Siapa Lea?

1706 Words
Kyra mengerjapkan matanya perlahan. Sayup-sayup dia mendengar suara wanita sedang memanggil namanya sambil menepuk pipinya. Saat kesadarannya mulai pulih, hal pertama yang ia rasakan adalah rasa nyeri di kepalanya. Ia mendesis pelan untuk meredakan rasa sakit yang mendera. "Lea?" Kyra mengernyit begitu tahu siapa wanita yang tadi memanggil namanya. Lea. Teman sekaligus sahabat terbaiknya di kampus. "Syukurlah kamu sudah sadar. Bagaimana keadaanmu? Ada yang sakit?" "Ada dimana aku? Apa yang sedang terjadi tadi?" Bukannya menjawab, Kyra malah melontarkan pertanyaan lain. Seingatnya tadi dia dicekik seseorang yang berniat m***m kepadanya, belum lagi perbuatan kasarnya yang mengakibatkan kepalanya berdenyut sakit. "Kita di bangunan kosong. Tidak apa-apa Kyra, dia sudah pergi tadi." "Siapa dia?" tanya Kyra penasaran. "Hanya orang jahat yang berniat membunuhmu--" Lea langsung menutup mulut begitu sadar dia telah keceplosan. "Membunuhku? Tapi aku tidak punya musuh. Bagaimana bisa?" Kyra mulai panik, bayang-bayang kematian menghampirinya begitu terasa. Tubuhnya bergetar, antara takut dan terkejut. "Hey, tidak apa. Dia sudah pergi, tidak akan kembali." "Tap--" "Percayalah, Kyra. Aku tidak menipumu." "Tapi dia mau membunuhku. Bagaimana kalau dia kembali?" "Tidak bisakah kamu langsung percaya padaku?!" Lea melotot, merasa geram karena sahabatnya ini masih saja mendebat. "Dia sudah pergi. Tidak akan menemuimu lagi." Kyra akhirnya mengangguk. Mencoba percaya, meskipun rasa takut masih menderanya. "Tapi dia siapa? Ada keanehan sama pria tadi." Kyra teringat akan kejadian sebelum dia kehilangan kesadarannya. "Maksudmu?" "Matanya berpendar merah. Aku bisa melihatnya dengan jelas. Dan tadi... tadi aku merasa tubuhku mengeluarkan cahaya-- aww!" Lea langsung menoyor kepala sahabatnya, meskipun ia tahu kepala Kyra sedang sakit. Bekas darah kering masih terlihat di pelipisnya. "Sudah kubilang 'kan. Kamu ini memang kebanyakan halu. Jangan terlalu banyak baca novel. Apalagi film bucin. Lihat! Kehaluanmu semakin menjadi." "Kejam! Kepalaku sedang sakit Lea." Kyra memprotes, tidak terima karena hobbynya disalahkan. Tapi kejadian tadi memang seperti nyata. Apa benar, itu hanya halusinasinya saja. "Ya sudah. Ayo ku obati. Ke rumahku saja, itu yang paling dekat." Kyra mengangguk. Berjalan beriringan bersama Lea menuju rumahnya. Tempat tinggal mereka memang tidak begitu jauh, maka dari itu mereka bisa bersahabat dekat. "Ngomong-ngomong, kenapa kamu bisa menemukanku?" Kyra menoleh kearah Lea, penasaran bagaimana gadis remaja ini bisa sampai di saat waktu yang tepat. "Suatu keberuntungan karena kamu tidak jadi mati. Tadi aku tidak sengaja mendengar teriakan saat mau pulang. Dan setelah kuhampiri. Ternyata kamu yang hampir terbunuh." Kyra kembali bergidik. Membayangkan betapa menyerahkannya apabila tadi tidak ada Lea yang mendatanginya. "Memangnya kamu habis dari mana?" "Belanja. Mama menyuruhku tadi." "Mana belanjaanmu?" Kyra melirik tangan Lea yang kosong tanpa membawa apapun. "Emm ... itu ... tadi habis. Tidak jadi beli." Kyra mengangguk. Hanya membalas dengan 'oh' saja. Tiba-tiba sebuah pemikiran datang menghampiri otaknya. Sebuah ketidakmungkinan dengan apa yang sudah dilakukan gadis itu. "Lea, boleh aku bertanya sesuatu?" "Silahkan." "Bagaimana kamu menghadapi pria tadi? Dia terlihat begitu kuat." "Eh?" Lea berhenti, sedikit terkejut mendengar pertanyaan Kyra. Hal pertama yang ia lakukan adalah mengusap tengkuknya, khas seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu. "A ... aku ... tadi--ah iya, ada beberapa warga yang datang, dan sempat ada polisi yang lewat. Jadi dia ditangkap. Makanya aku bilang dia tidak akan mengganggumu lagi." "Oh iya?" Kyra masih tidak percaya meskipun Lea sudah menjawabnya dengan anggukan. Lalu kenapa semua begitu kebetulan. Apa mungkin hal itu benar-benar terjadi? Atau ini hanya alasan Lea saja karena ia sedang menutupi sesuatu. "Tapi Lea. Tadi waktu aku sadar tidak ada siapapun selain kamu. Apa--" "Berhenti bertanya Kyra. Atau kepalamu akan semakin sakit!" Kyra langsung memegang pelipisnya. Sempat lupa kalau kepalanya sedang tidak baik-baik saja. Tapi dia masih penasaran dengan cerita Lea. Kebetulan yang sangat aneh. Akhirnya Kyra mencoba percaya, memilih melupakan kejadian tadi. Mungkin saja cerita Lea memang benar. Semua hanya kebetulan yang menguntungkan. "Ayo masuk!" Lea membuka pintu, mempersilahkan Kyra untuk memasuki kediamannya. "Kamu duduk dulu. Akan kuambilkan kotak obat." Kyra mengangguk. Melepas kepergian Lea yang beranjak meninggalkannya. Beberapa saat setelah menunggu, Lea kembali lagi dengan membawa kotak P3K yang isinya peralatan obat. "Kyra, kamu tidak apa-apa, Nak?" Mamanya Lea ikut menghampiri, raut wajahnya terlihat khawatir melihat kondisi teman anaknya itu. "Tidak, Tante. Hanya luka kecil." Kyra tersenyum. "Syukurlah. Kalau begitu nanti pulangnya diantar Lea saja ya." "Tidak Tante. Kyra bisa sendiri-- Aww!! Pelan-pelan, Lea. Sakit." Kyra meringis merasakan sakit akibat lukanya yang ditekan terlalu kuat oleh Lea. "Lebih baik jangan menolak, Kyra. Tante terlalu khawatir kalau kamu pulang sendiri." "Tidak baik membantah orang tua, Ra!" Lea melotot, memperingati sahabatnya untuk menurut. Akhirnya gadis yang sedang diobati lukanya itu mengangguk pelan,memilih untuk menurut. Tidak lama setelah itu perut Kyra berbunyi, menandakan kalau dia sedang lapar. "Kamu belum makan?" Kyra nyengir lebar dan mengangguk. Dari tadi siang dia memang belum makan nasi, hanya roti kering yang ia temukan di rak piring. Itupun bekas Tara. Mengenaskan sekali memang nasibnya. "Ya sudah, kamu makan dulu, setelah itu aku antar pulang." Kyra mengangguk. Mengiyakan perintah Lea. Untuk soal ini, dia tidak mungkin menolak. Bagaimana pun, dia memang butuh makan. Tuhan memang adil menggariskan takdir. Lihat saja, di balik keluarganya yang kejam itu, dia dianugerahi sahabat yang begitu perhatian. Selalu ada saat dia benar-benar membutuhkan. "Untung tante sudah pergi." Kyra mengusap perutnya yang lapar, arah pandangnya mengikuti Lea yang beranjak mengambilkannya makanan. Mamanya Lea memang sudah beranjak saat lukanya tadi masih diobati. Setidaknya dia tidak merasa sungkan karena meminta makan disini--yah, meskipun mereka akan memberinya dengan ikhlas, tapi Kyra tetap merasa sungkan. "Makanlah, setelah itu pulang." Lea menyodorkan satu piring nasi beserta lauknya. Tidak lupa juga air putih untuk Kyra. Lea memang hampir tahu segalanya tentang Kyra, bagaimana dia, dan bagaimana keluarganya memperlakukannya. Kadang Lea merasa iba, tapi dia sendiri tidak bisa berbuat banyak untuk menolong. Itu masalah keluarganya Kyra, tidak baik juga dia ikut campur terlalu dalam. Pernah suatu hari dia ikut membantu Kyra saat sedang diperlakukan kasar oleh ibunya, tapi Lea malah mendapat perlakuan serupa, dan semenjak itu, Kyra melarang Lea untuk ikut campur dengan keluarganya, dia tidak ingin sahabatnya mendapat perlakuan serupa dengan dirinya. "Ma, aku pergi dulu ya!" Lea sedikit berteriak dari luar rumah untuk berpamitan dengan Mamanya. Dia akan pergi mengantarkan sang sahabat ke rumahnya. Tidak ada jawaban dari dalam, tapi Lea segera meraih tangan Kyra dan mengajaknya untuk segera pergi. "Mamamu belum menjawab, Le." Lea mengangkat kedua bahunya dan tetap berjalan sambil menarik tangan Kyra. "Tidak sopan!" gerutu Kyra. "Hey! Enak saja, yang kulakukan tadi sangat sopan tau." "Dengan berteriak, lalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Mamamu?!" Kyra berdecak. Tidak setuju dengan perkataan sahabatnya, tapi Lea malah terkikik lalu melepas tangan Kyra dan berlari kecil menjauhinya. "Tidak semua yang kamu lihat seperti apa yang kamu pikirkan, Ra." "Maksud kamu?" Kyra mengerutkan dahi, tida paham dengan apa yang baru saja diucapkan Lea. "Itu rahasia. Temukan sendiri kalau kamu bisa." Lea kembali tertawa sambil berlari kecil, kali ini dibarengi dengan memutar tubuhnya. Pribadi yang sangat ceria memang. "Ck! Itu tidak adil, Le. Aku selalu membagi apa pun denganmu, kenapa kali ini tidak." "Ada banyak hal yang memang kita sendiri tidak perlu tau, Ra. Percayalah, itu yang terbaik." "Tetap saja, itu curang. Ayo bagi denganku!" Kyra mengejar Lea yang saat ini malah berlari kecil menjauhinya, mereka tertawa dan saling mengejar di tengah sepinya malam yang mencekam, tanpa tahu kalau ada sepasang mata yang dari tadi mengintai mereka. Tergiur dengan aroma manis yang menguar dari tubuh salah satunya. Sreekk!!! Dengan satu kali tarikan, tubuh Kyra terangkat mengikuti pelaku. Gadis itu dejavu, teringat dengan kejadian tadi. Lea yang sadar, reflek berteriak dan segera berlari mengejarnya. Dia merasa bersalah karena teledor menjaga Kyra. "Lepaskan dia!" Dengan napas masih memburu, Lea menunjuk seseorang yang membawa Kyra, matanya merah tajam, dan dia berhoodi hitam. "Oh, Klan Fairy rupanya. Tidak kusangka ternyata bersahabat dengan manusia." Kyra menatap Lea bingung. Apa maksudnya. Tapi dia sendiri belum bisa bertanya, karena dirinya masih berusaha membebaskan diri dari cengkraman pria ini. "Tenang gadis manis. Temanmu itu tidak bisa berbuat banyak dihadapanmu. Dia pasti sangat berhati-hati agar identitasnya tidak diketahui." "Siapa kamu?! Aku tidak ada urusan denganmu!" Pria itu tertawa, bahkan bahunya sampai bergerak karena terlalu keras. Dari suara dan tawanya, Kyra tahu ini lelaki yang berbeda. "Awalnya memang begitu. Kita tidak saling mengen, tapi aromamu begitu manis, aku jadi ingin berkenalan." "Aku tidak sudi!" Kyra terus berontak, berusaha melepaskan cengkraman pria itu, sedangkan Lea berpikir keras, bagaimana cara membebaskan sahabatnya, dia tidak bisa bertindak sembarangan, atau semuanya akan terbongkar. "Tidak apa, aku hanya menginginkan darahmu, setelah itu aku akan pergi. Benar-benar aroma yang manis. Belum pernah aku mencium aroma memabukkan seperti ini, pantas saja tadi temanku sampai berani menyentuhmu. Tapi sayang, dia tewas di tangan sahabatmu." Kyra memandang Lea bingung. Lelucon apalagi ini. Bagaimana mungkin gadis manja seperti Lea bisa menewaskan pria yang tenaganya saja begitu kuat. "Lepaskan saja dia. Tidak usah banyak bicara!" Lea berteriak keras, dadanya naik turun menahan amarah, sesekali dia memejamkan mata seperti menahan sesuatu. Dia harus segera bertindak, atau semua akan berakhir terlambat. Pria yang tengah menyandra Kyra itu tertawa keras. "Permintaan yang tidak mungkin, Nona. Kesempatan ini sangat langka. Lagi pula kamu tidak bisa berbuat apa pun selama gadis ini masih sadar. Jadi, tunggu sebentar saja hingga dia tewas. Baru kita bertarung." "JANGAN!" Terlambat. Kuku pria yang tengah menyandra Kyra telah berubah panjang, dan dengan sedikit gerakan dia menggoreskan ke luka yang ada di dahi gadis tersebut. Membuat lukanya kembali menganga dan mengucurkan darah lagi. Mencoba mencicipi betapa manis aroma darah yang ada dalam tubuhnya. Tapi pria itu malah mengernyit begitu mencecap rasanya, dia melihat ujung kukunya yang lain yang masih berwarna merah karena bekas noda darah dari Kyra. "Ternyata bukan darahmu yang manis. Ini seperti ilusi. Siapa kamu, kenapa auramu berbeda?" tanya pria itu bingung. "b*****h! Sudah kubilang jangan sentuh dia!" Lea mengumpat, sudah tidak bisa lagi menahan diri melihat sahabatnya dalam bahaya, dan dalam sekejap, tiba-tiba saja punggungnya mengeluarkan sepasang sayap. Matanya berpendar kuning dan kupingnya berubah runcing. Kyra terbelalak, tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Lea? Benarkan itu sahabatnya. Seseorang yang selalu ada untuknya, seseorang yang begitu manja dan sangat cerewet kalau dia sedang menggodanya. Bagaimana bisa gadis itu mempunyai sepasang sayap? "Klan Fairy." Pria itu menyeringai, melepaskan Kyra dan memasang kuda-kuda, bersiap bertarung melawan Lea. Dalam situasi seperti ini. Kyra hanya terbengong, bingung dengan apa yang sedang terjadi. Fairy? Apa itu? Siapa sebenarnya Lea? Makhluk seperti apa dia? Apa yang sebenarnya terjadi? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD