PART 3

1603 Words
Ansell merutuk dalam hati. Menyugar rambutnya keras dan menggeram pada dirinya sendiri. Dia menghempaskan tubuhnya ke sofa di ruang tengah apartemennya. Seharusnya tidak seperti ini. Seharusnya dia tidak meninggalkan Dabria di apartemennya. Seharusnya dia singgah dan mereka akan melakukan s*x yang hebat. Tapi itu tidak terjadi. Ansell tersentak dan meninggalkan Dabria dengan ucapan maaf yang membuat Dabria heran. Tinggal sedikit lagi dan mereka akan bercinta...saat kelebat bayangan Elena Leandro yang menatap Ansell dengan tatapan terluka memenuhi pikiran Ansell. Dan dia memutuskan keluar dari apartemen Dabria secepat dia bisa. Ansell berteriak tertahan. Menyambar laptopnya dan mulai berselancar di dunia maya. Mesin pencarian membawanya menelusuri jejak postingan gadis kencur bernama Elena Leandro yang mengusik hatinya. Perlahan tapi pasti, Ansell menelusuri satu persatu postingan Elena. Ansell merutuk keras ketika mengetahui betapa postingan Elena kebanyakan adalah fotonya saat melakukan kegiatan pribadi seperti...berenang dengan baju renang one piece. Foto tampak samping yang sangat seksi. Nyaris membuat Ansell merutukkan umpatan saat melihat Like yang di terima Elena untuk fotonya itu. Nyaris membuat Ansell merutukkan umpatan saat melihat Like yang di terima Elena untuk fotonya itu Dada Ansell berdesir. Rasanya ingin sekali menutup tubuh gadis itu dan menjauhkannya dari pandangan para pria di luaran sana. Foto itu sangat seksi dan menggoda. Mata Ansell terus menjelajah dan kembali menemukan foto diri Elena. Ansell mengusap dagunya pelan.  Ansell mengusap dagunya pelan Elena yang tertidur. Bahkan sanggup membuat Ansell membayangkan yang tidak seharusnya dibayangkannya. Dia jelas pria dewasa dan gadis itu baru berumur 18 tahun! Baru saja memasuki tahun ke dua di Akademi Memasak. Ansell merasa dia sangat keji. Ansell menelan ludahnya susah payah. Matanya menatap tajam foto Elena yang memperlihatkan secara jelas raut wajahnya.  Matanya menatap tajam foto Elena yang memperlihatkan secara jelas raut wajahnya Wajah kekanakan yang memang masih sangat belia. Dengan bibir yang terlihat sanggup mengucapkan kata-kata yang kejam. Walaupun pada kenyataannya Elena adalah gadis yang sangat ramah dan pandai bergaul. Ansell merutuk dalam hati. Gadis ini yang mampu membuatnya berlari menjauh dari sebuah s*x hebat yang menjadi kebutuhannya sebagai pria dewasa berusia 30 tahun. Gadis yang aroma tubuhnya melekat erat di indera penciumannya dan mengirimkannya ke otaknya. Tersimpan rapi hingga saat ini. Wangi vanilla yang lembut yang berusaha dia sangkal mati-matian mampu membuatnya tidur nyenyak hanya dengan mengingatnya. Ansell mengusap wajahnya dan menutup komputer jinjingnya. Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Membiarkan pikirannya berkelana. Elena Grace dengan nama belakang Leandro. Salah satu anggota keluarga Leandro yang rata-rata dominan. Ansell tahu Ayah dan Ibu gadis itu. Dan Ansell tahu gadis itu walau tak banyak. Tapi kalau melihat nama belakang yang tersemat di belakang namanya, ada satu jaminan tak terelakkan yang Ansell tahu. Seorang Leandro mampu memikat hati manusia sebeku apapun. Dan Ansell takut akan hal itu. Takut hatinya terperangkap dalam keindahan Elena. Takut hatinya terpaut dan tak sanggup lepas lagi. Apalagi waktu itu...Elena Grace jelas menggumamkan namanya dalam tidurnya. Jelas itu adalah sebuah celah kalau boleh Ansell percaya diri. Tapi, dia bukan siapa-siapa. Sekalipun dia adalah pria yang mampu membuat Elena Leandro merona karena tebakan tentang mimpinya yang benar. Dia hanya Ansell dengan nama belakang Giuliano. Pria yang berasal dari sebuah desa di Perancis selatan. Yang di tunggu kepulangannya oleh Ibunya yang sendiri. Dia hanya pria yang bukan siapa-siapa. Ansell memejamkan matanya. Menghalau pening dan bayang Elena yang mencumbunya.... ---------------------------------------- Suasana dapur uji coba sangat riuh. Suara peralatan dapur dan mesin-mesin penghancur bumbu berpadu sangat serasi. Para siswa sedang melakukan praktek dengan dibagi dalam beberapa kelompok. Mereka sedang berjuang membuat sebuah masakan Italia bernama Cannoli dengan persentase kesalahan sekecil mungkin. Elena mengedarkan pandangannya. Dia tak melihat Christy sejak pagi hingga menjelang kelas bubar. Elena menghela napas dan menatap hasil kerjanya dengan teman-temannya. Empat buah Cannoli khas Sisilia berhasil dipresentasikan. Mereka tinggal menunggu hasil kerja keras mereka. Elena melirik Mr. Ansell dan sialnya...Miss Dabria Scott yang akan memberi penilaian. Elena mendengar tadi pagi, bahwa Miss Dabria menjadi guru tamu untuk dua bulan ke depan.  Elena mendengar tadi pagi, bahwa Miss Dabria menjadi guru tamu untuk dua bulan ke depan Hasil yang cukup memuaskan didapatkan oleh Elena dan teman-temannya. Dan Elena segera melesat keluar begitu bel berbunyi keras. Mengabaikan tatapan Ansell yang menatapnya dengan tatapan yang Elena tak mengerti artinya. Ada apa dengan pria itu? Mengapa pria itu menatapnya seperti itu di saat Elena berpikir untuk menyudahi obsesinya? Elena melemparkan apron ke lokernya. Lalu dia menyambar tasnya dan melangkah setengah berlari di sepanjang koridor sambil menelpon supirnya. Elena langsung masuk ke dalam mobil dan mobil melaju meninggalkan pelataran Akademi. Hari sangat terik dan Elena sangat khawatir. Ponsel Christy bahkan tidak aktif. Begitu patah hatinya--kah Christy? Pada Justin yang nyata-nyata mengenalkan Cassandra sebagai teman dekatnya kemarin? Christy jelas bukan gadis yang mudah terbawa perasaan. Tapi ketidak hadirannya di kelas yang sangat penting jelas membuat Elena tak urung menjadi gelisah. Mobil Elena berhenti di sebuah ruko. Rumah sekaligus toko bunga milik Bibi Christy, Nyonya Clemenza Powell. Sekali pandang, Elena dapat menyaksikan Christy yang tengah menggunting batang mawar. "Chris..." Elena menyapa pelan membuat Christy mendongak. "Oh, hai El..." Hanya itu. Dan Elena segera saja melihat luka di sudut bibir Christy. Elena...tanpa mengatakan apapun langsung menyeret Christy keluar dari ruko. Mendorong Christy ke mobilnya. "El..." "Apa Bibimu membawa laki-laki itu kemari Chris?" Christy terdiam. "Aku harus menyelesaikan pesanan El. Mengertilah. Kita bicara nanti." Elena baru saja akan membuka mulut saat sebuah teriakan datang dari dalam ruko. Teriakan Bibi Christy memanggilnya. "Aku mohon El. Kita bicara nanti. Aku akan menelponmu." Christy secepat kilat keluar dari mobil Elena yang menghela napas khawatir. Akhirnya Elena meminta supirnya untuk melajukan mobilnya pulang. Dia tahu, Christy bisa sangat keras. Setidaknya dia berjanji akan bicara. Dan Elena akan menunggunya. --------------------------------------------- Elena mencoba memejamkan mata ketika tengah malam merangkak pelan. Neneknya sedang tidak sehat dan Ibunya mengajaknya menginap di mansion. Elena terus mencoba menghubungi Christy dan hasilnya nihil. Ponselnya tidak aktif. Elena berdeham mengusir gelisahnya. Dia merapatkan selimutnya. Di tempat lain di depan sebuah apartemen. Ketika tepat tengah malam. Christy merapatkan jaketnya. Mengencangkan syalnya. Christy merutuki nasibnya. Merutuki keras kepalanya tak menerima uluran tangan Elena siang tadi. Nyatanya dia harus berakhir di jalanan. Bibinya jelas-jelas melemparkan tas berisi buku sekolahnya dan meminta Christy pergi karena pria itu---kekasih Bibinya---akan tinggal bersama dengan Bibinya. Dan dia tidak beruntung seperti biasanya ketika mendapati rumah Elena tidak berpenghuni. Menurut petugas keamanan, Elena dan kedua orangtuanya pergi ke Mansion Leandro. Lalu yang terlintas di benak Christy adalah Elena yang menyebutkan nama dan alamat apartemen Justin, Kakaknya. Dan di sinilah Christy sekarang. Apartemen Justin dengan supir taksi yang masih menunggunya. Menunggu pembayaran ongkos taksi lebih tepatnya. Christy meminta supir taksi menunggu di lobby sementara dia membujuk petugas keamanan untuk mengijinkannya menemui Justin Leandro. Hal yang tidak mudah dan Christy bersyukur supir taksi mau menunggunya. Mungkin karena orang yang akan ditemui Christy tinggal di apartemen super mewah ini. Setelah perdebatan alot dan sedikit airmata. Petugas keamanan mengijinkan Christy masuk dan menuju lantai di mana Justin tinggal. Christy berdiri. Termangu. Menatap bel di sisi pintu. Hatinya galau. Antara menekan bel atau urung. Tapi supir taksi menunggunya. Christy menunduk tepat di saat pintu terbuka. Christy tak berani mendongak. "Christy." Suara Justin. Sarat akan khawatir membuat Christy mendongak. Pria itu terlihat memakai jaketnya. Sepertinya Justin memang sengaja akan keluar. Lalu...Christy merasakan hangat pada tubuhnya yang nyaris membeku. Justin memeluknya erat. Mencium puncak kepalanya. Mengusap punggungnya. Memberinya rasa nyaman dan gemetar. "Jangan seperti ini. Kami khawatir. Elena khawatir. Dan aku hampir gila setelah menerima telpon dari Elena." Justin mengerang entah untuk apa. Mungkin menghalau rasa khawatirnya. Tapi untuk apa khawatir? Jelas Christy hanya teman bagi Elena. Dan jelas Justin punya Cassandra. Justin merenggangkan pelukannya. Tangannya menarik leher Christy dan bibir hangat dan gemetar Justin segera saja menciumnya lembut. Membuat Christy terpaku. Tak membalas. Terlalu kagum dengan perasaannya yang campur aduk. Kepalanya yang pening. Dan perutnya yang mulas luar biasa. Juga tubuhnya yang menghangat. Justin mengecupinya lembut. Lalu menuntut dan Christy seperti kehilangan akal. "Justin..." Justin menarik bibirnya namun tak memisahkan dahinya dari dahi Christy. Sebuah gumaman keluar dari mulut Justin. "Hmm...kita masuk?" Masuk? "Aku belum membayar ongkos taksi. Supirnya menunggu di bawah. Bisakah aku meminjam sepuluh dollar?" Justin tertawa pelan. "Kita ke bawah." Justin menggandeng tangan Christy dan menariknya lembut. Mereka turun dengan lift dan Christy tak henti menatap Justin yang berdiri tegak di sampingnya dalam diam. Genggaman tangan Justin terasa hangat. Saat tangan Christy bergerak, Justin meremasnya tanpa menoleh. Justin yang membuat Christy bingung. Bingung untuk apa ciuman di bibir itu? Akhirnya Justin membayar ongkos taksi Christy dan menarik tangan Christy untuk kembali ke atas. Masih dilihatnya supir taksi itu tersenyum lebar. Menunggu yang tak sia-sia karena Justin membayar ongkos taksi Christy berkali lipat. Christy tertegun saat Justin hendak menariknya masuk sesaat setelah membuka pintu. Langkah Justin juga terhenti. Christy merasa canggung. Lalu Justin menariknya lembut. "Kau mau mandi air hangat?" Justin bertanya. Christy menggeleng. Lalu mengangguk. "Aku..." "Cassandra bukan siapa-siapa. Aku mengajaknya ke rumah hanya untuk memastikan ada yang patah hati saat aku mengajak seseorang ke rumah. Dan ternyata memang ada yang patah hati." Justin tertawa pelan. Kata-katanya penuh godaan. Christy mendongak. Terpekik kecil saat Justin menariknya masuk dan mencium bibirnya lagi dengan keras. "Kau cemburu?" "Aku...tidak." Christy mengelak. Justin mencium bibir Christy sekali lagi. "Katakan kau cemburu." Christy menggeleng. "Baiklah. Aku akan membujuk Cassandra untuk benar-benar menjadi kekasihku." "Tidak setelah kau menciumku, Justin!" Christy memekik tak terima. Justin tertawa keras. Tawanya mereda saat tangannya terulur mengelus pipi Christy. Mengelusnya lembut dan hangat. "Sejak kapan kau jatuh cinta padaku, gadis nakal?." Sebutan gadis nakal entah mengapa terdengar manis saat Justin yang mengucapkannya. Justin membawanya ke sofa. Memeluknya dan menatapnya lembut. "Sejak aku...mengenal Elena." Christy yakin dia merona. "Tidakkah kau merasa kau masih terlalu kecil untuk jatuh cinta padaku? Aku pria 23 tahun." "Aku sudah delapan belas, Justin!" Kembali Christy mengeluarkan suara tak terimanya. "Apakah delapan belas tahun sudah berani bercinta?" Christy mendongak dan menatap Justin tajam. Dia terpaku. Tak akan bisa menjawab pertanyaan Justin yang entah mengapa terasa dekat dengannya. Tergapai. Tersentuh. "I'm in love with you, red hair." Dan Christy melayang. Tak mampu menjawab. Hanya merasakan bibir hangat Justin kembali menciumnya. Ciuman yang didambanya.   ---------------------------        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD