My Boss - 02

1139 Words
Ya itulah keseharianku mendapatkan penghinaan, makian dan bahkan tak segan- segan teman- temanku menjahiliku dengan keterlaluan tentunya. Aku hidup seperti ini selama lebih dari 2,5 tahun. Entah bagaimana bisa! Tapi nyatanya aku sanggup menjalani hidup yang menyedihkan ini. Yang ku tahu hanyalah aku ingin segera lulus dan mendapatkan ijasah untuk bisa masuk ke Havard mewujudkan impian kedua orangtuaku. Selain mewujudkan impian kedua orangtuaku ada satu hal lagi yang membuatku mampu bertahan di sekolah ini. Dan itu adalah seorang siswa yang diam- diam aku sukai. Jika kalian bertanya apakah dia tahu perasaanku ataupun dia membalas perasaanku, cih mungkin itu sama sekali tidak akan pernah terjadi. Melihatku saja dirinya muak, apalagi membalas perasaan bodoh yang aku miliki ini. Bahkan dia tega menyiramku dengan air minum saat di kantin sekolah kemarin, dan menyuruhku untuk bangun dari mimpi. Dan ya ! dia yang aku sebutkan adalah Theo Robinson. Aku menyukainya selama 4 bulan ini, wanita mana yang tak menyukai wajah tampannya. Tidak hanya tampan! Jika kalian mengira siswa tampan kebanyakan bodoh maka kalian salah. Theo termasuk siswa yang cerdas bahkan aku masih berada dibawahnya. Jika dalam peringkat paralel Theo pasti akan berada diperingkat pertama sedangkan aku akan berada diperingkat kedua. Theo bukan siswa berprestasi yang kutu buku sepertiku. Theo adalah seorang laki- laki playboy dan nyaris hampir semua siswa perempuan yang masuk dalam kategori cantik sudah pernah menjadi kekasihnya.  Ia berganti pacar seperti layaknya berganti masker sekali pakai. Jika ia sudah bosan maka, tak segan- segan Theo akan memutuskannya. Namun, ada satu siswa perempuan yang selalu menempel pada Theo layaknya prangko. Dia adalah Lucy Baker teman satu kelasku, gadis itu selalu menempel pada Theo meskipun Theo telah memiliki pacar. Bahkan rumornya Lucy akan melakukan apapun asalkan Theo mau menerimanya termasuk memberikan tubuhnya pada Theo, seperti yang kalian tahu saat berada di ruang kesehatan sekolah beberapa waktu yang lalu. Karna hal itu pula yang membuatku lebih baik menyimpan perasaan ini diam- diam daripada harus mencoba mengungkapkan dan berakhir dengan penghinaan. Karena angsa buruk sepertiku tak akan pernah mampu meraih hati seorang pangeran berkuda putih seperti Theo Robinson. ••••• Laura membuka matanya lalu mengerjap- kerjapkan pelan. Mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retina matanya. Menguap dengan begitu lebar lalu salah satu tangannya meraba meja yang ada disebelah ranjang kamarnya mencari sebuah benda yang mampu membantunya melihat lebih jelas lagi. “Apa kau tak ingin pergi ke sekolah hari ini?” tanya seseorang baru saja masuk kedalam kamarnya. Tanpa Laura tebakpun ia sudah hafal siapa pemilik suara itu, yang tak lain adalah ibunya. Laura memakai kacamatanya dan mengusap sedikit kasar minyak di wajah diwajah bantalnya. Bergerak kesamping dan menurunkan kakinya dari ranjang. “Untuk apa aku pergi ke neraka yang berkedok lembaga pembelajaran ?” ujar Laura dengan nada malas sekaligus terselip sebuah sindirian disana. Ibu Laura hanya mampu tersenyum tipis menanggapi keluhan putri tunggalnya itu. Dirinya sangat menyadari jika purtinya pasti tertekan hidup di lingkungan yang bukan merupakan kelas keluarga mereka. Namun, ia tidak ingin melihat Laura hanya menjadi pegawai kecil seperti dirinya dan juga ayah Laura. “Bersabarlah sedikit lagi okay,” ujar Ibu Laura dan menatap pilu juga pada putrinya itu. “Hm,” ujar Laura, ia hanya menjawab melalui gumaman. Percuma jika dirinya ingin membantah lagi karna ia telah melewati masa sulit selama bertahun- tahun. “Sudah sana pergi mandi. Mama punya sesuatu untukmu,” ucap Ibu Laura dengan senyum hangatnya. Laura hanya berdecak kecil “Ya, aku sudah tahu! Sebuah kue ulangtahun dengan strawberry dan angka ulangtahunku diatasnya,” ujar gadis muda itu dengan malas. Lalu dengan malas pula ia melangkahkan kakinya kedalam kamar mandi, Ibu Laura hanya mampu tersenyum kecut melihat tanggapan putri kesayangannya itu. ••••• Laura telah siap dengan pakai ala kadarnya, celana jeans model kulot dan sweater kebesaran. Ya, selalu saja seperti itu selera fashion Laura. Karna memang ia hanya memakai pakaian yang menurutnya nyaman. Dia tidak bisa seperti Lucy Baker yang selalu memakai pakaian mini dan nyaris memperlihatkan bokongnya. Laura ingin sekali muntah ketika mengingat penampilan teman sekelasnya itu. “Selamat pagi sayang,” ujar ayah Laura saat melihat putrinya mulai berjalan kearah meja makan. “Pagi,” balas Laura singkat yang kemudian mendudukan dirinya di kursi didepan ayahnya. Di depan meja sudah tersedia sebuah kue lengkap dengan strawberry dan angka ulangtahunnya, ya sesuai dengan tebakannya. Ayah Laura tersenyum kecil melihat jawaban singkat dari Laura. “Eum, kami punya sesuatu untukmu,” ujar Ayah Laura menyodorkan sebuah bingkisan kecil. “Bukalah,” ujar Ibu Laura dengan tersenyum. Laura mengernyit heran, pasalnya selama ia berulangtahun kedua orang tuanya tidak memberikan hadiah apapun kecuali sebuah kue yang ia sebutkan tadi. Namun kali ini, orangtuanya memberikan sebuah hadiah untuknya ? Laura membuka hadiah yang diberikan, dan matanya langsung terbuka lebar ketika melihat sebuah kalung liontin berbentuk hati tampak begitu cantik. “Wuah!! Ini cantik sekali” ujar Laura yang tampak berbinar- binar melihatnya. “Selamat ulangtahun yang ke 18 sayang,” ujar kedua orantua Laura secara bersamaan. Mereka tampak bahagia ketika melihat putrinya kini tersenyum lebar. “Terimakasih Mama,” ujar Laura dan masih saja melihat liontin yang diberikan oleh kedua orangtuanya. “Apa hanya untuk Ibumu ?” tanya Ayah Laura yang tampak cemburu. Laura tertawa melihat ayahya “Terimakasih daddyku yang tampan,” ujar Laura dengan raut bahagianya. Yang kemudian dibalas senyum hangat dari kedua orangtuanya “Sekarang tiup lilinnya dan ungkapkan harapanmu,” ujar Ibu Laura dengan menyodorkan kue untuk Laura. Laura memejamkan matanya dan mulai memanjatkan harapannya. ‘bisakah aku punya banyak uang ?’ ••••• Saat ini Laura dan kedua orangtuanya berada didepan rumah mereka. Ayah dan Ibu Laura telah bersiap untuk mulai berangkat bekerja bersama, sedangkan Laura berangkat ke sekolah dengan menggunakan sepeda. “Goodbye sayang, semoga harimu menyenangkan. Kami menyayangimu,” ujar Ibu Laura yang kini melambaikan tangan pada putrinya sebelum mobil mereka keluar dari halaman rumah. Laura membalas lambaian tangan ibunya “Aku lebih sayang kalian,” ujar Laura. Lalu dengan segera ia membalikkan badan untuk mengambil sepeda miliknya. Ia mulai mengayuh mengikuti jejak mobil Ayahnya yang tak jauh berada didepannya. Belum ada 1 km kedua orangtuanya berkendara, Laura dikejutkan dengan hal yang sama sekali tak ia terduga dalam hidupnya. BOOM !!! Mobil kedua orangtuanya meledak tepat didepan matanya! Kilauan si jago merah yang begitu nyalang tercetak jelas dikedua bola mata Laura. Laura seketika terjatuh dari sepeda yang ia gunakan. Jantungnya seakan terhenti saat ini, nafasnya tercekat dan matanya mulai mengabur oleh suatu cairan. “Daddyyyy !!!! Mamaaaaa!!!” jerit Laura yang begitu pilu ia ingin menolong kedua orangtuanya namun tubuhnya sama sekali tak dapat digerakkan. “Ti ...Tidakkkk...!!!” teriak Laura lagi- lagi tersendat – sendat dengan air mata yang begitu deras mengalir dikedua pipi cubbynya. “Ma.. mamaa,” ucap Laura terakhir kali sebelum pada akhirnya tergelatak diatas aspal yang tidak jauh dari mobil kedua orangtuanya yang terbakar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD