“T-Tuan Keevan?” Tubuh Merla menegang kala melihat yang menahan tangannya adalah Keevan. Wajah wanita itu memucat. Lidahnya kelu. Tenggorokannya seakan tercekat. Otak wanita itu seakan tak mampu merangkai sebuah kata-kata. Terlebih sepasang iris mata cokelat Keevan menatap tajam Merla dan tampak jelas menunjukan kemarahan. “Apa yang kamu lakukan, Merla!” Keevan menghempaskan tangan Merla ke udara. Geraman di wajahnya terlihat menunjukan bahwa pria itu tak bisa menahan emosinya. Tatapan bak laser seperti ingin membunuh menatap Merla. Tajam. Menusuk. “T-Tuan … A-Anda salah paham … S-Saya—” Merla tak mampu melanjutkan kata-katanya ketika Keevan semakin memberikan tatapan tajam padanya. “Salah paham kamu bilang? Di mana letak aku salah paham? Kamu pikir aku tidak mendengar semua yang k

