“Maaf, Mas. Bibirku sedang sariawan.” Aku berkata dengan cepat. Terpaksa berbohong untuk menutupi kecurigaan Mas Herman.
Ekspresi Mas Herman berubah. Tidak ada lagi kecurigaan pada raut wajahnya.
Aku memeluk Mas Herman dengan erat. “Kenapa kamu berbohong padaku, Mas? Kemarin kamu bilang tidak tahu kapan akan pulang.”
Kemarin malam, saat Mas Herman meneleponku, Mas Herman mengatakan kepadaku bahwa dia tidak akan bisa pulang dalam waktu dekat. Tapi sekarang, tahu-tahu dia sudah ada di rumah. Membuatku tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Jujur saja, aku belum siap bertemu dengan Mas Herman meski aku sangat merindukan dirinya.
Mas Herman membalas pelukanku dengan tidak kalah eratnya. “Maafkan aku, Sayang. Aku hanya ingin memberikanmu kejutan.”
“Kamu benar-benar sudah membuatku hampir mati karena merindukanmu, Mas.”
Tidak ada yang bisa kulakukan selain berakting bahwa tidak ada yang terjadi. Bagaimanapun aku masih takut Mas Herman akan menjauhiku jika mengetahui penyakitku. Aku tidak ingin berpisah dengannya. Aku sangat mencintai suamiku ini.
Mas Herman tertawa pelan. “Aku juga hampir mati karena merindukanmu.”
Mas Herman melepaskan pelukannya. Dia kembali menghujami wajahku dengan ciuman. Perlahan-lahan, ciumannya beralih ke leher dan belakang telingaku. Tangannya pun mulai meraba-raba titik sensitifku.
“Mas,” ucapku lirih, karena aku yang sedikit mulai terangsang dengan belaiannya.
“Aku menginginkannya, Sayang.”
“Kita ke kamar saja, Mas. Jangan di sini. Bagaimana kalau Pak Jamil atau Bibi Sari lewat?”
Tanpa banyak bicara, Mas Herman menggendongku ke kamar. Mulutnya tidak berhenti menjelajahi leher jenjangku.
Kami menghabiskan sore dengan memadu kasih. Melampiaskan rasa rindu kami yang sudah satu bulan tidak bertemu. Itu karena Mas Herman yang terpaksa pergi ke luar kota, mengurus masalah yang terjadi pada perusahaan cabang.
Lagi pula kami masih pengantin baru. Kami baru menikah tiga bulan yang lalu. Kami juga sepakat untuk tidak memiliki anak karena ingin menikmati bulan madu kami tanpa ada gangguan. Kedua belah keluarga kami pun mendukung rencana kami yang menunda momongan.
Mas Herman langsung terlelap begitu kami selesai memadu kasih.
Aku menggeser pelan tangan Mas Herman yang melingkar di perutku ketika ponselku berdering. Tertera nama Suseno pada layar poselku. Aku mengernyit bingung untuk apa Suseno meneleponku. Namun, aku segera mengangkatnya, takut jika itu sesuatu yang penting.
“Halo, Seno,” ucapku lirih, takut membangunkan Mas Herman. Selain itu, aku tidak ingin Mas Herman tahu jika aku menerima telepon dari pria lain. Sebab Mas Herman orangnya pecemburu.
“Halo, Bila. Aku hanya ingin mengingatkan, apakah kamu sudah meminum obatnya?”
Astaga!
Aku lupa meminum obatnya.
“Belum,” ucapku merasa bersalah. “Terima kasih sudah mengingatkanku, Seno.”
“Sama-sama, Bila. Minumlah obatnya. Dan ingat untuk selalu meminumnya tepat waktu.”
“Hm! Baik. Sekali lagi terima kasih, Seno.”
Aku pun segera memutuskan sambungan telepon. Mengangkat pelan tangan Mas Seno dari tubuhku, dengan langkah perlahan aku mengambil obat di dalam tasku. Tanpa membersihkan diri terlebih dahulu, aku keluar kamar dengan cara mengendap. Begitu di luar kamar, aku berjalan dengan cepat menuju dapur. Lalu meminum obatku dengan cepat. Takut Mas Herman bangun dan memergokiku.
Aku benar-benar bersyukur Suseno mengingatkanku. Jika tidak, maka keinginanku untuk sembuh akan sia-sia.
Usai minum obat, aku kembali ke kamar. Menyimpan obat dengan rapi di dalam tasku sebelum naik ke tempat tidur. Mas Herman menggeliat dan langsung memelukku saat merasakan pergerakanku di tempat tidur.
Dalam dekapan Mas Herman, aku pun terlelap. Kami baru terbangun ketika matahari telah tenggelam. Segera kami mandi dan keluar kamar, menuju ke ruang makan. Perut kami sudah sangat lapar. Usai makan, Mas Herman yang tampak kelelahan, kembali ke kamar untuk tidur.
Untuk menghindari kecurigaan Mas Herman, aku meminta Suseno untuk tidak meneleponku, melainkan mengirimiku pesan untuk mengingatkanku. Akhinya, hampir setiap sore, Suseno mengirimiku pesan berisi pengingat supaya aku meminum obatku.
“Ada apa denganmu? Kenapa aku merasa sepertinya kamu menghindariku?” Mas Herman berkata dengan kesal.
Beberapa hari belakangan ini, Mas Herman sering kesal padaku. Pasalnya aku selalu menolak setiap kali dia hendak meciumku di bibir. Tapi apa mau dikata? Aku tidak mungkin menularkan penyakit pada suamiku. Aku tidak ingin suamiku tertular penyakitku.
Sejak aku dinyatakan terkena TB paru, aku selalu berusaha membersihkan alat makanku sendiri. Tentunya di saat Mas Herman tidak ada di rumah.
“Itu hanya perasaan Mas saja. Aku tidak menghindar, hanya saja bibirku masih sariawan, Mas.” Aku mencoba bersikap tenang.
“Kalau begitu periksakan ke dokter. Ini sudah dua minggu, tetapi sariawanmu masih belum sembuh.”
“Baiklah, Mas. Nanti aku pergi ke rumah sakit. Jangan cemberut lagi ya, Mas?” aku bergelayut manja di lengan Mas Herman.
Mas Herman menghela napas dengan sedikit berat. “Hm!” gumamnya sebagai jawaban.
Untuk membuat suasanya hatinya membaik, aku pun mencoba untuk merangsangnya. Mencoba untuk membangkitkan birahinya. Dari artikel yang pernah aku baca, jika suami sedang berada dalam suasana hati yang buruk, kita bisa merangsangnya untuk memadu cinta. Supaya urat-urat sarafnya yang tegang menjadi rileks.
Dan itu adalah yang sering kulakukan setiap kali Mas Herman sedang marah, kalut, dan banyak tekanan akibat pekerjaan. Dan memang semuanya terbukti. Suasana hati Mas Herman akan membaik usai kami memadu cinta.
Sesuai janjiku pada Mas Herman, aku pun pergi ke rumah sakit keesokan harinya. Bukan untuk memeriksakan sakit sariawan yang tidak pernah kualami, tetapi untuk melakukan pemeriksaan penyakitku.
“Masuk!” terdengar suara Suseno begitu aku mengetuk pintu ruang kerjanya.
Suseno tersenyum lebar begitu melihatku. Dia mempersilakanku duduk di depan meja kerjanya. Kami berbasa-basi sebentar sebelum melakukan pemeriksaan.
“Nanti hasilnya beritahu aku melalui pesan singkat saja ya, Seno. Aku takut Mas Herman curiga jika aku sering bolak-balik ke rumah sakit.”
“Baiklah. Nanti aku akan langsung mengabarimu.”
“Terima kasih, Seno.”
“Sama-sama, Bila.”
Suseno memberikanku nasihat dan mengingatkanku untuk meminum obatku tepat waktu. Setelah itu, aku pun langsung meninggalkan ruang kerja Suseno.
Tepat saat aku menutup ruang kerja Suseno, seorang wanita memanggil namaku.
Aku pun refleks menoleh ke arah sumber suara. Aku terbelalak saat mengenali siapa orang yang baru saja memanggilku. Itu adalah Mama Zheti, ibu Mas Herman alias ibu mertuaku.
Aku memasang senyum lebar senatural mungkin saat Mama Zheti menghampiriku. Menyembunyikan kegugupan dan keringat dingin yang mulai membasahi telapak tangan serta tubuhku.
Mama Zheti berhenti tepat di hadapanku. Keningnya berkerut menatapku. “Bila, apa yang kamu lakukan di sini?”
“Tidak apa-apa, Ma. Aku sedang sariawan, jadi aku ke dokter untuk memeriksanya. Soalnya sudah dua minggu, tapi belum sembuh-sembuh juga.”
Mama Zheti mengernyit. Ia menatap ke pintu ruang kerja Suseno. Lalu tatapannya berubah penuh selidik saat menatapku.
“Tapi ruang kerja di belakangmu bukan ruang kerja dokter spesialis penyakit mulut, tapi ruang kerja dokter spesialis penyakit paru,” ucap Mama Zheti, tatapannya semakin tajam dan ada sedikit kecurigaan pada sorot matanya.