Rika menghela nafas entah untuk yang keberapa kali. Di depan matanya Lana sedang disulap menjadi ratu sehari. Tak ada yang berarti dari ekspresi Lana yang dilihat Rika hari ini, setiap orang yang mendapati gadis itu menganggap Lana sebagaimana pengantin pada umumnya yang terlihat gugup di hari bahagianya. Hanya saja Rika melihatnya lain, dari sudut pandangnya Lana tidak terlihat seperti biasa. Ia tahu ada banyak kegundahan di hati sahabatnya itu, ia tahu ada banyak keraguan dan ketakutan yang Lana sendiri tidak bisa mengatasinya dengan hanya mengatakan “semua akan baik-baik saja” pada dirinya sendiri. Hanya saja Rika tidak tahu, semua kesulitan yang dihadapi sahabatnya kini disebabkan oleh orang yang tidak pernah dia sangka akan melakukannya, seorang Tommy Sudrajat. Laki-laki yang dulu sangat dia hormati.
Sepeninggal para perias itu dari sekeliling Lana, Rika bangkit dari kursinya, menghampiri Lana dan duduk di samping sahabatnya itu. Ekspresi Lana masih sama, hanya memandang datar pada bayangan wajahnya yang sudah sempurna di cermin.
“Kamu yang bilang kalau kamu akan baik-baik aja. Bukannya itu berarti harusnya kamu bisa senyum di hari pernikahanmu, La?”
Lana menarik nafas panjang, berusaha tersenyum meski justru terlihat seperti sebuah ringisan. “Kamu benar. Setidaknya aku harus tersenyum di hari pernikahanku,” gumam Lana lebih terdengar untuk dirinya sendiri.
Lana menoleh menatap Rika, yang masih datar tanpa riak di sana.
“Kamu sendiri, wajah kamu itu terlalu masam untuk ukuran seorang pendamping pengantin, Ri. Aku tahu kamu mencemaskanku, tapi Insya Allah aku baik-baik aja.”
Rika berusaha tersenyum, meraih jemari Lana lantas menggenggam tangannya erat. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan betapa Rika mencemaskan Lana, betapa ia berharap Lana mau merubah keputusannya. Meninggalkan pernikahan ini, lantas lepas selamanya dari pria bernama Tommy.
“Lana, Sayang?” suara intrupsi membuyarkan interaksi dua sahabat itu. Keduanya menoleh, mendapati seorang wanita paruh baya yang menghampiri mereka dengan senyum anggunnya.
“Tante...”
Rika berdiri, memberi tempat pada wanita itu untuk duduk di samping Lana. Wanita itu tersenyum pada Rika, yang dibalas Rika dengan hal yang sama. Rika tahu jelas siapa wanita itu, karena saat masih SMP dulu dia dan Lana cukup sering dibawa Nisa main ke rumah beliau, Tante Rika—mamanya Tommy.
“Gimana? Kamu udah siap?”
Apalagi yang Lana bisa ucapakan di depan wanita yang begitu dihormatinya ini selain, “Sudah, Tante.”
“Jangan panggil Tante lagi dong, Sayang. Panggil Mami, karena mulai hari ini kamu kan bakalan resmi jadi menantu Mami,” tutur wanita itu semringah, berbeda sekali dengan sikap anaknya yang kini melebihi kadar arogan di mata Rika.
“I-ya, Mami,” Lana menurut meski bibirnya masih canggung melafalkan panggilan itu.
Ditengah senyumnya yang mekar, ekspresi Mami berubah sendu. Diamatinya wajah Lana lamat-lamat, seolah sedang mencari sisa-sisa kemalangan di sana.
“Mami turut berduka tentang Nisa, Sayang... Maaf Mami tidak bisa menghadiri pemakamannya. Tommy tidak mengatakan apa pun sampai anak itu telepon mengabarkan pernikahan kalian seminggu lalu.”
Dari sanalah Lana sadar, Tommy mungkin memang sudah benar-benar membenci dirinya dan Nisa. Bahkan berita duka tentang sahabatnya pun ia tidak kabarkan pada orangtuanya yang sudah mengenal Nisa sejak lama. Apa mau dikata? Lana tidak bisa berbuat apa-apa.
“Nggak apa-apa, Mi. Maaf udah buat Mami kaget dengan pernikahan yang terkesan mendadak ini.”
Mami tersenyum, meraih jemari Lana dan membalut jemari itu dengan kedua tangan hangat miliknya. Sepasang matanya mulai berkaca-kaca, mendapati ekspresi Lana yang dirasa janggal di matanya.
“Mami minta maaf, Nak. Mami minta maaf kalau pernikahan ini tidak jadi pernikahan terbaik yang kamu mimpi-mimpikan. Maaf karena Mami dan Papi tidak datang menemuimu sebelum hari ini, maaf karena Mami dan Papi tidak melamarmu resmi seperti halnya calon pengantin pada umumnya. Maafkan Mami dan Papi, Lana. Tolong maafkan kami...”
Air mata Mami akhirnya jatuh, hal yang paling tidak ingin Lana lihat dari sosok wanita penyayang itu. “Mami nggak perlu minta maaf, ini bukan salah Mami ataupun Papi. Harusnya Lana dan Kak Tommy—”
“Maafkan Tommy juga, Sayang. Maafkan semua sikap Tommy yang sejauh ini mungkin membuatmu tidak nyaman, maafkan sikap Tommy yang suatu saat mungkin tidak sesuai dengan apa yang kamu mau. Maafkan anak keras kepala itu kalau sesuatu terjadi pada kalian kelak. Maafkan Mami jika Mami tidak mendidiknya menjadi seorang pria yang baik untukmu.”
“Mi...”
Nyatanya, hari itu, bukan hanya satu hati yang terluka. Melainkan ada hati lain yang cemasnya melebihi cemas Lana ataupun Rika. Cemas seorang Ibu yang melihat ada perubahan besar dari diri putranya. Dan meski ditutupi dengan senyum, cemas itu kini justru terlihat nyata.
“Mami bahagia, Lana. Mami sungguh bahagia saat tahu kamu yang dipilih Tommy untuk jadi pendamping hidupnya. Tapi semua yang terjadi dalam waktu dekat ini sungguh membuat Mami takut, takut jika Tommy justru melukaimu...”
***
Tommy melirik wanita di sampingnya sekali lagi, sudah sejak setengah jam yang lalu ia terus mengulangi hal yang sama. Ada sesuatu yang membuatnya terusik, sesuatu yang membuatnya tidak nyaman dengan situasi saat ini. Wanita itu—Lana sudah resmi menjadi istrinya, tapi tidak satu kata pun keluar dari bibir yang mendadak bisu hari ini. Hebatnya lagi, Lana hanya membisu ketika mereka hanya berdua. Sementara saat para undangan yang hadir ada di sekitar mereka, Lana akan memasang topeng bahagianya.
“Hai, Sayang. Capek?” lamunan Tommy buyar mendengar suara Mami sudah berada di dekatnya. Yang Tommy lihat selanjutnya malah membuat pria itu geleng kepala. Rupanya pertanyaan Mami itu ditujukan untuk Lana, bukan untuk Tommy. Entahlah, mungkin saat ini Tommy kekanakan, karena merasa iri Lana lebih diperhatikan dibanding dirinya.
“Em... kalau aku bilang nggak, kelihatan bohongnya ya, Mi?” suara Lana terdengar riang, membuat Tommy seketika menjatuhkan tatapannya pada Lana. Senyum wanita itu merekah, lebih indah dibanding saat berhadapan dengan para tamu tadi. Yang Tommy lihat dari senyum itu, tidak ada kepalsuan di sana, itu jelas senyum tulus yang ia lihat diantara semua kepalsuan yang Lana tampakan hari ini.
“Haha wajar, Sayang. Pengantin baru itu pasti capek, nggak di sini, nggak di rumah juga,” giliran Mami yang menggoda, membuat Tommy terlihat tidak nyaman di tempatnya.
“Mami ini, ganggu anak muda aja. Lebih baik Mami dansa sama Papi aja, ayo!” ajak Papi yang rupanya mendengar gurauan Mami. Mengulurkan tangannya untuk disambut oleh Mami.
“Ya udah deh. Mami mau dansa dulu sama Papi,” Mami mengerling ke arah sepasang pengantin itu, meraih tangan Papi yang setia terulur padanya.
“Kalian juga tokoh utama, ayo dansa!” ajak Papi sebelum hilang di tengah kerumunan orang yang berdansa.
Tommy menghela nafas. Ia sadar, bagaimanapun di mata semua orang yang hadir di ruangan itu pernikahan mereka adalah pernikahan normal pada umumnya. Pernikahan yang terjadi atas dasar cinta, pernikahan yang diinginkan oleh kedua mempelainya. Tommy sadar, bahwa ia dan Lana terlihat seperti itu saat ini. Itu mengapa ia menjulurkan tangannya di depan Lana, mengajak wanita untuk turut berdansa seperti yang dikatakan Papi. Mereka berdua adalah tokoh utama hari ini, bukankah itu berarti sandiwara mereka harus lebih baik dibandingkan para pemeran pendukung?
Dan Lana mengerti arti tatapan itu. Ia meraih uluran tangan Tommy yang segera membawanya ke lantai dansa. Musik yang mengalun begitu lembut, mengharuskan setiap penikmatnya untuk merasakan kelembutan itu dengan pasangan dansa mereka masing-masing.
Tommy menarik tubuh Lana merapat, hingga pinggul ramping Lana berada dalam kuasanya. Sementara kedua tangan wanita itu ia letakan di pundaknya, membuat jarak mereka kini begitu dekat. Tinggi Lana dan Tommy memang terbilang kontras, tapi untuk saat ini Lana sedikit terbantu karena high heels yang dikenakannya.
Hidung Tommy tepat berada di depan dahi Lana, hingga wanita itu bisa merasakan setiap nafas yang menyentuh kulitnya. Bergeser sedikit ke samping, bibir Tommy menyentuh permukaan daun telinga Lana samar, membuat wanita itu berusaha mengendalikan dirinya untuk tidak segera pergi dari sana.
“Seharusnya kamu tersenyum dihari pernikahanmu,” Tommy berbisik, mengembalikan posisi wajahnya yang berhadapan dengan wajah Lana.
Pria itu sengaja menunduk, berusaha mendapat perhatian dari wanita di depannya. Sayangnya anggapan Tommy yang mengira Lana akan menghidari tatapannya salah, wanita itu justru dengan berani membalas tatapannya.
Tommy menyeringai.
“Kamu bisa pura-pura tersenyum di depan semua orang termasuk orangtuaku, tapi kenapa tidak melakukannya untukku?” tanyanya sarkas.
Lana bergeming, kali ini lebih memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain dibanding harus menjawab pertanyaan yang Tommy sendiri sudah tahu jawabannya.
“Aku memang tidak berharap kamu bersikap layaknya istriku yang sebenarnya. Tapi demi kehormatanku di mata orang-orang kamu seharusnya melakukan itu untukku, Sayang,” gerakan selanjutnya yang membuat mata Lana melebar adalah karena Tommy menarik pinggulnya hingga tubuh mereka kini benar-benar tidak berjarak, semili pun tidak.
Tommy memang gila. Hatinya mungkin memang sudah diselimuti kabut pekat. Hingga menggunakan cara menjijikan untuk dapat melampiaskan amarahnya yang tidak tersampaikan. Dia sudah buta, hingga tidak melihat luka itu begitu nyata di mata Lana. Tidak, Tommy bukan tidak melihatnya, melainkan menutup mata agar tidak melihatnya.
Pandangan keduanya beradu. Tommy makin mempertipis jarak yang tersisa diantara wajah mereka. Bisa ia rasakan hembusan nafas Lana yang kini terasa memburu menyentuh kulitnya. Pria itu bertindak lebih jauh dengan menutup kedua mata, lantas mengecup bibir Lana yang terkatup rapat tanpa reaksi apa-apa. Beberapa detik berlalu begitu saja tanpa ada gerakan yang berarti, kecuali orang-orang disekitar mereka yang sudah berteriak heboh menggoda sepasang pengantin itu. Hingga akhirnya, yang membuat mata Tommy terbuka adalah ketika didapatinya sesuatu yang basah menyentuh pipinya. Pria itu menciptakan jarak diantara mereka, menatap Lana yang kini meneteskan air mata tanpa ekspresi apa-apa.
Lana mendorong tubuh Tommy pelan, menunduk berusaha menyembunyikan airmatanya dari siapa pun yang kini memandang ke arah mereka. Cepat-cepat ia pergi dari sana,mencari tempat untuk melepaskan air mata yang sejak tadi ditahannya. Sementara itu Tommy masih diam, melihat Rika yang sudah mengejar Lana meninggalkan ruangan tempat acara pernikahan mereka berlangsung. Ia sentuh pipinya yang masih terasa basah, menyadari bahwa itu adalah air mata wanita yang beberapa detik lalu masih bersamanya.
Niat Tommy ingin melukai Lana dengan ciuman dingin tanpa rasa, tapi mengapa ia justru ikut merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan jantung dan otaknya? Semua terasa menyakitkan, terasa sesak dan sama sekali tidak menyenangkan. Terlebih ketika ia melihat tangis Lana dan sorot mata wanita itu yang terasa kosong. Tanpa sadar tangan Tommy mengepal dengan sisa airmata Lana di dalam genggamannya.