“Aku membutuhkanmu ada di sisiku, Letta. Aku nggak akan pernah bisa dan nggak akan pernah mungkin ngelepasin kamu. Jangan lagi memintaku untuk ngelepasin kamu. Karena itu adalah hal yang nggak akan pernah terjadi.” Mata Arletta nyaris berembun memerah hendak mengeluarkan air mata kala mendengar ucapan Keevan. Mati-matian Arletta menahan air matanya agar tak tumpah. Dalam hati, Arletta nyaris luluh mendengar kata indah yang diucapkan oleh Keevan. Akan tetapi logika Arletta muncul di mana tentang kejadian lima tahun lalu. Itu adalah hal yang tak akan pernah mungkin bisa Arletta lupakan begitu saja. “Kenapa, Keevan? Kenapa, hm? Kenapa kamu nggak bisa lepasin aku sedangkan dulu kamu ngebuang aku gitu aja. Bukannya dulu kamu selalu ingin jauh dari aku? Sekarang setelah aku berdamai dengan ke

