Mereka Berbeda

1356 Words
Happy Reading, Suyung Lea menatap Kyra sekilas lalu beralih menatap pria yang tadi menyandra sahabatnya. Klan Vampir. Sebuah klan yang sangat tergila-gila dengan darah. "Aku tidak akan mengampunimu!" Dia sudah terlanjur basah, sekalian saja mandi. Sahabatnya akhirnya mengetahui rahasianya selama ini. "Tentu saja. Kita akan bertarung. Capung kecil sepertimu sangat mudah kukalahkan." Pria itu kembali tertawa, kali ini suaranya lebih keras. "Sombong sekali. Lihat saja nanti, siapa yang akan mati terlebih dahulu." Sekali lagi Lea menatap Kyra yang semakin terkejut, tidak menyangka kalau Lea sangat berani menantang kematian. Tapi mau bagaimana lagi tidak ada pilihan lain selain menampakkan wujud aslinya. Nyawa Kyra dalam bahaya, dan dia tidak bisa tinggal diam melihat sahabatnya meregang nyawa di depan matanya. Lea mengepakkan kedua sayapnya, tubuhnya terangkat di udara dan melayang mendekati pria itu. Jarak mereka semakin dekat, hanya terpaut beberapa centi. Dengan gerakan cepat, Lea berhasil meninju pipi kiri Si Vampir. Satu-kosong, pria vampir itu tidak begitu siap menerima pukulan Lea, tubuhnya terjungkal beberapa meter ke belakang. "WOW." Satu kata yang keluar dari mulut Kyra. Itu pukulan yang sangat keren. Dari mana gadis manja ini belajar. Lea benar-benar dibuat takjub, tidak menyangka sama sekali. Tidak sempat menanggapi kekaguman Kyra, Lea kembali fokus. Pria vampir itu telah kembali, berlari kencang secepat angin, tangannya melayang hendak meninju perut Lea, tapi gadis ini lebih gesit, dia berhasil menangkis. Dan melayangkan pukulan kembali di punggung vampir itu. Posisi terbang seperti ini memang sangat menguntungkan baginya. "Ckckck. Sudah kuduga kemampuanmu tidak lebih baik dari temanmu tadi." Lea bersedekap d**a. Menyombongkan diri karena berhasil memukul musuh. Tapi itu bukan akhir, dia tidak sadar kalau pria vampir itu hanya pura-pura kalah. Hanya mengulur waktu untuk melihat titik lemah darinya. Dan benar saja, Lea kurang fokus, dengan satu gerakan yang begitu cepat, Vampir itu segera mendekat dan menarik kaki Lea ke bawah, menghempaskannya ke tanah dengan begitu keras, setalah itu ditendang dengan cukup kuat. Lea memekik, merasakan sakit luar biasa di punggungnya. Kedua sayapnya terasa ngilu, karena dia sempat terguling beberapa kali. "Cukup tahu beberapa trik untuk mengalahkannu. Klan Fairy sangat lemah jika berada di bawah. Lihat, kamu tidak bisa apa-apa tanpa terbang." Pria itu beralih menatap Kyra yang semakin cemas. Dia mengkhawatirkan semuanya, termasuk Lea yang sekarang masih terkapar kesakitan. "Aku pikir temanmu ini spesial, ternyata dia hanya manusia biasa yang lemah. Hanya saja beruntung karena bisa mengenal klan sepertimu." Pria itu kembali terkekeh, berjalan mendekati Kyra dan mencengkeram rahangnya. Beberapa detik yang lalu Kyra sempat terkagum melihat kemampuan sahabatnya, tapi kali ini tidak lagi. Lea masih tersungkur di tanah, hempasan yang dilakukan pria vampir ini begitu kuat, sayapnya saja rasanya mau patah. Akhirnya, mau tidak mau Lea memilih menyembunyikan sayapnya lagi. "Kamu memang manusia biasa, namun auramu berbeda. Aku tidak tahu siapa dirimu, tapi mencicipimu sepertinya tidak ada salahnya." Lagi. Pria vampir ini tertawa, dia seperti mendapatkan diskon belanja edisi terbatas, merasa sangat beruntung. "Bagaimana Nona Fairy? Bukankah lebih baik kalau dia kumusnahkan. Tidak ada lagi yang tahu identitasmu setelah ini." Lea menggeleng, berusaha keras mencoba bangkit untuk menyelamatkan Kyra. Perlahan, meskipun dengan rasa sakit yang masih mendera, Lea berusaha mengeluarkan sayapnya lagi. Mengepakkannya perlahan untuk kembali melawan pria vampir itu. Beberapa detik setelah dia berhasil terbang, Lea langsung menuju ke pria vampir itu, berusaha memukul meski tenaganya sudah melemah. Sreekk!! "Aaakk!!" Lea kembali memekik, dia gagal. Belum sempat memukul, pria vampir itu kembali bangkit dan menariknya lagi ke bawah, kali ini ia melemparkan Lea hingga punggungnya menghantam pohon dan jatuh. Secepat kilat, ia menghampiri Lea yang tak berdaya lalu mencekik lehernya. "Jangan coba-coba menyerangku dari belakang! Aku mencoba menolongmu, Nona, kenapa balik menyerangku?" Tempo perkataannya naik turun, meski pun tadi menyentak keras, di akhir kalimat dia berkata begitu halus, namun sangat mengerikan didengar. Lea memekik kesakitan, memegang tangan pria itu berusaha melepaskannya, tapi hasilnya nihil, cekikan di lehernya semakin menguat, tenaganya sudah habis, apalagi tadi dia sudah menggunakannya untuk melawan vampir sebelumnya. "Bersiaplah untuk mati!" Kesadaran Lea semakin menipis, dia melihat sahabatnya yang begitu ketakutan, tapi dia tidak bisa berbuat banyak, mungkin ini akhir dari hidupnya. "Berhenti! Jangan sakiti dia! Kamu menginginkanku, kan? Maka lakukan, lepaskan dia!" Meski rasa takut tetap ada, namun Kyra berusaha melawan. Ia tidak mau kalau Lea sampai terluka lebih parah lagi. Lebih tidak mau kalau sahabatnya sampai meregang nyawa karena dirinya. Jikalau nanti dia berakhir di sini, dia pasrah. Memangnya siapa yang akan memperdulikannya? Keluarganya saja tidak mengharapkan. Ia tidak ingin sampai Lea mengorbankan diri hanya untuk dirinya yang keluarganya saja tidak menerimanya. Pria vampir itu sempat menoleh ke arah Kyra yang sekarang berdiri tidak jauh darinya. Kondisi Kyra memang lebih baik dari Lea. "Ckckck, kalian benar-benar sahabat sejati." Pria itu melepaskan cekikannya dan melemparkan Lea. Gadis itu terjatuh sampai terbatuk-batuk. Tersungkur di atas tanah, tidak mampu bangkit meski hanya sekedar duduk. Pria vampir itu beralih menghampiri Kyra lalu mencengkeram lehernya. Disibakkan beberapa helai rambut yang menutupi lehernya, diusap pelan sebelum menghirup aroma dari darahnya. 'Vampir ini benar-benar meesum!' Dengan perasaan takut Kyra masih saja sempat memandang wajahnya. Mata pria itu semakin berkilat merah saat dia berusaha menunduk untuk menghisap darahnya. Baiklah. Ternyata ini adalah akhir dari hidupnya. Dia pasrah, menerima takdir aneh yang tergores di kehidupannya. Dalam keadaan terdesak dan terancam mati begini, Kyra sangat bersyukur bisa bertemu dengan Lea. Setidaknya dia punya pengganti yang baik dari kasih yang tak ia dapatkan dari keluarga. 'Selamat tinggal,' batinnya dalam hati kemudian memejamkan matanya dengan erat. "Aarrggghhh!!!" Pria vampir itu menggeram kesakitan dan tubuhnya terpental beberapa meter mendapat serangan tiba-tiba itu. Kyra reflek membuka matanya, mengamati keadaan sekitar dan menyentuh lehernya. Semua masih membaik, terkecuali pria vampir itu dan Lea, yang sama-sama tersungkur di tempat yang berbeda. "Lea!" Kyra berteriak, berlari menghampiri sahabatnya, berusaha memanfaatkan kesempatan, namun baru setengah jalan tiba-tiba tubuhnya ditarik keras dan dilemparkan ke jalan, kepalanya terantuk batu yang menjadi pembatas sisi jalan. Darahnya kembali mengucur, kali ini semakin deras. Lea tahu, tapi dia tidak bisa berbuat banyak, keadaannya juga memprihatinkan. "Kurangajar! Apa yang kamu lakukan, Ha?! Dari mana kamu mendapat kekuatan itu?!" Tubuh Kyra terangkat, lehernya kembali dicengkeram, kali ini semakin keras, terasa sakit luar biasa. Tapi dia sendiri juga bingung apa yang dimaksud pria ini. Kekuatan? Kekuatan apa yang dimaksud? Memang apa yang sudah diperbuat sampai membuat pria di depannya ini murka begini. "JAWAB!" Kyra semakin meringis, lehernya rasanya mau patah ditekan terlalu kuat, dia sendiri merasakan ada yang mengalir di lehernya, sesuatu entah apa itu, rasanya ada yang menancap di lehernya. Kalau tidak salah, kuku pria vampir ini sepertinya ikut andil mengoyak kulitnya hingga berdarah. "Aa ... ku tidak tahu." Meski pun susah dan sangat sakit Kyra berusaha menjawab. Merasa bukan itu jawaban yang diinginkan, pria vampir ini semakin murka, tubuh Kyra kembali dilempar, kali ini terjatuh tidak jauh dari Lea. Kondisinya semakin parah dengan luka dibeberapa bagian tubuhnya. Kepalanya, lehernya, bahkan tulangnya rasanya mau patah. "Siapa pun kamu, pasti bukan manusia biasa. Kupastikan kalian berdua mati malam ini." Selesai mengatakan itu, pria vampir ini memejamkan matanya beberapa saat, lalu membukanya kembali, matanya yang tajam semakin berkilat merah, amarah sangat kentara menghiasi wajahnya, belum lagi kukunya yang tiba-tiba memanjang, bersiap mengoyak kedua gadis yang sudah tak berdaya itu. "Lea, terima kasih sudah mau ber ... sahabat denganku." Kyra berusaha berbicara, tersenyum ke arah Lea yang kondisinya tidak kalah buruk darinya. Dia tidak pernah menyesal bertemu dengan Lea, meski pun gadis itu bukanlah manusia, setidaknya dia memperlakukan dirinya sangat manusiawi. Dalam keadaan setengah sadar, Kyra melihat pria vampir itu berlari menghampiri mereka, dia menyunggingkan senyum sebelum benar-benar menutup matanya. Namun tidak disangka, sebuah cahaya terang berwarna biru keluar dari tubuhnya. Membakar habis pria vampir itu hingga tewas menjadi abu, tidak lama setelah itu sinar tadi kembali meredup lalu menghilang, disusul dengan Kyra yang tidak sadarkan diri. "Kyra?" Lea terkejut. Sangat terkejut dengan apa yang baru saja dilihat. Bagaimana Kyra mendapat kekuatan itu? Ya, pertanyaan itu terulang kembali dari orang yang berbeda. Tidak ada yang menyangka jika keduanya punya sesuatu spesial masing-masing. Satu sisi, Lea memang sengaja menyembunyikan identitasnya agar bisa membaur dengan manusia, tapi di sisi lain, Kyra memang tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Tidak tahu kalau dia lebih spesial dari klan lainnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD