BAB 3 : SENNA ITU...

1373 Words
“Askana jelaskan pada saya hal apa yang kamu bicarakan dengan senna.” kata yoshua dengan wajah serius dan menopang dagunya. “Sa-saya….” askana terbata. “Katakan saja. Saya tidak akan marah.” kali ini wajah yoshua terlihat lebih santai walaupun matanya masih terus menatap askana dengan sangat intens. “I-itu pak…. Saya…. Cuma… bilang apakah senna memiliki hubungan lain dengan bapak.” mendengar kalimat itu langsung saja kedua alis yoshua mengerut. “Hubungan ?” askana mengangguk. “Dengan saya ?” tanya yoshua dan lagi - lagi askana mengangguk. Terdengar hembusan nafas berat yoyo. “Maaf, pak. Saya nggak bermaksud begitu.” kata askana dengan suara lemah. Dia jadi merasa tidak enak dengan atasannya itu. Tapi tetap saja dia harus membawa senna dengan tidak mengatakan yang sebenarnya pada yoshua tentang pembicaraannya dengan senna. “Lalu ?” “Iya pak ?” askana yang sejak tadi menundukkan kepalanya langsung mengangkat kepalanya. “Lalu ?” “Lalu apanya, pak ?” “Jawaban senna.” “Hah ?” askana jujur saja bingung dengan maksud dari atasannya itu. Telinganya itu tidak salah dengar kan ? Atasannya yang tampan dan menjadi incaran banyak wanita ini tidak sedang menanyakan jawaban teman barunya kan ? “Askana, saya tanya apa jawaban senna atas pertanyaan kamu tadi.” yoshua mengulang pertanyaannya lagi dengan suara lembut namun penuh penekanan. “Senna bilang…. Dia….” “Lanjutkan.” “Itu pak….” “Kenapa lagi ?” tanya yoshua yang mulai tidak sabar. “Saya nggak enak bilangnya pak.” “Memangnya jawaban senna seperti apa ?” “Aduh gimana ya pak.” “Coba katakan saja. Saya tidak akan memanggil senna karena jawabannya itu.” “Beneran, pak ?” yoshua mengangguk, lalu dia meneguk segelas air putih yang memang sudah disediakan di meja kerjanya. “Senna nggak suka sama cowok dengan wajah tampan pak.” kalimat askana yang dengan mulus keluar dari mulutnya itu sontak membuat yoshua tersedak saat mendengarnya. Yoshua terus terbatuk - batuk untuk beberapa saat. Wajah askana pun terlihat seperti tidak enak setelah mengatakan hal itu. Dia yakin pasti atasannya yang tampan mempesona ini merasa harga dirinya jatuh ke jurang. “Askana, coba kamu ulangi lagi kalimat barusan.” pinta yoshua setelah dia sudah mulai tenang dari batuk - batuknya. “Itu… pak…. Senna, sebenarnya tidak menyukai pria dengan wajah tampan.” yoshua kembali menelan ludahnya dengan susah payah mendengar kalimat itu. “Dia….” “Enggak, pak. Senna bukan suka sama sesama kok, justru dia sukanya sama yang sederhana tapi membuatnya nyaman.” jelas askana pada akhirnya. Wajah yoshua pun kembali serius setelah mendengarnya. “Pria sederhana, ya ?” “Iya, pak. Cowok sederhana. Padahal dia kan cantik ya, seharusnya suka sama cowok yang tampan gitu. Kayak bapak. Eh….” askana langsung merasa tidak enak setelah mengatakan pendapatnya dengan lantang. Seakan yoshua ini adalah temannya. “Maaf, pak.” “Baiklah, terima kasih askana. Kamu boleh keluar.” yoshua mempersilahkan askana keluar dari kantornya setelah dia membuat kesalahan barusan. “Aduh, jangan - jangan besok gue dapet surat peringatan lagi.” gerutu askana pada dirinya sendiri dengan suara pelan saat keluar dari ruang atasannya itu. Hingga tanpa dia sadari sejak tadi senna menatapnya dengan tatapan bingung. “Lo kenapa ?” “...” askana masih menggerutu sendiri dengan suara pelan. “Askana!!! Lo kenapa ?” senna menarik lengan temannya itu karena merasa diabaikan. “Hah ? apa ?” asakana terkejut saat tangannya ditarik hingga dia membalikkan badannya dan menemukan senna berada dihadapannya. “Sen, lo ngapain ?” “Gue nunggu lo. Ada apa ? Kok lo dipanggil sama si bos ?” tanya senna penasaran. “Enggak. Gue nggak papa, cuma tadi gue ditanyain beberapa hal tentang pekerjaan aja.” bohong askana. Karena tadi sebelum keluar dari ruangan yoshua dia sudah mendapatkan peringatan dari yoshua untuk menjaga mulutnya. “Beneran ?” askana mau tak mau harus mengangguk untuk menyakinkan senna. Setelah itu, mereka berdua pulang bersama. *** Sedangkan yoshua sedang menatap sebuah kertas berisi data diri senna. Disana tertulis dengan jelas siapa senna sebenarnya. Karena dia sebelumnya seperti sudah pernah melihat senna sebelumnya. Dan ternyata benar. Senna adalah gadis yang sama seperti saat pesta pertunangan itu. Dia senna yang sama seperti di pertunangan yuna. Dia juga senna yang sama dan merupakan adik olivia jasmine. Itu tandanya senna tak lain adalah adik ipar juna yang merupakan sahabatnya sejak kecil. Ini bahayanya, sangat bahaya. Mengingat bagaimana protektifnya juna kepada semua wanita yang ada di keluarganya. Yoyo langsung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang sudah pasti bisa diandalkan. Tuut… ‘Halo, bang.’ ‘Lo lagi dimana ?’ ‘Gue kesana ya ? ‘Nggak papa, ada yang mau gue omongin.’ Lalu panggilan terputus setelah mereka sudah menentukan tempat janjian. Yoyo langsung turun menuju ke parkiran mobil untuk berangkat menemui bobby yang sedang berada di kantornya. Saat yoyo sedang melajukan mobilnya, dia melihat sosok yang sejak tadi sudah membuatnya merasa penasaran karena sempat mendengar pembicaraannya dengan seorang teman yang tadi sudah dia introgasi sebelumnya. Ingin rasanya yoyo memanggil gadis itu dan menawarkan tumpangan, tapi nyatanya dia tidak bisa. Dia tak akan segegabah itu untuk bisa mendekatinya. Yoyo butuh rencana matang dan juga beberapa saran dari sahabat - sahabatnya. Hingga akhirnya yoyo hanya bisa melihat sosok gadis dengan wajah ceria dari kaca kiri spionnya yang semakin lama semakin menjauh. ‘Suatu saat aku tidak akan membiarkanmu pergi kemanapun tanpaku.’ janji yoyo dalam hati. Setelah beberapa waktu perjalanan yang cukup padat karena ini adalah jam macet di ibukota. Jadi yoyo langsung berjalan dengan sangat santai menuju ke ruangan milik sahabatnya berada. Tok…. tok… Setelah dipersilahkan, yoyo langsung masuk. “Bang…” panggil yoyo saat melihat bobby sedang duduk memunggunginya. “Hmmm…” “Lo lagi ngapain ?” “Duduk.” “Gue tau.” “Terus ?” “Lo kenapa sih ?” akhirnya bobby berbalik menghadap yoyo karena sejak tadi pria itu sedang memandangi pemandangan kota dari ruangannya. “Lo yang kenapa uring - uringan.” “Gue mau cerita, tapi plis gue nggak mau lo ketawa.” kata yoyo sebelum dia memulai kisah cintanya untuk pertama kali dalam hidupnya. “Oke.” bobby hanya menjawab dengan wajah dan nada suara datarnya. Yoyo akhirnya memulai ceritanya dari awal hingga kejadian hari ini pada bobby secara mendetail. Tapi kenyataannya reaksi bobby tetap tenang dengan sebuah senyuman di wajahnya hingga yoyo menyelesaikan ceritanya. “Udah ?” tanya bobby sambil melipat kedua tangannya di d**a. “Udah. lo mau denger apalagi coba.” gerutu yoyo yang kesal karena lagi - lagi sahabatnya itu selalu seperti ini. “Lo udah bilang ke juna ?” yoyo menggeleng. “Lo gila apa gue langsung cerita ke juna. Tau sendiri dia posesifnya minta ampun.” “Bisa aja lo begitu juga, yo.” “Ish!! Apaan!!” bobby mengangkat bahunya cuek. “Nggak sekarang, mungkin nanti.” “Lo juga bisa kayak gitu, bang. Cuma belum nemu aja yang pas jadi pasangannya.” “Kita nggak bahas kisah gue. Kita bahas kisah lo!!” omel bobby yang akhir - akhir ini memang sedang sangat sensitif karena gadis pujaan hatinya sedang berada jauh disana, bahkan mungkin hubungan mereka sudah berakhir. Padahal awalnya yoyo yakin bahwa hubungan itu tak berlandaskan cinta, tapi entah kenapa melihat bobby seperti ini membuatnya percaya bahwa hanya gadis itu yang berhasil menaklukkan hati sahabatnya. “Oke…. oke…” “Terus ?” “Gue bingung, bang. Lo tau sendiri kan, masa ada cewek yang nggak tertarik sama gue sih ?” kata yoyo sambil merapikan jasnya. “Buktinya senna nggak tertarik tuh.” “Sialan lo!!” yoyo melempar bantal sofa ke arah bobby. “Gue juga ngerasa aneh adik oliv ternyata punya pandangan lain.” “Padahal gue ganteng gini, masa dia nggak tertarik sih ?” “Itu tandanya ini jadi cobaan lo buat berusaha jadi seperti yang dia suka.” kata bobby bijak. Lalu tiba - tiba segaris senyuman menghiasi wajah yoyo. “Napa lo ?” “Gue punya ide, bang. Thanks sarannya.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD