Kehidupanku

2254 Words
Jingga dalam balutan kapas putih di ujung barat mulai meredup. Tapi tidak menghambat sama sekali bising kendaraan yang berlalu lalang di jalanan. Meski tak sepadat tadi siang, namun tetap saja bising kendaraan besi itu tidak berkurang. "Ck! Takdir benar-benar hebat mempermainkanku. Bagaimana bisa aku terlahir di tengah keluarga yang tak diinginkan, memangnya aku ini putri yang tertukar. " Gadis itu menggerutu, menendang kaleng bekas yang teronggok bisu di dekat kakinya tadi. Membuat benda berlogam tipis itu mengudara dan mendarat di leher pria yang berjalan tak jauh di depannya. "Sialan! Kaki siapa yang kurangajar itu?!" Pria itu langsung melengos ke belakang, menatap tajam dari segala penjuru. Sebagai tersangka--gadis yang bernama Kyra itu langsung terbelalak, sadar perlakuannya tidak sengaja mengenai seseorang. Ia memilih lari menghindar sebelum sang korban menemukannya. Takut akan mendapat balasan serupa, atau bisa jadi dia akan mendapatkan yang lebih buruk. "Haish! Bagaimana bisa hidupku ditakdirkan sial mulu. Berada di tengah keluarga yang sifatnya macam ular, sekarang malah hampir berurusan sama Alif." Kyra menggerutu, merutuki dirinya yang terus saja mendapat kesialan. Masih untung dia tidak ditemukan Alif tadi. Laki-laki yang dikenal pendiam di kampusnya, tapi kalau sedang marah mengalahkan singa kebelet kawin. Kyra merogoh tas selempang saat merasakan getaran dari handphone-nya. Disana terlihat jelas nama sang Mama yang ia beri nama 'Mak Lampir Modern' sedang memanggil. Takut terkena omel yang lebih pedas lagi, Kyra memilih untuk segera mengangkatnya. "Awsh!!" Benar saja, belum sempat benda pipih itu menempel sempurna di telinganya, suara nyaring bak terompet tahun baru itu lebih dulu bergema di udara. Dia segera mengaktifkan mode loud speaker karena tak ingin kupingnya tuli tiba-tiba karena terlalu terkejut. Tida perduli, jika nanti banyak pasang mata yang memindainya. "Kyra! Melayang kemana saja kamu, ha?!!" Kyra meringis, sedikit berdesis karena mendengar omelan Mamanya. Dia sendiri heran, kenapa dirinya diperlakukan berbeda dari sang adik. Belum lagi tadi Mamanya bilang dia melayang. Hey, Kyra itu manusia loh, bukan makhluk ghaib jadi-jadian yang hobby-nya terbang ke sana-ke mari mencari alamat di atas pohon. Ckckck!! Benar-benar penyamaan yang tidak aesthetic. "Iya, Ma. Ini baru perjalanan pulang." "Sudah sampai mana?!" Kyra memindai sekelilingnya, menemukan jembatan besar tidak jauh darinya yang dibangun untuk penyebrang pejalan kaki. "Baru di jembatan, tadi--" "Lima menit harus sampai rumah. Kalau tidak, jangan harap ada makan malam untuk kamu." Kyra menganga, mulutnya terbuka lebar karena tidak jadi mengeluarkan suara. Sambungan di seberang sana sudah terputus, menimbulkan bunyi tut dari speaker handphone-nya. Bagaimana mungkin dia bisa sampai dalam waktu lima menit, naik angkutan saja bisa lebih dari itu, apalagi berjalan. "Harusnya mama lebih giat belajar matematika." Kyra mendesis, mengasihani mamanya yang menurutnya tidak bisa berhitung soal waktu. Tapi dia tidak ada pilihan, jalan satu-satunya dia harus berlari. Tidak mungkin dia naik angkutan, uangnya mana cukup. Dua ribu perak hanya dapat es teh manis di kotanya. 'Ah sial! Harusnya aku punya kekuatan seperti  negeri dongeng.' Kyra memang selalu berhayal seperti itu, dirinya yang andaikan tiba-tiba mendapat kekuatan ajaib, bisa menghilang misalnya, terbang atau semacam yang bisa membuatnya sampai rumah tepat waktu. Lebih hebat lagi kalau seandainya dia bisa menggandakan uang, sudah dipastikan dari dulu dia minggat dari rumah yang disebut neraka baginya. Gadis dengan kuncir kuda itu terus berlari meski pun keringat mulai membasahi tubuhnya, kepalanya terus memikirkan makanan dan hal-hal tidak masuk akal lainnya, termasuk dirinya yang berharap ditabrak laki-laki tampan lalu diajak menikah bak di film dan novel yang sering ia baca, terus berlari sambil menghalu tanpa sadar kalau ada sesuatu yang juga berlari berlawanan arah darinya. Kecepatannya luar biasa hingga pada akhirnya .... "Aaa!!" Kyra berteriak. Reflek tangannya terangkat melindungi kepala. Dia jatuh terduduk, seperti ada yang menabraknya. Menatap sekeliling dan memindai segala penjuru ternyata sepi. Tidak ada siapa pun di sana kecuali bangunan tua yang tak berpenghuni. Sengaja tadi Kyra mengambil jalan pintas supaya cepat, makanya daerah ini begitu sepi. Lalu apa tadi yang menabraknya hingga dia sampai terjatuh? Makhluk apa itu? Kedua tangan Kyra langsung menutup mulut. Hal yang paling masuk akal dipikirannya saat ini adalah .... "Tidak mungkin?!" Kyra meneguk ludahnya pelan. Masih tidak paham apa yang telah terjadi. "Aku baru saja ditabrak hantu?" Kembali dia mengamati sekitar, masih sama. Sepi. "Luar biasa, ini kejadian langka, aku harus memberi tahu Lea besok." Kyra mengeluarkan handphone-nya kembali, mencoba memeriksa, kurang berapa menit untuk sampai di rumah, namun hal lain malah mengejutkannya. Ia menemukan bulu perak yang menempel di jari telunjuknya. Begitu lembut dan tebal. Tidan banyak, hanya beberapa helai, tapi teksturnya benar-benar lembut. "Oh, s**t! Harusnya aku tahu kalau sedang dikejar waktu." Kyra mengibaskan tangannya, membuang bulu yang menempel tadi. Dia tidak sempat memikirkan siapa pemiliknya, mendapat makan malam jauh lebih penting dari sekedar bulu yang hanya mampir. Sesampainya di rumah, mamanya sudah menghadang di depan pintu sambil melipat kedua tangan di depan d**a, tidak lupa dengan tatapan tajam matanya. "Sudah puas keluyurannya?" Napasnya saja masih tersengal, tapi wanita paruh baya yang sebenarnya tak sudi dipanggilnya 'Mama' ini sudah menanyainya. "Biarkan aku bernapas dulu, Ma." Kyra mengatur napasnya. Tubuhnya menunduk dengan kedua tangan menopang pada lutut. "Memangnya pernah aku menyuruhmu tidak bernapas. Seandainya iya pun, dan terjadi, itu lebih baik." Kyra tidak lagi menjawab, dia tidak ada kekuatan untuk membantah, lebih tepatnya lagi tidak berani menjawab, dia yakin dirinya terlambat. Jika sampai dia mengeluarkan suara lagi, jatah makannya dipastikan benar-benar hilang. Belum lagi jika mamanya ini menambahinya dengan bumbu pedas yang keluar dari mulutnya, bisa dipastikan Kyra seakan mendengar Mak Lampir yang terus tertawa ngik ... ngik ... ngik .... Kupingnya tidak akan kuat. "Sekarang kamu nyapu sama ngepel. Teman-temannya Tara akan datang nanti, jadi rumah harus bersih!" Wanita itu menggerakkan kepala ke dalam, seolah menyuruh Kyra untuk segera melakukan tugasnya. "Njeh, Ndoro." Kyra mengayunkan kepalanya tanda bahwa dirinya menerima perintah dengan legowo. Baru saja kakinya melangkah masuk, mamanya kembali memanggil. "Pastikan rumah harus bersih! Jangan sampai ada debu yang menempel." "Ma, tapi ada satu yang nggak bisa dihilangin, susah dibersihin." Wanita di sampingnya itu mengerutkan alis, memikirkan apa yang tengah dibicarakan. "Maksudmu apa? Memangnya ada?" "Ada, Ma. Susah sekali karena sudah sangat membekas." "Apa?" "Perlakuan nggak ada akhlaknya Mama yang sering melalukan nggak adil antara aku dan Tara." Seketika itu Kyra langsung bergegas melarikan diri, dia tahu apa yang akan terjadi nanti. "Kurangajar kamu, Kyra!" Mamanya langsung memegang apa saja yang ada di dekatnya, melemparnya ke arah Kyra, untung saja gadis itu sigap menghindar dan pandai membuat alasan. "Ampun, Ma, Kyra minta maaf, janji akan bersihin sewangi mungkin." Selalu seperti ini. Kyra akan berakhir takluk dan menuruti perintah mamanya, meskipun pegal di badannya masih terasa. Sebenarnya sang mama bisa saja membuangnya atau menyuruhnya pergi dari rumah ini, tapi wanita itu kembali berpikir, adanya Kyra tidak perlu repot-repot menyewa pembantu untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Gadis itu masih diperlukan tenaganya, meski pun kadangkala dia juga lepas kendali hingga bermain fisik. Kyra sudah kebal, awalnya dia menangis, apalagi setelah ayahnya meninggal, mamanya itu semakin gencar memperlakukannya semena-mena. Tapi dia tidak bisa pergi, Kyra masih membutuhkan mamanya untuk mengejar pendidikannya di bangku kuliah. Wanita itu berjanji akan membantu sedikit biayanya untuk terus mengenyam pendidikan, meski kerap kali juga diingkari. Kyra gadis yang berbeda, dia tidak terlalu cengeng sekarang. Dirinya mencoba tegar dan berusaha kuat dengan sesekali menggoda mamanya, yah ... walau pun hal itu akan berimbas pada dirinya yang nantinya akan terluka karena di pukul mamanya atau terkena omelan, tapi setidaknya ia berharap masih bisa dekat dengan wanita itu. Kyra tidak tahu apakah dia benar-benar anak kandungnya atau tidak, karena seringkali diperlukan berbeda dengan sang adik. Tara selalu diistimewakan, dimanjakan dan diutamakan, sedangkan dirinya, makan saja harus izin atau menunggu sisa dari mereka. Malam harinya setelah semua aktivitas beratnya terselesaikan, Kyra segera beranjak menuju dapur. Menuruti makhluk kecil yang bersarang di dalam perutnya--bukan seorang bayi, mungkin cacing perut, entahlah, dari tadi perutnya itu terus saja berbunyi. "Kamu mau apa?!" Baru saja dia membuka tudung saji, tapi sebuah suara sudah mengagetkannya. Siapa lagi kalau bukan sang mama. "Makan, Ma." "Jangan sekarang. Tara masih ada teman-temannya. Jangan sampai nanti mereka kelaparan dan tidak menemukan makanan." Kyra melongo. Merasa perkataan Mamanya tidaklah benar. Hey! Bukannya tadi di depan sudah banyak makanan dan cemilan yang tersedia. Mana mungkin bisa kurang. "Sekarang kamu ke belakang. Ngapain gitu, atau kerjain tugas kampus kamu." "Ma ... lapar, satu suapan ya, kasian nih." Kyra menunjuk perutnya dengan wajah melas. "Kenapa? Biasanya juga tahan sampai tengah malam. Lagi pula kamu itu tidak hamil, jadi jangan terlalu banyak makan." Kyra mendesah keras. Mengusap perutnya yang terus berbunyi. Dia mendesah keras dan berjalan gontai meninggalkan sang mama. Selang beberapa meter, dia berhenti dan berbalik. "Ma, mama kalau pingin cucu bilang aja, nanti biar aku cari hot bapak." Wanita paruh baya itu langsung menoleh ke sumber suara, dan melihat Kyra yang tersenyum kecil lalu berlalu dari hadapannya. "Jangan macam-macam kamu Kyra, kalau sampai kamu hamil, aku buang kamu!" Kyra menulikan telinga, meski pun sayup-sayup suara mamanya masih terdengar, tapi dia tidak perduli, terus melangkah hingga tanpa sadar telah sampai pada setapak jalanan yang lengang. Ia memilih berkeliling sebentar tanpa arah dari pada harus di rumah dan mendengar ceramah mamanya, belum lagi kalau Tara ikutan menambahi dengan menyalahkan dirinya. Ah, sial! Kenapa dia harus beranggotakan keluarga seperti itu. Sebenarnya apa kesalahan yang di perbuatanya dulu, sehingga membuat mama dan adiknya begitu membencinya. Sreekk!!! Kyra menoleh ke sumber suara, tapi tidak menemukan apapun. Suasana masih tetap hening seperti tadi. Apa mungkin efek lapar bisa menimbulkan kehaluan? Dia kembali berjalan, mengabaikan suara yang tadi sempat mengusiknya. Tapi beberapa detik setelahnya, hembusan angin tertiup begitu kuat, bahkan rambutnya ikut bergerak. Kyra mendongak ke atas. Memeriksa langit barangkali sedang mendung. Namun di atas sana langit cerah, bahkan bintang saja ikut hadir menemani rembulan. Lalu kenapa anginnya bertiup begitu kencang. Saat pikirannya masih berkecamuk, suara tadu kembali didengarnya. "Siapa di sana?" Dirinya menoleh kesegala penjuru, tapi tidak ada apa pun. Bulu kuduknya mulai berdiri, takut jika dia bertemu dengan makhluk jadi-jadian. Belum sempat Kyra melarikan diri, tiba-tiba saja ada yang menarik tangannya keras. Jeda beberapa detik kemudian, dia sudah berada di sebuah bangunan kosong. Ini benar-benar ajaib--salah! Ini mengerikan, bagaimana mungkin dirinya berada di sini hanya dengan beberapa detik, sedangkan perjalanan ke sini saja membutuhkan hampir sepuluh menit untuk sampai. Iya, Kyra tahu di mana dia berada, bangunan ini memang tidak jauh dari tempatnya tinggal, dan sudah kosong satu tahun silam Lalu siapa sosok yang menariknya tadi? Sosok yang sekarang sedang membelakanginya dengan pakaian serba hitam. "Ka ... kamu siapa?" Antara takut dan penasaran, Kyra mencoba memberanikan diri untuk bertanya. Jantungnya berdegup kencang karena terlalu terkejut dengan kejadian ini. Laki-laki di depannya itu menoleh dan menyeringai lebar--kalau tebakannya benar dia seorang lelaki, karena jika dilihat dari postur tubuhnya memang seperti itu. Tegap, tinggi dan memakai Hoodie hitam. Matanya berpendar sedikit kemerahan saat tertimpa cahaya rembulan. Ini menyeramkan. Alarm bahaya dalam dirinya sudah bersiaga. Memerintahkan Kyra untuk segera berlari, dan tanpa pikir panjang, gadis itu segera berbalik arah lalu berlari menjauh, tapi sayang, meski pun dia sudah mencoba berlari sejauh mungkin, sosok itu tetap bisa mengejarnya, bahkan selalu berhenti tepat di depannya. "Ka ... kamu mau apa?!" Dirinya benar-benar takut sekarang. "Kamu." "A ... aku? Ke ... kenapa?" Dengan terbata dia mencoba menjawab. Bukankah ini memang hal lumrah jika dia berada di posisi ini dan ketakutan. Bayangkan saja, jika kamu dikejar seseorang yang begitu aneh di malam hari dengan kondisi yang begitu sepi. Apa yang akan kamu lakukan? Berlari? Kecepatan orang ini saja mengalahkan angkutan ngebut yang sering dia tumpangi. "Darahmu begitu segar Nona, aku bisa merasakannya. Bahkan baunya begitu manis." Laki-laki itu mendekatkan kepalanya dan mengendus sisi lehernya. Akhirnya Kyra tahu kalau tebakannya memang benar, suara orang ini begitu berat, khas lelaki sekali. "Tolong, Mas. Jangan meesum di sini!" Kyra reflek mendorong tubuh yang ada di depannya, tapi malah dibalas kekehan pelan. Dia takut sekali, apa karma sudah dipastikan turun pada dirinya, karena tadi sempat menantang mamanya untuk memberikan cucu. 'Oh Tuhan, Kyra belum mau hamil.' Kyra sangat takut kalau dirinya akan dilecehkan di tempat, apalagi tempat ini sangat sepi. Jarang sekali ada yang lewat, tapi lebih takut lagi kalau pria ini sampai memperkosanya. "Tidak perlu takut. Aku akan membuatmu tidak kesakitan, semua akan berjalan cepat." Lelaki itu terus berjalan mendekati Kyra, membuat gadis itu ikut mundur karena takut. "Aku tidak mau! Aku masih sekolah." Lelaki itu mengangkat sebelah alisnya, tertawa pelan. "Apa yang sedang kau pikirkan, Bocah?" Kyra menggeleng. "Tolong, Mas. Jangan seperti ini." Kyra berhenti, punggungnya sudah menabrak tembok, dia tidak bisa lagi menghindar. "Menarik." 'Menarik biji kau bercabang, sembarangan saja kalau bicara, kenal saja tidak.' Kyra membatin dalam hati dengan kesal. Lelaki itu mulai meraba pipi Kyra, mencium rambutnya, terlihat sekali kalau dia ingin bertindak tidak baik padanya. Tangan Kyra mulai meraba sekeliling, mencoba mencari apa pun yang bisa diraihnya, tapi belum sempat dia menemukan sesuatu, lehernya sudah dicengkeram keras. "Aakk!!" Kyra memegang lehernya yang dicekik, kakinya tidak menapaki tanah karena dirinya yang diangkat. "Le ... pas ... kan. Aku mo ... hon." Dengan susah payah dia mencoba berbicara. Lehernya benar-benar terasa sakit karena cengkramannya yang terus menguat. "Baiklah." Sesuai permintaan, pria itu segera melepaskan cengkramannya, tapi dengan cara melempar Kyra ke arah tembok di ujung bangunan. Sontak saja kepalanya segera terbentur dan mengeluarkan darah segar karena tergores polesan tembok yang kasar. Lelaki itu mendekat, berjongkok di samping Kyra, mengusap bagian kepalanya yang berdarah. Kyra tidak tahu lagi apa yang dilakukan pria itu, kepalanya begitu sakit. Nyeri luar biasa. Tapi samar dia seperti melihat tubuhnya bercahaya, ditambah lagi seperti ada yang meneriaki namanya, setelah itu dia tidak ingat apa yang terjadi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD