My Boss - 11

804 Words
"Selamat atas peringkat pertamamu." Tulis sebuah pesan yang baru saja masuk ke dalam notifikasi ponsel milik seorang gadis berkacamata itu.  Bibirnya tak henti melengkungkan sebuah senyuman sedari tadi.  Senyum manis itu terpatri di bibir Laura, sepertinya hari ini adalah hari yang membahagiakan untuknya. Bagaimana tidak, setelah perjuangannya menempuh pendidikan di sekolah bak neraka itu akhirnya hari ini adalah hasil pengumuman kelulusan. Di mana dirinya tetap mempertahankan peringkat nomer satu paralel.  Jika kedua orangtuanya masih ada, mungkin mereka akan memeluknya dengan erat malam ini. Namun, sayangnya semua itu hanyalah harapannya semata, kedua orang tuanya pasti bangga padanya meskipun sudah tak bersamanya lagi.  "Terima kasih, Bobby." balas Laura yang kemudian meletakkan kembali ponselnya.  Gadis muda itu menatap kedua foto mendiang orangtuanya.  "Mom, Dad." Lirih Laura sembari tersenyum namun dengan air mata yang menetes di wajah cantiknya. "Akhirnya Laura merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang teman," ujarnya sembari tertawa kecil.  Laura bahagia, ia sangat bersyukur. Ia pikir tidak akan ada seorang pun yang memberinya ucapan selamat padanya. Namun, Bobby mengirimkan ucapan selamat padanya meskipun hanya melalui sebuah pesan singkat.  Rasa bahagia Laura mendadak lenyap ketika mendengar sebuah suara yang berasal dari arah pintu kamarnya. Seorang pria memakai kaos berwarna hiam dipadukan dengan jaket levis dan celana jeansnya, pria itu tampak ingin pergi. Ia melipat tangannya di depan d**a sembari menatapnya tajam.  “Kau belum mencuci sepatuku?” ujar pria muda itu yang tak lain adalah Theo Robinson yang kini tengah menatapnya dengan guratan wajah yang marah. Sungguh Laura tidak tahu apa yang membuat pria itu akhir-akhir ini seringkali memarahinya hanya karena hal sepele.  Laura segera berdiri dari duduknya, menghampiri Theo dengan raut wajah menyesalnya. Dirinya lupa dengan tugasnya yang satu itu, setelah pulang sekolah dan mengerjakan pekerjaan rumah Laura memang sibuk di depan laptop miliknya. Hari ini adalah pendataran untuk masuk ke perguruan tinggi impiannya, jadi dirinya di sibukkan dengan mengisi biodata dan juga berkas-berkas yang diperlukan untuk pendaftaran. “Maaf, aku benar lupa dengan hal itu, Tuan.” Ujar Laura dengan raut wajahnya yang ketakutan.  “Lupa?” pekik Theo begitu keras hingga membuat Laura sampai bertingkat.  Theo menatap nyalang gadis yang ada di hadapannya ini. Pria itu menggeram marah dan kesal. “Kau bilang kau melupakan tugasmu?” desisnya sembari mendekatkan tubuhnya pada Laura hingga jarak di antara keduanya hanya beberapa langkah saja. “YAK! Bagaimana bisa kau melupakan tugasmu, sialan!” teriak Theo begitu nyaring menggema.  Laura memejamkan matanya kuat-kuat, gadis itu mencengkram ujung kaosnya dengan kuat.  “Ma.. maaf aku benar-benar tak sengaja melakukannya,” ucap Laura dengan wajah pucat pasi bahkan bibirnya bergetar. Sungguh malang sekali nasib gadis rapuh ini.  Theo berdecak. “Tak sengaja?”  Tangan kanannya mulai bergerak naik ke atas hingga mencengkeram dagu milik gadis yang membuatnya kesal ini dengan telapak tangan kanannya. Membuat Laura menatap ke arahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.  “Apa kau sudah merasa bebas dan bertingkah seenak mu hanya karena Bobby selalu berada di pihak mu?” desis Theo menatap tajam pada Laura.  Laura hanya terdiam, bibirnya tak mampu mengeluarkan suara.  “Katakan padaku, Nerd!” teriak Theo sekali lagi. “Apa yang kau lakukan pada sahabatku itu hingga ia begitu baik kepadamu, huh?” pekiknya begitu keras.  “Ak.. Aku tidak tahu, Tuan. Aku tak melakukan apapun, sungguh.”  “BOHONG!!” Mendengar jawaban Laura, semakin membuat Theo marah. Gadis itu sangat tidak tahu di untung sama sekali.  “Apa yang sudah kau berikan padanya, huh?” desis Theo sekali lagi. “Kau tak memiliki apapun, sialan. Satu-satunya yang berharga pada dirimu hanyalah-…” ucapan Theo terhenti sejenak sebelum pria itu mengeluarkan seringainya yang begitu menyeramkan.  “Tubuhmu," ucap Theo sembari melepaskan cengkeramannya pada dagu Laura. "Ck, kau memberikan tubuhmu pada Bobby, huh?”  Laura menggeleng keras. “Ti.. Tidak, Tuan. Sungguh aku tak melakukan apapun, to.. tolong maafkan aku,” mohon gadis itu dengan air mata yang mulai berlinang membasahi pipi cubbynya.  Namun bukannya merasa iba , Theo justru tersenyum sinis. “Maaf?” ujarnya. “Bagaimana jika sekarang kau ikut aku denganku, huh?” ucap Theo sekali lagi membuat sebuah tawaran.  Mata Laura terbelak. “Ap.. Apa?” pekik Laura yang begitu terkejut dengan ucapan Tuannya itu.  “Ke.. Ke mana?” “Menunjukkan keahlian mu." Setelah Theo mengucapkan hal itu, tanpa merasa kasihan pria itu menarik lengan Laura begitu saja. Memaksanya untuk masuk ke dalam mobil miliknya. Lalu mulai melajukan mobilnya membelah jalanan yang cukup dingin malam ini. Di samping Theo, Laura hanya terdiam, ia tidak tahu ke mana Theo akan membawanya. Namun firasatnya mengatakan apabila akan ada hal buruk yang terjadi padanya.  Laura tak bisa menolak ataupun membantah ucapan Theo. Pria itu terlalu berkuasa dan dirinya hanyalah benalu yang mencoba mencari makan pada inangnya. Meskipun ia tak akan bisa merugikan keluarga yang kelewat kaya itu tapi menumpang dan meminta makan secara cuma-cuma adalah bentuk yang merugikan untuk si pemilik rumah. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD