Keevan menenggak wine hingga tandas. Beberapa kali Keevan memejamkan mata singkat. Kini Keevan berada di ruang kerja yang ada di apartemen pribadinya. Pria itu sengaja menjauh dari Arletta. Alasannya jelas karena Keevan kian merasa bersalah. Hingga detik ini Keevan masih belum bisa menceritakan sapa yang sebenarnya terjadi. Keevan merasa dirinya seperti pengecut dan pecundang yang tak berani berbicara dengan Arletta tentang semuanya. Suara ketukan pintu terdengar. Lantas Keevan membuka matanya, dan mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Napas Keevan berembus panjang. Detik selanjutnya, Keevan menginterupsi orang yang mengetuk pintu untuk segera masuk ke dalam. “Tuan Keevan,” sapa Angga—asisten Keevan melangkah mendekat ke arah Keevan. “Ada apa?” tanya Keevan dingin dengan raut wajah

