Tangis Lana terdengar keras di salah satu bilik toilet tempatnya melarikan diri. Rika yang saat itu buru-buru menyusul segera mengunci pintu toilet itu hingga tidak ada siapa pun yang menyadari bahwa salah satu pengantin yang seharusnya berpesta saat ini justru sedang menangis meraung-raung. Pelan-pelan Rika mendorong pintu bilik untuk bisa memastikan Lana dengan kedua matanya. Rika bersimpuh di depan Lana, merengkuh sahabatnya itu ke dalam pelukan. Tidak ada yang bisa Rika lakukan selain ini, menghakimi Lana dengan kata-kata hanya akan membuat wanita itu semakin terluka. Mungkin benar kata orang, kehadiran lebih penting ketimbang hanya sekedar kata-kata, dan itu yang saat ini Rika lakukan. Rika merenggangkan pelekukannya, ketika dirasa Lana sudah lebih bisa mengontrol tangisnya. Ia tata

