Kembali

1760 Words
Happy Reading Suyung ❤️ "Ah, ini makanan khas di bangunan ini, aku menamainya 'kacang enak', biji itu dibawa dari duniamu, Nak. Aku menanamnya di sini, dan memberi sedikit modifikasi saat menanamnya, dan jadilah makanan itu. Kamu tidak akan menemukannya di mana pun, hanya di sini.." Canuto menjelaskan semua tentang sesuatu yang dipegang Kyra, sesuatu yang katanya bisa dimakan. "Bentuknya aneh. Apa bisa dimakan?" Alif bertanya sambil mengamati sesuatu yang mirip dengan biji cemara itu. "Tentu saja bisa. Ini adalah makanan terenak yang pernah kucoba. Ah, kalian juga harus mencobanya, rasanya benar-benar enak." Canuto terkekeh pelan. "Tapi ini berduri, Paman. Apa tidak sakit jika dimakan?" Lea ikut menyendok biji itu dan mengamatinya dengan seksama. "Aku rasa aman. Ini memang sangat enak. Lebih enak dari daging yang pernah kumakan." Alif mengunyah pelan biji yang membuat mereka semua bergidik. Tidak menyangka jika dia seberani itu. "Kamu benar, Lif. Cicipilah, ini tidak berbahaya, aku jamin ini memang sangat enak. Bahkan Zek saja berulang kali memintaku memasak ini." Canuto menaruh hidangan ini di piring kami masing-masing. Membaginya sama rata, menyisakan sedikit di piring tadi. "Kenapa diberikan kami semua, Paman? Nanti Paman Canuto sama Zek mau makan apa?" Kyra mengamati sisa makanan yang baru saja dibagikan tadi. "Tenang saja, ini lebih dari cukup untuk kami berdua, kalian makanlah, isi tenaga kalian, pasti sangat lelah setelah mencari buku kuno tadi. Aku akan menemui Zek dahulu." Mereka mengangguk, mengucapkan terima kasih. Tidak menyangka kalau ditengah kesusahan begini mereka menemukan orang-orang baik seperti Zek dan Canuto. Kyra mulai menyendok makanan itu, sebelumnya dia mengamati teman-temannya yang makan dengan lahap, baru kemudian dia berani memasukkan makanan itu kedalam mulutnya, dan ... ajaib, duri-duri kecil itu sama sekali tidak menusuk lidah maupun mulutnya, biji itu begitu lembut, rasanya tidak bisa dijelaskan, dia belum pernah memakan makanan ini di dunianya, benar-benar lezat. "Rasanya sangat enak, Le. Bekum pernah aku merasakan rasa ini di duniaku." Lea mengangguk, begitu senang memakannya. "Aku penasaran bagaimana Canuto memasaknya." "Kamu tidak makan, Ran?" Lea menatap Randai yang dari tadi hanya diam saja, tidak berminat menyentuh apa pun, padahal tadi dia bilang ingin mendapat sesuatu di sini, yah ... meski pun yang diinginkan adalah darah. "Aku tidak berminat, klanku tidak ada yang memakan ini. Aku tidak mau memakannya, lagi pula aku ini mengonsumsi darah, Le. Bukan makanan seperti itu." Kyra menelan makanannya dengan susah payah mendengar Randai berkata hanya mengonsumsi darah. Dia kembali teringat dengan peristiwa yang hampir merenggut nyawanya. Kadang dia merasa ngeri, bagaimana bisa dia mengenal mereka. Untung saja sikap Randai kadang menjengkelkan, humoris dan tidak kaku seperti Alif, jika hal itu terjadi, bisa dipastikan dia akan sangat takut. "Setidaknya cicipilah, tidak akan menurunkan harga dirimu kalau memakan ini." Alif menaruh piringnya, dia sudah selesai lebih dahulu. Randai hanya diam saja, dia mengamati teman-temannya yang terlihat begitu menikmati, dalam hati sebenarnya ingin mencicipi. Penasaran seenak apa rasanya, tapi kembali lagi, dia tidak mengonsumsi itu. Pasti rasanya akan sangat hambar. "Tidak begitu enak." Randai menaruh kembali makanan yang katanya dibilang terenak itu. Menggigitnya kecil dan menelannya, tidak berniat menghabiskan. "Katanya tidak ingin mencoba." Kyra menggoda Randai. Sedikit terkikik karena tingkahnya. Laki-laki itu plin-plan sekali. "Yah ... mencicipi sedikit tidak ada salahnya. Lagi pula, belum tentu aku bisa merasakan ini di dunia manusia nanti." "Alasan cukup bagus." "Hey, aku tidak beralasan ya, Lif." "Wah, bagaimana bisa kita menghabiskan hampir seluruhnya." Kyra menatap hidangan yang ada di depannya dengan tidak percaya. Apalagi dia merasa, dirinyalah yang paling banyak makan. "Kamu akan gendut setelah keluar dari sini, Ra." Lea berbisik pelan sambil terkekeh. "Tidak apa, Le. Biar mamaku kaget mendadak." Mereka sama-sama tertawa. "Baiklah, saatnya kita membereskannya." Kyra berdiri, disusul Lea kemudian. Tapi mereka berhenti ketika melihat Alif dan Randai yang hanya diam. "Hey! Kalian tidak mau membantu?" "Ladies first." Randai mempersilahkan mereka untuk beberes. "Sudahlah, Ra. Percuma ngomong sama mereka. Mana peka mereka sama beginian." Kyra mengembuskan napas lelah, kemudian membereskan piring kotor yang ada di atas meja. Hendak membawanya ke dapur. "Kalian mau ke mana?" Canuto yang baru datang mengernyit heran melihat Lea dan Kyra membawa beberapa piring kotor di tangan mereka. "Membantumu membersihkannya, Paman. Maaf kami menghabiskan hampir seluruhnya." Kyra nyengir, merasa tidak enak. "Letakkan kembali, Nak. Kami yang akan membereskannya nanti." "Tidak, Paman. Kami sudah banyak merepotkan." Lea menolak, merasa tidak enak karena telah merepotkan. "Siapa bilang itu merepotkan. Kami senang ada yang bertamu di sini. Benar kan Canuto?" Zek menoleh ke arah Canuto. "Tentu saja, Zek. Sudah lama tidak ada yang bertandang kemari." Canuto beralih menatap remaja Itu. "Letakkan kembali, Nak. Biar kami yang membereskan nanti." Kyra dan Lea akhirnya menurut. Meletakkan kembali piring-piring kotor itu. "Maaf soal makanannya." Kyra menambahi, sungguh merasa sungkan. "Hey! Tidak apa. Aku malah senang kalau kalian menghabiskannya, itu berarti bakat memasakku benar-benar hebat." Canuto membanggakan diri. "Jangan mulai, Canuto. Kamu sudah tidak pantas lagi menyombongkan diri. Ingat usia." Zek menimpali. Semua tertawa, kecuali Alif, pria remaja itu hanya tersenyum tipis. Canuto dan Zek mulai mengambil piring kotor itu, melemparnya perlahan dan wush!! Semua berterbangan melewati pintu transparan, hilang entah ke mana, setelah melewati pintu piringnya sudah tidak terlihat. "Pergi ke mana semua piring-piring itu?" tanya Lea heran. "Ke tempat seharusnya dia di bersihkan. Sekarang duduklah! Zek ingin menyampaikan sesuatu, aku harap ini kabar baik untuk kalian." Kyra dan Lea kembali duduk ke tempat mereka sebelumnya, begitu pula dengan Zek dan Canuto, mereka mengambil tempat duduk tidak jauh dari mereka. "Kabar baiknya, aku bisa mengembalikan kalian ke dunia kalian sekarang juga." Zek tersenyum sambil memandang satu persatu wajah mereka. "Benarkah?" tanya Lea girang. "Tentu, Lea. Maaf, aku baru memanggil nama kalian, tadi aku belum tahu, tapi Canuto sudah memberi tahu." Semua mengangguk, tidak mempermasalahkan itu. "Caranya bagaiman, Paman?" Kini giliran Kyra yang bertanya. "Aku akan membuka portal di sini. Menyambungkan sampai ke dunia kalian--" "Bukannya tadi kami bilang tidak ada yang bisa menembus pelindung bangunan ini? Bagaimana mungkin kamu bisa membuat portal?" "Itu benar Alif. Tapi menyela orang dewasa saat berbicara juga tidak sopan." Zek terkekeh, hanya bergurau menanggapi Alif, tapi remaja itu hanya meringis sambil memegang lehernya. "Tadi aku sudah mempelajari buku itu sebentar, dan aku telah menemukan cara supaya kalian bisa keluar dari sini." Zek menjeda ucapannya, membuat remaja-remaja itu semakin penasaran saja. "Kalian sangat beruntung. Terjebak di sini dengan tiga klan berbeda, dan satu manusia spesial. Aku tidak tahu siapa Kyra sebenarnya, tapi dia sepertinya bisa menjadi solusi untuk masalah ini." Zek berdiri, kemudian berjalan dua langkah dan berhenti di sebelah Kyra. "Kalian semua berdiri. Kyra, kamu berdiri di sampingku. Di sini kamu yang sepertinya bisa mengembalikan teman-temanmu." "Aku?" Kyra menunjuk dirinya. Tidak percaya jika dia yang bisa melakukannya. Zek mengangguk. Menjawab keraguan Kyra. Tidak lama setelah itu Kyra berdiri dan mendekat ke arah Zek, begitu pun dengan Alif, Randai dan Lea, mereka juga berdiri di dekat Zek. "Sekarang kalian melingkar, satukan tangan kalian satu sama lain. Sebelum aku memberikan petunjuk jangan lakukan apa pun." Zek memberitahu dengan serius yang langsung diangguki dengan yang lainnya. Tanpa disuruh dua kali, mereka berempat langsung membentuk lingkaran dan menyatukan tangan mereka. "Di sini, nanti akan tercipta portal baru yang akan membawa ke dunia kalian, tapi portal itu tidak bertahan lama hanya lima detik, setelah itu portal akan menutup kembali. Dan butuh waktu lima menit untuk membuatnya kembali. Portal ini hanya bisa dibuat tiga kali saja, jika kalian melakukan kesalahan, maka kalian akan terkurung di sini, dan hanya bisa keluar dengan cara manual. Kalian paham?" Semuanya mengangguk memahami penjelasan Zek. Mereka semakin mengeratkan tangan. "Setelah kalian kembali ke sana, lain waktu aku akan memanggil kalian ke sini lagi. Aku ingin meminta tolong. Aku harap kalian bisa diandalkan." "Minta tolong apa, Paman?" Kyra mengernyit heran. "Nanti Kyra, setelah waktunya tiba akan aku beri tahu. Aku akan mengerjakan sesuatu dulu sebelum mempersiapkan misi itu." "Misi? Maksudnya?" Kali ini Alif yang menyahut. Dia punya feeling kalau dirinya juga akan ikut terlibat. "Akan aku beri tahu setelah semuanya siap. Yang pasti kalian akan melakukan misi penting. Kehadiran kalian ke sini sepertinya memang bukan kesengajaan, tapi takdir. Klan ini membutuhkan kalian dan kalian datang di waktu yang tepat." Alif, Randai, Lea dan Kyra saling pandang, mereka tidak paham dengan apa yang baru saja dibicarakan Zek. "Kalian tidak akan paham, nanti akan aku jelaskan setelah kalian kupanggil ke sini lagi. Sekarang tautkan tangan kalian dengan erat. Jangan sampai pegangan itu terlepas." Zek kembali memerintah, apalagi setelah dia tahu tautan Alif sempat kendor karena obrolan tadi. "Lalu apalagi, Paman Zek?" Lea menatap Zek dengan seksama. "Konsentrasi. Setelah tangan kalian saling bertautan, sekarang pikiran kalian harus konsentrasi. Fokus pada apa tujuan kalian. Bayangkan kalian akan membentuk portal menuju dunia kalian. Jangan lupa, tentukan di mana tempat kalian akan kembali nantinya. Satu saja ada yang tidak fokus, portal itu tidak akan terbentuk." Setelah Zek menjelaskan itu semua. Mereka langsung bertatapan satu sama lain, lalu mengangguk setelah Kyra mengatakan museum, tempat terakhir mereka kunjungi sebelum terdampar di sini. Mereka lalu memejamkan mata perlahan, mencoba berkonsentrasi penuh untuk membuat portal baru menuju dunia mereka. Sedikit demi sedikit pilinan cahaya putih mulai terlihat di belakang mereka membentuk portal yang akan membawa mereka ke dunianya, tapi baru dua setengah detik portal itu terbentuk, cahayanya kembali redup lalu menghilang. Portal itu meletus, menyisakan bunyi tlok! setelahnya. Dan semua remaja yang tengah berkonsentrasi itu langsung membuka mata. "Sudah kubilang kalian harus konsentrasi. Jangan ada satu pun dari kalian yang pikirannya terpecah, menyabang entah ke mana!" Zek mulai serius, raut mukanya terlihat sedikit menyeramkan dari sebelumnya. "Maaf Paman. Kali ini kami akan berusaha." Kyra merasa bersalah. Dia kemudian kembali menatap temannya satu persatu lalu mengangguk cepat. Setuju untuk berkonsentrasi penuh. Portal ini tidak boleh pecah lagi, harus terbentuk jika mereka ingin segera kembali ke dunia mereka. "Konsentrasi penuh. Bayangkan apa yang kalian pikirkan, jangan ada yang menyabang!" Zek kembali mengingatkan setelah empat remaja itu mulai berkonsentrasi kembali. Perlahan portal dengan cahaya putih itu kembali, memilih lembut di belakang mereka, semakin lama cahayanya semakin terang dan tidak lama setelah itu terdengar desiran pelan dari sekitar mereka, seperti angin yang berhembus. "Portalnya sudah terbentuk. Kalian harus segera memasukinya." Kyra, Lea, Alif dan Randai membuka mata, mereka langsung melepaskan tautan satu sama lain, menatap Zek dan Canuto bergantian. "Pergilah. Lain kali kalian pasti kembali ke sini. Akan kupanggil setelah waktunya tepat. Sekarang masuki portal itu sebelum menghilang. Cepat!" Empat remaja itu mengangguk, satu persatu dari mereka mulai melompat memasuki pilinan portal bercahaya itu, mereka langsung tertarik ke dalam ruang kosong yang penuh dengan cahaya putih, tubuh mereka sedikit berguling, namun tidak sampai terpental keras seperti portal sebelumnya, dan setelah lima detik berlalu cahaya itu semakin meredup, mengeluarkan empat remaja berbeda klan itu dari dalam portal. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD