Chapter 10

1064 Words
Chapter 10 ** ‘’Wau, seperti takdir ck. Tapi gue masih ragu kenapa bisa data yang gue cari salah...’’ tanya Zain penasaran. Ia selalu berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan benar. ‘’Ck, gak tau lah. Lo lagi ngga becus banget.’’ ‘’Memangnya apa yang salah dari data yang gue cari Niel?’’ ** Seorang gadis meringkuk di atas ranjang king size, memeluk tubuhnya sendiri sembari merintih kepedihan yang beberapa kali tiada niat untuk pergi. Ia menangis, mengeluarkan suara isakan kecil yang tertahan sebab ia berada di tempat bukan untuknya pulang. Seorang gadis itu masih merajuk, menangis untuk rasa pedih dan rasa takut yang tidak larut dalam bersamaan dengan waktu yang terus bergerak maju. Tangisannya sudah bolak – balik terdengar hingga ke telinga lelaki berbadan tegap tengah berdiri di samping ruangan yang dari ruangan itu menggema suara tangisan gadis. Tok tok tok ... ‘’Banyak, hampir semuanya. Ku pikir memang karena perubahan dari dia dan keluarga dan belum sempat mendapat survey dari desa mungkin,’’ ‘’Iya ya barang kali seperti itu, nggak mungkin kerjaan gue salah.’’ ‘’Ck, you know... She is so pretty...’’ ucap Daniel membuat Zain mengangguk, dalam hatinya ia juga mengiyakan degan pasti. Wanita yang ia temui tadi benar – benar cantik. Astagfirullah ... batin Zain. ‘’She is mine, Zain ...’’ kata Daniel mempertegas. ‘’I know ..’’ jawab Zain. Keduanya menyelesaikan obrolan, berjalan berdampingan memasuki villa bagian belakang yang viewnya menghadap ke arah kebun teh terlebih di sore hari semakin terasa sejuknya. Nasya membawakan dua gelas teh dan makanan ringan lainnya untuk menemani obrolan lelaki keduanya, lalu ia langsung bergegas masuk mengambil perlengkapannya dan memilih untuk pulang ke rumah sebab ia yakin ibunya sudah di rumah bersama ayahnya, terlebih sayang ayah sudah tahu tentang kelakukan b***t Bramantyo, ia yakin ia akan lebih aman di rumah kecil itu untuk hari ini dan seterusnya. Tanpa pamit, hanya meninggalkan selembar kertas bertuliskan aku pulang, Nasya menyusuri jalan raya dengan berjalan kaki, menikmati senja sembari memikirkan hal – hal baik yang akan datang mulai hari ini dan seterusnya. Ia berjalan dengan fokus, mencoba menegakan tubuh dengan kaki yang memar sekaligus nyeri yang sedikit lumayan membaik. Daerah dataran tinggi memberikan suhu yang lumayan nyatanya, tangan gadis itu yang tadinya menggantung kini sudah menyilang di depan d**a sembari mengusap – usap bahunya selama perjalanan menuju ruma usang selama tiga puluh menit. Dengan sabar dan telaten, Nasya berusaha tidak mengeluh sembari tetap tersenyum manis pada orang – orang yang berjalan melewatinya atau berlawanan arah. Pesona desa memang tidak bisa disamakan dengan kota – kota besar, mereka yang ada di desa ini masih dominan mengemudikan sepeda untuk beraktifitas dan mengantar kemana saja penduduk desa itu mencar sesuap nasi. Bukan hanya itu, banyak sekali warga desa yang masih menggunakan kemben dan rok jarit dalam menemani aktifitas tertuama wanita, sedangkan pria biasa dengan kaos oblong lalu caping yang terpasan awet di kepalanya menghindari sinar matahari yang membakar wajah dan membuat aktfitas cepat lelah. Tak lama, Nasya sudah sampai di pertengahan jalan tapi sayangnya ia berhenti secara mendadak saat matanya menangkap segerombolan lelaki berbadan besar dengan pakaian hitam serta rambut panjang yang jumlahnya lebih dari enam nampak berdiri tegak seolah menunggu seseorang di depan g**g yang menjadi tujuannya. Tak lama setelah itu, ia juga melihat Bramantyo datang dengan motor mewahnya lalu entah membicarakan apa ia nampak mengobrol dengan salah satunya. Jantung Nasya berdegup kencang, ia gemetar ketakutan, tubuhnya reflek mundur hingga tak sadar ia tersandung dan tersungkur ke belakang. Dengan sekuat tenaga, ia berusaha bangkit lalu segera berbalik dan lari semampunya karena tak lama setelah ia bangun segerommbolan itu melihatnya dan malah berlari ke arahnya sembari berteriak. ‘’Bos, itu dia.’’ Begitu kurang lebihnya yang Nasya dengar. ‘’Kejar sampai dapat, tapi jangan sampai dia terluka. Karena itu bagian gue.’’ Ujar Bramantyo yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri. Bramantyo tertawa melihat pemandangan di sebelah kirinya, yaitu pemandangan menajubkan dari seorang wanita yang berlari setengah pincang dan diikuti oleh delapan orang lelaki berbadan besa. ‘’Lepass!!!’’ Nasya berteriak kala tangannya di cengkram kuat oleh salah satu orang yang larinya cukup kencang hingga bisa mengejarnya. Tak lama kemudian, Nasya sudah dikepung oleh ke delapan lelaki suruhan Om nya dan menyeretnya mendekati Bramantyo yang sudah bertengger sok gagah di sebelah sana. ‘’Habis dari mana cantik?” ujar Bramanyo sambil menjambak rambut Nasya hingga wajah gadis itu memerah. Sementara satu lelaki suruhan Bramantyo memegang erat ke dua tangan Nasya dan tujuh lainnya berdiri di belakang Bramantyo sok gagah. ‘’Bukan urusan Om,’’ jawab Nasya dengan sorot mata tajam tanpa takut. ‘’Udah berani lo sama gue??’’ kata Bramantyo galak sembari menarik kuat rambutnya ke belakang. Dalam hati, Nasya meringis kesakitan hingga satu tetes air matanya sukses lolos. ‘’Iya, Nasya ngga pernah takut sama laki – laki breng*** kaya Om!!’’ Nasya meludahi kemeja Bramantyo yang langsung membuat lelaki paruh baya itu marah, mendorong Nasya kasar ke atas tanah liat merah di tepi jalan, lalu menendang bahu gadis itu dan menunduk memegang dagu Nasya kuat seolah ingin memecahkan rahang indah milik Nasya. Perih, itulah yang Nasya rasakan. Ia hampir merasa tak sadarkan diri sebab sungguh sakitnya luar biasa terlebih bahunya serasa patah. Bugh!!!! Sebuah gebukan keras mendarat sempurna di rahang kanan Bramantyo. ‘’Arghhh! ’’ kata Bramantyo sembari mengelap darah yang mengkucur dari bibirnya. Zain tanpa takut membantu Nasya berdiri, memposisikan tubuh gadis itu di belakangnya. Lalu memukul habis semua suruhan lelaki tua di depannya dengan tangan kosong. Bramantyo kalah, lelaki tua itu sekilas berpikir skill bela diri lelaki di depannya tak bisa diragukan, lelaki dengan jubah hitam itu seolah sudah terlatih dengan benar bahkan nampak sudah sangat lama menguasai bela diri itu. Memilih menyelamatkan dirinya, Bramantyo kabur dengan motor mewahnya sementara Nasya ketakutan sambil menangis, Zain bingung harus melakukan apa. ‘’Sudah aman, pulang lah .’’ kata Zain, hanya itu yang bisa ia lakukan dan hanya kalimat itu yang terlontar dari bibirnya yang biasanya terkatup rapat. Mendengar tutur itu, Nasya justru menangis lebih keras. Aku harus pulang kemana ... batinnya. ‘’Hei ... ssst ...’’ Zain berusaha menenangkan Nasya tanpa menyentuh, ia hanya memandangi gadis yang kini menunduk dengan tangisan yang cukup keras, beberapa warga yang lewat memandang Zain dan Nasya dengan tatapan aneh. ‘’Hiks ...’’ tangis Nasya tak henti sebelum akhirnya Daniel datang, membawa gadis itu naik ke mobilnya lalu membawanya pulang ke villa miliknya, meninggalkan Zain tanpa sepatah kata dan di rundung kebingungan sekaligus jantung yang berdebar cukup kencang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD