BAB 4 : TATAPAN ANEH SENNA

1870 Words
Pagi yang cerah di depan sebuah restoran yang terkenal, senna berdiri dengan wajah segar dan semangat menggebu. Ini adalah hari pertamanya menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pengawas juga konselor. Sebelum masuk senna merapikan kembali pakaian dan rambutnya, lalu dia menghembuskan nafasnya untuk mengurangi rasa gugup. Senna masuk dengan perasaan campur aduk, bayangkan saja seminggu lalu dia harus mempelajari banyak hal tentang semua yang terjadi di restoran ini. Tapi tentu saja senna masih merasa waktu yang diberikan sangat kurang untuk mempelajari semuanya. Bahkan rasanya dia tak percaya diri, posisinya di perusahaan ini biasanya diberikan kepada psikolog yang sudah tersertifikasi dan juga pastinya lulusan magister. Sedangkan senna, dia hanyalah seorang mahasiswa semester enam. Padahal sebenarnya dia memiliki pilihan lain selain magang yaitu dengan mengambil kuliah kerja nyata atau KKN di semester ini seperti teman - temannya, tapi senna memilih magang karena ada pilihan lain untuk pergi meninggalkan rumah sekaligus mendapatkan gaji. Sedangkan jika dia memilih KKN yang ada mungkin semakin menambah pengeluaran. Selain itu tujuannya adalah meninggalkan rumah untuk mencari jalan keluar, bukan menambah beban. Setelah memperkenalkan diri secara formal, senna berkeliling untuk berkenalan lebih dekat dengan yang lain. Ini adalah langkah awal untuk membangun sebuah komunikasi dan hubungan yang baik antara dirinya dengan semua karyawan disana. Tugasnya sebagai konselor sudah dimulai sejak minggu lalu. Sejujurnya dia sendiri juga sudah mengetahui satu per satu nama karyawan di restoran, tapi tidak afdol rasanya jika tak berkenalan secara langsung. Tak berselang lama, tiba - tiba datang seorang pria dengan rambut yang berantakan, penampilan wajah yang juga terlihat sangat dekil, dan hanya menggunakan kaos berwarna putih dipadukan celana hitam. Benar - benar membuat semua mata memandangnya dengan tatapan tak percaya. Bisa - bisanya seorang pegawai baru datang terlambat di hari pertamanya bekerja. “Halo, semuanya. perkenalkan nama saya abi.” kata pria itu memperkenalkan diri saat dirinya sudah sampai di samping senna. “Hai…” jawab semua orang disana dengan serempak. Sedangkan senna hanya memandangi pria yang berdiri di sebelahnya dengan tatapan yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri. “Oh, hai. Abi.” kali ini pria yang baru saja memperkenalkan dirinya sebagai abi itu menghadap ke arah senna sambil mengulurkan tangannya. “....” sedangkan senna hanya terdiam sambil memperhatikan uluran tangan di depannya itu. “Hei…” abi mengulurkan tangannya ke depan wajah senna agar gadis itu tersadar dari lamunannya. “Oh, hai. Senna.” akhirnya senna tersadarkan dari lamunan dan segera membalas uluran tangan abi sambil menyebutkan namanya. Abi pun langsung tersenyum saat tangan senna berada dalam genggaman tangannya. Setelah itu sesi perkenalan pun berakhir dan semua orang kembali ke tempat mereka masing - masing. Senna masuk ke sebuah ruangan yang tidak terlalu luas tapi terlihat nyaman karena terdapat sebuah sofa yang cukup untuk dua orang duduk bersama. Sepertinya sofa itu memang disediakan untuk mendukung pekerjaan senna sebagai konselor perusahaan. Tugasnya disini memang berhubungan dengan semua karyawan yang ada di restoran. Bahkan tugas utamanya saja mengawasi kinerja dan tingkat stress karyawan disana. Tapi pada kenyataannya, di hari pertama saja senna sudah kewalahan sendiri saat melihat betapa ramainya restoran di jam makan siang tadi. Kalau begini bisa - bisa dia sendiri yang merasa stress daripada karyawan yang lain. Kondisi di restoran memang benar - benar sangat sibuk, apalagi saat sudah memasuki jam makan malam nanti. Senna benar - benar tak bisa membayangkan. Tadi saja karena terlalu ramainya hampir semua karyawan kesusahan meluangkan waktu bahkan untuk minum air. “Pak, ini minumannya.” kata andre sambil memberikan segelas jeruk nipis dingin. “Sssttt!! Abi!!” kata abi sambil menekankan jari telunjuknya di depan bibir. “Eh… iya pak. Eh…. maksud saya, abi.” andre terbata dengan wajah gugup saat abi mengingatkannya. Untung saja hanya ada mereka berdua disana. Jika tidak, bisa - bisa semua terbongkar hari ini juga. Setelah menikmati segelas jeruk nipis buatan andre, abi duduk di kursi panjang untuk meluruskan kakinya. Hari pertamanya ini benar - benar membuatnya sangat kewalahan hingga tak ada celah sedikitpun untuk bisa kabur dari dapur utama. Selain itu, yang paling membuat abi lelah adalah berpura - pura selayaknya anak baru. Padahal dia sudah mengetahui semuanya secara lengkap dan mendetail. “Andre. Kau sudah melakukan tugasmu ?” tanya abi dengan wajah santainya. “Sudah, pak. Eh… sudah. Bi.” hampir saja andre keceplosan lagi untuk kesekian kalinya hari ini. “Terus ?” “Sepertinya gadis itu juga merasa kewalahan, bi. Ini hari pertamanya. Dan dia beradaptasi dengan sangat baik.” jelas andre, membuat abi mengangguk - anggukan kepalanya. “Baiklah, aku akan menemuinya setelah kondisi memungkinkan.” “Sekarang aja. Dia lagi mau makan siang sama karyawan lain.” “Makan siang ?" ulang abi sambil melihat jam tangan di pergelangan tangan kanannya. “....” “Jam berapa ini ? Bisa - bisanya dia baru makan siang!!” “Tapi kan kondisi baru sepi sekarang ini, tadi terlalu ramai dan butuh banyak orang untuk membantu.” jelas andre saat menyadari bahwa sekarang sudah pukul tiga sore. Dan yang membuatnya sedikit aneh adalah abi sendiri pun baru bisa beristirahat dan minum segelas jeruk nipis buatannya. Bisa - bisanya pria itu memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri. “Kau sendiri juga baru minum ini setelah sibuk tadi.” gerutu andre. “Aku sudah biasa bekerja seperti ini, bedanya biasanya aku bisa menghabiskan waktu bekerja sambil duduk. Sedangkan kali ini aku harus menunjukkan skill tersembunyi ini.” “...” andre hanya terdiam sambil memutar bola matanya jengah. “Apa ?” “Baru kali ini kau melakukan hal diluar kebiasaanmu.” “Aku harus mencoba hal baru, ndre. Biarkan aku keluar.” kata abi sambil berdiri dan bersiap meninggalkan andre sendirian. Saat keluar dari dapur, abi berkeliling sendirian melihat situasi restoran yang sudah lebih kondusif daripada saat jam makan siang tadi. Dia melewati setiap ruangan yang ada disana dan melihatnya dengan teliti. Ketika abi sampai di suatu ruangan yang tak begitu luas tapi terlihat sangat nyaman dengan aroma yang menenangkan membuatnya ingin melangkah masuk. Setelah membuka knop pintu, tiba - tiba abi dikejutkan dengan suara seseorang di belakangnya. “Hey… abi kan ?” katanya membuat tubuh abi membeku. “Kau benar abi, kan ?” tanya orang itu. Jika didengar dari suaranya abi merasa tak asing. “...” abi hanya bisa diam, lalu berdehem untuk mengusir rasa gugupnya. “Apa yang kau lakukan ?” tanya seorang gadis yang berada dibelakangnya. Abi pun berbalik dan membulatkan matanya sempurna. “Kau…” “Kenapa ?” “Apa yang kau lakukan disini ?” “Justru aku yang seharusnya bertanya, apa yang kau lakukan disini ? Hmm ? Mencari senna ?” tanya gadis yang bernama sita. Dia juga sama seperti andre, salah satu orang yang mengenal abi. “Bukan urusan lo!! Lagian kenapa suara lo kek dia sih ?” maki abi pada sita yang hanya tertawa renyah. “Maafkan saya pak, saya hanya bercanda.” kata sita yang mulai menggoda abi lagi. “ABI!!” “Ups!! Maaf, abi.” goda sita lagi. “SITA!!!” panggil abi dengan mata melototnya. Tapi hanya terdengar tawa renyah sita yang terus menggoda abi. Pria itu langsung pergi meninggalkan ruangan senna dengan sita yang terus tertawa dibelakangnya. Saat mereka sudah jauh, pemandangan itu sempat dilihat oleh senna. Dengan perasaan aneh dan curiganya, senna langsung masuk ke dalam ruangannya setelah selesai makan siang bersama teman - teman barunya yang lain tadi. “Dia bukannya anak baru juga, ya ? Ngapain dia ke ruangan gue ?” katanya pelan sambil memperhatikan ke sekeliling ruangannya yang ternyata masih sama. Padahal tadi sempat terbesit pikiran buruk di otak senna. Dia benar - benar sangat waspada di tempat baru, takutnya hal seperti saat orientasi mahasiswa terulang. Senna benar - benar takut dikerjain atau ada orang yang sengaja membuatnya harus keluar dari tempat magangnya ini. Siapa tahu kan ? Orang jahat bisa berada di mana saja. ** Sepulang kerja, abi terlihat mengambil sepeda yang terparkir tak jauh dari tempat parkir motor. Dia memang datang ke tempat kerjanya menggunakan sepeda. Sedangkan senna sedang duduk di halte yang berada tak jauh dari restoran, hari ini dia akan menggunakan bus untuk transportasinya ke tempat kerja. Selain dia harus berhemat, senna juga harus terbiasa hidup sederhana. Saat sedang duduk, senna melihat orang berlalu lalang di hadapannya. Lalu, tiba - tiba abi melintas dengan sepedanya dan menyapa senna dengan senyuman manis nan tampan. Detik kemudian, dia hanya bisa menatap abi sampai hanya punggung bidangnya saja yang terlihat dari kejauhan. Dia benar - benar sempat tersihir dengan senyuman itu dan akhirnya tak bisa membalas apa - apa. ‘Lo apaan sih!!’ maki senna pada dirinya dalam hati. Dia benar - benar merutuki kebodohannya karena justru terlena dan tak membalas sapaan abi. Senna sendiri merasa abi berbeda. Jika dilihat dari penampilannya, pria itu memang biasa saja dan berantakan. Tapi ada sesuatu berbeda yang tak bisa dia gambarkan dan jelaskan tentang abi. Atau sepertinya dia pernah melihat pria itu entah dimana. Mungkin juga hanya perasaannya saja. Untung saja setelah itu bus datang dan membuyarkan lamunan senna. Jika tidak, mungkin dia harus membuang uang lebih banyak dengan memesan taksi online untuk pulang ke apartemen aira. Tak jauh dari keberadaan senna tadi, abi sempat berhenti karena kakinya yang lemas saat mendapat tatapan aneh senna. “Jangan - jangan dia mikir gue tebar pesona lagi. Bego lo!! Bego!! Bego!!” makinya pada diri sendiri. Jantungnya pun sudah berdebar tak karuan karena hal itu. Padahal tadi niatnya hanya ingin menyapa senna, tapi melihat respon gadis itu kenapa membuatnya jadi seperti ini. Dengan terburu - buru akhirnya abi mengayuh sepedanya dengan cepat untuk pulang. Dia langsung masuk ke sebuah kawasan apartemen dan disambut oleh seorang satpam. “Maaf, jalan ini khusus penghuni apartemen saja.” kata sang satpam itu dengan sopan. “Pak, saya udah tau. Ini juga saya mau kembaliin sepedanya pak yoshua.” kata abi dengan wajah meyakinkan dan berhasil membuat satpam itu mengangguk setelah mendengar nama yoshua disebutkan. “Baik, silahkan masuk. Maaf, saya tidak tau tentang hal itu.” kata pak satpam itu dengan sopan, lalu membiarkan abi berjalan masuk. Setelah sudah berada di apartemen, abi langsung menyimpan sepedanya dikamar. Dia langsung membersihkan wajahnya yang ternyata sangat kotor. “Bisa - bisanya lo!!!” kata abi saat melihat pantulan wajahnya di kaca. “Abi bego!!!” kali ini dia kembali memaki dirinya. Saat wajahnya sudah bersih, sebuah hembusan nafas yang berat keluar dari mulutnya. “Lo pasti bisa, yo!! Percayalah pada abi!!” kali ini yoshua yang berbicara. “Lo pasti bisa, bi. Jangan sia - siain pengorbanan gue!! Karena abi bukanlah yoyo. Lo harus jadi orang yang bisa mendekati senna.” “...” suara hembusan nafas berat kembali terdengar. Akhirnya abi berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah beberapa saat ada seseorang berjalan menuju ke parkiran khusus penghuni apartemen. “Selamat malam, pak yoshua.” “Malam, pak.” “Tadi ada temannya yang kembaliin sepeda ya, pak ?” “Iya, pak.” “Terus dimana temennya, pak ? Kok pak yoshua sendirian ?” “....” yoshua hanya bisa terdiam. ‘Karena orang itu juga saya, pak.’ sebuah pengakuan dalam hati yang hanya diketahui oleh yoshua sendiri. Bahwa, abi adalah yoshua. Dan yoshua adalah yoyo. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD