Kehangatan

2015 Words
Sekeras apa pun usahamu untuk mengejarnya, sesuatu yang bukan milikmu tidak akan pernah menjadi milikmu, dan sesuatu yang memang ditakdirkan untukmu akan menemukan jalan untuk sampai padamu. Syok. Galuh langsung terkejut saat pembatas kamar mandi itu bergeser dan laki-laki tua itu sudah berdiri di belakangnya. Spontan, tangannya langsung menutupi d**a dan inti tubuhnya meskipun cara itu tidak cukup untuk menutupi tubuh moleknya. “Apa yang Om lakukan di sini?” tanya Galuh syok, dan Teo hanya tersenyum tipis menanggapi reaksi gadis muda itu. “Apa yang aku lakukan?” kutip Teo. “Bukankah tadi kamu yang menawarkan untuk melakukan itu?” sarkas Teo, mengingatkan jika sebelumnya Galuh menawarkan diri untuk melakukan hal yang biasa dilakukan pasangan pengantin di malam pertama mereka. “Tapi... tapi tidak di sini juga kali, Om.” Galuh masih tidak bisa memperlihatkan tubuh polosnya di hadapan seorang laki-laki meskipun sekarang laki-laki ini adalah suaminya. “Galuh. Aku tidak akan melakukannya di sini. Bukankah tadi aku mengatakan kita akan mulai dengan mandi? Ya, ini maksudku. Kita akan mulai dengan mandi bersama agar kamu lebih rileks,” jawab Teo dengan nada suara yang cenderung lembut untuk menjaga kewarasan gadis muda itu. “Tapi, Om...” Galuh ingin protes. “Om tidak akan melakukannya di kamar mandi. Kita benar-benar hanya akan mandi bersama, tidak lebih, jadi tenanglah!” potong Teo saat sudah naik ke bathtub dan ikut membasahi tubuh polosnya. Galuh sudah dari tadi menutup matanya, tidak ingin melihat tubuh polos laki-laki tua itu. Teo melihat bagaimana Galuh yang terlihat sangat ketakutan dengan menutup matanya, dan Teo bisa memaklumi itu. Teo buru-buru menuangkan larutan sabun ke dalam bak besar itu lalu menyalakan keran air hangat agar bak mandi itu terisi penuh hingga berbusa dan tubuh keduanya tenggelam di dalam air dengan busa yang mengepul di permukaan air itu. “Buka matamu. Tubuh kita sudah sama-sama tertutup air dan busa, jadi kamu tidak perlu merasa malu!” ucap Teo yang hanya diam di sisi sebelah bak dengan tubuh yang sudah tenggelam sampai di leher. “Buka matamu, Galuh, dan lihat aku!” ucap Teo sekali lagi, tetapi Galuh benar-benar masih sangat takut untuk melihat tubuh laki-laki itu. “Aku tidak bisa, Om. Aku...” suara Galuh bergetar, dan Teo benar-benar bisa memahami itu, mengerti jika gadis muda yang hari ini resmi menjadi istrinya itu masih takut untuk sekadar menatapnya. Lalu, untuk apa tadi dia menawarkan diri untuk melakukan hal ini? “Buka dulu matamu. Bagaimana kamu akan mengenaliku jika kamu tidak ingin melihat dan menatapku? Bukankah kamu sendiri yang menyetujui pernikahan ini? Aku bahkan tidak pernah memaksamu untuk menikah denganku. Jadi sekarang, singkirkan rasa takutmu itu, Galuh. Lihat aku dan hilangkan rasa tidak enak itu di hatimu! Itu sama sekali tidak berguna!” ucap Teo meminta Galuh membuka matanya dan menyingkirkan rasa tidak enaknya karena sekarang mereka sudah tidak ada batasan apa pun. Seharusnya, gadis muda ini paham apa yang berusaha Teo jelaskan tanpa harus mengatakan secara langsung maksudnya yang sesungguhnya karena Teo juga tahu Galuh tidak mungkin tidak tahu tugas dan tanggung jawab seorang istri sebelum dia menyetujui untuk menikah. “Galuh...” lirih Teo lagi karena Galuh masih saja menutup mata sambil memeluk tubuhnya sendiri. “Galuh...” lirih Teo sekali lagi, dan baru setelah itu Galuh berani membuka matanya lalu langsung menatap wajah teduh laki-laki itu, laki-laki tua yang seumuran dengan ayahnya. “Kamu harus membiasakan diri untuk menatap mataku, menatapku saat bicara denganku, dan menatapku setiap kali aku memanggil serta melirihkan namamu,” ucap Teo dengan sangat lembut. Kali ini, Galuh mengangguk dengan sangat patuh. “Aku sengaja memulainya dengan cara seperti ini agar kamu sudah lebih siap jika aku ingin melakukan itu dengan cara yang sepantasnya!” ucap Teo lagi, masih dengan menatap dalam ke manik mata gadis cantik itu. Galuh lagi-lagi hanya kembali mengangguk sambil menatap Teo ketika berucap seperti yang Teo inginkan tadi. Teo menyelesaikan mandinya lalu bangkit dari bak besar itu hingga tubuh polosnya kembali terekspos. Kali ini, meskipun merasa sangat malu, Galuh benar-benar berusaha menghilangkan rasa canggung karena seperti yang Teo ucapkan, dia harus melawan rasa sungkan dan malu itu karena bagaimanapun laki-laki ini sekarang adalah suaminya. “Selesaikan mandimu. Aku akan menunggumu di ranjang!” ucap Teo saat bangkit dan menutupi tubuh bagian bawahnya dengan handuk setelah sebelumnya dia juga membilas tubuhnya dengan air bersih. Lagi-lagi, Galuh hanya mengangguk dengan sangat patuh, menyelesaikan mandinya dengan sangat baik lalu membungkus tubuhnya dengan handuk yang sebelumnya Teo bawa untuknya karena ternyata Teo juga membawa pakaian yang sebelumnya Galuh gunakan keluar bersamanya, menjadikan Galuh keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk kimono dan rambut yang dia gulung tinggi. Dengan langkah kaku, Galuh berjalan menghampiri Teo yang duduk di bibir ranjang, sudah dengan pakaian tidur model kimono berbahan sutra warna merah marun. “Pakai pakaian ini dan istirahatlah,” ucap Teo sambil menunjuk ke arah satu set pakaian tidur dengan model yang sama seperti yang dia gunakan. Galuh hanya mengangguk lalu mengambil pakaian yang tergeletak di atas ranjang di sebelah Teo, kemudian segera bergegas ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Baru saja Galuh akan membuka pintu kamar mandi saat tiba-tiba suara bariton itu kembali memanggil namanya. “Galuh,” panggil Teo. Galuh kembali menoleh ke arah Teo. “Iya, Om?” “Mau ke mana?” tanya Teo. “Mau ganti baju, Om!” jawab Galuh polos, dan Teo terlihat menghela napas dalam diam. “Ganti baju di sini. Aku ingin melihatmu!” ucap Teo. Seketika seluruh otot dan persendian Galuh langsung kaku di tempat. Rasanya, itu sangat mustahil bisa Galuh lakukan. Galuh dan Teo baru bertemu dan mengenal nama satu sama lain hari ini, tetapi mereka sudah langsung diikat dengan tali pernikahan. Sekarang, tiba-tiba Galuh dihadapkan dengan situasi yang mencekam seperti ini karena Teo, laki-laki yang sudah menikahinya itu, tiba-tiba memintanya berganti pakaian tepat di depannya. “Tapi, Om...” Galuh ingin protes, tetapi Teo langsung menggeleng. Jujur, Galuh tidak punya kata untuk menolak ucapan laki-laki tua itu, Teo. Dengan perasaan gugup, malu bercampur takut, Galuh akhirnya kembali dari arah pintu kamar mandi. Berdiri di hadapan Teo yang masih terlihat duduk tenang dengan tatapan fokus padanya. Pelan-pelan, Galuh melepas handuk kimono itu hingga teronggok di lantai sampai tubuh molek dan putih itu bisa Teo lihat secara keseluruhan. “Berputar!” ucap Teo menginstruksikan Galuh untuk berputar agar dia bisa melihat bagian tubuh belakang gadis cantik itu, dan Galuh benar-benar berputar seperti yang Teo inginkan. “Diam!” ucap Teo saat Galuh berhasil berputar seratus delapan puluh derajat dan Teo bisa melihat bagian belakang tubuh gadis itu secara sempurna. Teo bangkit dari duduknya, membuka baju tidur berbahan sutra itu lalu merentangkannya ke arah punggung Galuh. Galuh langsung memejamkan matanya karena bagaimanapun Galuh ingin mencoba melawan rasa gugup dan takutnya. Nyatanya, Galuh tetap merasa gugup dan belum siap jika sampai laki-laki ini melakukannya sekarang. Namun, di luar dugaan, Teo malah menutupi tubuh Galuh dengan gaun tidur itu, membantu Galuh merentangkan sedikit tangannya lalu mengikat simpul baju tidur di pinggang Galuh. Sungguh, Galuh sampai tidak bernapas saat Teo melakukan itu tadi. Napasnya serasa berhenti di perut karena takut dan gugup. “Istirahatlah. Aku akan turun mengambil air minum dulu!” ucap Teo dengan sangat lirih kemudian berlalu dari hadapan Galuh, keluar dari kamar mereka. Baru setelah itu Galuh bisa bernapas lega sembari menjatuhkan bokongnya di atas ranjang. Menghela napas lalu mengembuskannya dengan sangat dalam dan pelan. Lega. Belum cukup rasa lega yang Galuh rasakan saat tiba-tiba Teo sudah kembali ke kamar itu dan menatap Galuh yang ternyata masih duduk seolah sedang menunggu Teo untuk memintanya naik ke atas ranjang. “Kamu belum tidur. Tidurlah. Ini sudah cukup larut!” ucap Teo saat melirik jam di sisi dinding sebelah utara dan jam sudah menunjukkan angka sepuluh tepat. “Iya, Om!” jawab Galuh yang langsung beringsut di sisi ranjang sebelahnya karena Teo langsung duduk di sisi sebelah lainnya. Galuh menarik selimut hingga menutupi perutnya lalu merebahkan tubuhnya, begitu juga dengan Teo. Naik dan ikut menutupi tubuhnya dengan selimut yang sama dengan yang Galuh gunakan. Diam sejenak karena ternyata tidak hanya Galuh yang merasa gugup, tetapi Teo juga. Meskipun ini bukan kali pertama Teo menikah dan melakukan aktivitas suami istri, nyatanya Teo juga tetap gugup saat akan melakukannya pada Galuh, gadis muda yang masih sangat-sangat muda untuknya. “Kenapa kamu ingin menikah denganku? Apa Papamu memaksamu untuk menerima pernikahan ini?” tanya Teo setelah cukup lama diam dan tidak bisa memejamkan matanya. Teo yakin Galuh juga sebenarnya kesulitan untuk sekadar memejamkan matanya. Terdengar helaan napas halus lepas di bibir gadis itu dan Teo langsung menoleh ke arah Galuh, menunggu jawaban gadis itu. “Tidak. Papa tidak pernah memaksaku untuk menikah dengan Om, tidak sama sekali,” jawab Galuh apa adanya. “Lalu?” tanya Teo lagi. “Papa hanya menceritakan sedikit tentang Om. Bagaimana Om yang berjuang dan membantu kasusnya. Bagaimana Om yang terus mengatakan tidak akan berhenti membantunya hingga dia mendapatkan keadilan meskipun pada akhirnya keadilan itu tetap membuatnya berada di tempat itu. Menceritakan bahwa Om adalah orang yang sangat baik dan bertanggung jawab. Menceritakan bagaimana Om dan Papa dulu menghabiskan waktu bersama di negara orang ketika menjadi mahasiswa. Dan menceritakan jika Om sudah menduda lama setelah istri Om...” Galuh menjeda kalimatnya karena tidak ingin mengatakan atau mengungkit kematian wanita yang merupakan istri pertama Teo, takut jika itu malah menyinggung perasaan laki-laki itu. “Lalu kamu menawarkan diri untuk dinikahi olehku?” kutip Teo saat menarik tubuhnya untuk miring menghadap gadis cantik itu. “Tidak,” jawab Galuh di luar dugaan Teo. “Lalu apa?” tanya Teo lagi, dan Galuh kembali menghela napas dengan sangat lembut. “Papa menceritakan jika Om memimpikan seorang istri dan anak untuk menemani hari tua Om, dan kembali menceritakan semua kebaikan Om. Hanya kebaikan Om tanpa sedikit pun menceritakan sisi buruk Om. Setelah itu bertanya pada Galuh, apakah Galuh tidak ingin punya suami seperti Om?” ucap Galuh, yang memang benar adanya setelah Galuh setuju untuk menikah dengan Teo dan kedua kakak perempuannya meninggalkan mereka, Evan menceritakan hal itu padanya. “Lalu kamu menjawab iya?” tanya Teo setelahnya. Kali ini, Galuh langsung mengangguk dalam diam. “Ya,” jawab Galuh. “Kamu langsung mengatakan iya meskipun kamu belum tahu bagaimana aku yang sesungguhnya?” tanya Teo benar-benar penasaran. Lagi-lagi, Galuh kembali mengangguk. “Ya,” jawab Galuh lagi. “Bagaimana bisa?” tanya Teo heran dengan kepolosan gadis itu. “Galuh percaya dengan Papa. Galuh percaya jika Papa tidak mungkin ingin membuat putrinya menderita dengan membiarkan putrinya menikah dengan laki-laki sembarangan. Intinya, Galuh percaya jika Papa pasti sudah memikirkan dengan sangat matang saat menawarkan pernikahan ini pada Galuh!” jawab Galuh terdengar sangat logis dan rasional. Kali ini, Teo mengangguk dengan penjelasan gadis itu. “Iya. Kamu benar. Aku memang pernah mengatakan bahwa aku memimpikan seorang istri dan anak untuk menemani hari tuaku pada Papamu, tapi sungguh, aku tidak pernah meminta putrinya untuk menikah denganku. Tidak pernah sama sekali!” ucap Teo setelahnya lalu kembali merentangkan tubuhnya dengan menghadap langit-langit kamarnya. “Iya. Papa juga tidak pernah mengatakan hal itu. Dia hanya bertanya apakah Galuh tidak keberatan jika dinikahkan dengan Om Teo!” jawab Galuh. Kali ini, Galuh membalik tubuhnya, miring menghadap Teo dan Teo kembali memiringkan posisi tidurnya untuk menatap gadis itu, melihat keseriusan gadis itu ketika berbicara. “Dan ya, Galuh menjawab tidak keberatan!” jawab Galuh terdengar tulus. Kali ini, tangan Teo terangkat dan mendarat di sebelah pipi Galuh. “Dan kamu pasti tidak pernah membayangkan jika ternyata aku sudah setua ini, kan?” tanya Teo setelahnya sambil membelai pipi gadis itu. Namun, Galuh menggeleng. “Bukankah tadi Galuh juga mengatakan jika Papa menceritakan tentang kebersamaan Om dan Papa saat menyelesaikan studi di luar negeri? Jadi Galuh sudah memprediksi Om akan sama tuanya dengan Papa,” jawab Galuh apa adanya. Teo kembali mengangguk dengan perasaan yang luar biasa hangat. Tangan besar itu masih terus membungkus dan membelai pipi dingin Galuh, menatap manik mata cokelat Galuh yang jernih. Dengan sangat halus, Teo meminta kesediaan Galuh untuk dia sentuh lebih jauh karena ini adalah malam pengantin mereka dan rasanya akan sangat hambar jika mereka hanya melewatkan malam itu dengan bercerita tanpa saling menyentuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD