TUJUH - GUA API

1102 Words
Sudah beberapa jam mereka berjalan memasuki gua. Mereka berjalan dengan sangat hati-hati, karena memang berjalan di dalam gua yang gelap itu sangat berbahaya. Terlebih mereka tidak tahu apa yang ada di dalam gua. Sebenarnya mereka sempat mengecek apa isi gua itu dengan sebuah teknologi. Tapi mereka tidak bisa mendeteksinya karena ternyata ada sebagian besar dari gua itu yang tertutupi sihir. Entah sihir apa itu. Tapi yang jelas, teknologi yang sekarang tidak dapat menembus sihir itu. "Aku sudah lelah berjalan, kita menggunakan sihir kita dua kali lipat lebih banyak karena harus menggunakan sihir pengendalian cahaya terus menerus secara bergantian," ucap Lorraine sambil duduk di salah satu batu yang ada di dalam gua. "Baiklah baiklah kita istirahat, kalian tidak keberatan kan?" tanya Reint sambil melihat ke arah Crystal, Lyra, Heitz, Rinz dan Gradey. "Tidak masalah, kita sudah berjalan cukup jauh juga. Sebentar lagi kita akan sampai di tempat yang tak dapat terdeteksi, yaitu tempat yang tertutupi sihir. Kita tidak tau apa yang ada di baliknya, jadi berisitirahat terlebih dahulu adalah keputusan yang bijak," ucap Gradey sambil duduk di salah satu batu yang datar. Yang lainnya pun mengangguk dan beristirahat secara bergantian seperti tadi. *** Setelah istirahat beberapa jam. Mereka siap untuk melanjutkan perjalanan ke dalam tempat yang tak dapat terdeteksi itu, tempat yang tertutupi oleh sihir. Dan Reint memimpin rombongan lagi. Mereka tidak tahu dimana letak pastinya mulai dari bagian mana gua itu tertutupi sihir. Yang jelas, mereka hanya akan terus memasuki gua. Mereka yakin bahwa saat mereka memasuki bagian gua yang tertutupi sihir, mereka akan merasakan hawa yang berbeda dari sebelumnya. Mereka berjalan selama kurang lebih satu jam. "Teman-teman, aku baru menyadari sesuatu," ucap Reint agak gelisah. "Apa!?" tanya Heitz dengan cepat. "Sepertinya kita sudah memasuki tempat yang tertutupi sihir daritadi," ucap Reint yang tiba-tiba berhenti berjalan. Crystal penasaran kenapa Reint tiba-tiba berhenti dan akhirnya memilih untuk berjalan mendahului Reint. Tapi, beberapa detik kemudian Crystal terdiam dan berjalan mundur. "Aku tidak tahu ini kabar baik atau buruk yang jelas aku tidak berani berjalan di depan," ucap Crystal lalu berjalan ke belakang lagi. Yang lain juga penasaran dan berjalan ke depan. Tapi tak sampai beberapa detik, mereka berjalan ke depan dengan cepat. Sedangkan Reint hanya duduk di salah satu batu sambil melihat ke depan dan memikirkan apa yang harus dilakukan. Sekitar 50 meter di depan mereka ada beberapa percikan api yang terciprat. Entah api sebesar apa yang ada di dalam atau ada bahaya lainnya yang menunggu, yang jelas cipratan api itu sangat terlihat di dalam gelapnya gua. "Apakah sebaiknya kita keluar terlebih dahulu untuk meminta bantuan?" tanya Rinz setelah berpikir beberapa saat. "Tidak bisa. Ini bukan tipe sihir yang bisa dikeluari dengan mudah. Ini tipe sihir penjebak. Sekali kau masuk, kau akan terjebak selamanya, kecuali kau dapat menemukan cara mematahkan sihirnya," ucap Reint yang baru saja mempelajari jenis sihir yang ada di sekitarnya itu. Yang lain hanya terdiam mendengar penjelasan Reint. "Bagaimana dengan sinyal?" tanya Jesselyn sambil berusaha mencari telepon genggamnya di tas. "Tidak mungkin ada sinyal di dalam sihir ini," ucap Reint setelah mendengar pertanyaan Jesselyn. Benar saja, Jesselyn kesal saat menemukan HPnya dan melihat bahwa sinyalnya tidak ada sama sekali. "Lalu? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Lyra sambil melihat ke arah Reint. "Hadapi apa yang ada di dalam, maka kita akan tahu caranya," ucap Reint sambil berdiri dan bersiap untuk masuk lebih dalam lagi. Yang lain hanya mengiyakan dan mengikuti Reint. Mereka bersiap untuk masuk lebih dalam lagi dan Reint tetap berjalan di paling depan. Cukup jauh mereka berjalan. Mereka berjalan sambil menghindari percikan-percikan api yang ada di gua. "Ada kobaran api yang sangat besar di dalam," ucap Reint sambil menunjuk salah satu bagian gua yang ada di depan mereka. Sebagian besar api tertutup tapi terlihat sebagian kecil dari api yang berkobar. "Jalan lebih cepat dan hati-hati," perintah Reint sambil berjalan dengan sekali-sekali menunduk atau meloncat. Reint sampai di bagian gua yang tepat di baliknya terdapat kobaran api besar. Reint menarik nafas panjang dan berjalan ke balik dinding gua itu. Benar sekali, semua bagian di dalam gua itu terbakar. Kiri, kanan, atas dan bawah semuanya terdapat api. Hawa di situ sangat panas. "Apa itu?" tanya Gradey yang berdiri tepat di belakang Reint sambil menunjuk ke tengah-tengah gua. Reint langsung melihat ke tempat yang ditunjuk Gradey dan memperhatikannya dengan seksama. "Tidak mungkin! Itu adalah manusia," ucap Reint lalu berlari ke manusia yang berada di tengah api itu. Yang lain kaget dengan ucapan Reint serta tindakan yang diambil Reint. "Reint hati-hati!" ucap yang lain saat melihat Reint. Reint tidak peduli dengan hal lainnya, ia fokus ke manusia yang ada tepat di tengah ruangan itu. Semakin Reint mendekati manusia itu,Reint menyadari bahwa itu adalah seorang perempuan. "Semuanya! Manusia itu adalah seorang perempuan," teriak Reint setengah bahagia, ia berharap itu adalah Chloe. Manusia itu terlihat sedang menutup matanya, tetapi sepertinya perempuan itu mendengar saat Reint berteriak dan mulai membuka matanya. Reint kaget karna perempuan itu tiba-tiba membuka matanya. Terasa seperti menatap Chloe tetapi bukan Chloe. Reint berjalan terus dengan hati-hati. Setelah diamatinya, ternyata api yang berada di gua itu adalah rambut manusia tadi. Setelah melihat Reint, semua api itu menyingkir ke samping. Reint tidak peduli dengan itu dan dengan cepat berlari ke tengah, ke tempat manusia itu. Beberapa saat kemudian, Reint sudah berdiri tepat di depan wanita api itu. Wanita itu mengangkat tangannya seperti sedang ingin bersalaman dan terus melihat ke arah tangah Reint. Reint paham bahwa wanita itu ingin bersalaman dengannya, tapi ia ragu untuk melakukannya. Setelah beberapa saat berpikir,  Reint memutuskan untuk menjabat tangan wanita itu. Toh kalau ia memilih untuk menolak, ia tidak akan bisa keluar dari gua itu. Lebih baik ia mencoba segala cara bukan? Reint menjabat tangan wanita itu dan tiba-tiba semuanya menjadi hening. Beberapa detik kemudian terdapat ledakan besar, Reint dan yang lainnya terpental sangat jauh, sampai ke depan mulut gua. Mereka masih dalam keadaan sadar dan entah kenapa tidak ada yang luka ataupun kesakitan. Saat mereka melihat ke arah gua, tiba-tiba seorang wanita berjalan dari dalam gua. Mereka masih belum bisa melihat dengan jelas wajah wanita itu. Setelah wanita itu benar-benar keluar dari gua, gua itu meledak menjadi milyaran serpihan api, lalu lenyap dalam beberapa detik. Reint langsung berinisiatif memakai sihir cahaya untuk melihat wajah wanita itu dengan jelas. "Terima kasih karna telah membebaskanku, aku akan menceritakan semuanya. Tapi pertama-tama, apa yang kalian masuki barusan dan tiba-tiba menghilang dalam sekejap itu adalah 'Gua Api'. Gua yang terbentuk dari sebuah sihir besar yang merupakan perpaduan dari sihir kuno dan sihir modern," ucap wanita itu sambil tersenyum. Wanita itu sangat cantik dan auranya sangat kuat. Orang yang melihat wanita itu pasti menyadari bahwa ia adalah seorang wanita yang sangat kuat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD