Chapter 5

2247 Words
Chapter 5 (All About Of Daniel) Yang terlihat belum tentu ia yang syahdu Yang tak terlihat belum tentu juga ia hal fana ** ‘’Nasya belum pulang Mas, dia juga tidak menghubungiku sama sekali ... Aku khawatir sekali Mas terjadi sesuatu pada putri kita ...’’ ‘’Iya sayang, sabar ... Aku juga sedag berusaha menghubungi nasya, kita juga jangan lupa doakan yang terbaik buat putri kita ...’’ Azka terlihat menenagkan kekasihnya dengan cara meragkul dan mengusap puncak kepalanya sembari sesekali memberikan kecupan hangat di kening milik Zahra yang kini masih bolak – balik mengigit kuku di jari telunjuknya. Wanita berumur tiga puluh delapan tahunan itu teramat panik, nampak dari keningnya yang tak jarang berkerut menandakan banyaknya hal yang ia pikirkan di kepalanya. ‘’Ra, udah yo kita masuk. Percaya sama Mas, nanti Nasya pulang dengan selamat ...’’ ‘’Huh ... iya Mas ...’’ Ruangan mewah, dingin tanpa asap rokok melainkan tercium aroma wangi parfum ruangan yang benar – benar memabukan bahkan sanggup menghipnotis pengunjungnya, cahayanya tak berpijar terang tapi redup remang – remang berasal dari lampu – lampu bergaya classic europe ditambah lagi design ruangan yang di d******i ukiran patung di kawasan benua eropa. Tak sampai di situ, lantunan musik dan syair – syair yang dinyanyikan menggunakan bahasa internasional nomor satu yaitu english language sembari diiringin musik jazz classic menyempurnakan keindahan da kemewahan resto atau cafe mewah bernama RIO’Z. Dari namanya sudah bertengger jelas jika pemiliknya bernama RIO yang kini duduk di sebelah Daniel dan sesekali melirik ke arah gadis yang sudah nampak lusuh. Rio bercengkrama dengan Daniel layaknya kawan yang lama tidak bertemu sedangkan Nasya menunduk pura – pura tidak mengenal lelaki dengan brewok dan rahang terpahat gagah sebablelaki itu keturunan Turkis, sudah jelas nampak bagaimana tampannya keturunan negara yang terkenal memausiakan hewan salah satu prioritasnya adalah kucing. ‘’Lo bawa cewe?’’ tanya Rio sembari menepuk bahi Daniel pelan. ‘’Asisten kantor gue,’’ ‘’Hei, Nasya,’’ Deg Deg Deg Glegek .... Suara detak jantung dan tegukan air liur alias ludah hanya bisa di dengar oleh Nasya seorang, ia yang menunduk pelan – pelan menggadah ke atas melirik ke Arah tuannya lalu menccari objek lain untuk di tatap supaya matanya tak menatap ke arah lelaki di samping Daniel. ‘’Nasya, sapa teman saya ...’’ tegas Daniel sekali lagi lalu dengan cepat Nasya menyapa sapaan Hai dan ya sesuai dugaannya... Rio membelalak, ia terkejut jika asisten yang dimaksud Daniel adalah mantan kekasihnya. ‘’Lo!’’ ‘’Hai Rio, lama tidak bertemu ...’’ sahut Nasya cepat dengan canggung. ‘’Wah, sungguh takdir yang sangat menarik,’’ Rio mengelus janggutnya yang tipis tapi menawan, menatap Nasya dari bawah atas hingga bawah lalu membatin kenapa pakaiannya nampak seperti orang miskin, apa benar rumor mantan kekasihnya itu bangkrut adalah real bukan hanya rumor yang di sebarkan melalui club malam dan merahmbah ke orang – orang perusahaan. ‘’Kalian saling kenal??’’ Daniel Penasaran sementara Rio mengangguk dan Nasya malah menggeleng. ‘’Iya’’ ‘’Tidak’’ Dua jawaban membuat Daniel melirik ke tokohnya yaitu temanya dan sekretarisnya. ‘’Siapa yang benar?” ‘’Gue ...’’’ ‘’Saya ...’’ Nasya dan Rio memberikan jawaban yang bertentangan seolah mereka adalah dua kutub yang saling berbeda arahnya. ‘’Oke, gue ngga mau ngerti,’’ sahut Daniel yang tidak terlalu penasaran dengan keduanya. Tapi, nampiknya setelah Daniel bertanya apakah keduanya memiliki hubungan, gelagat Rio menjadi aneh, ia beralih duduk di samping Nasya tanpa menjaga jarak lalu kedua mata Nasya mengisyaratkan pertolongan. ‘’Saya izin ke belakang dulu,’’ ‘’Ngga usah manis, ‘’ sahut Rio cepat. Nasya ber ujar Nasya berusaha lepas dari Rio yang mulai menyentuh jari – jarinya yang letakknya tak jauh dari kedua tangan rio, ia sedag memikirkan bagaimana caranya lepas dari orang m***m dan licik seperti lelaki di sampingnya. Sungguh, penyesalan terbesar dalam hidup Nasya setelah mengabaikan keluarganya adalah mengenal lelaki b***t yang tidak pernah menghargai wanita seperti lelak ini tepatnya ada di sampingnya. ‘’Lepas!’’ bisik Nasya tapi masih bisa di dengar oleh Rio. ‘’Jagan munafik, lo juga suka kan!’’ balas Rio semakin mencengkram erat lengan Nasya. ‘’Gue ngga semurah yang lo pikirkan ,’’ Nasya menginjak kaki Rio hingga lelaki itu berteriak menjadi pusat perhatian dan dengan cepat Nasya berpindah di samping posisi Daniel, keringatnya sudah bercucuran hal itu juga disadari oleh Daniel. ‘’Syukurlah kalo lo sama Nasya ngga ada hubungan kenal yang penting, karna dia cewe gue.’’ ** Aku merasakan tangan besar dan hangat menggenggam tanganku yang awalnya bergetar dan dingin, membawanya ke atas dan menuntun tanganku yang kini ada dalam dekapannya untuk bertengger manis di atas meja berapis marmer merah membuat tangan kami nampak manis sebab berada di tengah – tengah hidangan mewah dan sorot lampu redup yang manis pula sampai akhirnya aku tahu jika lelaki di sampingku menyelamatkan aku. Ia membagi jiwa malaikatnya untuk melindungiku, membawaku pada kenyamanan detak jatung yang berdetak jauh lebih stabil, memberiku nafas yang lebih jauh terasa lega dari pada sesak seperti sebelumnya, membiarkanku menikmati hangatnya udara di sekitarku dari genggamannya dan ucapannya . He Said ... ‘’She’s Mine ... She is mine, don't ever touch mine or treat my woman as you please Rio, because I'm never afraid to break anyone's hand who touches what's already mine.’’ She is mine, jangan pernah menyentuh milikku atau memperlakukan wanitaku sesukamu Rio, karena aku tidak pernah takut untuk mematahkan tangan siapapun yang menyentuh apa yang sudah menjadi miliku. Wajahnya nampak tegas, kedua matanya menyorotkan sorotan tajam seolah ia benar – benar hendak memotong tangan siapapun yang menyentuh miliknya hanya dengan tatapannya yang benar – benar membuatku merinding. Aku merasakan genggamannya semakin kuat, di waktu yang sama juga aku akhirnya mengerti jika dunia yang di gadag – gadang menjadi tempat bertumbuh dan berkembang pada ujian tak akan selamanya pahit dijalani, ia benar – benar akan memberi waktu untuk ku bernafas lega sebentar melalui banyak hal yang tak pernah ku duga sebelumnya, termasuk dengan kehadiran Daniel di hidupku mulai har ini... Hari ini, bersamaan dengan ia menggenggam tanganku, membawaku keluar dari ruangan megah mewah sembari tetap memeluku lewat genggamn tangan yang hangat itu aku memastikan jika lelaki ini tidak akan pernah keluar dar jeruji rasa penasaran yang membuncah dari sukmaku. Thank You Daniel ... Aku memiliki banyak keberuntungan hari ini berkatmu ... Senyum gadis itu mengembag sempurna, wajahnya memerah, dan matanya menyipit bahagia berjalan tepat di belakang tubuh lelaki yang aroma parfumnya sungguh menghipnotis, tutur dan perilakunya tak pernah di duga, ritme pergerakannya juga tak pernah bisa ia ikuti tapi Nasya tetap tersenyum senang terlebih melihat tangannya masih di genggam hingga lelaki di depannya membuka kan knop pintu mobil mewah lalu menyuruhnya masuk. ‘’Thank You,’’ ucap gadis itu di sela – sela perjalan mereka yang masih setengah jalan. Daniel tidak menjawab, ia masih seperti tadi seperti sebelum keduanya keluar dari resto milik mantan kekasihnya itu. Ah biarlah, yang penting aku sudah mengucapkan terima kasih... Batin Nasya yang menyadari jika lelaki itu belum merubah ekspresinya, masih terlihat kesal sekaligus ketegasannya. Ia agak merinding takut tiba – tiba mood lelaki di sampingnya berubah dan menurunkannya di tepi jalan terlebih ini sudah mulai memasuki perdesaan dan waktu sudah cukup malam, menyentuh angka sebelas. Akhirnya, mau tidak mau Nasya harus menikmati perjalanan dengan atmosfer dalam mobil yang mencengkam, agak ngeri dan tidak mengenakan. Tapi ia harus bagaimana lagi, lebih baik diam dari pada membuat masalah yang membawanya pada malapetaka. ** ‘’Terima kasih banyak Nak sudah mengantar putri saya,’’ ‘’Sama – sama, kebetulan saya juga sedang ada urusan di villa dekat sini,’’ ‘’Syukurlah kalau begitu, kapan – kapan jika ingin mampir sebelum kembali ke kota kami menenrima mu dengan senang hati,’’ Azka sekali lagi menundukan kepalanya ke bawah dan langsung kembali menatap Daniell yang tersenyum. Sedangkan Nasya lagi – lagi menerima cibiran dari pemilik Rumah. ‘’Habis di bayar berapa,’’ kata Bramatyo keras dan hanya di respon nafas yang tersenggal oleh Nasya sedagkan Zahra hanya diam ingin membela tapi takut terjadi keributan terlebih nasya sudah menggenggam tangannya erat memberikan tekanan secara batin jika tidak usah meladeni sampah seperti Bramatyo. ‘’Wih, anak lo udah pinter ya mbak Zahra. Mulutnya udah ngga bisa ngomong, tapi bisa buat ngelayanin om – om kota,’’ Huftt ... sabar Nasya. Lelaki sampah nyatanya nggak bisa diarepin kebaikannya sedikitpun. ‘’Boleh lah kapa – kapan gue juga dilayani gratis sama anak lo,’’ ‘’b******k!!’’ Nasya berjalan cepat dan emmberika pukulan tepat di rahang Bram yag sontak membuat lelaki itu berteriak dan menarik rambut Nasya hingga kepala gadis itu hampir patah ke belakag. ‘’Berani lo sama gue!’’ Bramantyo berbicara tepat di telinga Nasya dan menarik rambut gadis itu lebih kuat. Nasya meringis, ia hampir menagis tapi sebisa mungkin di tahan sebab menjijikan sekali menangis karena lelaki sampah seperti Bram ujar Nasya. Ia menaha rasa sakitnya sementara Zahra sudah di dorong hingga terjatuh dan tidak bisa berbuat apa – apa terlebih ia merasa sedikit beruntung suaminya tidak melihat ini semua, ia takut akan ada perkelahian antar saudara dan Zahra tau jika Azka marah maka dunia seolah benar – benar berakhir, suaminya tak segan – segan memukul orang yag menyakitinya samoau tak sadar lalu benar – benar menghantui pelakunya hingga bertekut lutut memohon ampun, hal itu sudah pernah Zahra alami ketika Azka melihat dirinya hampir di lecehkan oleh beberapa pria. Ia takut jika hal itu diterima oleh Bramantyo dan memperkeruh suasana. Zahra melihat putrinya yang wajahnya mulai memerah nampak sekali menhan sakit. ‘’Lepasin!’’ ucap Nasya penuh penekanan. ‘’Jagan Harap!’’ ‘’Lepasin Gue b******n!’’ ‘’Ck, anak tidak tau untung, sudah enak gue kasih tempat tinggal tapi masih berani – beraninya ngehina Tuan Rumah,’’ Bramantyo kesal, ia benar – benar psikopat karena susai bicaranya ia langsung menyeret Nasya dengan tangannya lalu menempelkan wajah gadis itu ke tembok kasar yang belum di semen halus. ‘’Sakit?’’ bisik Bramatyo dengan tertawa. ‘’Ck, gak sama sekali.’’ Jawab Nasya padahal ia sudah merasakan pipinya seolah terbakar. ‘’Oke,’’ jawab Bramantyo. Bugh!!!!! Pria tua pengangguran itu tersungkur ke bawah, menerima pukulan di wajah sebayak tiga kali dari seseorang tidak asing bagi Nasya. Bram nampak menyerang tapi dengan cepat Daniel memberika pukulan di bagian vital kepalanya hingga pria psikopat itu tak lagi sadarkan diri. Di dalam ruangan sempit yang hanya ada ruangan tamu kecil dengan satu kursi kayu, dua kamar tidur sempit dan satu kamar mandi, Daniel mengatur nafasnya agar stabil setelah memukul hingga pingsan pria yang ia lihat menyeret wajah Nasya di tembok kasar sepanjang sepuluh senti meter. ’’Are you okay??’’ Tak ada jawaban. ‘’Nasya, kamu bisa mendengarku.’’ ‘’Nasya!!’’ Ah siallll! Daniel memaki dirinya sendiri karena gadis di dalam dekapannya tak memberikan respon. Ia memandag wajah Nasya dengan rasa iba, wajahnya memerah ditambah di pipi sebelah kiri sudah berasa luka goresan yang untungnya tidak terlalu parah, rambut acak – acakan dan bibir nampak pucat. ‘’Nasya! Come on,’’ bisik Daniel menyentuh alis wanita di depannya pelan. Zahra yang lemas mendekati Daniel. ‘’Tolong bawa Nasya pergi dari sini,’’ Daniel bingung dengan ucapan wanita yang ia ketahui sebagai ibu dari sekretaris barunya yang sialnya sudah melibatkan banyak kejadian dengan dirinya. ‘’Bawa Nasya,’’ ucap Zahra sekali lagi dan Daniel mengangguk. ‘’Suamiku biar saya yang jelaskan, tapi tolong bawa Nasya sebelum adik ipar saya bangun ...’’ Zahra berbicara dengan setengah menangis, air matanya berusaha ia tahan dan wajahnya berusaha ia kontrol. Mau tidak mau ia merasa haru sberbicara dengan suaminya tentang perlakuan adiknya yang sudah mulai sangat meresahkan. ** ** Daniel menggendong Nasya yang tidak sadarkan diri lewat pintu lain dari rumah ini agar tidak diketahui pria bernama Azka lalu memasukan wanita yang kini tidur dengan rasa sakit itu ke dalam mobil. ** ** ** ** ** ** Suasana malam yang dingin sisa mendung yang masih tersisa gemricik air hujan menjadi seolah panas terbakar rasa kepanikan da hal – hal yang tak di duga sebelumnya. Daniel yang semula berniat bermukim di villa baru miliknya dan hanya berniat mengantar orang baru di kantornya malah terlibat banyak kejadian yang tak pernah ia pikirka. Awalnya ia harus mengakui jika gadis yang kini berbaring tanpa sadar di kursi belakang mobilnya sebagai kekasihnya karena gadis itu menunjukan wajah tak nyaman dan sebab ia tahu jika temannya suka menggaet wanita hanya untuk kesenangannya saja Ia juga awalnya berniat mengantar saja tapi malah berakhir membawa gadis ini ke dalam villa barunya. Pria dengan setelan kaos serta celana pendek selutut menghembuskan nafasnya berat, ia bolak balik melirik ke arah kursi belakang lalu kembali memfokuskan pandagannya pada jalanan yang telihat mulai semakin menggelap, hujan kembali mengguyur bumi tanpa ampun sesekali memberikan peringatan melalui guntur yang berbunyi amat gemlegar. Lelaki itu memberhentika mobilnya tepat di depa pintu villa mewah berwarna coklat gelap yag nampak asri di pagi hari namun nampak mengerikan di malam hari, ia bergegas turun melupakan payung dan segera membawa Nasya masuk ke villa baru miliknya lalu membaringkan gadis itu di sofa empuk. ‘’Huuh .... tunggu sebentar ...’’ ucap Daniel seolah gadis itu mendengarka. Tak lama, Daniel kembali dengan membawa handuk kering, alcohol, kapas dan alat p3k lainnya yang sangat sederhana. Ia mengeringkan wajah dan rambut Nasya yag sempat terkena sendu semesta lalu segera membuat teh hangat dan menyajikannya di atas meja yang tergletak tepat di samping sofa yang kini menjadi alas bagi Nasya untuk tidur. Dengan telaten, ia membasuh wajah Nasya yang kumal dan kemerahan bercak darah sisa sebab penuh luka sisa goresan dengan semen kasar dan melakukan aktifitas untuk menyadarkan Nasya yang dilakukan di alam bawah sadarnya. Sampai – sampai ketika selesai ia berujar sembari berdiri di dekat pintu kamarnya dan memandang Nasya sembari berbisik... ‘’Daniel ... what are you doing ... who this ...’’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD