Aku buru-buru mengusap tanganku ke gaun yang kukenakan. “Akhir-akhir ini tubuhku memang sering berkeringat, Mas.”
Mas Herman berhenti dan berbalik, menatapku lekat-lekat. Ada kekhawatiran pada raut wajahnya. Begitu pun dengan nadanya saat bicara, “Kamu yakin kalau kamu baik-baik saja?”
Aku mengangguk cepat. “Iya, Mas.”
Mas Herman menggeleng pelan. “Besok kita periksa ke dokter.”
Mas Herman kembali meraih dan menggenggam tanganku. Melanjutkan langkah kami meningalkan rumah.
Di depan rumah, Pak Jamil yang bersama Pak Rahmat di pos jaga, segera menghampiri kami yang menuju ke mobil. Pak Jamil langsung mengendarai mobil meninggalkan rumah mertuaku dan kembali ke rumah kami sendiri.
Sesampainya di rumah, aku langsung berganti pakaian dan bersiap tidur. Tapi Mas Herman tiba-tiba menarik tanganku. Membawaku ke dalam dekapannya.
“Sayang, aku pingin.”
Ingin sekali rasanya aku menolak karena tubuhku yang sudah sangat lemas. Namun, melihat sorot mata Mas Herman penuh nafsu, rasanya tidak tega untuk menolaknya.
Aku menatap Mas Herman dengan senyum lebar. “Kupikir aku saja,” ucapku mencoba untuk tertarik supaya libidonya tidak hilang. “Soalnya sudah larut malam, jadi aku takut meminta duluan.”
Karena aku tahu bagaimana buruknya suasana hati Mas Herman jika nafsunya tidak tersalurkan.
Bulan lalu kami menghadiri undangan peresmian sebuah mal dari rekan kerja Mas Herman di luar kota, dan kami baru tiba di rumah hampir tengah malam. Saat itu tubuhku benar-benar lelah, tetapi Mas Herman justru mengajakku untuk berhubungan. Tentu saja aku menolaknya. Tapi Mas Herman justru kesal dan mendiamiku seharian. Benar-benar tidak mau berbicara denganku meski hanya satu kata ataupun sekedar bergumam.
“Kamu ini.” Mas Herman menciumi leher dan bagian belakang telingaku.
Tangan Mas Herman bergerilya di bagian sensitif tubuhku. Aku pun tidak tinggal diam. Kusentuh bagian titik sensitif Mas Herman. Aku meraba setiap inci titik sensitif dari tubuh Mas Herman.
Mas Herman dengan sigap memelukku erat saat aku hampir saja merosot karena lemas dan tidak kuat menahan posisi berdiri.
“Sudah basah, hm?” bisik Mas Herman tepat di telingaku. Lidahnya saat bicara sampai mengenai cuping telingaku.
“Hm!” gumamku yang lemas karena penyakit serta rangsangan dari Mas Herman.
Mas Herman pun membawa dan membaringkanku di tempat tidur. Dengan tidak sabaran, Mas Herman membuka pakaian kami berdua dengan kasar. Lalu menjelajahi seluruh tubuhku dengan mulutnya. Setelah beberapa lama melakukan pemanasan, Mas Herman pun menyatukan miliknya dengan milikku.
Tubuhku yang semakin lama semakin lemas, serta dadaku yang sedikit sesak, mencoba untuk menikmati permainan Mas Herman. Aku berusaha sebisa mungkin untuk menahan batuk yang menyerang.
Setelah beberapa lama, Mas Herman pun mencapai klimaksnya. Mungkin karena kelelahan, Mas Herman pun langsung terlelap begitu penyatuan kami terlepas. Dengan tubuh yang sangat lemas, aku memaksakan diri tanpa mengenakan pakaian menuju ke kamar mandi. Tidak lupa aku mengunci pintu kamar mandi supaya Mas Herman tidak masuk seandainya terbangun.
Seketika aku pun batuk sekeras-kerasnya. Aku terkejut dengan mata terbelalak ketika dahak yang kukeluarkan ternyata bercampur dengan darah. Tidak hanya sekali, aku batuk beberapa kali hingga tubuhku benar-benar lemas. Perlahan-lahan tubuhku merosot dan terduduk di lantai yang dingin.
Setelah beberapa lama, aku pun bangkit dan meninggalkan kamar mandi, tentu setelah membersihkan semuanya. Aku menghela napas lega begitu keluar kamar mandi dan mendapati Mas Herman masih terlelap.
Aku mengenakan jubah tidurku, lalu mengambil ponselku dan kembali ke kamar mandi, menguncinya. Kucari nomor ponsel Suseno dan meneleponnya. Aku mendudukkan diri di kloset duduk. Kakiku bergoyang tidak terkendali menunggu Suseno mengangkat panggilanku.
“Halo?” suara serak Suseno terdengar setelah cukup lama menunggu.
“Halo, Seno, ini aku, Nabila,” ucapku pelan, ada kelegaan setelah Suseno mengangkat panggilanku.
“Bila, ada apa?” nada suara Suseno terdengar khawatir.
“Seno, aku baru saja batuk dan mengeluarkan dahak bercampur darah. Padahal aku selalu meminum obatnya tepat waktu sesuai anjuranmu,” kataku cepat mengatakan tujuanku menelepon Suseno.
“Bila, tenang. Jangan panik, oke?”
Aku refleks mengangguk meski tahu Suseno tidak bisa melihatku. Lalu aku buru-buru menjawab, “Ya. Tapi aku takut, Seno.”
“Tidak apa-apa, Bila. Itu hal wajar dalam pengobatan awal. Jika kamu rutin meminum obatnya selama dua bulan, batuk berdahak disertai darah itu akan berangsur-angsur menghilang. Jadi kamu tidak perlu takut.”
Aku menghela napas lega mendengar keterangan Suseno. “Aku lega mendengarnya, Seno. Aku benar-benar takut jika obatnya tidak bekerja.”
“Tidak, Bila. Jika kamu mengikuti anjuranku, kamu pasti akan sembuh. Tidak apa-apa, itu hal wajar yang dikeluhkan oleh penderita TB paru di awal pengobatan.”
“Terima kasih untuk penjelasannya, Seno.”
“Sama-sama, Bila.”
“Maaf sudah mengganggu waktu istirahatmu,” ucapku penuh penyesalan.
“Tidak apa-apa, Bila. Santai saja. Lagi pula aku dokter yang menanganimu, wajar jika kamu menghubungiku. Tidak perlu dipikirkan. Dan jika ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungiku. Kapan pun itu. Oke?”
“Ya, Seno. Sekali lagi terima kasih banyak,” ucapku tulus. “Oh, iya, Seno. Boleh aku meminta satu bantuan lagi darimu?” aku buru-buru bertanya ketika ingat bahwa Mas Herman akan menemaniku ke rumah sakit besok.
“Bantuan apa yang kamu ingin aku lakukan?”
“Karena berat badanku yang terus menyusut, rencananya Mas Herman ingin menemaniku ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Aku tidak ingin dia tahu penyakitku, bisakah kamu yang menemui kami? Aku takut jika kami menemui dokter lain, dokter akan mengetahui penyakitku dan memberitahukan kepada Mas Herman.”
Suseno tidak langsung menjawab. Ada jeda beberapa saat sebelum akhirnya dia berkata, “Hm, baiklah.”
“Terima kasih banyak, Seno!” pekikku senang.
Menyadari perbuatanku, refleks aku menutup mulutku. Berdoa semoga saja Mas Herman tidak terjaga.
“Sama-sama, Bila.”
Sebelum menutup sambungan telepon, kembali Suseno mengingatkanku untuk tidak memikirkan apapun yang membuatku stres, perbanyak istirahat, dan menimun obatku tepat waktu.
Aku pun keluar kamar mandi dan langsung merebahkan diri di samping Mas Herman.
Sesuai janjinya, pukul delapan pagi, Mas Herman menemaniku ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Namun, saat tiba di rumah sakit, ternyata sudah banyak pengunjung yang datang dan antre. Padahal Mas Herman sengaja mengajakku pagi-pagi ke rumah sakit untuk menghindari antrean.
Kami pun mengambil nomor antrean, lalu menunggu nomor antrean yang ternyata sangat jauh. Setelah hampir dua jam menunggu, akhirnya nomor antrean kami dipanggil.
Aku mengernyit ketika perawat tidak membawa kami ke ruang kerja Suseno, tetapi justru ke ruang kerja dokter lain.
“Halo, selamat pagi, Pak, Bu. Silakan duduk.” Dokter itu tersenyum ramah begitu kami masuk.
Apa yang terjadi? Bukankah Suseno sudah berjanji padaku bahwa dia yang akan memeriksaku hari ini? Apakah Suseno mengingkari janjinya?
Refleks aku melirik Mas Herman yang duduk di sampingku.