Ini ada hal terbesar yang senna lakukan selama hidupnya. Dia memutuskan untuk pergi dari rumah untuk menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Sama seperti langkah yang kakaknya ambil saat itu.
Tapi kali ini senna tidak benar - benar sendiri, nantinya dia akan tinggal bersama dengan sahabatnya sejak kecil. Aira pranaya, adik satu - satunya dari aimmar yang juga tumbuh bersama dengannya sejak kecil. Sang papa pun percaya dengan apa yang anak bungsunya katakan. Danu tak pernah menaruh curiga pada kedua anak - anaknya.
Walaupun dulu olivia pernah berbuat salah, tapi gadis itu bertanggung jawab dengan semua yang terjadi. Bahkan danu mendapatkan bonus seorang cucu laki - laki yang tampan dan juga seorang menantu tentunya. Menantu yang sangat dipercaya bisa menjaga anak sulungnya itu, juna archer. Bahkan istrinya, april juga menerima kehadiran juna dengan tangan terbuka. Bahkan dia pun menitipkan senna pada juna.
Hal yang sungguh indah kan. Apalagi melihat sebuah keluarga sangat harmonis seperti ini dengan juna yang menjadi salah satu anggota keluarga mereka. Mengingat juna bukanlah orang biasa karena statusnya yang memang seorang artis, sekaligus pebisnis muda yang sukses tentu saja membuat semua orang berdecak kagum. Bahkan semua memuji olivia yang sangat beruntung mendapatkan hati juna disaat ketenaran suaminya itu bisa membuat wanita manapun bertekuk lutut untuk bisa bersamanya.
Hubungan juna dengan adik iparnya pun terbilang akur. Senna sangat menghormati juna karena dia menjadi saksi ketika cinta mereka terjadi semasa masih duduk di sekolah menengah saat itu. Adik olivia itu tahu betapa juna sangat menyayangi dan mencintai kakaknya.
Drrt….
Senna tersadar dari lamunannya saat ponsel di sakunya bergetar. Dia menerima panggilan itu dengan senyuman lebar.
‘Lagi dimana lo, sen ?’
‘Nunggu lo nih, katanya mau jemputin gue ?’
‘Dasar anak kecil, gue di belakang lo.’
Setelah itu senna menolehkan kepalanya dan tak jauh disana aira sudah berdiri sambil tersenyum ke arahnya. Tanpa sadar senna berlari dan memeluk aira begitu erat. Karena memang umur aira dan olivia sama, hal itu membuat senna merasa nyaman bersama aira.
Hal itu berbeda dengan kondisi aira yang sebenarnya adalah pribadi yang tertutup. Dia hanya bisa dekat dengan beberapa orang yang memang sudah menjalin komunikasi dengannya.
“Gue kangen sama lo, ay.” kata senna disela - sela pelukannya pada aira.
“Kalo lo udah ngomong gini biasanya lo sebenernya kangen sama mine kan ?” senna menjawab dengan anggukan kepalanya.
“Buruan kasih kabar dia kalo lo disini dan tinggal sama gue.” saran aira lagi, tapi senna tak bergeming. Gadis itu diam dalam pelukan aira sebelum akhirnya menjauhkan tubuhnya.
“Nanti gue kabarin kak mine.” jawab senna dengan wajah lesu.
“Kenapa lo ?”
“Laper. Buruan ke apartemen lo yuk.” ajak senna sambil menarik tangan aira untuk segera pergi dari bandara.
Tadi pagi dia berangkat sendiri ke bandara karena menolak tawaran tumpangan dari sang papa. Sedangkan mamanya kebetulan memang sengaja tidak dia beri tahu tentang rencananya ini.
Akhirnya senna dan aira kembali ke apartemen menggunakan taksi.
“Ay, kenapa nggak bawa mobil aja sih kalo kabur ?” tanya senna saat mereka sudah berada di dalam mobil yang akan membawa kedua gadis muda itu kembali ke apartemen.
“Lo gila ya ? Kalo gue bawa mobil nanti kakak sama papa lebih gampang nemuin gue dong.” kata aira dengan menggebu, membuat senna menepuk keningnya.
“Bener juga ya, ay. Gue lupa kekuatan intel om ay sama kak ay.” kata senna pada akhirnya membuat aira mengangguk setuju.
Setelah itu senna menatap pemandangan dari luar jendela. Dia harus menikmati semua keputusannya meninggalkan rumah. Biar bagaimanapun sulitnya beradaptasi dengan tempat baru. Tapi dia harus bisa. Mungkin ini yang dulu harus di rasakan oleh kakaknya, olivia. Dulu mungkin kakaknya juga kesulitan hidup sendiri seperti yang dia rasakan sekarang. Hanya saja kakaknya itu tak pernah menunjukkan kesulitannya.
Tanpa terasa lamunan senna buyar saat aira menepuk bahunya pelan. “Kita udah sampe, buruan turun.” begitu katanya.
Senna langsung membereskan semua barang - barangnya dan berjalan dibelakang aira. Dia terkejut bahwa sahabatnya itu bisa membeli sebuah apartemen sendiri menggunakan hasil dari hobinya.
“Hebat juga lo, ay.” kata senna sambil meletakkan tasnya di kursi sofa ruang tengah.
“Hebat apanya ? Kalo gue nggak bersemedi di dalam kamar mana bisa ngerjain semua itu ?”
“Alah, merendah lo ay.”
“Gue serius.”
“Lo bukannya didalem kamar gara - gara emang nggak mau tau sama kondisi diluar sana ?”
“Itu juga bener sih.” kata aira membenarkan.
“Ish!!” senna melempar bantal sofa ke arah aira yang duduk di seberangnya, lalu mereka tertawa bersama.
“Lo tidur dikamar itu aja, kamar gue di samping.” kata aira sambil menunjuk ke arah sebuah pintu.
“Oke. gue ke kamar dulu ya mau mandi.” pamit senna sambil membawa barang - barang bawaan nya masuk ke dalam kamar miliknya selama tinggal bersama aira.
Di dalam kamar, senna duduk di atas lantai sambil menyandarkan tubuhnya ke pinggir ranjang. Dia membuang nafasnya berat. “Ternyata susah juga ya pergi dari rumah. Gue kira ini bakal semudah kayak pergi berlibur.” gumam senna pelan.
Tiba - tiba ponselnya bergetar, dia melihat sebuah pesan masuk dari sang mama.
*Senna, kamu lagi di Jakarta ya ? Jangan lupa yang kita omongin ya sayang. Semakin kalian deket dan ketemu setiap hari, semakin mudah kamu dapetin hatinya.*
Setelah membaca pesan itu, senna langsung menghempaskan ponselnya dengan kasar ke arah lantai. Hatinya semakin sakit setelah membaca pesan itu. Bagaimana bisa mamanya mengatakan hal itu dengan mudah. Padahal tak pernah terlintas sedikitpun pikiran seperti itu di otaknya.
Perasaannya kembali kacau. Dia berharap dengan kepergiannya dari rumah maka akan memudahkannya melupakan semua yang dia lihat dan dengar. Tapi nyatanya semakin jauh semua hal yang dia hindari semakin terlihat nyata.
Senna tadi ingin sekali menghubungi sang kakak, tapi dia urungkan karena pesan sang mama. Air mata pun tak bisa lagi senna bendung. Akhirnya dia tumpahkan semua air mata itu. Dia menutup wajahnya menggunakan bantal agar aira tidak bisa mendengar isakannya. Lama kelamaan senna pun tertidur.
***
Keesokan harinya, senna bangun tidur dengan wajah sembabnya. Padahal hari ini dia harus datang ke perusahaan dimana dia melamar untuk magang nanti. Akhirnya dia memutuskan mengompres wajahnya menggunakan air dingin sebelum mandi.
Setelah acara siap - siapnya yang memakan waktu hampir satu jam lamanya itu, kini senna sudah siap dengan kemeja berwarna pink pastel dengan bawahan rok pensil berwarna putih. Polesan makeup yang sederhana cukup menyembunyikan kenyataan sebenarnya. Dengan sedikit sandiwara seperti biasanya, penampilan senna sudah lengkap seperti manusia yang tak pernah memiliki masalah dalam hidupnya.
“Cantik banget lo, mau kemana ?” goda aira yang sedang duduk meringkuk di sofa.
“Iya dong, sapa tau dapet jodoh gue pas ngelamar magang nanti.” jawab senna tak kalah semangatnya. Gadis kecil itu benar - benar berhasil menyembunyikan semua kepahitan yang terjadi dalam hidupnya.
Setelah selesai memakai sepatunya, senna langsung berjalan ke arah aira dan mencium kening sahabatnya itu. “Gue berangkat dulu, doain ya.” katanya.
“SENNAAAAA!!!! LO APAAN PAKE CIUM - CIUM!!!” teriak aira sambil membersihkan bekas ciuman yang senna berikan di keningnya. Sahabat rasa adik kecilnya itu memang selalu jahil padanya.
“Kasian ay kening lo masih perawan, mangkanya gue cium aja.” jawab senna penuh canda saat sudah berada di ambang pintu.
“Ish, untung lo adik mine ya. Kalo bukan udah gue jepit tuh bibir.” teriak aira yang emosinya sudah diuji sejak pagi oleh senna.
“Bye, ay. Jangan bandel di rumah.” dan akhirnya senna pergi meninggalkan aira sendirian di apartemen.
Sebelum itu, senna mampir ke minimarket yang berada di lantai bawah untuk membeli roti dan s**u untuk sarapannya hari ini. Lalu dia berangkat menuju ke sebuah perusahaan besar yang terletak di tengah kota.
Perjalanan selama empat puluh lima menit membuat jantung senna semakin tak karuan. Biar bagaimanapun ini adalah kali pertama untuknya melakukan sebuah sesi wawancara dengan perusahaan besar. Padahal dia hanya magang di sana selama kurang lebih tiga bulan. Tapi itu juga kembali dengan kebijakan perusahaan.
Senna berjalan menuju ke arah resepsionis dan menanyakan dimana tempat wawancara yang akan dilakukan itu berada. Kebetulan dia memang datang tiga puluh menit lebih cepat dari jadwal yang sudah ditentukan. Akhirnya, senna duduk di sebuah tempat tunggu yang sangat nyaman tak jauh dari ruangan tempat wawancara.
Dia menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri karena sepertinya hanya ada dia sendiri disana. Senna tak sempat memakan sarapannya tadi, jadi dia ingin menggunakan waktunya sebaik mungkin sambil menunggu.
Senna minum s**u kotak yang dia beli sebelumnya dengan wajah datar dan sangat polos. Sangking polosnya dia sampai tak menyadari saat semua orang yang berada di sana sedang berdiri. Dengan wajah tak berdosanya itu dia terus melanjutkan aktifitas minum susunya dengan tenang.
Saat seorang pria tampan bersama dengan beberapa orang di belakangnya berjalan melewatinya, pandangan mata mereka sempat bertemu. Hingga pria itu menghentikan langkahnya dan berjalan mundur ke arah senna. Seorang wanita yang berdiri jauh memberikan kode pada senna melalui kedipan matanya berulang kali.
Senna yang tak memahami hanya diam sambil melihat ke arah pria tampan yang berada di hadapannya. Mereka berdua saling pandang dalam waktu yang lama, sampai pada akhirnya si pria tampan itu memutusnya terlebih dahulu dan pergi.
Wajah bingung senna membuat wanita yang tadi memberinya kode itu datang menghampirinya.
“Kenapa kamu gak berdiri sih ?” tanyanya dengan wajah panik.
“Kenapa ?” senna dengan polosnya malah bertanya.
“Dia itu bos disini.” katanya lagi.
“Bos ?”
“Iya, dia itu pak yoshua.”
DEG!!!
***