Setelah kejadian tadi, senna tetap melanjutkan wawancaranya dengan perasaan gelisah. Bagaimana bisa dia sepolos dan tak peka seperti itu hingga tak menyadari bahwa pria tampan yang berada di hadapannya tadi akan menjadi calon bosnya. Semoga saja dia masih bisa diterima magang di perusahaan ini. Jika tidak mungkin senna akan berada dalam kesulitan lain, karena mau tidak mau dia harus meminta tolong pada kakaknya daripada harus kembali pulang ke Bandung dengan tangan hampa.
Sesi wawancara bersama dengan pihak HRD tadi cukup memakan waktu yang lama. Senna menghabiskan hampir satu jam lamanya dengan proses yang menegangkan menurutnya. Walaupun memang dia bisa menjawab semua pertanyaan dengan lancar, tapi mengingat kejadian tadi pagi perasaannya jadi ragu.
“Senna, ya ?” tanya seseorang wanita cantik di hadapannya.
“Iya.”
“Mari ikut saya sebentar.” kata wanita cantik itu. Senna mau tak mau mengikuti wanita itu dengan bingung.
Setelah mereka berdua berada di ruangan untuk menerima tamu tak jauh dari tempat senna menunggu tadi, mereka duduk berhadapan.
“Perkenalan nama saya cynthia. Saya sekretaris dari pria yang tadi berhenti di depan anda.” kata wanita cantik yang ternyata bernama cynthia itu.
DEG!!!
Jantung senna hampir terlepas mendengar bahwa wanita yang baru saja memperkenalkan dirinya ini adalah sekretaris pria itu.
‘Jangan - jangan gue nggak lolos nih.’ batin senna miris.
“Iya. Ma-maaf sebelumnya tadi saya benar - benar tidak tahu tentang pria yang ternyata direktur disini.” kata senna dengan wajah penuh penyesalan.
“...” cynthia hanya tersenyum lembut sambil mengangkat gelas tehnya dengan cara yang sangat anggun.
“Ini adalah pertama kalinya untukku, eh maaf maksud saya ini pertama kalinya saya melakukan wawancara.” jelas senna lagi dengan gugup. Padahal wanita cantik yang berada di hadapannya ini tidak menakutkan sama sekali. Justru wajah yang ditampilkan oleh cynthia teramat ramah.
“Saya tahu. Lagi pula tuan yoshua memakluminya.” kata cynthia lagi.
“Benarkah ?” tanya senna dengan nada suara yang terdengar lega.
“Iya, tenang saja. Dia adalah orang yang baik.” akhirnya sebuah senyuman nampak di wajah senna. Wajahnya juga kembali ceria seperti sebelumnya.
“Dan juga, kau diterima untuk magang di perusahaan ini.” cynthia menyampaikan sebuah kabar baik.
“Sayangnya bukan disini.” lanjutnya.
DEG!!!
Baru saja rasanya senna di terbangkan ke atas langit, tapi di detik kemudian justru dihempaskan oleh kelanjutan kata - kata sekretaris cantik sang direktur ini. Eh, kok kayak judul sinetron di televisi, ya.
“Kau di tugaskan di salah satu restoran cabang utama perusahaan kami.” lanjut cynthia lagi. Tapi kali ini senna tak mau langsung senang terlebih dahulu. Dia harus memastikan bahwa kelanjutan kalimat cynthia ini benar - benar kabar baik untuknya.
“Restoran ?” Cynthia mengangguk.
“Cabang utama itu sangat ramai, hingga perusahaan kami mempekerjakan banyak sekali karyawan disana. Jadi kau bisa melakukan pengawasan tingkat stress karyawan disana sampai bagaimana kinerja mereka.” lanjut cynthia.
Mendengar hal itu, senna baru merasa yakin bahwa kali ini dia benar - benar diterima.
“Jadi…. Saya benar - benar diterima ?”
“Tentu saja, kami juga membutuhkan orang sepertimu. Ini sesuai dengan kuliah yang kau ambil, kan ?” senna mengangguk dengan antusias.
“Baiklah, langsung kita tanda tangani kontrak saja ya. Ini.” cynthia menyodorkan sebuah map yang berisikan perjanjian kerja senna selama tiga bulan.
“Boleh aku membacanya terlebih dahulu ?”
“Tentu saja.”
Setelah itu senna membaca isi kontrak dengan serius. Lalu, dia menandatanganinya dan mengembalikan kepada cynthia.
“Baiklah, selamat bergabung dengan perusahaan kami.” cynthia mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan senna. Tanpa pikir panjang senna membalasnya sambil tersenyum. “Terima kasih, bu cynthia.”
“Eh…. emangnya aku keliatan kayak ibu - ibu ya ?” senna menggeleng dengan polosnya.
“Panggil saja aku seperti kau memanggil kakakmu, kita bicara santai aja ya.”
“Oke, kak.”
“Nah, gini kan lebih enak di denger. Yaudah, sampe ketemu besok ya.”
Setelah cynthia meninggalkan senna, dia langsung kembali ke ruangan bosnya.
“Udah beres.” kata cynthia sambil meletakkan berkas milik senna tadi di meja yoshua.
“Thank you, cyn.”
“Tumben banget lo peduli sama urusan anak magang ?”
“Eh, kali ini beda. Kapan - kapan gue ceritain.” cynthia hanya memutar bola matanya malas.
“Yaudah, gue balik dulu.” setelah yoshua mengangguk sambil terus memandangi laptop didepannya, cynthia benar - benar pergi meninggalkan bosnya yang sangat rupawan dan ramah itu.
Saat dirasa sudah sendirian, yoshua langsung membuka berkas milik senna sambil tersenyum saat melihat tanda tangan sudah berada di tempatnya.
“Senna, mulai sekarang kita akan ketemu setiap hari.”
***
Ini adalah hari pertama senna mulai magang. Dia harus datang tepat waktu atau sebisa mungkin datang lebih awal. Karena dia tidak mau dinilai jelek di pengalaman pertamanya bekerja.
Pagi - pagi sekali senna sudah sibuk bersiap dan juga sarapan, tak lupa dia juga menyiapkan sepiring nasi goreng untuk aira makan nanti. Karena sepertinya mereka tak bisa makan bersama. Senna ingat semalam aira sepertinya begadang untuk menyelesaikan pekerjaannya. Jadi pagi ini dia tidak akan mengganggu sahabatnya.
Dengan langkah cepat senna berjalan memasuki gedung perkantoran tempatnya bekerja selama tiga bulan ke depan. Setelah tadi dia menghabiskan tiga puluh menit perjalanan yang masih terlihat sepi pagi ini.
Dia berjalan menuju ke lantai yang kemarin sempat di infokan oleh cynthia padanya.Tapi, saat sampai senna melihat ke sekitar. Disana masih benar - benar sepi dan dia tidak tahu dimana mejanya berada.
Untuk satu minggu pertama ini, senna memang masih ditugaskan di kantor karena harus mempelajari tentang restoran cabang utama yang nanti akan menjadi tanggung jawabnya. Baru setelah itu, dia akan terjun langsung ke lapangan.
Mau tidak mau, senna kembali duduk di sofa tempat dia menunggu kemarin. Setidaknya sampai ada seseorang yang datang dan bisa ditanya tentang dimana meja yang akan digunakan nantinya.
Lima belas menit berlalu. Dan masih belum terlihat tanda - tanda seseorang yang datang. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul delapan. Sedangkan jam masuk adalah jam sembilan. Senna benar - benar datang terlalu awal rupanya.
Dia duduk sambil memainkan ponselnya, lalu tiba - tiba ada seseorang berdiri di hadapannya.
Senna mengangkat kepalanya dan melihat sosok pria yang sama seperti yang dia lihat kemarin.
“Eh, selamat pagi pak.” sapa senna yang terburu - buru berdiri denga wajah panik.
“Selamat pagi.” kata pria yang senna tahu adalah direktur di perusahaan ini. Yoshua.
“Kau pegawai magang yang baru, ya ?” tanya yoshua yang diangguki senna.
“Kenapa kau ada disini ?” tanya yoshua lagi.
“Itu…. saya… saya belum tahu pak dimana meja yang akan saya gunakan nanti.” jawab senna dengan terus menunduk dan gugup.
“Tenanglah, aku tidak akan memarahimu. Angkat kepalamu.” akhirnya senna mengangkat kepalanya dan menatap wajah yoshua sekilas.
“Biar aku saja yang mengantarkanmu ke meja.” kata yoshua sambil berjalan meninggalkan senna.
“Eh….” senna merasa bingung.
“Ayo….” panggil yoshua lagi saat senna masih terus diam berdiri di tempat yang sama.
Senna akhirnya hanya bisa mengekor di belakang seorang pria tampan yang ternyata adalah direkturnya dan justru mau repot - repot mengantarkannya yang hanya anak magang ini. Padahal yoshua adalah direktur. Di-rek-tur.
“Disini meja milikmu.” kata yoshua yang berhenti di salah satu bilik dengan meja yang benar - benar kosong tepat berada di seberang ruangannya.
“Disini ?”
“Kenapa ?” senna menggeleng.
“Terima kasih, pak.” kata senna pada akhirnya. Untung saja yoshua langsung pergi meninggalkannya, jika tidak dia akan terus menahan nafasnya sepanjang waktu. Benar - benar merepotkan memang berada disekitar pria tampan.
Setelah itu, satu per satu karyawan lain mulai berdatangan. Senna akhirnya benar - benar bernafas lega. Tadi dia benar - benar masih merasa terintimidasi berada berdua bersama dengan direktur yang berseberangan dengan mejanya.
Akhirnya setelah perkenalan singkat pagi saat briefing tadi pagi, senna mendapatkan seorang teman yang duduk tak jauh dari mejanya,
“Mau makan siang bareng nggak ?” tanya askana.
“Boleh.”
Lalu senna pergi makan siang bersama dengan askana di kantin perusahaan. Mereka banyak mengobrol dan ternyata memiliki kecocokan dalam urusan pembahasan. Sampai pada akhirnya tak terasa jam makan siang tersisa sepuluh menit lagi.
Senna dan askana kembali ke meja mereka. Tapi sebelum itu askana sempat bertanya pada senna.
“Tadi pak yoshua yang nganterin lo, kan ?”
“Iya, emang kenapa ?”
“Aneh aja, sekelas pak yoshua nganterin lo.”
“Ya bener juga sih. Tadi gue juga sempet mikir gitu.”
“Jangan - jangan dia suka sama lo lagi, sen ?”
“Hus, ngaco aja lo!!”
“Siapa tau kan. Lumayan, berarti lo bisa mengalahkan begitu banyak cewek yang selama ini deketin dia.”
“Hus!! Sana balik ke meja lo sendiri.”
“Iya - iya.”
Lalu, saat senna sudah duduk sebentar di kursinya dia kembali terkejut saat tiba - tiba askana kembali.
“Kalo lo kira - kira suka nggak sama pak yoshua ?”
PLAK!!!
Terdengar sebuah pukulan di lengan askana dari senna karena pertanyaan ngawurnya.
“Nggak!! Gue nggak suka cowok ganteng.”
“Ih, kenapa ? Jangan - jangan lo….” kata - kata askana menggantung dengan tatapan penuh curiga.
“Apa ? Gue normal kali, cuma gue nggak suka sama yang terlalu tampan.”
“Terus ?”
“Gue sukanya yang sederhana aja, tapi baik.”
“Alah, tapi kalo dikasih pak yoshua juga lo pasti mau kan ?” senna langsung melotot pada askana sebelum akhirnya temannya itu kembali ke mejanya sendiri.
Karena umur yang tidak terpaut terlalu jauh, dengan obrolan yang sangat nyambung membuat askana sudah sejahil olivia bagi senna.
Hingga akhirnya, saat sudah mendekati jam pulang kantor tiba - tiba askana terlihat berjalan menuju ke ruangan yoshua dengan terburu - buru dan wajah paniknya.
***