"Lalu apa yang terjadi dengan pengendali itu?" Lea bertanya dengan raut penasaran.
"Lain kali akan kuceritakan, sekarang kita harus fokus mencari buku itu."
"Aku masih penasaran. Kenapa Klan Lucifer harus memporak-porandakan kedamaian, padahal sebelumnya baik-baik saja."
"Demi kekuasaan kadang orang tidak merasa belas kasih, Nak. Kita sudah sampai." Zek berhenti di sebuah pintu kayu sederhana.
"Di sini tempatnya? Berantakan sekali." Jangan ditanya siapa yang sedang bertanya ini. Tentu saja Randai. Laki-laki dengan mulut sadis yang selalu berbicara jujur.
"Bukan. Ini bukan tempatnya. Buku itu tersimpan di ruang sebelah. Ini hanya ruangan percobaanku. Kalian masuk saja ke sana. Aku akan membersihkan ruangan ini dulu, nanti kususul." Zek mulai memunguti satu persatu barang-barangnya yang berserakan.
"Tapi kami tidak tahu bagaimana bentuk buku itu, Paman." Kyra mengingatkan Zek, kalau mereka belum diberi tahu bagaimana rupa dari buku tersebut.
Zek menepuk jidat, dia terkekeh pelan. "Oh iya, aku lupa. Maklum, usia memang sering mempengaruhi. Buku itu berwarna coklat tua. Seperti buku kuno tua yang ada dalam duniamu, Nak. Dan satu lagi, sampulnya ada tanda bintang dan bulan bersebelahan, bintang dan bulan itu dikelilingi oleh lima pusaka yang bentuknya berbeda-beda, kalian coba cari dulu, aku akan menyusul setelah membereskan ini."
"Kenapa tidak sekalian ikut membantu kami?" Alif bertanya heran, sebenarnya agak sebal, karena pria itu yang menyeret mereka sampai di sini, tapi malah tidak membantu mencari sama sekali.
"Seharusnya memang begitu, Nak. Tapi aku tidak akan membiarkan kalian melihat pemandangan tidak mengenakan ini setelah keluar mencari buku itu. Jadi, lebih baik aku membereskannya terlebih dahulu." Zek kembali melempar senyum.
"Aku rasa dia benar, Lif, lagi pula aku juga tidak mau melihat ruangan berantakan ini lagi."
Kyra menyenggol lengan Randai dan berbisik pelan. "Hati-hati kalau berbicara."
"Jangan terus berbisik, ada hal yang perlu kalian lakukan." Alif berjalan lebih dulu memasuki ruangan itu, baru disusul teman-temannya.
Tempatnya tidak begitu bersih, ada beberapa debu yang menempel pada perabotan di dalam sini, tapi setidaknya ruangan ini lebih layak dipandang dari pada tempat percobaan Zek tadi.
"Kita berpencar untuk mencari buku itu supaya bisa cepat ketemu."
Mereka semua mengangguk menerima usul Alif. Kyra berpencar di sisi kanan, Alif disisi kiri, Lea lurus ke depan, dan Randa menuju belakang. Semua sibuk memilah beberapa tumpukan buku yang sepertinya tidak pernah dibaca, tapi tidak ada satu pun sampul yang mirip seperti yang dijelaskan Zek. Bahkan mereka sudah menyusuri celah-celah kecil, siapa tahu buku itu terjatuh dan tidak ada yang melihatnya. Juga memeriksa di tempat-tempat properti, membuka dan mengembalikannya seperti semula, menyusuri kotak-kotak kecil yang entah apa isinya, namun hasilnya sama, mereka tidak ada yang menemukan buku kuno solusi itu.
"Kalian sudah ada yang menemukan?" Alif bertanya di saat dia sudah memeriksa ke semua tempat yang bisa dijangkaunya, tapi tidak menemukan apapun. Teman-temannya juga menggeleng semua, tidak ada yang menemukan buku itu.
"Kita cari sepuluh menit lagi, jika tidak ada, kita keluar dari rungan ini, bilang pada Zek, supaya mencari solusi yang lain."
Semua mengangguk dan kembali memeriksa tempat-temat yang sudah mereka periksa, siapa tahu ada yang terlewat, namun sepuluh menit berlalu, tidak ada satu pun di antara mereka yang menemukan buku itu.
"Ini sudah sepuluh menit, Lif, tapi kita tidak menemukan apa pun." Randai mendesah kesal.
"Kamu benar. Aku juga tidak menemukan apapun. Bagaimana dengan kalian, Lea, Kyra?"
Mereka berdua menggeleng, sama sekali tidak menemukan apa yang mereka cari.
"Apa jangan-jangan kita ditipu oleh Paman? Bagaimana ini, mama pasti khawatir mencariku." Lea mulai panik. Dia memikirkan mamanya.
Kyra berjalan mendekat ke arah Lea, begitu juga dengan dua orang laki-laki itu. Alif dan Randai.
"Tenang, Lea. Semua akan baik-baik saja, kita semua akan keluar dari sini. Hari ini juga." Kyra mengusap punggung Lea, mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Ck, percaya diri sekali dia bicara." Randai menertawakan Kyra. Sedangkan yang ditertawakan kembali memelototi. Menyuruh laki-laki vampir itu diam.
"Tidak ada cara lain, Ra. Sepertinya kita memang harus menunggu selama itu untuk keluar dari sini. Persis seperti apa yang disarankan Zek."
"Maksudmu menunggu setiap dua hari sekali satu persatu di antara kita baru keluar?"
Alif mengangguk menjawab pertanyaan Lea. "Tidak ada cara lain. Buku itu tidak ditemukan. Zek dan Canuto saja yang sudah bertahun-tahun berada di sini tidak pernah menemukannya, apalagi kita yang baru tadi terdampar di sini."
"Tapi sebentar lagi kita ujian kampus, Lif. Bagaimana bisa kita memakai cara itu, akan sangat lama jika dilakukan. Aku tifak mau mengulang semester ini." Sebenarnya Kyra tidak masalah jika dia harus tinggal beberapa hari di sini, daripada kembali juga akan mendapat hal tidak baik dari mamanya. Tapi dia memikirkan sahabatnya, memikirkan ujian kampusnya yang sebentar lagi, jadi bagaimana pun caranya, dia dia dan teman-temannya harus keluar dari sini hari itu juga.
"Memangnya ada cara lain selain itu? Tidak ada, Ra. Kecuali buku kuno pemberi solusi yang dimaksud Zek tadi."
Semua terdiam. Perkataan Alif memang benar, tidak ada solusi selain saran dari Zek tadi. Tamat sudah riwayat mereka, dapat dipastikan saat Kyra kembali ke rumah nanti, dia akan mendapat hukuman lebih berat dari sang mama. Mungkin saja mamanya itu akan mengulitinya hidup-hidup.
Kyra mengembuskan napasnya berat, tinggal di sini salah, tidak kembali lebih salah lagi. Ini memang sulit, dia mengusap wajahnya pelan, memegang kepalanya yang terasa berdenyut lalu menurunkannya lagi ke meja, tapi karena dia terlalu keras mengibaskan tangannya, tanpa sengaja malah menyenggol tumpukan kotak kecil yang tadi sudah ditata rapi, menimbulkan bunyi keras karena kotak itu terbuat dari kayu yang dilapisi logam perak.
"Hati-hati, Ra, ini sepertinya benda berharga." Lea mengingatkan Kyra, dia membantu memunguti kotak-kotak kecil itu, begitu juga dua lelaki yang berbeda klan itu. Meski pun kotak itu terjatuh begitu keras, tapi sama sekali tidak membuka. Itu berarti kotak ini di kunci dengan sangat kuat.
Lea kembali bangkit dan menaruh kotak itu ke tempat asalnya, begitu juga Kyra, tapi saat tubuhnya baru setengah terangkat dia kembali berjongkok. Matanya tanpa sengaja melihat kemilau dari bawah meja. Dia meletakkan kembali kotak yang tadi dipungutnya, ditaruh tidak jauh dari sampingnya lalu merangkak sedikit maju untuk mengambil benda itu. Setelah ia tepuk pelan sampulnya, matanya langsung berbinar. Ini buku yang mereka cari, buku kuno pemberi solusi. Ini adalah jawaban dari kekhawatiran mereka. Akhirnya dia bisa menemukannya.
Kyra kembali meraih kotak-kotak kecil yang tadi ditaruhnya, mengangkatnya dan meletakan di tempat semula. Bibirnya sedikit terangkat naik karena bahagia bisa menemukan buku itu.
"Lihat apa yang kutemukan!" Kyra meletakkan buku kuno pemberi solusi itu di atas meja, mengusap sampulnya perlahan dan langsung mengeluarkan kemilau dari warna emas yang mengukir lambang senjata-senjata itu.
"Keren! Dia langsung mengkilap setelah diusap." Randai menatap takjub.
"Bahkan gambar sampulnya juga sangat mirip dengan apa yang dijelaskan Zek tadi." Lea menambahi.
"Benar, hanya saja lambang ini terlihat seperti di ukir diatas sampul. Terlihat begitu nyata. Di mana kamu menemukannya, Ra?" Alif bertanya, penasaran di mana letak buku itu.
"Di bawah kolom meja, sepertinya tadi terjatuh waktu aku tidak sengaja menjatuhkan kotak-kotak itu."
"Benarkah? Tapi aku tadi sudah mencarinya, bahkan sudah kuulang tiga kali, tapi aku tidak menemukan apa pun. Di bawah kolom meja juga sudah kucari dan tidak kutemukan apapun." Randai masih bingung, bagaimana mungkin dia melewatkan buku itu. Padahal dia sangat yakin sudah memeriksa tempat itu tadi.
"Sudah, itu tidak jadi masalah, sekarang kita harus keluar dari tempat ini. Kita harus memberitahu Zek dan Canuto kalau kita telah menemukan buku yang dicari selama ini. Dengan begitu kita bisa segera keluar dari sini."
Mereka serempak mengangguk, dan melangkah keluar hendak menemui Zek dan Canuto. Di luar ruangan, mereka melihat Zek yang tengah meletakkan kayu di atas rak, barang terakhir yang tercecer telah dipungutnya.
"Paman Zek." Kyra menghampiri. Zek menoleh sambil mengusap keringat di dahinya.
"Bagaimana? Kalian menemukannya? Aku rasa tidak. Sudah kubilang buku kuno pemberi solusi itu mustahil ditemukan. Aku sudah mencoba mencarinya bertahun-tahun, tapi tidak ada hasil." Zek terkekeh pelan sambil menggeleng pelan, tapi kekehannya segera berhenti saat Kyra mengangkat tangannya ke atas, memperlihatkan buku yang sedikit usang dengan sampul yang ada ukiran bulan bintang dan dikelilingi lima buah pusaka.
"Bagaimana ... bagaimana kalian menemukannya? Ini mustahil, aku sudah bertahun-tahun menggeledah tempat itu, tapi tidak pernah kutemukan buku ini. Lalu kalian? Bagaimana mungkin pendatang baru yang tidak ada satu hari saja sudah bisa menemukan buku ini." Zek benar-benar bingung, tapi dari kebingungannya dia juga terlihat sangat senang.
"Tolong jangan berlebihan memuji kami, itu adalah hal biasa."
Lea menyenggol lengan Randai, menegur kelakuannya yang tidak sopan.
"Hey! Kenapa? Itu benar kan, buku itu ketemu setelah kedatangan kita, mungkin saja kita adalah sekumpulan orang-orang spesial, sehingga membuat buku itu terlihat." Randai membela diri. Tidak terima ditegur Lea.
"Setidaknya keberuntungan itu bukan milikmu. Ingat! Kyra yang menemukan, bukan kamu." Lea berkata pelan tapi mampu membuat Randai berdecak sebal.
"Tidak penting siapa yang menemukan ini, yang terpenting sekarang adalah kepulangan kalian. Aku akan mencari solusi di dalam buku ini, kalian boleh kembali ke depan untuk makan, karena tadi aku lihat, Canuto sedang memasak sesuatu."
Sepertinya perkataan Zek benar, kalau Canuto sedang memasak sesuatu, dari tadi mereka memang mencium bau masakan yang sedap. Lea, Randai, dan Alif segera beranjak untuk menuju ke depan sedangkan Kyra masih tertinggal karena Zek ingin mengajaknya bicara.
"Jadi ... yang menemukan buku ini kamu?"
Kyra mengangguk untuk menjawab pertanyaan Zek. Lelaki paruh baya itu juga melempar senyum mendengar jawaban Kyra.
"Siapa tadi namamu, Nak?"
"Kyra, Paman."
"Ah iya, lelaki tua sepertiku memang seringkali lupa. Akan aku ingat setelah ini. Ngomong-ngomong di mana kamu menemukannya tadi?"
Kyra mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, Paman. Sepertinya aku tidak sengaja menjatuhkannya bersama kotak-kotak kecil tadi. Kepalaku rasanya berdenyut mencari buku ini, dan detik-detik terakhir saat kami ingin menyerah, tanganku malah menyenggol sesuatu, dan buku ini kutemukan begitu saja di bawah meja." Kyra menjelaskan bagaimana dia bisa menemukan buku itu, sedangkan Zek hanya mengangguk-angguk. Dia sedikit takjub dengan Kyra karena berhasil menemukan buku ini, sedangkan dia yang sudah bertahun-tahun mencarinya saja tidak menemukannya sama sekali.
"Aku tidak tahu siapa kamu, Nak. Tapi sepertinya kamu memang spesial di antara yang lainnya. Entahlah, semoga ini hanya dugaanku. Kamu boleh bergabung dengan teman-temanmu, aku akan mencari solusi untuk kepulangan kalian."
Kyra mengangguk lalu beranjak pergi menyusul teman-temannya. Setelah memasuki ruangan yang ditempati teman-temannya, dengan sangat ajaib pintu kosong yang sudah dilewatinya tadi berubah, menampilkan ruangan yang ditinggalinya tadi. Sunyi, seperti tidak ada yang menghuni, bahkan Zek saja tidak terlihat.
"Kyra, duduk sini!" Lea menepuk sisi kanannya yang kosong, mempersilahkan sahabatnya untuk ikut duduk bersamanya.
"Wah, banyak sekali makanannya. Siapa yang mempersiapkan?" Kyra mengamati makanan yang tersaji di atas meja sebelum duduk disebelah Lea.
"Canuto yang mempersiapkan, tidak kusangka dia pandai memasak. Aromanya begitu menggoda, aku yakin rasanya tidak kalah enak dengan restoran di dunia kita, Ra."
Kyra mengangguk, setuju dengan pendapat Lea, bahkan penampilan makanan ini tidak kalah enak dengan yang sering ia lihat di televisi. Maklum saja, Kyra belum pernah menginjakkan kaki di restoran mewah seperti sahabatnya atau dua laki-laki yang tidak jauh dari tempat duduknya ini. Ibunya mana mungkin akan mengajaknya ke sana, bisa mendapat jatah makan malam saja dia sudah bersyukur.
"Kalian sudah datang semua ternyata. Ini hidangan terakhir yang ku buat, kalian harus mencicipinya." Canuto meletakkan makanan yang disajikan di atas piring, terlihat seperti biji pohon cemara dan terdapat duri kecil disetiap sisinya bentuknya aneh, yang ini lebih besar, sebesar wortel.
"Ini apa, Paman?" Kyra menunjuk hidangan yang baru saja disajikan Canuto. Dia bergidik, membayangkan jika mencobanya, pasti duri-duri kecilnya akan terasa sakit menusuk lidahnya.
***