My Boss - 04

1353 Words
“Ah.. maafkan aku” ujarku meminta maaf karena merasa tidak sopan bertanya tentang hal pribadi orang lain. “Kenapa kau meminta maaf, kau hanya bertanya bukan ? Jangan merasa bersalah seperti itu,” ujar Tuan Edward yang mengerti raut wajahku juga berubah. “Mari kita keatas,” ajak Tuan Edward dan aku hanya mengangguk saja. Setelah sampai di atas aku melihat ada 2 kamar di sana yang berseberangan. “Ini adalah kamarmu,” ujar Tuan Edward setelah membuka salah satu kamar untuk ditunjukkannya padaku. ‘heol, sungguh ini 2 kali lebih besar daripada kamarku’ ujar ku serasa ingin menjerit saat ini. Sudah lama aku menginginkan kamar yang luas seperti ini. “Bagaimana apa kurang besar untukmu ?” ujar Tuan Edward yang tampak khawatir karena aku tak kunjung menanggapi. Aku menggeleng pelan “Ah tidak- tidak ! ini sudah terlalu besar untukku,” ujar ku dengan tersenyum kikuk dan sedikit menaikkan kacamataku yang sedikit melorot. “Baguslah, dan yang di seberang itu adalah kamar putraku,” ujar Tuan Edward dengan menunjuk kamar di sebelah kiri tangga. Aku hanya mengangguk paham “Eum, lalu dimana putramu Tuan ?” tanyaku dengan sedikit ragu, berharap aku tidak salah dalam bertanya kembali. “Mungkin dia sedang pergi bersama teman- temannya, anak itu sangat sulit sekali diatur,” ujar Tuan Edward dengan menghembuskan nafasnya kasar terlihat sedikit frustasi. Aku pun hanya bisa menggulum bibir. “Sekarang, kau bisa istirahat dan aku akan kembali ke kantor dan mungkin akan pulang larut malam. Jika kau menginginkan sesuatu kau bisa memanggil pelayan yang ada dibawah sana,” ujar Tuan Edward “Baik Tuan, terima kasih.” ujarku dengan mencoba tersenyum semanis mungkin meskipun aku sadar jika senyumku sepahit jus pare. ••••• Aku mulai membuka mataku perlahan- lahan dan menguap cukup lebar.Tidak! tapi mungkin saja sangat lebar hingga seekor gajah pun bisa masuk. “Eughh, jam berapa ini ?” lenguhku saat mencoba membuka mata. Aku meraba disisi ranjang mencoba mencari kacamata dan juga ponselku. Mataku langsung terbuka lebar ketika jam pada ponsel telah menunjukkan pukul 8 malam. Sialan ! Aku tidur atau pingsan sebenarnya ? maki ku dalam hati. Bisa- bisanya aku tidur siang selama 10 jam. Pantas saja rasanya kepalaku pening dan badanku terasa pegal. Mungkin ini karna aku terlalu lelah akibat menangis selama 2 hari terakhir ini. “Haus sekali,” keluhku yang merasa tenggorokanmu minta dialiri oleh air. Aku berjalan menuju kamar mandi untuk sedikit mencuci wajah agar tak terlihat seperti bantal. Menggosok gigi kemudian baru melangkahkan kakiku untuk turun, menuju dapur yang ada dibawah sana. Tampak sepi, itulah kesan yang aku berikan ketika kakiku mulai perlahan turun dari anak tangga. Ya bagaimana tidak sepi jika hanya ditempati oleh dua orang dan beberapa pelayan rumah akan pulang setelah pukul 6 malam, lalu kembali lagi esok hari. Aku melangkahkan kaki ke dapur dan membuka kulkas yang cukup besar di rumah Tuan Edward. Mengambil botol air minum dan meneguknya hampir habis. Akhirnya aku bisa menghembuskan nafas lega ketika air masuk ke dalam tenggorokanku. “Ahhhh, segarnya,” ucapku setelah berhasil memasukkan air kedalam tenggorokanku yang rasanya kering keronta ini. Aku ingin meneguk air yang tersisa kembali namun sebuah suara mengejutkanku.  “Siapa disana ?” ujar seseorang yang terdengar sangat datar. Hampir saja air yang seharusnya masuk kedalam mulutku berakhir menyiram wajahku karna terkejut dengan suara seseorang datar seseorang itu. Sebentar ! suara datar itu sepertinya aku mengenalnya. What ? benarkah itu suara dari laki- laki itu ? Aku meneguk ludahku dengan susah payah, bahkan jantungku berdegup begitu kencang saat ini. Aku mulai mundur perlahan- lahan meskipun sangat berat sekali melangkah. Bahkan dinginnya air minum yang baru ku minum tak bisa membuatku merasa lega seperti semula. “In.. ini aku” ujarku dengan menunduk, setelah menampakkan diri di balik pintu kulkas. “Nerd ?” pekik seseorang itu dan membuatku langsung saja menatap kearah dirinya. “T.. Theo Robinson ?” ujarku dengan mata yang terbuka sangat lebar. “Apa yang kau lakukan disini Nerd ?” ujar Theo dengan suara yang begitu datar dan dingin sekali. Bahkan mata elangnya seakan telah menemukan seekor tikus yang akan menjadi santapannya saat ini. Laura menelan ludahnya dengan susah payah “Ak... Aku-..” bibirnya terlihat bergetar dan keringat dingin mulai keluar dari peliisnya. “JAWAB PERTANYAANKU SIALAN ! KENAPA KAU BISA ADA DISINI ?” bentak Theo Robinson pada akhirnya karna tak kunjung mendapatkan jawaban dari gadis yang ada dihadapannya kini. “Ada apa ini, terdengar ribut sekali dari depan!” ujar seseorang yang baru saja masuk kedalam rumah dengan membawa beberapa paper bag ditangannya, yang tak lain seseorang itu adalah Tuan Edward. Theo menoleh kearah Tuan Edward “Kenapa sampah ini bisa ada disini ?” ujar Theo bertanya dengan dingin pada Tuan Edward. Sedangkan Laura masih saja mematung layaknya batu. “Sampah ?” ujar Tuan Edward dengan mengernyikan keningnya heran “Sampah apa maksudmu Theo Robinson ?” Theo mendengus kesal dan mulai kembali memaki “Kenapa gadis buruk rupa ini bisa ada menginjakkan kaki di rumah ini ?” ujar laki- laki muda itu. Tuan Edward menoleh “Ah, maksudmu Laura ?” ujarnya dengan tersenyum kecil “Dia adalah gadis yang aku ceritakan padamu kemarin,” ujar Tuan Edward lagi lagi dan kini berbalik Theolah yang melebarkan matanya. “Apa ?” pekik Theo cukup keras. Dan kemudian memijat keningnya dengan raut wajah yang terlihat frustasi. “Ada apa denganmu ? bukankah kau bilang tidak masalah,” ujar Tuan Edward yang menatap heran kearah Theo. Theo berdecak “Ck, kau bilang dia cantik Dad !” ungkapnya, yang merasa kesal ketika ia tahu bahw yang dibawa ayahnya adalah gadis yang paling dihindari oleh satu sekolah. “Lalu apa Laura tidak cantik ? Lihatlah baik- baik Theo !” ucap Tuan Edward. “Ck, cantik ?” ujar Theo dengan tertawa sinis, sungguh dirinya mulai mual saat ini. “Bahkan ikan buntal pun lebih menarik daripada dirinya! Ck, memuakkan,” ujar Theo yang kemudian berbalik badan dan melangkahkan kakinya meninggalkan dua orang yang membuatnya kesal dibawah sana. “Yak !! Theo ! Kau mau kemana ? kau belum makan malam! Mari kita makan malam bersama,” teriak Tuan Edward dari lantai bawah. Theo berbalik sekilas lalu beruca “Tidak perlu! Lambungku nyaris memuntahkan isinya hanya dengan melihat gadis itu,” ucap Theo begitu dingin dan kembali melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam kamar. Bahkan membanting pintu kamar dengan keras. Tuan Edward hanya menggeleng- gelengkan kepalanya, melihat tingkah laku anak satu- satunya bersikap demikian. “Ck, anak itu!” decak Tuan Edward, lalu berbalik menghadap Laura. “Maafkan Theo, Laura! Anak itu memang seperti itu,” ujar Tuan Edwar dengan raut wajah penuh penyesalan. Laura yang semula mematung kini kesadarannya telah kembali saat Tuan Edward mengajaknya bicara. “Ti... tidak apa- apa Tuan Edward,” ujar Laura dengan yang terlihat gugup. Sungguh pikirannya benar- benar blank saat ini. Tuan Edward tersenyum hangat “Jangan memanggilku Tuan, panggil saja aku paman atau kau bahkan boleh memanggilku daddy,” ujar pria paruh baya itu. Laura tersenyum kikuk dan mengeleng pelan “Pa.. Paman saja,” ujar Laura yang tampak malu. “Kalau begitu mari makan, aku membelikan beberapa makanan untukmu,” ujar Tuan Edward dan melangkahkan kakinya menuju meja makan. ••••• Aku tak bisa memejamkan mata sama sekali. Pikiranku melayang- layang kembali. Bukan karna aku kembali memikirkan kematian orangtuaku, namun yang ku pikirkan saat ini adalah ‘jadi, Theo Robinson adalah anak dari Tuan Edward Ro-Robinson?’. ‘Oh Tuhan, apa aku harus senang atau justru kembali merasa menyedihkan?’ ujarku merintih dalam hati. Pantas saja jika Tuan Edward terlihat sangat kaya raya, ternyata dia merupakan pengusaha yang sukses di kota New York. Bahkan menjadi donatur terbesar di sekolahnya. 'Argghhh, aku bisa gila!!' ucapku dalam hati. Bagaimana tidak, aku tinggal satu atap dengan Theo Robinson. Laki- laki yang diam- diam selalu aku kagumi. Pria tertampan dan terpopuler di sekolahku. Aku hanya berguling kesana kemari saat ini diatas ranjang. Semua terlalu mengejutkan untuk diriku, apa Tuhan memang sengaja mengirimkan Theo padaku untuk menghibur diriku yang sedang bersedih karna kematian orangtuaku? 'Oh! Betapa Maha Baiknya Dia'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD