Bab 7 – Apa Aku Boleh Bertemu Papa?

1561 Words
Arletta menjatuhkan tubuhnya kala dirinya baru saja tiba di apartemennya. Tangis Arletta pecah. Sejak bertemu lagi dengan Keevan; Arletta sudah menahan diri untuk tidak menangis. Arletta seakan dipermainkan oleh takdir. Tujuan Arletta menerima pekerjaan ini dari temannya karena dia benar-benar membutuhkan uang. Ya, lima tahun terakhir Arletta banting tulang mencari uang. Setelah dia keluar dari rumah keluarganya; Arletta harus putus kuliah hampir dua tahun. Tahun lalu Arletta baru saja lulus kuliah. Setelah banyaknya perjuangan yang harus dia lalui akhirnya Arletta bisa menyelesaikan kuliah. Tak pernah Arletta sangka, dia akan kembali bertemu dengan Keevan. Karena memang terakhir Arletta mendengar Keevan tengah menempuh pendidikan S2 di New York. Tapi kenapa Keevan harus pulang ke Jakarta? Dan kenapa dirinya harus kembali dipertemukan dengan Keevan? Lima tahun adalah waktu yang cukup lama bagi Arletta berjuang dalam penderitaan dan kesengsaraan. Hinaan dari banyak orang. Bahkan tidak pernah satu kali pun, Arletta menghubungi kedua orang tuanya. Bukan tanpa alasan, tapi Arletta merasa tidak pantas. Jika Arletta menghubungi orang tuanya maka dirinya akan hanya menambah luka yang ada pada kedua orang tuanya. Berdamai dengan takdir adalah pilihan Arletta. “Kenapa aku harus melihatmu lagi, Keevan? Kenapa?” isak Arletta dengan tangis yang pilu. Tidak … Arletta tidak boleh lemah. Dia sudah berjanji akan meninggalkan Arletta yang naif, bodohh, dan mudah diperdaya. Kini Arletta bukan lagi gadis naif. Dia adalah seorang ibu yang berjuang agar anaknya mendapatkan kebahagiaan. Namun, Arletta tak menampik kalau apa yang dia lihat tadi telah membuat hatinya hancur. Lagi. Arletta melihat pemandangan di mana Keevan bermesraan dengan wanita lain. Arletta pikir dia tidak akan sakit hati. Tetapi kenyataannya tak sesuai dengan apa yang Arletta harapkan. Hati Arletta hancur berkeping-keping melihat Keevan bermesraan dengan Nasha. “Mama … aku pulang.” Keanu menghampiri Arletta dengan terburu-buru bersama dengan pengasuhnya,   “Keanu, kamu sudah pulang, Nak?” Arletta segera menghapus air matanya kala melihat putra kecilnya sudah datang. Keanu menganggukan kepalanya. “Iya, Mama. Aku sudah pulang. Mama kenapa mata Mama merah?” Keanu segera memeluk Arletta dengan erat. Pipi bulatnya menempel pipi Arletta. “Mata Mama kelilipan debu, Sayang,” ucap Arletta sembari membalas pelukan putra kecilnya. Keanu memiringkan kepalanya. “Mama … apa Mama menangis karena Papa?” tanyanya polos. Arletta terdiam kala mendengar apa yang diucapkan oleh Keanu. Wajahnya menunjukan kepanikan. “Kenapa Keanu bilang seperti itu?” “Aku memiliki teman yang bernama Baim. Baim bilang padaku Mamanya selalu menangis karena bertengkar dengan Papanya. Apa Mama menangis karena Papa juga? Katakan pada Keanu, Ma. Nanti Keanu yang akan memukul Papa,” ucap Keanu dengan bibir terkekuk dan tangan melipat dadaa. Arletta kembali terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh Keanu. Matanya menunjukan haru bahagia. Detik selanjutnya, Arletta membawa tangannya mengelus pipi bulat Keanu sambil berkata, “Papa nggak membuat Mama menangis, Sayang. Mata Mama merah karena debu.” “Mama nggak bohong kan?” tanya Keanu sembari memiringkan kepalanya, menatap lekat Arletta. “No, Sayang. Mama nggak bohong sama Keanu.” Arletta tersenyum rapuh. Dalam hati Arletta merasa bersalah karena harus membohongi putranya. Tetapi Arletta tidak bisa melakukan apa pun. Dia tidak mungkin mengatakan pada Keanu apa yang sebenarnya terjadi. Kelak ketika Keanu dewasa, putranya itu akan mengerti semuanya. Keanu membawa tangan mungilnya menyentuh pipi Arletta. “Mama, kalau begitu apa boleh Keanu bertemu Papa? Keanu ingin melihat Papa. Boleh nggak, Ma?” Lagi. Arletta terdiam mendengar ucapan Keanu. Ini memang bukan pertama kali Keanu menanyakan ayahnya. Selama ini Keanu memang tidak pernah memaksa untuk bertemu dengan ayahnya. Namun, kali ini rasanya Arletta semakin merasa berdosa. Membohongi anaknya untuk bertahun-tahun. Terkadang Arletta hanya takut kalau anaknya kecewa padanya. “Papa sedang mencari uang, Sayang. Mama mohon Keanu mengerti, ya?” ujar Arletta dengan lembut dan hangat. “Apa Papa terus mencari uang, Ma? Artinya Keanu nggak bisa ketemu Papa? Kenapa teman-teman Keanu bisa bertemu dengan Papa mereka tapi Keanu nggak pernah ketemu Papa?” Keanu bertanya dengan suara polos. Nada bicaranya menunjukan kesedihan. Arletta memeluk erat putranya. “Kelak ketika Keanu dewasa, Keanu akan mengerti semuanya. Sekarang Mama minta Keanu masuk ke kamar, ya? Keanu sayang kan sama Mama? Kalau Keanu sayang sama Mama, Keanu harus menjadi anak penurut.” Keanu tersenyum. Lalu mencium Arletta. “Keanu sayang sekali sama, Mama. Keanu akan menjadi anak penurut. I love you so much, Mama.” “I love you too, Sayang.” Arletta menangkup kedua pipi Keanu, memberikan kecupan di pipi bulat putranya. “Yasudah, Keanu masuk ke dalam kamar Keanu, ya?” Keanu mengangguk patuh. “Iya, Mama.” Kini Keanu melangkah menuju kamarnya bersama dengan pengasuhnya. Tampak senyuman di wajah Arletta terlukis mendengar apa yang diucapkan oleh Keanu. Sungguh, Arletta bersyukur Keanu menurut padanya. Meski dia tahu dirinya telah membohongi putranya itu. Ya, Keanu Revano adalah putra Arletta hasil hubungan one night stand-nya dengan Keevan lima tahun silam. Keanu memiliki tubuh yang berisi. Kulit putih cerah. Pipi tembam. Manik mata cokelat, dan bulu mata lentik. Wajah Keanu begitu mirip dengan Keevan. Bahkan sangatlah mirip. Terutama pada bagian mata. Setiap kali Arletta melihat Keanu maka dia seperti melihat bayang-bayang Keevan di depan matanya. Namun, tentu saja sampai mati pun Arletta tidak akan memberitahukan tentang Keanu pada Keevan. Dalam benak Arletta tak akan pernah lupa kala Keevan mengusirnya layaknya boneka tidak layak dipakai lagi. Keevan mengatakan dirinya untuk tidak lagi mengganggu dan mengusik hidup pria itu. Dan, ya … selama lima tahun tidak pernah satu kali pun Arletta menghubungi Keevan. Apalagi meminta pertanggung jawaban pria berengsekk itu. Di mata banyak orang mungkin Keanu adalah aib yang harus disembunyikan. Tapi di mata Arletta; putra kecilnya adalah penyempurna kehidupannya. Keanu adalah anak yang periang. Keanu selalu menjadi pelipur lara dikala Arletta merasa dirinya berada dititik terendah. Kini setelah banyaknya rintangan hidup dan penderitaan Arletta mampu bertahan bahkan membesarkan Keanu dengan penuh cinta dan kasih sayang. *** Keevan mengancingkan kemejanya dan menatap dirinya dari pantulan cermin. Tatapan Keevan melihat dari cermin sosok wanita yang tubuh polosnya terbalut oleh selimut tebal. Wanita itu mengulas senyuman hangat dan menggoda menatap punggung kekar Keevan.   “Keevan, kenapa kamu cepet pulang. Aku masih kangen. Kita udah lama nggak ketemu.” Suara lembut wanita itu terdengar begitu sensual. Dia beranjak dari ranjang, dan dengan santainya dia memakai kemeja putih milik Keevan yang dipakai dipakai pria itu sebelum pergulatan panas mereka. Dia membiarkan tubuh polosnya tereskspos di hadapan Keevan. Sedangkan Keevan dia hanya menatap wanita itu datar saat wanita itu tengah memakai pakaian di hadapannya. “Kamu di sini aja ya. Jangan kemana-mana.” Wanita itu memeluk erat tubuh Keevan. Menciumi aroma parfume maskulin, yang membuatnya sejak tadi malam terbuai dan hanyut. “Aku harus pergi, Nasha. Malam ini ada yang harus aku kerjakan,” jawab Keevan dingin. Dia hanya diam dan tidak membalas kala wanita bernama Nasha memeluknya. “Kamu memangnya nggak kangen aku?” Nasha berdiri di depan Keevan. Wanita itu dengan sengaja menanggalkan kemeja yang dia pakai di depan Keevan. Senyuman samar di wajah Keevan terlukis melihat tubuh indah Nasha. Ukuran dadaa yang menantang, bulat, dan padat membuat Keevan sedikit sulit mengendalikan dirinya. Detik selanjutnya, Keevan membawa tangannya meremas dadaa Nasha hingga membuat wanita itu mendesah pelan. “Aku masih kangen, Keevan. Tadi kita hanya melakukannya tiga kali. Aku masih ingin lagi,” bisik Nasha sensual di depan bibir Keevan. “Nggak sekarang, Nasha. Aku harus pergi.” Keevan memberikan kecupan di puncak dadaa Nasha yang sejak tadi berdiri tegak. “Aku akan menghubungimu lagi nanti.” Nasha menahan desahan kala Keevan memberikan gigitan kecil di puncak dadanya. “Sebelum kamu pergi ada yang ingin aku tanyain ke kamu.” “Ada apa?” Keevan mensejajarkan wajahnya ke wajah Nasha.   “Kenapa kamu nerima Arletta jadi karyawan kamu? Kamu tahu dulu dia itu suka sama kamu. Aku nggak rela kalau kamu dideketin dia. Kamu hanya milikku, Keevan,” ucap Nasha penuh penekanan. Keevan kembali tersenyum samar mendengar ucapan Nasha. Pria itu mulai membawa tangannya mengelus pipi Nasha sedikit kasar. “Tiga hal yang harus kamu ketahui. Pertama penerimaan karyawan di perusahaanku disaring langsung oleh Manager HRD dan direktur yang aku percaya. Untuk masalah siapa karyawan yang bekerja di perusahaanku, aku tidak ikut campur karena aku tahu direktur yang aku percayakan menilai dengan baik karyawan yang bekerja di kantorku. Kedua; untuk masalah Arletta menyukaiku, itu sudah lama. Aku rasa dia udah nggak memiliki perasaan lagi sam aku. Dan yang terakhir, aku bukan milik siapa pun, Nasha. Aku nggak suka memiliki ikatan. Kamu jelas tahu itu.” Raut wajah Nasha memerah mendengar kalimat terakhir Keevan. Ya, selaam ini memang Nasha tidak memiliki hubungan apa pun pada Keevan. Mungkin lebih tepatnya dirinya hanyalah partner ranjang Keevan. “Keevan … tapi kita sudah lama—” “Nasha, please. Kamu tahu aku nggak tidur sama kamu aja. Selama aku di New York, aku sering tidur dengan wanita lain. Jadi jangan ngerusak hubungan kita, Nasha. Biarkan seperti ini. Aku nyaman kita menjalin hubungan seperti ini. Aku nggak ada niat buat serius.” Keevan mengecup bibir Nasha seraya memberikan remasan di dadaa wanita itu. “Aku harus pulang. Nanti aku akan menghubungimu lagi. Tenang saja, tubuhmu masih indah, Nasha. Hubungan kita masih akan lama kalau kamu menjaga tubuhmu dengan baik.” Keevan kembali memberikan kecupan di bibir Nasha. Pria itu langsung berjalan meninggalkan Nasha yang masih bergeming di tempatnya. Tampak mata Nasha menatap kesal Keevan yang mulai lenyap dari pandangannya. ‘Kamu hanya milikku, Keevan. Hanya milikku,’ batin Nasha dengan geraman kemarahannya. *** -To Be Continued  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD