Bel pulang sekolah berbunyi, semua murid kelas XI IPS 1 bersorak senang dan membereskan semua buku mereka ke dalam tas masing-masing. Pak Joko juga sudah menutup pelajaran dan keluar dari kelas mereka.
"Gak usah dipikirin sama omelan orang-orang, La. Aku percaya kok kamu nggak ngerokok." Violet berbicara kepada Riola yang terlihat kesal saat ini. Tanpa menjawab, Riola langsung berjalan untuk keluar dari kelas. Namun dengan cekatan, seseorang menghalangi pintu keluar dan tersenyum sinis.
"Minggir," titah Riola masih bersabar.
"Heh cewek pecicilan, kalau lo mau ngerokok di toilet sana. Sekalian sambil b***k," ujar Rio sang ketua kelas.
"Ola nggak ngerokok!" tegas Riola.
"Dasar cewek munafik, murahan, tukang onar, bisanya mencoreng nama baik kelas dan sekolah. Dasar babu," maki Rio habis-habisan.
Dengan kesal, Riola menginjak kaki Rio dan mendorongnya hingga keluar dari kelas. "s****n!" pekiknya.
Tak ingin memperpanjang, Riola berjalan menjauh dan menuju ke parkiran untuk menagih janji dari seseorang. Siapa lagi jika bukan Rivano yang sudah berjanji akan pulang bareng bersama Riola hari ini.
Senyumnya merekah, ia melihat motor ninja hitam masih menghiasi parkiran sore ini. Itu berarti, kebahagiaan menanti Riola sekarang. Riola berdiri sabar menunggu pemilik motor datang ke sana. Disaat yang sama, ia melihat Violet tengah berbicara dengan Daniel.
"Itu kan kak Daniel ketua osis?" gumam Riola bertanya-tanya entah pada siapa.
"Wah, Vio deket sama cowok gak bilang-bilang." Riola menatap mereka selidik. Violet tampak tersenyum kemudian mereka berjalan beriringan ke parkiran mobil.
"Ooooh pulang bareng ternyata," gumam Riola mangut-mangut.
"Heh!" suara keras dan berat dari seseorang membuat Riola terlonjak kaget.
"Arrggh.." Riola menjerit, merasakan tubuhnya mendadak lemas dan jantungnya meletup-letup saat seseorang berteriak dan menepuk bahunya dengan keras.
"Apaan sih, ngagetin aja!! Kalau Ola serangan jantung gimana?!" cerocos Riola kemudian berbalik dan melihat siapa yang mengangetkannya barusan.
"Lebay," ujar orang itu.
"Ri-rivan? Kirain orang lain yang ngagetin Ola.. Kalau Rivan, di kagetin ratusan kali juga gapapa deh," jelas Riola berseri.
"Oh ya?" Rivano menunggangi motornya dan memasang helm.
"Iya Rivan, kagetin Ola lagi dong," titahnya.
"Ogah."
"Rivan janjikan mau anterin Ola pulang?" tanya Riola tak sabar.
"Janji? Kapan?"
"Tadi waktu di kamar mandi!! Pas Rivan dikunci sama Ola di dalem, Rivan janji mau pulang bareng sama Ola."
"Oh," singkatnya.
Riola manyun merasa sebal. "Kok oh, sih? Pulang bareng, kan?"
Rivano menyalakan mesin motornya dan hendak pergi. Tanpa persetujuan, Riola menaiki motor Rivan sebelum ditinggal.
"Ayo jalan, pacar Rivannya udah siap," ujar Riola penuh tawa.
"Pake helm nya dulu!" Rivan menyerahkan helm yang selalu ia bawa. Untuk berjaga-jaga jika ada yang menumpang pulang seperti sekarang.
Motor pun melaju bersamaan dengan senyum Riola yang tak pernah pudar. Ternyata Rivano menepati janjinya dan mengantarnya pulang. Bagi Riola, ini adalah sesuatu yang sangat membahagiakan.
_
Violet sedang tengkurap di atas kasur miliknya dengan baju rumahan yang ia pakai. Tangannya sibuk memainkan laptop dihadapannya dan bergerak menuju film-film drama korea yang selalu ia tonton di waktu sore seperti sekarang.
Sambil menyaksikan film, sesekali tangannya membalas pesan singkat yang dikirim oleh Daniel.
Kak Daniel ketos
Malam ini jangan lupa, ya.
You
Iya, kak.
Kak Daniel ketos
Jam delapan gue jemput
You
Oke, kak.
"Viooo!!!"
Riola menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh Violet dengan seragam yang masih membalut tubuhnya.
"Aargg, Ola berat," rengek Violet dan berusaha menyingkirkan tubuh Riola dari atas punggungnya.
"Vio nonton drakor nggak ajak-ajak, sih," ketus Riola sambil menyingkir, ia kini tengkurap disamping Violet dan menyaksikan drama yang sudah berlangsung beberapa menit lalu.
"Kamu nya belum pulang. Jadi nggak diajak," ujar Violet sambil terkekeh.
"Harusnya Vio nungguin Ola dulu!"
"Lama."
"Eh, Vio lagi deket sama kak Daniel ya? Cie cie.." goda Riola sambil menatap wajah Violet yang blush.
"Ssstt.. Fokus ke film, Ola!" titah Violet.
"Tapi nanti malem jangan lupa ceritain ya tentang kak Daniel."
"Iya nanti aku ceritain," tutup Violet.
Mereka pun fokus menonton film drama yang baru mereka download kemarin malam.
_
Riola menuruni tangga dengan piyama tidur dan menuju ke ruang makan untuk makan malam keluarga. Hari ini, Prabu pulang awal karena memang tidak banyak pekerjaan di kantornya.
Riola mendudukkan dirinya di kursi ruang makan. "Selamat malam, Pa. Selamat malam, Ma," sapa Riola riang.
"Malam," sahut Mariam dan Prabu bersamaan.
"Gimana sekolah kamu?" tanya Mariam.
"Lancar, Ma."
"Dimana Violet?" tanya Prabu saat tidak melihat puterinya di sini.
"Mungkin masih siap-siap, baru selesai mandi," jawab Riola.
Violet memasuki kamar Riola dan memeriksa laci-laci untuk mengambil sesuatu. "Ayolah, pasti ada di sini," gumamnya tak sabar.
Ia terus mencari sambil berjaga-jaga takut Riola masuk ke kamarnya tiba-tiba. Wajahnya tak lama kemudian berseri, memamerkan lesung pipi yang selalu muncul tiap kali gadis ini tersenyum.
"Ini dia!" Violet keluar dari kamar Riola dan berhasil menemukan apa yang ia cari.
"Itu Vio," tunjuk Riola saat melihat Violet menuruni tangga dengan piyama couple yang sama dengan Riola.
Prabu berdiri dan memeluk Violet sekilas. "Anak Papa tersayang kenapa lama?"
"Iya, Pa. Baru selesai mandi," jawab Violet kemudian duduk disamping Riola.
Semuanya langsung mengalas nasi dan lauk pauk untuk memulai makan malam.
"Oh iya, ini surat apa?" Violet mengangkat tinggi-tinggi sebuah amplop putih ke udara.
Mariam, Prabu dan Riola langsung melihat amplop tersebut bersamaan. Riola terdiam, menjatuhkan sendoknya ke piring dan tiba-tiba tubuhnya merasa lemas. Sedangkan Prabu dan Mariam, masih bingung dengan amplop tersebut.
"Itu surat apa?" tanya Prabu.
"Aku juga nggak tahu. Ola, ini surat lomba atau apa?" tanya Violet kepada Riola yang mulai terlihat pucat. Semua mata kini mengarah pada Riola menunggu jawaban gadis itu.
"Itu.. Itu surat.. Surat panggilan guru BK," Jawab Riola terbata kemudian menunduk takut.
Mariam dan Prabu saling bertatapan sesaat. "Panggilan? Panggilan apa?" tanya Mariam sedikit tegas. Jika menyangkut guru BK, ia tahu puterinya sudah melakukan kesalahan di sekolah.
Prabu menjatuhkan sendok dan garpu ke piring dengan keras. "Kenapa harus tanya lagi? Pasti surat panggilan orang tua karena dia berbuat kesalahan!" sentaknya.
Semua yang ada di ruang makan langsung terkejut mendengar ucapan Prabu yang keras. "Kesalahan apa, Ola?" tanya Mariam mencoba melembut.
"Ola.. Ola cuman.." gumam Riola bergetar.
"Pasti dia merokok, bolos dan membuat kekacauan seperti preman!" sela Prabu.
"Papa, ijinkan Ola menjelaskan," ucap Mariam kepada Prabu yang terlihat sangat marah.
"Sudahlah! Tidak ada gunanya, Ma. Papa tidak butuh penjelasan bohong dari gadis ini!" Prabu menunjuk-nunjuk Riola seraya berdiri. "Papa butuh pembuktian dari sikap dia yang nakal ini, Ma!"
Riola tengadah, memberanikan diri menatap Papanya. "Ola nggak nakal," ungkap Riola dengan air mata yang sudah bercucuran entah sejak kapan.
"Kalau begitu buktikan! Ini lah alasan kenapa Papa lebih menyukai Violet dari pada kamu!"
Setelah mengatakan itu, Prabu melangkah meninggalkan ruang tamu yang masih dipenuhi ketegangan. Riola berdiri, berlari cepat menuju ke kamarnya.
"Riola! Makanan kamu belum habis," teriak Mariam. Namun tak ada reaksi apa pun dari gadis yang ia panggil. Dia sudah pergi meninggalkan ruang makan.
"Vio bantu beresin ya, Ma." Violet berdiri, menumpukan piring bekas keluarga nya yang masih dipenuhi nasi dan lauk pauk.
"Ada masalah apa Ola di sekolah?" tanya Mariam.
"Hm, setahu Vio sih Ola ketahuan ngerokok di kelas."
Mariam mengembuskan napas tak tega. "Dia pasti sangat sedih di marahi Papanya barusan."
"Besok Mama mau ke sekolah nemuin bu Mega?" tanya Violet.
"Mama pasti ke sana."
_
Riola membenamkan wajahnya ke dalam bantal, membanjirinya dengan air mata yang tak pernah berhenti mengalir. Rasanya ini sangat menyakitkan, dimarahi sang Papa tanpa melakukan kesalahan apa pun. Jika Riola benar-benar merokok, ia tidak akan keberatan di marahi habis-habisan oleh siapa pun karena ia mengaku salah. Tapi jika hanya sebatas tuduhan, rasanya sangat tidak adil.
Riola bahkan tidak tahu bagaimana cara menunjukkan sikap baiknya pada Prabu, dia selalu dituduh yang tidak-tidak setiap hari oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Mariam membuka pintu kamar Riola, duduk disamping puterinya yang masih menangis. "Mama besok ke sekolah," ucapnya pelan.
Riola menghentikan tangisannya, ia duduk dan menghapus air mata. "Ola nggak ngerokok, Ma. Sumpah!"
"Mama tahu." Mariam tersenyum merekah. "Kenapa kamu nggak ngasih surat itu ke Mama?" tanyanya.
"Ola takut dimarahin. Makanya Ola sembunyiin," jawabnya.
Mariam membelai rambut puterinya sebentar lalu meraih tas panda puterinya. "Gimana nilai-nilai kamu? Sudah meningkat?"
"Belum, Ma. Ola suka bolos kadang-kadang," jawabnya jujur.
Mariam tersenyum, ia memasukan tangannya ke dalam tas dan mencari buku milik Riola. Namun yang ia temukan di dalam adalah sebungkus rokok dan sebuah korek. Perlahan, Mariam mengeluarkannya dari dalam tas.
"Itu kenapa ada di tas Ola, Ma? Sumpah, itu pasti cuman yang nuduh Ola aja!" Riola mengelak sambil geleng-geleng kepala tak terima.
"Mama percaya. Siapa yang nuduh kamu kayak gini?" kesal Mariam.
Riola tersenyum bahagia, akhirnya ada seseorang yang mempercayai dirinya. "Nggak tahu, tapi Ola janji bakalan nemuin pelakunya!"
"Sekarang kamu tidur. Jangan banyak pikiran, Sayang. Mama besok ke sekolah, ya."
Mariam mengecup kening Riola sesaat kemudian membantu membenahkan selimut Riola.
"Selamat malam, Mama."
"Selamat malam, Sayang."
_
To be continued.
Terima kasih sudah membaca^^