My Boss - 10

1231 Words
"Kau pikir ini rumahmu yang bisa kau datangi sesuka hatimu?" ucap Theo begitu angkuh dan sangat dingin. Theo berjalan mendekat ke arah Laura dengan sorot mata tajamnya. Mendekatkan wajahnya sejenak lalu berujar, "Kau harus tahu batasmu, sialan!" ujar Theo terdengar pelan namun cukup menusuk bagi siapapun yang mendengarnya. Laura hanya mampu diam menunduk. Seharusnya ia langsung pulang saja, tak perlu kembali ke UKS untuk mengobati kakinya, runtuknya dalam hati. "Cepat ambilkan camilan untukku dan juga teman-temanku. Dan bawa ke kamarku sekarang," ucap Theo sebelum berbalik menuju anak tangga rumah besar itu. Laura menghela nafas beratnya, ia ingin menolak tapi sepertinya percuma. Dengan menahan rasa sakit di kaki kirinya Laura mulai melangkah kakinya menuju arah dapur, mengambil beberapa camilan untuk mereka. Sebenarnya bukan rahasia lagi jika teman-teman Theo sudah tahu jika dirinya tinggal di keluarga Robinson. Seberusaha keras apapun untuk bersembunyi akhirnya akan ketahuan juga bukan? Awalnya Daren dan Bobby memang terkejut, namun akhirnya mau memahami hal itu. Dengan langkahnya yang pendek dan pelan gadis itu tampak kesusahan membawa nampan yang berisi makanan terlebih lagi saat menaiki anak tangga. Rasa sakit di kakinya semakin menjadi-jadi saja. Setiap kali menaiki satu anak tangga dirinya akan berhenti dan meringis merasakan perih dan denyut nyeri. Laura sudah berada di depan pintu kamar milik Theo, ia baru saja ingin mengetuk pintu namun seorang pria sudah terlebih dulu membuka pintunya. Seseorang itu dengan sorot wajah tajam dan guratan kemarahan tercetak jelas di wajahnya. “Bukankah sudah ku bilang jangan terlalu lama! Aku tidak menunggu!” bentak Theo begitu saja saat Laura sudah berada di depannya. “Ma… Maaf,” cicit Laura yang kemabli ketakutan. Sungguh gadis itu lemah sekali, mendengar bentakan sedikit ia nyaris menangis saat ini. Theo menggeram marah, “Cukup! Aku muak mendengar kata maafmu itu, sialan!” pekiknya lagi-lagi. "Yang ku tahu kau harus membalas budi padaku, Nerd!" ujarnya begitu dingin. "Jadi aku tidak menerima alasan apapun!" "Theo! Sebaiknya kau jangan terlalu keras padanya," ujar sebuah suara yang berasal dari balik tubuh Theo. Theo membalikkan tubuhya dan menatap sinis kepada siapa yang tengah berbicara padanya itu. Pria itu adalah Bobby, yang kini tengah berada di antara Laura dan juga Theo karena mendengar keributan di depan kamar milik sahabatnya. Theo menyunggingkan senyum sinisnya, merasa tak suka jika ada seseorang yang mengusik dirinya. "Kenapa?"  ucap Theo sembari mengangkat sudut bibirnya. “Kau suka padanya?" ujarnya tiba-tiba saja. Membuat Laura dan Bobby sama-sama terkejut dengan ucapan Theo. "Ap.. Apa?" pekik Bobby sedikit terbata-bata. Suara decakan dari mulut Theo terdenar remeh. "Ku perhatikan kau selalu bersikap baik pada gadis ini," ucapnya sembari menunjuk ke arah Laura yang kini hanya menundukkan kepalanya. Bobby menggeleng, "Bu.. Bukan seperti itu, apa kau tak lihat jika kakinya memar seperti itu? Bahkan berjalannya pun pincang." "Itu urusannya." "Biarkan dia istirahat, Theo Robinson." Ucap Bobby yang terkesan memaksa dan membuat Theo kembali tersulut amarah. "Kau tak perlu mencampuri urusanku, Bobby. Dia adalah orangku!" balas Theo sembari memandan tajam ke arah sahabatnya sendiri itu. Setelah memperingatkan Bobby, Theo memandang ke arah Laura. "Jangan harap aku akan bersikap lembut padamu. Jika kakimu patah pun aku tak peduli," ujarnya begitu dingin lalu meninggalkan Laura dan Bobby begitu saja untuk bergabung bersama Daren yang kini sedang berada di balkon. Laura hanya bisa kembali menunduk, sejujurnya ia tidak ingin hidup seperti ini. Dulu ia masih bisa tersenyum bahagia meskipun tak memiliki teman karena masih ada kedua orangtuannya. Namun kini, ia memang memiliki teman . Ah, bukan teman yang sebenarnya memang, tapi hanya luka, ras takut dan air mata yang selalu ia dapatkan. "Biar aku yang membawanya, kau istirahatlah ke kamarmu." Ujar Bobby tiba-tiba di saat Laura tengah sibuk dengan pikirannya. Mata Laura terbelak mendengar ucapan pria itu.  "Ta.. Tapi-..." "Tidak apa-apa, aku yang akan bertanggung jawab jika pria itu marah padamu," ucap Bobby sembari tersenyum kepada Laura. Bahkan pria itu langsung menagmbil nampan yang ada di tangan Laura. "Te.. Terimakasih Bobby." Ujar Laura merasa tak enak hati pada pria bergigi kelinci itu. ~~~~ Semenjak kejadian di rumah Theo waktu itu, entah mengapa Laura bisa merasa dekat dan aman jika dekat dengan Bobby. Pria itu memang sempat merundungnya, namun kini sudah tidak lagi. Memang di antara ketiga sahabat itu hanya Bobby yang masih terlihat jauh manusiawi. Bahkan Bobby memberinya kacamata baru, entah bagaimana bisa pria itu tahu ukuran minus matanya. Laura mengok kepalanya ke sana dan kemari mencari keberadaan seseorang yang sudah membantunya banyak sekali dengan sebuah kotak kecil di tangannya gadis berkacamata itu berjalan menghampiri tiga orang pria muda yang kini tengah duduk santai di pinggir lapangan bola basket. Mereka tampaknya baru saja selesai bermain basket, terlihat jelas dari bagaimana keringat yang bercucuran di pelipis dan dahi mereka. Dengan gugup Laura mendekati di antara mereka bertiga. “I.. Ini buatmu,” ujar Laura sembari meneyrahkan sebuah kotak yang ia bawa pada salah satu di antara mereka. “Apa ini?” Tanya pria itu sembari mengernyit saat Laura memberikan sesuatu kepadanya. Laura mengigit bibirnya tampak gugup untuk kembali berucap. “Um, hanya hadiah kecil sebagai bentuk ucapan terima kasihku atas kacamata yang kau belikan padaku,” ucapnya dengan sedikit malu dan takut jika saja Bobby menolak pemberiannya ini. Namun siapa sangka jika pria itu justru tersenyum lebar. “Ah,” ujarnya sembari menerima pemberian Laura. Pria itu membukanya dan terdapat sebuah syal rajut di sana. Bobby tampak takjub dengan apa yang gadis itu berikan padanya. “Jadi kau tampak sibuk karena membuat ini?” ujarnya sembari tersenyum melihat syal yang di berikan oleh Laura padanya. Berbeda dengan ekspresi kedua orang temannya yang melihat Bobby dan Laura dengan raut wajah kebingungan. Bobby tersenyum pada Laura. “Sebenarnya aku tidak mengharapkan balasan darimu, tapi karena kau sudah berusaha keras membuatnya maka akan aku terima,” balasnya sembari tersenyum manis, membuat Laura juga sama tersenyumnya karena merasa senang Bobby mau menerima syal buatannya. “Terima kasih, ya!” ucap Bobby sekali lagi. Laura membalas dengan anggukan, lalu gadis itu mulai pamit pergi setelah urusannya selesai. “Apa kepalamu terbentur sesuatu?” ucap seseorang di sebelah kanan Bobby yang sedari tadi memperhatikan interaksi antara Bobby dan juga Laura. Bobby mengernyitkan dahinya heran mendengar ucapa Daren,“Apa maksudmu?” “Kau… Kau seorang Bobby Xiaver mengucapkan terima kasih pada gadis jelek itu?” balas Daren dengan cepat, bahkan pria itu sampai berdiri dari duduknya dan menatap horror pada Bobby. “Dan apa yang ku dengar tadi? Kau memberinya kacamata baru?” pekiknya begitu terkejut. Jika ia bukan seorang pria, ia bisa saja pingsan melihat kejadian di laur nalar seperti ini.  “Woah! Aku benar-benar merinding saat ini,” ucap Daren sekali lagi sembari mengusap kedua lengannya bersilangan. Bobby justru terkekeh geli melihat tingkah sahabatnya itu. “Memang apa salahnya, sih?” “Itu salah jika gadis itu adalah gadis buruk rupa itu!” pekik Daren yang masih tak mengerti jalan pikiran Bobby. “Bagiku semua gadis sama saja, Daren!” ucap Bobby sembari memasukkan kembali syal yang di berikan Laura pada kotak wadahnya. “Gila!” maki Daren pada Bobby. “Yak! Theo lihatlah pria ini! Bagaimana bisa dia bersikap manis pada gadis kutu buku itu?” ucapnya sembari melihat ke arah Theo yang sedari tadi hanya diam tak mau berkomentar apapun. Namun tiba-tiba saja pria itu berdiri dan mengambil tasnya. “Kau mau ke mana?” Tanya Daren yang kini merasa aneh dengan sikap Theo yang tiba-tiba saja ingin meninggalkan mereka. “Merokok,” sahut pria itu sembari melangkahkan kakinya menajuh dari teman-temannya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD