My Boss - 03

1225 Words
Seorang gadis manis berambut keriting dan berkacamata sedang tertunduk di dua buah pusara makam. Gadis berkacamata itu tak henti- hentinya menangis pilu di depan pusara makam yang bertuliskan marga yang sama dengan dirinya. “Hiks.. hiks.. kenapa kalian meninggalkan Laura sendirian!” isak  gadis bernama Laura itu dengan mata yang sangat sembab karna tak henti- hentinya menangis “Laura takut Mom !! Dad !!” cicit gadis muda itu. Gadis itu hanya bisa meratapi kedua pusara makam kedua orangtuanya karena sebuah kecelakaan yang mereka alami tadi pagi. Gadis muda itu masih sangat terisak hingga membuat orang- orang yang melihatnya juga merasakan kesedihan yang mendalam. Beberapa orang yang melihatnya adalah rekan- rekan dari ayah dan ibunya. Laura benar- benar kecewa saat ini kenapa ia harus meminta harapan seperti itu. Ia memang menginginkan banyak uang, tapi tidak untuk seperti ini. Mendapatkan uang dari orang orang yang berduka karna kematian kedua orangtuanya. Dan Laura benar- benar menyesal telah memanjatkan harapan gila seperti itu. Perlahan- lahan orang- orang pun pergi meninggalkan Laura sendirian, mereka hanya berpesan agar Laura tetap bersabar atas musibah yang ia alami. Dan perkataan itu tak membuat hatinya merasa lega sama sekali. Haripun telah beranjak sore dan sebentar lagi akan malam, namun Laura masih betah dalam posisi yang sama. Meskipun kini keadaannya tampak jauh dari kata baik- baik saja. Matanya bengkak dan bibirnya pucat pasi, dan gadis itu masih saja tertunduk menatap pusara makam kedua orangtuanya. Tak lama kemudian Laura merasakan ada seseorang yang tengah terduduk disamping kirinya. Laura ingin menoleh, tapi ia enggan untuk melakukannya. Mungkin juga bagian dari teman ayah atau ibunya.  “Hi anak manis ! Jangan menangis hm! nanti cantikmu bisa luntur jika kau menangis seperti itu,” ucap seseorang yang kini terduduk disamping Laura. Laura tersentak mendengar perkataan seseorang itu, dengan perlahan ia memutar kepalanya untuk menoleh ke arah sebelahnya. Ia melihat seorang pria paruh baya sedang tersenyum hangat padanya. “An.. anda siapa Tuan?” tanya Laura dengan suara lemahnya dan mata yang sayu. Pria paruh baya itupun tersenyum kecil . “Namaku Edward, aku adalah sahabat ayahmu Laura Martinez,” ungkapnya disertai dengan senyum hangatnya lagi- lagi. Laura masih merasa binggung, pasalnya ia sama sekali tidak tahu siapa saja teman ayahnya karena dirinya memang cenderung menjadi gadis tertutup. “Be... benarkah ?” tanya Laura dengan suara yang parau dan tampak lemah. Pria yang bernama Edward itupun tersenyum hangat dan mengusap puncak kepala Laura dengan pelan. “Ya benar, aku adalah sahabat ayahmu sayang, Adam Martinez,” ujar Tuan Edward. “Sebelum ayahmu pergi, dia sudah berfirasat tentang kecelakaan yang akan terjadi padanya. Dan dia berpesan padaku agar aku merawatmu jika sesuatu terjadi padanya ! Jadi maukah kau ikut bersama denganku?” tanya pria yang bernama Edward itu dengan penuh ketulusan. Entah sihir darimana mendengar ajakan pria itu, membuat Laura dengan mudahnya mengganggukkan kepalanya. Menerima ajakan seorang pria yang mengaku sebagai sahabat ayahnya. Mata hangat penuh ketulusan yang terpancar dari mata pria itu mengingatkan Laura dengan mata hangat milik ayahnya. Di sisi lain Laura juga tak memiliki keluarga yang dekat dengannya. Ayah dan ibunya bahkan tidak bercerita tentang kerabat mereka sama sekali, mereka hanya bercerita bahwa nenek dan kakek Laura sudah meninggal. “Percayalah padaku, aku akan menjagamu,” ujar Tuan Edward dengan penuh ketulusan dari sorot matanya. Lalu salah satu tangannya ulurkan pada Laura, seolah-olah meminta gadis rapuh itu untuk mau menjabat tangannya. Laura awalnya tampak ragu untuk menerima uluran tangan itu, namun melihat sorot mata Tuan Edward dan memang ia tidak memiliki pilihan lain maka Laura dengan perlahan menerima uluran tangan Tuan Edward. Tuan Edward tersenyum tak kala melihat Laura menerima uluran tangannya. “Aku akan mengantarmu pulang, dan aku akan menjemputmu besok setelah kau mempersiapkan barang- barang mu” ujar Tuan Edward lalu membantu Laura berdiri dari duduknya. Laura hanya bisa mengangguk pasrah, lalu berjalan mengikuti langkah Tuan Edward. Sebelum ia benar- benar pergi meninggalkan makam orangtuanya, Laura menoleh dan berharap semoga ini adalah hal yang terbaik untuknya. ••••• Aku melihat bingkai foto yang didalamnya terdapat fotoku bersama dengan kedua orangtuaku. Mataku masih saja terlihat bengkak karena terus menangis sepanjang malam. Aku mengusap kedua wajah mereka dalam foto dengan pelan, seolah- olah menyalurkan rasa rinduku pada mereka yang telah berada di alam yang berbeda. Satu tetesan air mata keluar kembali dari mataku, sungguh rasanya sangat menyesakkan. “Daddy, mama ! Laura rindu kalian,” ujar ku dengan suara yang sangat lirih dan terdengar serak. Tak lama kemudian aku mendengar suara mobil yang terparkir di halaman rumah. Dengan segera aku menghapus air mata yang terisa di pelupuk mataku, lalu meletakkan pigura foto keluargaku kedalam koper yang telah berisi dengan barang- barang ku. Aku menghembuskan perlahan, berharap ini adalah keputusan tepat yang ku ambil, meskipun berat sekali rasanya meninggalkan rumah yang menjadi kenangan bersama kedua orangtuaku namun aku juga tidak bisa hidup sendirian dan menjadi gelandangan karena tak tahu harus berbuat apa, dan harus hidup sebatang kara. Tok tok tok “Kau sudah siap ?” ujar seseorang dari balik pintu kamarku, yang tak lain adalah Tuan Edward. Aku menoleh dan menganggukkan kepala. Alu melihat Tuan Edward tersenyum “Kalau begitu, mari kita berangkat” ujarnya. Tuan Edward membantuku membawa barang- barang milikku kedalam mobil mewahnya. Sebuah mobil audi yang begitu mengkilap, hingga lalat saja bisa tergelincir ketika ingin hinggap diatasnya. Aku tak tahu sekaya apa Tuan Edward ini, aku hanya berusaha untuk menurut, yang penting dia tidak menjual ku! Aku sudah sangat bersyukur atas itu. Selama perjalanan aku hanya terdiam dan memfokuskan pandanganku keluar jendela mobil. Tuan Edward tak banyak mengajakku berbicara, mungkin memang ia paham atas suasana hatiku dan pikiranku yang tak baik- baik saja. Hingga akhirnya pupil mataku mulai melebar ketika mobil audi yang kami tumpangi memasuki sebuah kawasan rumah mewah. Dan mataku lebih melebar lagi ketika berhenti di sebuah rumah yang terlihat paling mewah diantara rumah- rumah yang lain. ‘Wooahhh’ kagum ku dalam hati. Bahkan di kami disambut oleh orang- orang yang memakai setelah jas warna hitam dan beberapa pelayan wanita di depan rumah. ‘Apa aku sedang berada di negeri dongeng ?’ ucapku dalam hati. “Kita sudah sampai, ayo turun” ujar Tuan Edward menoleh padaku. Aku pun menganggukkan kepala, yang kemudian turun dari dalam mobil setelah dua orang pria memakai setelan jas hitam membuka pintu untuk kami. “Selamat datang di rumahku Laura,” ujar Tuan Edward dengan tersenyum hangat. Lalu mengajakku untuk masuk kedalam rumahnya, sedangkan koper milikku dibawa oleh seorang pelayan. Ketika aku baru saja menginjakkan kaki masuk ke dalam rumah mewah ini. Tak henti- hentinya bibirku melongo melihat interior yang begitu luar biasa. Dan aku yakin jika barang- barang di dalam rumah ini bukanlah barang murahan yang biasa di jual di diskon di luaran sana.  “Apa Tuan hanya tinggal sendiri di rumah sebesar ini ?” tanyaku sambil memandangi rumah besar milik Tuan Edward. “Ah, tentu saja tidak! Aku tinggal bersama putraku dan beberapa pelayan serta penjaga disini,” ujar Tuan Edward dengan tertawa kecil. “Lalu dimana istrimu Tuan ?” ujarku tiba- tiba karena entah kenapa rasa penasaranku mendadak menggunung. Namun karena pertanyaanku yang satu ini, aku melihat raut wajah dari Tuan Edward mendadak terlihat sendu. Sialan ! Sepertinya aku salah bicara. “Dia.. dia sudah lebih dulu menginggalkan kami karna sakit,” ujar Tuan Edward dengan mencoba tersenyum meskipun aku tahu jika hatinya pasti merasakan sedih saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD