekali? Apa Tuan Keevan membicarakan sesuatu padamu?” Rima—rekan kerja Arletta bertanya pada Arletta yang baru saja keluar dari ruang meeting. Padahal meeting sudah sejak tadi selesai, tetapi Arletta masih juga berada di ruang meeting itu.
Arletta buru-buru menyeka air matanya kala melihat Rima menghampirnya. Lagi. Arletta memasang topeng pura-pura. Dia tidak mau sampai ada yang melihat kerapuhannya. “Ah … iya. Aku kan karyawan baru jadi Tuan Keevan menanyakan sesuatu padaku,” dustanya dengan senyuman yang sengaja dia buat-buat. Arletta tidak mungkin membiarkan orang lain tahu tentangnya.
Kening Rima mengerut. Sorot mata wanita itu menatap mata Arletta yang merah seperti habis menangis. “Arletta, matamu kenapa? Apa kamu habis menangis?” tanyanya penasaran bercampur kebingungan.
Arletta kembali menyeka matanya. “Tadi aku kelilipan. Di dalam banyak debu. Aku alergi debu, Rima,” dustanya lagi.
‘Banyak debu?’ ulang Rima dalam hati. Raut wajah Rima tampak bingung. Pasalnya tidak mungkin di ruang meeting ada debu. Tapi kenapa Arletta mengatakan di dalam ada debu? Rima bisa pastikan kalau office boy di kantor ini sangat bersih ketika membersihkan setiap sudut ruangan.
“Rima, ayo tunjukan tempat kerjaku. Ada beberapa pekerjaan yang ingin aku kerjakan.” Arletta mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau lagi Rima menanyakan matanya yang memerah. Ya, Arletta takut kalau dia salah bicara yang mengakibatkan Rima curiga padanya.
“Baiklah, ayo ikut aku. Aku akan menunjukan tempat kerjamu,” jawab Rima dengan embusan napas panjang.
Arletta tersenyum dan menganggukan kepalanya. Lalu dia melangkah mengikuti Rima. Terlihat Arletta berusaha untuk bersikap normal. Dan menepis semua bayang-bayang tentang Keevan. Bagi Arletta, Keevan sudah mati sejak lama. Meskipun mereka kembali dipertemukan tapi mereka hanyalah dua orang asing yang tak mengenal.
“Hi, Arletta.” Seorang pria tampan berambut hitam berpakaian formal kantor menyapa Arletta dengan hangat. Pun pria itu mengulas senyuman di wajahnya. Menatap Arletta dengan tatapan yang begitu ramah.
“Arletta … ini Arvin, rekan kerja kita. Dia senior arsitek di sini.” Rima berujar memperkenalkan Arvin pada Arletta.
“Hi, Arvin.” Arletta tersenyum tulus membalas sapaan Arvin.
“Well, welcome to Mahardika Company, Arletta. Aku senang bisa memiliki rekan kerja secantik dirimu,” ujar Arvin jujur dengan tatapan hangat pada Arletta. Karena memang sejak tadi tatapan Arvin tak henti menantap sosok Arletta. Wanita cantik dan terlihat lemah lembut. Pakaiannya terbilang sopan tapi karena lekuk tubuhnya indah membuat wanita itu memiliki keseksian yang terpancar dari wajahnya. Dan hal itu yang membuat Arvin tertarik pada Arletta.
Rima berdeham. “Arvin, kamu ini kebiasaan. Selalu saja mengusik karyawan baru. Cepat kembali ke tempat kerjamu.”
Arvin mengangkat bahunya tak acuh. “Aku tidak mengusik. Aku hanya berkata jujur saja. Memangnya letak kesalahanku di mana? Arletta memang cantik. Namaku dan namanya mirip. Siapa tahu kami memang jodoh yang sengaja dipertemukan di kantor ini.”
Arletta mengulum senyumannya mendengar ucapan Arvin. Wanita itu menggeleng pelan. Dia tak menyangka kalau Arvin sampai memikirkan nama mereka yang hampir mirip. Arletta saja sampai tidak menyadari kalau memang nama mereka mirip.
“Arvin … kembalilah ke tempat kerjamu,” decak Rima sebal. Kesabarannya mulai menipis akibat sifat konyol Arvin.
“Baiklah, aku—” Perkataan Arvin terpotong kala melihat sosok wanita seksi baru saja keluar dari lift. Dress begitu minim memperlihatkan paha sekaligus kaki jenjang wanita itu. Lekuk tubuh menggoda. Bahkan dress yang dipakai wanita itu sukses memperlihatkan belahan dadaa. Para pria yang ada di sana langsung menatap lapar wanita cantik nan seksi itu.
Namun … seketika tubuh Arletta mematung saat melihat sosok wanita cantik dan seksi itu. Ya, wanita itu pun terhenti tepat di hadapan Arletta. Mereka saling melemparkan tatapan dingin. Raut wajah Arletta berubah. Pancaran mata Arletta menunjukan sesuatu hal yang berkecamuk di pikirannya.
“Arletta? Is that you?” Suara wanita itu terdengar begitu anggun bercampur dengan keangkuhan kala bertanya pad aArletta.
Sorot mata Arletta terlihat dingin itu mulai sedikit melemah. Bulir air matanya nyaris menetes. Tapi tidak … Arletta tidak membiarkan air matanya harus tumpah. Dia terlalu kuat untuk dipatahkan.
“Hi, Nasha … long time no see,” jawab Arletta seraya mengangkat dagunya. Wanita itu mengulas senyuman di wajahnya. Nada bicaranya matang layaknya wanita dewasa. Pun Arletta bersikap formal pada sosok wanita di hadapannya itu.
Tampak Rima dan Arvin menatap bingung Arletta yang mengenal Nasha. Ditambah kini Arletta dan Nasha sama-sama melemparkan tatapan yang tersirat dingin dan tak bersahabat.
“Nona Nasha, apa Anda mengenal Arletta?” tanya Rima sopan pada Nasha.
Senyuman anggun di wajah Nasha terlukis. Wanita itu mengibaskan rambut panjangnya agar terjuntai ke punggungnya. “Arletta adalah teman satu angkatanku saat aku kuliah dulu. Apa Arletta bekerja di sini juga? Maksudku dia bekerja di kantor milik Keevan?” tanyanya dengan nada yang angkuh.
Rima mengangguk. “Benar, Nona. Arletta adalah arsitek di Mahadika Company,” jawabnya menjelaskan.
Nasha terdiam kala mendengar ucapan Rima. Wanita itu terus melukiskan senyuman meremehkan di wajahnya. “Terakhir aku mendengar kamu sempat berhenti kuliah, Arletta. Tapi ternyata kamu meneruskan kuliahmu. Aku pikir kamu tidak meneruskan lagi kuliahmu.”
“Aku berhenti karena aku ingin bekerja. Aku ingin menambah pengalamanku. Dan, ya, aku melanjutkan lagi pendidikanku. Menunda bukan berarti aku tidak meneruskan lagi kuliahku.” Arletta berkata begitu tegas dan dingin. Meski apa yang dikatakan Arletta adalah berdusta tapi Arletta cukup puas dengan jawabannya.
Nasha mengangkat bahunya tak acuh. “Dunia begitu sempit. Ternyata kamu bekerja di kantor Keevan.”
“Nasha?” Keevan melangkah keluar dari ruang kerjanya, dia sedikit terkejut melihat Nasha berada di kantornya.
“Keevan.” Nasha menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Keevan. Wanita itu bergelayut manja di lengan Keevan. “Aku kangen kamu, Keevan.”
Arletta mengalihkan pandangannya—menatap pemandangan di mana Nasha memeluk Keevan. Ya, sebuah pemandangan yang disajikan Keevan lima tahun lalu dikala dirinya masih menjadi gadis bodohh nan polos. Rasanya Arletta ingin menertawakan dirinya sendiri. Pedih. Sakit hati. Terluka. Tiga hal yang dirasakan oleh Arletta. Bahkan hingga detik ini Arletta masih merasakan itu. Namun, Arletta bersikap acuh seolah tak memedulikan dua insan di hadapannya itu saling bermesraan. Lagi. Arletta memasang topeng sandiwaranya.
Keevan terdiam beberapa saat kala Nasha memeluk lengannya. Pria itu masih bergeming. Tanpa sengaja Keevan melihat ke arah Arletta yang sekaan bersikap acuh. Akan tetapi, entah kenapa pancaran mata Arletta menunjukan sesuatu hal yang tak bisa dirinya ungkapkan.
Sejenak, Keevan masih menyelami tatapan mata Arletta. Dalam benak Keevan muncul tentang pertemuan terakhirnya dengan Arletta lima tahun silam. Kala itu Arletta memergokinya berduaan dengan Nasha di kampus. Dan mulai dari situ Keevan meminta Arletta menjauhinya.
“Keevan … aku kangen kamu! Ih kamu kok diam saja sih,” cebik Nasha sebal kala Keevan malah mendiamkannya.
“Kenapa kamu ke sini tanpa memberitahuku, Nasha?” tanya Keevan dingin dan sorot mata lekat pada Nasha.
“Aku tadi datang ke perusahaan keluargamu tapi kamu nggak ada. Jadi aku datang ke sini saja. Aku nggak mungkin lupa kalau hari ini adalah kepulanganmu ke Jakarta. Tadinya aku ingin menjemputmu ke Bandara. Tapi tadi malam kamu malah nggak ngebolehin aku. Yasudah aku memutuskan menemuimu di kantor,” ucap Nasha dengan bibir mencebik sebal. Sebelumnya Nasha memang ingin menjemput Keevan ke Bandara. Akan tetapi Keevan malah tidak mengizinkannya.
Keevan mengembuskan napas berat. “Kamu tahu aku sibuk, Nasha.”
“Aku kangen kamu, Keevan. Ayo kita pergi dari sini. Memangnya kamu nggak kangen aku,” bisik Nasha sensual di telinga Keevan. Dan dengan berani, Nasha memberikan kecupan di rahang Keevan. Menggoda dengan dadaa yang sengaja dia busungkan agar Keevan mau membawanya pergi dari tempat ini. Nasha tak peduli meski banyak yang melihatnya tengah menggoda Keevan. Memangnya apa yang salah? Menggoda Keevan memang hal biasa untuk Nasha.
Arletta masih tetap terdiam berdiri menatap keromantisan dua insan di depannya itu. Hanya senyuman palsu yang dia lukiskan di wajahnya saat ini. Cemburu? Tentu saja tidak! Arletta membenci Keevan. Dia tak akan pernah mau berurusan lagi dengan pria itu.
“Kita pergi dari sini.” Keevan merengkuh bahu Nasha—akhirnya Keevan membawa wanita itu meninggalkan tempat itu. Karena jika Keevan tak membawa Nasha maka Nasha tidak akan mau meninggalkan tempat ini.
Saat Keevan dan Nasha sudah pergi, terlihat jelas pancaran mata Arletta semakin melemah. Lagi. Kejadian lima tahun silam kembali terulang. Sama-sama hancur. Namun, kali ini Arletta jauh lebih tangguh dan kuat.
Senyuman kemenangan di wajah Nasha terlukis kala Keevan membawanya. Tentu Nasha tahu Arletta pernah menyukai Keevan. Dan Nasha tak akan membiarkan Keevan miliknya direbut oleh Arletta.
“Arletta, kalau Nona Nasha adalah teman satu Angkatan kuliahmu berarti kamu mengenal Tuan Keevan Danuarga?” tanya Rima kala Keevan dan Nasha sudah pergi. Tampak Arvin yang masih ada di sana pun menatap Arletta, menunggu jawaban wanita itu.
Kerapuhan sempat terlihat di wajah Arletta kala mendengar pertanyaan dari Rima. Di mata Arletta saat ini Keevan tidaklah berubah. Lima tahun mereka tidak bertemu tetap saja Keevan tak akan pernah melihatnya. Sedangkan dirinya? Jauh dari dalam lubuk hati Arletta terdalam, cinta itu masih sangat kuat. Hanya saja cinta dan kebencian telah melebur menjadi satu. Dan tidak mungkin terpisahkan.
“Ya, aku mengenal Tuan Keevan Danuarga. Tapi aku hanya mengenal namanya saja. Yang aku tahu dia adalah seniorku di kampus,” ucap Arletta seraya menahan air matanya agar tak menetes.
***
-To Be Continued