BAB 3 : Makan Malam

1216 Words
Aku menelan air liurku dengan susah payah. “Oh, aku baru menemui temanku waktu SMA dulu, Ma. Kebetulan dia menjadi dokter spesialis penyakit paru.” Aku tidak sepenuhnya berbohong mengenai Suseno. Dia memang teman SMA-ku dulu. Hanya saja setelah lulus SMA, kami tidak melanjutkan di kampus yang sama, sebab dia memang memilki cita-cita ingin menjadi dokter. Perlahan tatapan penuh curiga Mama Zheti menghilang. “Sebenarnya mama mau mampir ke rumah kalian setelah dari rumah sakit. Tapi karena bertemu denganmu di sini, jadi mama bilang sekarang saja. Nanti malam datanglah ke rumah untuk makan malam bersama. Sudah lama kalian tidak pulang.” “Baik, Ma. Nanti aku sama Mas Herman ke sana.” Aku menghela napas lega di dalam hati. Bersyukur karena Mama Zheti tidak bertanya lebih lanjut. “Baiklah, kalau begitu mama mau ke ruang kerja dokter Sudan.” Mama Zheti pun berlalu meninggalkanku. Mama Zheti memang selalu rutin datang ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya. Karena itulah, meski usianya sudah hampir menginjak kepala lima, tetapi Mama Zheti masih segar dan lincah. Beliau juga suka sekali olahraga. “Bila, kamu masih di sini?” suara Suseno sukses mengejutkanku. “Seno!” pekikku pelan. “Kamu mengejutkanku.” “Ada apa? Apa ada masalah?” kening Suseno berkerut dalam. Sorot matanya menunjukkan kekhawatiran. Aku menggeleng cepat. “Tidak. Hanya saja kebetulan aku bertemu dengan ibu mertuaku.” Aku meraih dan menggenggam tangan Suseno. “Seno, sebelumnya kamu sudah berjanji padaku, kumohon jangan beritahu ibu mertuaku mengenai penyakitku jika dia bertanya padamu.” “Memangnya ibu mertuamu mengenaliku?” Suseno bertanya dengan satu alis terangkat tinggi. Eh, benar juga! Mama Zheti tidak tahu mengenai Suseno. Meskipun Suseno datang ke pesta pernikahanku, tetapi teman-temanku yang datang tidak hanya Suseno saja. Banyak teman alumni SMA dan SMP-ku dulu yang juga kuundang untuk datang. “Pokoknya, siapa pun yang bertanya mengenai diriku, terutama penyakitku, tolong jangan kasih tahu mereka.” Aku menatap Suseno dengan tatapan memelas. “Hm! Aku akan tutup mulut.” “Terima kasih, Seno!” aku menggenggam semakin erat tangan Suseno. Lalu aku pun meninggalkan rumah sakit dan kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, aku langsung menuju ke kamar untuk beristirahat. Tubuhku terasa sangat lemas meski hanya bepergian ke rumah sakit. Aku sudah mengatakan keluhanku ini kepada Suseno, tetapi Suseno mengatakan itu hal yang wajah. Setiap penderita TB paru akan mengalami hal itu. Karena itulah Suseno memintaku untuk banyak-banyak istirahat, memakan makanan yang bergizi serta meminum obatku tepat waktu. Pukul tiga sore, aku terjaga dari tidurku. Kulihat ponselku ada satu pesan dari Suseno yang memberikan hasil pemeriksaanku tadi. Meskipun efeknya belum terlihat kentara, tetapi Suseno mengatakan semuanya baik-baik saja. Setelah membaca pesan Suseno, aku menelepon Mas Herman. “Halo, Mas,” sapaku begitu Mas Herman langsung mengangkat teleponku pada dering ketiga. “Maaf mengganggu, Mas.” “Ada apa, Sayang?” “Hari ini kamu bisa pulang cepat, Mas? Tadi saat di rumah sakit, kebetulan aku bertemu Mama yang ingin periksa kesehatan. Mama meminta kita untuk makan malam bersama di rumah Mama.” “Hm! Baiklah. Aku akan pulang lebih awal.” “Terima kasih, Mas.” “Ya. Ngomong-ngomong, bagaimana sariawanmu?” tanya Mas Herman tiba-tiba. Aku sedikit menelan air liurku terlebih dahulu sebelum berkata, “Tidak ada yang serius, Mas. Dokter hanya mengatakan imunku lemah. Jadi memintaku untuk banyak istirahat dan minum vitamin.” “Baguslah kalau begitu. Turuti ucapan dokter.” Mas Herman berkata tegas. “Iya, Suamiku Tersayang.” Aku berkata dengan nada sedikit manja. Aku yakin Mas Herman pasti masih kesal mengenai sariawanku itu. Mas Herman pun menutup sambungan telepon setelah mengucapkan kata-kata cinta andalannya. Aku hanya bisa tersenyum malu-malu dengan wajah memanas. Meski kami sudah lama berpacaran dan sering mendengar dia mengatakan kata cinta, tetapi tetap saja wajahku sering memanas. Terkadang Mas Herman sering mangatakan kata-kata cintanya untuk merayuku, hanya untuk bisa melihat wajahku yang memerah, kata Mas Herman. Tapi aku tidak tahu semerah apa wajahku. Untuk beberapa saat aku rebahan di tempat tidur sebelum mandi dan meninggalkan kamar. Menunggu kepulangan Mas Herman yang ternyata sudah pulang tidak lama setelah aku duduk di ruang tengah. Mas Herman pun langsung bergegas mandi. Sembari menunggu Mas Herman mandi, aku ke kamar untuk mengambil obat dan meminumnya. Pukul enam sore kami meninggalkan rumah, menuju ke rumah orang tua Mas Herman. Hanya memerlukan waktu setengah jam untuk tiba di rumah mertuaku. Mereka menyambut kami dengan senyum lebar. Kami duduk sebentar di ruang keluarga sebelum menuju ke ruang makan tepat pukul tujuh malam. “Bila, papa perhatikan sepertinya tubuhmu sedikit kurus,” ucap Papa Ardan setelah menelan makanan di mulutnya. Aku terkejut mendengar ucapan papa mertuaku. Kutatap papa mertuaku yang juga menatapku. Ada sedikit kerutan di kening Papa Ardan. “Iya, Pa. Berat badanku memang sedikit menurun,” ucapku setenang mungkin. “Selama Mas Herman di luar kota, aku benar-benar tidak nafsu makan.” Aku melirik Mas Herman yang makan dengan santai. Perasaan takut seketika menghantui diriku. Aku takut Mas Herman merasa tidak suka dengan penampilanku yang semakin hari semaki berkurang berat badan. Papa Ardan mengangguk kecil. “Sekarang Herman sudah pulang, kamu harus makan yang banyak.” “Iya, Pa.” Aku mengangguk kecil. “Kalau begitu makan yang banyak. Herman, beri istrimu daging, biar dia makan yang banyak.” Tanpa mengatakan apa-apa, Mas Herman mengambilkan daging dan meletakkan di piringku. Ingin sekali aku menolak, sebab aku benar-benar tidak nafsu makan. Namun, aku tidak ingin mengecewakan Papa Ardan. Jadi aku menerima saja meski rasanya mual karena memaksakan diri memakan daging. “Tapi, Bila. Entah kenapa mama merasa berat badanmu ini benar-benar turun drastis dibandingkan sebelumnya. Kamu yakin kalau kamu tidak sakit?” tanya Mama Zheti, nadanya terdengar khawatir. Begitu pun dengan sorot matanya yang sangat kentara penuh kekhawatiran. Aku tersenyum lebar, mencoba untuk menenangkan Mama Zheti. “Mama tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja. Akhir-akhir ini aku memang tidak nafsu makan meski Mas Herman sudah pulang, akibat sariawanku ini, Ma.” “Bila benar, Ma. Dia sudah dua minggu kena sariawan. Jangankan makan, kami bahkan tidak pernah berciuman sudah hampir dua bulan ini.” “Herman, jaga ucapanmu,” tegur Papa Ardan. “Maaf, Pa.” Mas Herman menjawab tanpa menatap Papa Ardan. “Sudahlah, lebih baik kita makan dulu, setelah itu bisa dilanjut obrolannya setelah makan,” ucap Papa Ardan. Kami pun menyantap makan malam dengan suasana kekeluargaan yang harmonis. Meskipun Papa Ardan meminta kami untuk tidak mengobrol lagi, bukan berarti kami benar-benar tidak mengobrol. Kami masih mengobrol di sela-sela makan, tetapi hanya obrolan santai. Usai makan, kami bersantai di ruang keluarga. Karena hari yang semakin malam, Mas Herman pun mengajakku untuk pulang. “Kalian tidak menginap?” tanya Papa Ardan begitu kami berpamitan. “Tidak, Pa. Kami pulang saja.” “Ya sudah, hati-hati di jalan,” ucap Papa Ardan. “Bila, mama ingin lebih baik kamu periksa kesehatan. Mama takut kamu terkena penyakit lain selain sariawan,” ucap Mama Zheti padaku, lalu beralih menatap Mas Herman. “Herman, sebagai suami, kamu harus memperhatikan kondisi istrimu. Cobalah besok ajak dia periksa ke dokter. Lagi pula periksa ke doter tidak terlalu lama.” “Baik, Ma,” jawabku dan Mas Herman berbarengan. Mas Herman pun meraih tanganku, menggenggam erat. Sekali lagi kami berpamitan sebelum akhirnya meninggalkan ruang keluarga. “Kenapa tanganmu berkeringat?” Mas Herman melepaskan genggaman tangannya, menatap telapak tangannya yang basah oleh keringat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD