Laura, Tuan Edward beserta Theo kini terlihat sedang menikmati sarapan bersama. Mereka tampak tenang, meskipun sebenarnya kaki Laura terkadang bergetar karena terlalu gugup bisa makan bersama dengan Theo Robinson.
Sebuah suara deheman tiba- tiba dari Tuan Edward mulai menarik perhatian Theo dan Laura.
“Em hari ini kau bisa berangkat dengan Laura, Theo Robinson,” ujar Tuan Edward setelah meletakkan pisau makan miliknya dan mengusap bibirnya menggunakan tisu.
Theo yang semula sibuk memotong daging yang ada ada di depannya kini terhenti seketika. Menatap ayahnya dan memasang senyum sinis.
“What ? apa kau bercanda Dad ?” ujar Theo yang tampak tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya. Tak hanya Theo, Laura pun tampak terkejut dengan perkataan Tuan Edward.
Tuan Edward menggeleng pelan “Tidak, aku serius,” ujarnya.
“Aku menolak.” Theo menyahut dengan cepat tanpa mau kembali menoleh kearah ayahnya.
“Kalau begitu mobilmu Daddy sita mulai saat ini,” ujar Tuan Edward terdengar tegas.
“WHAT !! apa Daddy lebih membelanya daripada aku ?” ucap Theo, matanya terlihat nyalang dan bahkan ia membanting pisau dan garpu miliknya hingga Laura dan beberapa pelayan juga tersentak kaget.
Tuan Edward terlihat menghembuskan nafas beratnya “Ya atau ya, cuma itu pilihanmu,” ujarnya dengan menatap Theo begitu serius.
Theo mengepalkan tangannya, ia ingin membantah. Namun sorot mata ayahnya menunjukkan keseriusan dan tak ingin ada penolakan. Theo pun menghembuskan nafasnya kasar dan bersandar pada kursi yang ia gunakan
“s**t! baiklah,” ujar Theo dengan memasang raut wajah yang tidak suka dan tampak berat hati.
Tuan Edward pun tersenyum melihat putranya menyetujui keinginannya. “Kau bisa berangkat bersama Theo, Laura." Ujar Tuan Edward disertai senyum hangatnya.
Laura sedikit melirik ke arah Theo yang tampak tidak suka. Awalnya ia merasa senang dengan permintaan Tuan Edward, namun melihat Theo yang seperti itu sama saja ia memasukkan diri ke dalam kandang singa.
“A.. aku bisa berangkat sendiri paman,” ujar Laura menolak permintaan Tuan Edward.
“Tidak ada penolakan, kalian harus berangkat bersama. Theo akan menjagamu,” ujar Tuan Edward dengan raut wajah penuh penegasannya.
‘Sialan! Benar- benar sialan! Dosa diriku hingga terjebak dengan perempuan seperti ini,’ ujar Theo mengumpat berkali- kali dalam hatinya.
“Aku berangkat!” ujar Theo yang kemudian mengambil ransel bermerk miliknya dan bangkit dari kursi.
“Ikutlah dengan Theo, Laura!” ujar Tuan Edward pada Laura.
Laura sebenarnya masih ragu untuk menerima tawaran itu.
“Tap.. tapi” ucapan Laura terpotong ketika mendengar suara Theo kembali menggelegar seisi rumah.
“Cepatlah ! apa kau itu keong ?” teriak Theo dari arah pintu depan. Membuat Laura segera beranjak dari kursinya dengan tergesa- gesa.
“Aku berangkat dulu paman, selamat pagi.” ujar Laura yang kemudian melangkahkan kakinya menyusul Theo Robinson yang sudah ada di dalam mobil dan membunyikan klakson sedari tadi.
Laura ingin sekali mengumpat, namun ia tak punya nyali akan hal itu.
'Dia aku tuli hingga harus diklakson berkali- kali. Huh, untung tampan' gerutu Laura dalam hati,
•••••
Selama perjalanan menuju sekolah, tak ada pembicaraan apapun dari Laura dan juga Theo. Mereka saling berdiam diri dengan pikiran masing- masing.
Laura yang berusaha menyembunyikan rasa senangnya mati- matian karena bisa berangkat bersama dengan Theo. Sedangkan Theo yang sedang memikirkan bagaimana caranya menendang keluar gadis disebelahnya ini dari mobilnya, hingga ke Antartika pun tak masalah.
Tak berapa lama kemudian, Theo menepikan mobilnya.
“Turunlah,” ujar Theo yang masih menatap lurus ke depan dengan begitu dingin.
Mata Laura terbelak seketika “Apa ? ta.. Tapi sekolah masih jauh,” ujar Laura dengan raut wajah binggung.
Theo tersenyum sinis mendengarnya.
“Apa kau pikir aku peduli ?!” ujar Theo sangatlah dingin dan menatap Laura dengan begitu tajam “Cepatlah turun ! Kau membuat mobilku penuh bakteri sialan! Apa kau tak sadar ?” maki Theo dengan mata berapi- api.
Akhirnya dengan berat hati namun juga takut Laura pun membuka sabun pengamannya. Ia pun mulai membuka pintu mobil Theo dan melangkahkan kakinya turun.
Ia ingin menutup pintu mobil mewah itu namun suara Theo kembali terdengar.
“Tunggu,” ujar Theo, membuat Laura segera memasang harapannya agar Theo berubah pikiran. Namun pemikirannya salah ketika laki- laki yang disukainya itu mengeluarkan suara kembali.
“Ingatlah baik- baik aku tidak ingin satu sekolah tahu jika kau tinggal bersamaku,” ujar Theo begitu dingin.
“Jadi, jangan sekali- kali kau membuka mulutmu pada siapapun! Atau aku akan benar- benar menyiksamu,” ujar Theo begitu tajam.
“Dan ingat batas mu, nona,” ucap Theo yang segera melajukan kembali mobil mewah miliknya, menuju sekolah. Meninggalkan Laura yang hanya mampu mendesah pasrah dan akhirnya berlari menuju sekolahnya.
Selama 2 bulan tinggal serumah dengan orang yang kita sukai ternyata tak selalu terasa menyenangkan. Apalagi jika hanya kitalah yang merasakan hal itu, tidak dengan orang yang kita sukai.
Memang selama aku tinggal bersama Theo, aku bisa sedikit demi sedikit sanggup menghilangkan rasa sedihku karena kematian kedua orangtuaku. Rasa sedih itu hilang ketika aku bisa melihat wajah Theo dari jarak sedekat ini meskipun kenyataannya kami tak sedekat itu. Tapi aku benar- benar bersyukur dengan kesempatan yang Tuhan berikan ini.
Tapi terkadang aku juga merasakan sesak ketika kami terlihat seperti orang asing, terlebih lagi ketika Tuan Edward harus pergi ke Jerman untuk mengurus perusahaan yang ada di sana dan hanya pulang beberapa hari.
Aku dan Theo nyaris tak pernah bertegur sapa, kami hanya terlihat dekat ketika Tuan Edward berada di rumah. Karena kami harus berangkat bersama seperti waktu lalu dan berakhir dengan aku harus diturunkan di pinggir jalan, lalu mendapatkan hukuman dari pihak sekolah.
Sesak yang lebih dalam lagi kurasakan saat Theo pulang membawa gadis yang berbeda- beda. Bahkan mereka tanpa malu b******u dan berciuman di depanku. Dan hal itu nyaris membuat air mataku menetes melihat orang yang aku sukai melakukan hal itu dengan teman wanitanya.
Namun kembali lagi, aku siapa? Bahkan untuk sekedar menyukai ujung rambut Theo Robinson pun aku tak pantas.
Yang bisa ku lakukan hanyalah berdiam diri dan menyimpan perasaanku serapat mungkin. Seperti saat ini, aku selalu menggambar wajah dari Theo secara diam- diam dibuku sketsa milikku. Tak apa, aku hanya ingin mengabadikan raut wajah Theo yang sama sekali tak pernah ia tunjukkan padaku.
Dari balik jendela perpustakaan aku mengamati Theo dan teman-temannya sedang bermain basket di lapangan sana. Aku bisa melihat betapa mempesonanya dia ketika keringat bercucuran seperti itu.
Aku mengamati setiap inci wajah itu lalu menggoreskan pena pada gambar yang sebentar lagi akan sempurna.
"Ahh" aku memekik terkejut ketika seseorang dengan lancang menarik sketsa milikku.
“Wah gambar mu bagus sekali, Nona Nerd!” ujar seseorang itu dengan mengamati sketsa wajah Theo yang aku buat.
DEG
Aku sungguh terkejut ketika yang mengambil sketsa ku adalah Daren, teman baik Theo. Oh, ini buruk! ujar ku menjerit dalam hati
“Kem.. kembalikan padaku ! aku mohon!” ujar ku meminta pada Daren agar mengembalikan sketsa itu.
Daren justru melihat dengan seksama kembali dan mengernyit heran “Sepertinya aku tidak asing dengan wajah ini,” ujarnya sembari menebak- nebak
Sungguh kakiku rasanya lemas layaknya jelly saat ini.
Lalu beberapa saat kemudian ia terbelalak lebar “Bukankah ini teman baikku ?” ujarnya dengan wajah terkejutnya.
Aku menelan ludah dengan susah payah, sungguh ini bisa jadi bencana untukku.
“Please! Kembalikan padaku,” ujar ku dengan menautkan kedua telapak tangan memohon agar Daren mengembalikan sketsa itu.
“Kembalikan ?” ujar Daren tersenyum sinis
“Coba tangkap aku kalau kau bisa haha,” ujarnya lalu berlari keluar dari perpustakaan.
Aku berlari mengejarnya, namun mendadak isi perutku berbunyi. Oh sialan! Aku belum makan siang. Tapi bagaimana dengan sketsa itu?
'Ah sudahlah, isi perut lebih penting' ujar ku yang kemudian berbalik arah untuk kembali ke kelas. Dalam pikiranku, jika Theo tahu mungkin dia hanya akan membentak ku lagi dan aku sudah siap akan hal itu ucapku menenangkan diri.