PART 2

1483 Words
  Elena terdiam. Lalu berdeham. Dia dan Christy sedang berada di dalam kamar Elena. Suasana rumah sangat sepi karena beberapa hari lalu keluarga Elena--Ayah dan Ibunya--melepaskan Justin untuk tinggal di apartemen nya sendiri. Otomatis, Elena anak tunggal di rumah sebesar itu. "Jangan dia, El." "Untuk alasan apapun, bahkan seandainya aku tahu dia sudah beristri, Christy. Aku tidak bisa. He's totally my crush." Christy menggeleng. "Dan dia memang sudah beristri. Aku tidak tahu harus bersyukur atau apa. Aku hanya...selisih umur kalian El. Dua belas tahun! Orang akan berpikir kau tidak waras. Banyak yang menyukaimu bahkan sejak kita masih di kelas pertama. Lagipula, kau akan disebut perebut suami orang!" "Aku tidak pernah berminat pada pria bau kencur." Elena menjawab ringan hingga membuat Christy melemparkan sebuah bantal padanya. Elena tertawa sumbang. Berhari-hari dia berpikir tentang...bahwa ternyata kali ini dia benar-benar serius dengan perasaannya. Dulu sekali, beberapa minggu setelah masuk sekolah, pernah Elena begitu mengagumi sosok Richard Callum, teman seangkatan mereka, namun rasa itu terlalu lemah hingga menguap begitu mudah. Tak meninggalkan sisa atau jejak yang sanggup membuat Elena terkesan. "Aku serius..." Elena berbisik lirih. Christy menatap Elena gemas. Dia bahkan memasukkan potongan kue kering hangat yang lumayan besar sekaligus ke mulutnya. "Kalau dia tidak menyukaimu dan hanya menganggapmu...anak kemarin sore? Sudah pasti kau akan gagal. Dan itu menyakitkan. Kalau aku jadi kau, aku memilih untuk tidak sakit." "Darah Leandro mengalir dalam darahku. Ibuku menikah muda. Dan aku, sepertinya aku menuruni sifatnya itu." "Oh, God...Elena. Terserah...! Aku hanya bisa menemanimu saat kau sakit hati dan menangis nanti." "Mungkin akan terjadi. Tapi apapun itu, Leandro selalu mendapatkan apa yang mereka mau. Filosofi Serigala...Ayahku tahu Ibuku adalah Luna--nya. Dan mereka menikah. Begitu juga aku. Aku tahu...pria yang kau bilang tua itu Alpha--ku, dan aku akan menikahinya suatu hari nanti." "Kau masih ingat aku hampir pingsan saat Miss Rosi memperkenalkan Ansell pada kita waktu itu? Aku...hampir pasti tidak pernah merasakan perasaan seperti itu seumur hidupku. Jadi, aku yakin!" Christy menyerah dan memeluk Elena erat membuat Elena tertawa. Elena tahu Christy sangat menyayanginya. Dia peduli padanya. Sahabatnya itu, yang selalu saja menolak tawarannya untuk tinggal di rumah ini dibanding harus tinggal di rumah Bibinya yang galak. Yah, Christy sahabatnya yang yatim piatu. Elena menyayanginya. "Menginaplah. Apa kau tidak mau bertemu dengan Justin? Dia akan pulang untuk makan malam." Elena menyenggol bahu Christy. Dia tahu Christy mengagumi sosok Justin. Entah perasaan apa itu. Perasaan ingin mempunyai seorang kakak laki-laki, atau perasaan sseorang gadis pada seorang pria. Elena belum bertanya. Tapi seperti biasa, kali ini Christy juga merona hanya dengan mendengar nama Justin. Seperti biasanya. "Apa tidak apa-apa?" "Mommy bahkan bertanya berulang kali kapan kau akan tinggal di sini. Sejak....luka di perutmu. Apa Bibimu masih sering melakukannya?" "Aku masih kuat menanggungnya El." "Apa kau akan tinggal kalau Justin yang meminta?" "Dia tidak akan..." Elena berdeham. "Sudahlah. Ibuku akan menelpon Bibimu. Kau akan menginap. Tenang saja. Dia selalu tahu apa yang harus dia lakukan. Terkadang, Ibuku bisa sangat licik, Chris..." "Jangan mengatai Ibumu, El!" Christy memukul bahu Elena pelan. Jelas dia tahu, Nyonya William Leandro wanita cantik yang sangat ramah. Dan Bibinya yang galak tidak pernah sekalipun mampu marah padanya kalau dia harus menginap di kediaman Leandro. Itu karena Autumn Leandro hampir bisa dipastikan akan mengirimkan hadiah yang mahal untuk Bibinya. Terkahir kali Autumn meminta Christy menginap, bibinya mendapatkan sebuah jam tangan dengan harga satu buah kios yang cukup besar. Bagaimana dia bisa marah kalau sudah begitu? Bahkan berulang kali juga bibinya bertanya kapan dia akan menginap lagi di kediaman Leandro. Christy selalu mempunyai perasaan tidak enak pada Ibu Elena karena sikap bibinya itu. Elena beranjak keluar dari kamarnya. Dengan rambut awut-awutan yang sama sekali tidak cantik. Bagaimana bisa pria dewasa seperti Mr Ansell akan menyukainya?  Bagaimana bisa pria dewasa seperti Mr Ansell akan menyukainya? Christy menghela napas pelan. Tatapan matanya lalu tertuju pada bingkai foto di dinding. Tepat di atas meja belajar Elena. Foto Elena dan Justin. Justin yang tampan dan jenius. Justin yang ramah dan baik. Justin yang suka sekali mengacak rambut merah menyala milik Christy. Justin yang... "Christy sayang, makan siang sudah siap. Turunlah..." Teriakan Ibu Elena membuat Christy tertawa pelan. Di balik tampilan fisiknya yang bagaikan seorang Lady, siapa yang akan menyangka kalau Autumn Leandro sangat suka berteriak. Christy bergegas turun dan bergabung dengan Elena dan ibunya, juga William, Ayah Elena yang terlihat manis pada istrinya. Pria itu, bahkan selalu menyempatkan diri untuk pulang di sela pekerjaannya yang yang sangat padat. "Christy, sayang...apa kabar?" "Baik, Uncle." "Menginap, okay?" Selalu seperti itu. Bahkan untuk seorang William yang tak banyak bicara. Dia selalu perduli. "Iya, Uncle." "Elena...Britany Jones akan pulang dalam minggu-minggu ini. Jadi, Mom minta. Jaga sikapmu." Autumn terlihat memicing sambil menyendokkan nasi dengan kacang polong ke piring Elena. "Bukan aku yang harus menjaga sikap. Kalau ada yang harus menjaga sikapnya, dialah orangnya, Mom..." Christy terlihat tersenyum. Begitu juga William. Semua tahu permusuhan abadi antara Elena dan tetangga abadi keluarga William. Elena dan Britany Jones. Bahkan saat William memboyong keluarganya ke rumah baru mereka, entah kutukan atau apa...keluarga Jones juga kebetulan membeli rumah di samping rumah keluarga William Leandro. Dan peperangan antara Elena dan Britany abadi... "Makanlah yang banyak, Christy. Kau kurus sekali." Autumn menyendokkan nasi dalam porsi banyak ke piring Christy. "Lihatlah betis Elena, Christy. Besar sekali." "Aku sehat, Mom." "Kau cantik sayang. Kau juga, Christy. Jangan dengarkan Ibumu." "Terimakasih, Dad." Christy tersenyum. Selalu merasa...dianggap ada. Elena memutuskan sepihak bahwa mereka akan jalan-jalan dan berbelanja. Sementara di hari Sabtu, Ayahnya bahkan tidak meliburkan diri dari kesibukannya. "Kalian pergilah dengan supir. Mom harus ke mansion bertemu Nenekmu, El." "Apa, Granny baik-baik saja?" "Tidak ada masalah. Kalian pergilah." Autumn menarik tangan Christy dan memberikan uang dalam jumlah banyak dan tak memberi kesempatan pada Christy untuk menolak. "Berbelanjalah. Bersenang-senanglah." Christy hanya sanggup mengangguk dan mengikuti Elena yang menariknya keras. --------------------------------------- Elena mengajak Christy ke bioskop di sebuah mall dan mereka memutuskan berbelanja esok hari saja. Setelah berdebat panjang, mereka akhirnya memilih menonton sebuah film komedi romantis yang sebenarnya tak begitu Elena suka. Tapi Elena memilih mengalah dan membiarkan Christy membeli tiketnya. Elena memeriksa ponselnya dan membalas beberapa pesan dari Justin yang memastikan dia akan datang untuk makan malam. Elena memasukkan kembali ponselnya dan mendongak. Saat itulah pandangan matanya tertumbuk pada sesosok pria yang seharian ini dia perdebatkan dengan Christy. Mr Ansell Giuliano. Terlihat santai dengan kemeja lengan pendek dan celana jeans. Tidak formal seperti saat dia mengajar di kelas. Elena baru saja akan berjalan menghampiri Ansell saat tiba-tiba kakinya berhenti. Seiring sesosok perempuan yang menghampiri Ansell dan bergelayut manja di lengannya. Siapa lagi kalau bukan Miss Dabria Scott yang cantik mempesona dengan gaun tanpa lengannya. Elena menelan ludahnya kelu. Tatapannya terluka. Dia membuang pandangannya ke arah lain saat tiba-tiba Ansell menjatuhkan tatapan mata hijaunya ke arahnya.  Dia membuang pandangannya ke arah lain saat tiba-tiba Ansell menjatuhkan tatapan mata hijaunya ke arahnya "El...ayo..." Christy menyambar tangan Elena dan menariknya masuk ke dalam bioskop. Di dalam gedung bioskop entah kesialan apa yang mengikuti Elena...dia mendapatkan tempat duduk tepat di belakang Ansell dan Dabria. "El...bukankah itu...kau mau kita pulang saja?" Christy berbisik lirih. Elena menggeleng seiring lampu bioskop yang dimatikan. Dan akhirnya sepanjang film diputar Elena bahkan tidak menikmatinya. Tatapannya tertuju pada pasangan di depannya. Pada tangan Dabria yang mengamit tangan Ansell hampir di sepanjang film diputar. Juga sesekali wanita itu menyenderkan kepalanya ke bahu Ansell. Sembilan puluh menit yang membuat Elena sesak. Elena menghela napas saat dia sudah berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang. Hari menjelang malam ketika mobil Elena masuk pekarangan rumahnya. Rumah sudah benderang. Bahkan suara Ibunya terdengar dari arah ruang makan. Elena masih mengandeng tangan Christy mencari kekuatan. Mereka memasuki dapur dan mendapati Justin dam William tengah berbincang dan tertawa. Juga Autumn dan seorang wanita... Tatapan Christy jatuh pada wanita itu. Dewasa dan cantik. Tengah membantu Autumn membereskan meja. Rambutnya coklat berkilau. Bajunya pantas di tubuhnya. Sangat cantik. "El, Christy...kalian mandilah. Lalu turun kembali saat makan malam. Oh ya...kenalkan...ini Cassandra Noah. Teman dekat Justin." Autumn memperkenalkan mereka. Gadis yang bernama Cassandra itu mengangguk dan tersenyum sangat manis di sertai lirikan manja ke arah Justin. Bahu Christy luruh. Putus asa. Dan apa ini? Rasa sakit menderanya. "Hai, Cassandra. Kami permisi dulu." Elena menarik Christy yang terpaku. Mereka menaiki tangga menuju kamar Elena. Elena menutup pintu pelan dan menatap Christy yang langsung menuju kamar mandi. Elena keluar lagi dan memutuskan untuk mandi di kamar mandi di kamar Justin. Tepat di samping kamarnya. Tiga puluh menit kemudian... Elena dam Christy duduk di tepi ranjang. Sudah bersih dan wangi. Mereka berdiam diri sebelum akhirnya Elena berbicara. "Apa kau patah hati seperti ku, Christy?" Christy diam. "Aku...mungkin iya. Tapi aku bukan siapa-siapa El. Justin terlihat cocok dan serasi dengan gadis itu. Aku bahkan tadi mendengar Justin memanggilnya dengan panggilan Cassie." "Seperti nama seekor anjing pudel." "El..." Christy memperingatkan. "Selain ter obsesi pada Ansell, aku juga ter obsesi menjadikanmu kakak iparku, Chris. Hanya gadis yang sudah aku kenal dan gadis baik sepertimu--lah yang berhak mendampingi Justin." Christy terdiam. Tak menyangka Elena punya pemikiran seperti itu untuknya. Untuk gadis yang mungkin dianggap aneh oleh Justin. Lihat saja rambut merah menyala nya yang terlihat aneh untuk kulitnya yang putih pucat. Sangat bertolak belakang dengan gadis bernama Cassandra yang punya kulit bersinar dan rambut coklat yang seksi. "Kita bisa jadi dua gadis yang patah hati." Suara Elena pilu. Dia merengkuh Christy yang tertawa sama pilu. "Bisa jadi El..." ---------------------------------    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD