Pernikahan

1874 Words
Hari itu, setelah berbicara dengan ketiga putrinya dan mendapatkan kesepakatan dari salah satu putrinya, dua hari kemudian Evan menghubungi Teo dan meminta laki-laki itu untuk menemuinya. Evan menjelaskan apa yang sebelumnya dia bahas dengan putrinya, tepatnya pembicaraannya dengan Galuh. Dengan sangat hati-hati, Evan membuat satu permintaan pada Teo Mervino. "Maukah kamu menikahi salah satu putriku? Jujur, aku akan sangat merugi jika sampai salah satu putriku tidak mendapatkan kesempatan untuk menjadi istri dari laki-laki seperti kamu," ucap Evan tiba-tiba sambil menggenggam kedua tangan Teo, memohon agar laki-laki itu tidak menolak permintaannya. "Apa maksudmu? Apa kamu sedang bercanda, Evan?" Teo syok saat tiba-tiba Evan memintanya untuk menikahi salah satu putrinya. "Tidak, Teo. Aku sedang tidak bercanda. Aku serius. Aku ingin kamu menikah dengan salah satu putriku. Bukankah kemarin kamu mengatakan ingin menikah dan memiliki istri lagi? Maka, biarkan kesempatan itu dimiliki oleh putriku. Aku mohon!" Evan benar-benar memohon pada Teo agar laki-laki itu mau menikahi putrinya. "Tidak, Van. Aku tidak bisa!" tolak Teo Mervino terhadap ide gila Evan saat ini. Namun, Evan malah bangkit dari duduknya lalu berjongkok di lantai di hadapan Teo dengan bertumpu pada lututnya. "Aku mohon, Teo. Aku memohon sebagai seorang ayah. Aku mohon bantu aku sekali lagi untuk menjaga Galuh, putriku. Aku mohon. Aku mohon," pinta Evan bersungguh-sungguh. "Oke. Oke. Aku bisa saja membantumu untuk menjaga putrimu, tapi tidak mesti aku harus menikahinya, bukan?" tolak Teo. Namun, Evan kembali menggeleng. "Aku tahu. Tapi aku ingin kamu menjaganya sebagai seorang istri, bukan sebagai beban. Bukankah kemarin kamu mengatakan punya impian untuk menikah dan punya istri lagi? Bukankah kemarin kamu juga mengatakan ingin punya anak lagi agar ada yang menemani hari tuamu? Maka, biarkan aku mengabulkan impianmu itu seperti caramu membantuku tanpa mengharap apa pun dariku. Aku mohon, Teo, jangan menolak putriku. Dia sangat baik dan aku tidak bisa mempercayakan siapa pun untuk menjaganya selain kamu. Aku mohon, jangan menolak putriku. Dia bersedia menikah denganmu, jadi jangan menolaknya!" Evan benar-benar memohon sebagai seorang ayah demi kebahagiaan dan keselamatan putrinya. "Tapi, Evan..." "Aku tahu. Aku tahu apa yang membuatmu ragu. Perbedaan usia! Aku tahu itu. Perbedaan usia kalian memang sangat jauh, tapi dia mengatakan tidak mempermasalahkan itu. Dan aku harap kamu juga tidak mempermasalahkannya!" potong Evan buru-buru seolah tidak ingin Teo kembali menolak permintaannya. "Evan, jika kamu berpikir ini untuk membalas apa yang telah aku lakukan untukmu, sungguh itu tidak perlu. Aku ikhlas membantumu. Aku tidak pernah berharap kamu akan..." "Tidak, Teo. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk putriku. Memberikan jodoh terbaik untuk putriku dan itu adalah kamu. Jadi, aku mohon untuk yang kesekian kalinya, jangan menolak putriku. Ini adalah permintaan dari seorang ayah untuk putrinya," ucap Evan kembali memotong ucapan Teo. Kali ini, Teo benar-benar tidak punya kata untuk menolak permintaan Evan karena semakin dia menolak, Evan semakin bersimpuh dengan permohonannya yang bahkan terasa sangat tidak masuk akal. Setelah berbicara banyak, hari itu Evan juga meminta Galuh, putrinya, untuk datang ke rumah tahanan dan memperkenalkan Teo pada putrinya. Ternyata, Teo masih mengingat gadis itu. Dia adalah gadis yang sama dengan gadis yang nyaris dilecehkan di apartemen yang waktu itu sempat dia kunjungi karena Teo baru saja membeli beberapa unit di tempat tersebut. Galuh juga langsung mengenali laki-laki itu, laki-laki yang bahkan belum sempat dia ketahui namanya. Jas milik Teo juga masih Galuh simpan di lemarinya karena dia tidak tahu bagaimana cara mengembalikannya pada laki-laki yang baru dia ketahui bernama Teo Mervino, laki-laki yang sama yang juga telah menolong ayahnya. Selain Galuh, Teo juga meminta Antonio dan David, menantunya, untuk datang menemuinya di rumah tahanan guna membantu mengendalikan situasi yang menurutnya sangat rumit. Antonio dan David ikut mendengar pengakuan Evan yang menyatakan ingin menyerahkan putrinya untuk dinikahi oleh Teo. Percayalah, Antonio dan David sama syoknya dengan Teo Mervino saat menyadari bahwa gadis itu masih sangat muda jika harus menikah dengan Teo Mervino yang bahkan sudah memiliki tiga orang cucu dari satu-satunya putrinya, buah pernikahannya dengan David Fabian. Di hari yang sama, Teo juga langsung mengurus segala keperluan untuk menikahi gadis itu, sementara Galuh hanya menyerahkan kartu keluarga dan kartu tanda penduduk miliknya karena pernikahan itu akan dilakukan hari itu juga. Hanya pernikahan sederhana, dan hari itu, dengan bantuan Antonio, Evan mendapat izin dari pihak lapas untuk keluar sebentar dan menjadi saksi pernikahan putrinya. "Oh, kebaikan apa yang pernah kamu lakukan di masa lalu, Teo, hingga kamu bisa mendapatkan jodoh semuda dan secantik dia tanpa perlu bersusah payah mencari dan memperjuangkannya?" imbuh Antonio saat Teo baru selesai mengucapkan janji suci pernikahan dan menandatangani beberapa berkas penting. "Papa pasti dulu pernah menyelamatkan satu kerajaan dari sebuah peperangan hingga laki-laki itu dengan sukarela menyerahkan putrinya untuk Papa nikahi!" timpal David ikut memeluk Teo, ayah mertuanya, saat bangkit dari duduknya. Galuh juga langsung memeluk Evan, ayahnya, sambil menangis haru. "Tidak. Papa pikir, Papamu ini pasti dulu pernah menjadi raja dan sangat disegani rakyatnya, lalu meninggal karena membela rakyatnya. Setelah itu, permaisurinya ikut bunuh diri hingga rakyatnya menangis lalu berdoa agar Papamu bereinkarnasi dan diikuti pula oleh permaisurinya," ucap Antonio lagi. David langsung mengangguk setuju dengan ucapan ayahnya. "Kalian ngomong apa sih? Mana ada seperti itu. Mungkin ini memang sudah rezekiku, jadi jangan berpikir aneh-aneh kalian!" tolak Teo dengan segala kekonyolan ayah dan anak itu. "Ya, ya, ya. Tapi bagaimanapun, selamat ya, Pa. Selamat atas pernikahan kedua Papa. Tapi jujur, David masih bingung bagaimana David akan mengatakan ini pada Luci. Apa..." "Jangan mengatakan apa pun dulu padanya. Nanti Papa sendiri yang akan mengatakan ini. Jadi, tolong rahasiakan dulu semua ini dari Luci," ucap Teo, meminta pada David dan Antonio untuk tidak mengatakan apa pun pada Luci, putrinya. "Percayalah. Dia laki-laki baik. Dia akan menjaga dan memperlakukanmu dengan sangat baik," ucap Evan menenangkan putrinya sembari mencium kedua pipi Galuh. Galuh hanya mengangguk dalam diam, lalu memeluk Bibik, asisten rumah tangga mereka, sebelum benar-benar meninggalkan wanita tua itu dan ikut bersama Teo, laki-laki yang baru saja resmi menjadi suaminya. "Bibik pasti akan sangat merindukan Non nanti. Jadilah istri yang baik dengan menghormati suamimu. Jika Non merasa bingung atau butuh bantuan apa pun terkait sikap seorang istri, jangan sungkan untuk menghubungi Bibik. Sebisa mungkin Bibik akan membantu Non Galuh," nasihat kecil Bibik saat hendak melepas Galuh ikut bersama suaminya. Evan juga langsung menyerahkan putrinya sepenuhnya pada Teo karena dia harus kembali ke lapas. Setelah itu, Teo benar-benar membawa Galuh pulang ke rumahnya setelah sebelumnya David dan Antonio juga mengatakan akan kembali ke kantor dan berjanji merahasiakan pernikahan ini dari Luci sampai Teo sendiri yang menjelaskan semuanya. Saat Teo dan Galuh sampai di rumah, Bibik, asisten rumah tangga Teo, terkejut saat tiba-tiba majikannya pulang dengan membawa seorang gadis cantik. Teo mengatakan bahwa gadis itu adalah nyonya baru di rumahnya. Teo juga langsung mengatakan jika dia sudah menikahi gadis itu dan mulai hari ini gadis cantik itu resmi menjadi istrinya secara hukum. "Oh, selamat ya, Tuan. Selamat juga untuk Nona. Semoga pernikahan kalian langgeng dan diberi kebahagiaan!" seru Bibik dengan sangat tulus. Meskipun sempat syok, Bibik juga sangat bahagia dengan pernikahan majikannya. "Amin," jawab Teo, sementara Galuh hanya diam dengan perasaan gugup bercampur takut. "Bik, bantu dia ke kamar," pinta Teo sambil menunjuk ke arah lantai atas. "Ke kamar yang mana, Tuan?" tanya Bibik bingung karena Teo malah menunjuk kamar di lantai atas, padahal kamar Teo sendiri ada di lantai bawah. "Ke kamarku yang lama. Karena mulai hari ini kami akan menempati kamar itu," jawab Teo. Bibik langsung mengerti apa yang Teo maksud. Kamar itu sudah lama tidak ditempati. Itu adalah kamar Teo bersama mendiang istrinya dulu, ibu dari Luci. Kamar itu juga tetap terawat dan rutin dibersihkan meskipun tidak ada yang menempatinya. Namun hari ini, Teo malah ingin kembali menempati kamar itu bersama istri mudanya. Sungguh, Bibik semakin merasa ingin hidup lebih lama lagi untuk menemani Teo dan istri mudanya di rumah ini. "Oh, baik, Tuan. Bibik juga akan mengganti seprai dan gorden kamar itu sekarang," ucap Bibik bersemangat. "Oh ya, Tuan, apa Bibik juga perlu membuat kamar pengantin untuk Tuan dan istri muda Tuan? Bibik bisa minta bantuan..." "Tidak perlu, Bik. Ganti saja sepraainya dengan yang baru. Selebihnya nanti aku pikirkan," potong Teo. "Oh, baiklah. Siap, pengantin baru!" seru Bibik sambil membuat gerakan hormat pada Teo. Rasanya Bibik juga ikut kembali muda sekarang hanya karena melihat senyum teduh Teo Mervino, majikannya. Tanpa menunggu aba-aba lagi, Bibik membantu Galuh naik ke kamar yang ditunjuk oleh majikannya dan membantu Galuh merapikan pakaiannya di lemari khusus yang sudah lama kosong di sisi sebelah selatan kamar itu. Sementara itu, Galuh hanya duduk di pinggir ranjang saat Bibik selesai mengganti gorden kamar. "Oke, sudah selesai. Apa yang bisa Bibik bantu lagi, Non? Maksud Bibik, Nyonya," ucap Bibik berusaha mengakrabkan diri dengan gadis cantik itu. Galuh hanya tersenyum sambil menggeleng. "Terima kasih, Bik," ucapnya lembut. "Jangan sungkan, Nyonya. Ini adalah rumahmu sekarang," ucap Bibik setelahnya. Galuh kembali mengangguk. Bibik akhirnya meminta Galuh untuk mandi dan membersihkan diri lebih dulu karena hari sudah beranjak sore dan sejak tadi Galuh seolah ikut membantu hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dia kerjakan. Hari sudah malam dan Bibik juga sudah menyiapkan makan malam. Teo dan Galuh menyelesaikan makan malam mereka dalam suasana diam. Setelahnya, Galuh kembali ke kamarnya, sementara Teo memilih duduk di sofa sambil menatap layar televisi, bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Bibik yang baru selesai membereskan sisa makan malam melihat jika majikannya masih terlihat sibuk dengan layar televisi padahal ini adalah malam pertama pernikahannya. "Tuan, apa yang Tuan lakukan di sini?" tegur Bibik yang bersiap mematikan lampu, tetapi mengurungkan niatnya karena melihat majikannya masih duduk di ruang tengah. "Aku sedang menonton. Apa lagi?" jawab Teo tanpa menoleh. "Oh, astaga, Tuan! Apa Tuan akan membiarkan pengantin Tuan sendirian di kamarnya?" sarkas Bibik karena dia pikir Teo lupa jika sekarang laki-laki itu sudah memiliki istri. "Kenapa?" Teo malah bertanya dengan polos. "Jangan bilang Tuan akan di sini sampai pagi dan membiarkan pengantin Tuan tidur sendiri di kamarnya! Oh, tidak bisa seperti itu." Bibik malah mematikan televisi dengan sangat tidak sopan lalu menarik lengan Teo untuk segera naik ke lantai atas rumah itu. Teo seolah tidak punya kata untuk mendebat wanita tua yang bahkan punggungnya sudah sedikit menunduk karena faktor usia. Akhirnya, Teo masuk ke kamarnya dan melihat Galuh yang hanya duduk di pinggir ranjang besar itu. "Apa Om ingin berbicara sekarang? Katakan apa yang harus Galuh lakukan," tanya Galuh saat Teo berjalan mendekati ranjang. "Apa kamu sudah siap jika kita mulai menjalani semua ini sekarang?" tanya balik Teo. Galuh langsung mengangguk meskipun sebenarnya dia masih ragu apakah dirinya akan mampu menjalani tugas barunya sebagai seorang istri. "Ya," jawab Galuh gugup. "Kalau begitu, kamu bisa mengawalinya dengan mandi dan membersihkan diri lebih dulu," jawab Teo sambil mengulurkan tangannya ke arah Galuh untuk menuntunnya ke kamar mandi. Galuh menerima telapak tangan besar Teo dan laki-laki itu benar-benar menuntunnya ke kamar mandi. "Mandilah. Aku akan membawakan handuk untukmu, dan jangan mengunci pintu dari dalam," sambung Teo. Galuh hanya mengangguk patuh. Teo sengaja meminta Galuh mandi lebih dulu karena dia tidak ingin gadis itu merasa terlalu gugup atau syok. Teo ingin mengurangi rasa canggung di antara mereka terlebih dahulu. Cukup lama Galuh berada di kamar mandi. Saat Teo mendengar suara gemericik air shower, dia yakin jika gadis itu sudah mulai mandi. Teo juga melepas semua pakaiannya, dan hanya menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya, ikut masuk ke kamar mandi, dan...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD