Riola berdiri di gerbang sekolah sudah sekitar delapan menit lamanya. Matanya waspada menatap sekitar menunggu seseorang. Bibirnya membisu dan mengabaikan Violet yang sudah mengajaknya ke kelas berkali-kali.
"Ola, bentar lagi masuk. Kamu gak mau ke kelas?" tanya Violet terakhir kalinya. Ia hanya ingin memastikan, apakah kali ini Riola akan menjawab atau tidak lagi.
"Duluan aja, Ola harus nungguin Rivano." Riola angkat bicara. Pipinya mengembung dan menoleh ke arah Violet sesaat. "Duluan," ulangnya.
Violet hanya menggeleng tak habis pikir dengan tingkah Riola, cewek itu mau-maunya menunggu Rivano di sini selama itu. Violet menepuk bahu Riola sekali kemudian melanglah pelan meninggalkan Riola menuju ke kelas.
Suara motor ninja terdengar dari ujung jalan, Riola langsung melompat-lompat kegirangan saat melihat Rivano dengan helm merahnya melajukan motornya dengan kencang.
Riola merentangkan tangannya dan menghalangi pintu gerbang yang hanya di buka sedikit. "Rivano, Stooop!!"
Rivano melotot, motornya sudah terlanjur kencang dan susah di rem. "Minggir!!" teriak Rivano seraya mengerem motornya mendadak.
"Aaargh...." Riola berteriak dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Motor Rivano kehilangan keseimbangan dan akhirnya terguling. Rivano meringis, merasakan sebelah kakinya tertindih motor besarnya.
Riola membuka mata, melihat Rivano susah payah mendirikan motornya. "Rivan, kok bisa terguling, sih?"
Riola berusaha membantu, namun baru saja ia mengangkat stang motornya, ia langsung menjatuhkannya lagi membuat Rivano kembali tertindih.
"Aargh, Udah lo gak usah bantu! Bikin tambah susah aja," kesalnya.
"Motornya berat," kata Riola santai. Ia tidak merasa bersalah sama sekali dengan kejadian ini.
Pak Alam selaku satpam di SMA VENUS, datang ke tempat kejadian di ikuti beberapa siswa yang mendengar ada teriakan keras di sini.
"Eh, ada apa ini?" tanya pak Alam seraya membantu mendirikan motor Rivano.
"Rivan jatuh, pak," jawab Riola.
Rivano berusaha berdiri dan menepuk-nepuk seragam nya yang kotor. "Iya, jatuh gara-gara lo!" mata Rivano menatap tajam ke arah Riola.
"Ada yang luka? Biar bapak anterin ke UKS ya, Den," ujar pak Alam memastikan
Untungnya, Rivano tidak terluka parah, hanya sedikit irisan aspal di bagian sikutnya.
"Gak usah, pak. Semuanya baik-baik aja, kok. Terima kasih, pak." Rivano kembali menaiki motornya dan menatap penuh perhitungan kepada Riola. Sampai akhirnya, motor Rivano melaju ke parkiran dan semua siswa siswi yang melihat kejadian pergi ke kelas masing-masing.
"Kasihan Rivan," gumam Riola iba. Dia bahkan tidak sadar, bahwa Rivan terjatuh adalah ulahnya.
Bel berbunyi, Riola hendak pergi dari gerbang namun matanya menangkap sesuatu yang tidak asing di matanya. Sebuah handphone berwarna hitam dengan sticker tengkorak di belakangnya, berada di rerumputan dekat gerbang dengan posisi tengkurap.
"Itu kayak handphone nya Rivano?"
Riola berjalan beberapa langkah dan mengambil handphone itu. Benar saja, handphone itu adalah milik Rivano yang mungkin terlempar saat ia jatuh dari motor tadi.
Riola tersenyum, ia iseng memainkan handphone Rivano yang tidak memakai kode apa pun. Ia berjalan menuju ke kelas sambil melihat isi galeri Rivano. Meski begitu, ia tidak berani membuka sosial media Rivan karena itu bersifat pribadi. Di tengah koridor, ia membuka aplikasi kamera dan selfie dengan gaya dua jari terangkat di sebelah pipinya.
Riola tertawa geli. "Muka Ola keliatan lebih tirus kalau pake kamera bagus."
Tanpa izin, Riola menjadikan fotonya barusan sebagai wallpaper di handphone Rivano.
_
Ditengah jam pelajaran, Rivano keluar kelas bersama Dave dan Lukman saat menyadari benda pipih berharga miliknya hilang. Rivano tahu, handphone nya pasti terjatuh di gerbang saat ia jatuh tadi.
Dengan langkah cepat, Rivano menuju ke gerbang sekolah yang jaraknya cukup jauh.
"Gue yakin 100% tuh hape udah ada yang ambil," ujar Dave yang berjalan di belakang Rivano.
"Kita di kelas udah dari tadi lho, mana mungkin tuh hape masih ada di sana," timpal Lukman menakuti-nakuti.
"Enak banget tuh yang nemuin hape nya si Rivan, di jual lumayan." Dave berjalan cepat mengikuti Rivano yang jalannya sama seperti lompatan kelinci.
"Lo berdua bisa diem kagak?" bentak Rivano frustasi.
"Lo tinggal beli aja lagi. Lo kan holang kayah," ucap Lukman lebay.
"Beli-beli, di situ ada banyak yang penting!"
"Apaan? Vidio?" tanya Dave.
"Gue gak pernah koleksi vidio."
"Yakin? Gak kebayang gue kalau yang nemuinnya cewek, buka galeri liat vidio goyang-goyang," ujar Dave kemudian tertawa di ikuti oleh Lukman.
Mereka tiba di gerbang sekolah yang sangat sepi karena semua siswa siswi sedang belajar. Rivano menyapukan matanya ke bawah dengan teliti mencari handphone miliknya itu. "Ini semua gara-gara kakaknya Masha And The Bear!" kesalnya.
"Hah, siapa? Emang si Masha punya kakak?" tanya Lukman penasaran.
"b**o, maksud gue si Riola! Kelas sebelas IPS itu!"
"IPS berapa?"
"Tau ah, pusing gue ngomong sama lo." Rivano berjalan ke post satpam tempat pak Alam berjaga.
"Pak," panggil Rivano dari pintu dan melihat pak Alam malah tidur dengan pulas.
"s****n," pekiknya. Ia mengusap wajahnya yang terasa panas dan berjalan pasrah menuju ke kelas.
Dave dan Lukman mengikuti dan bersyukur akhirnya Rivano mengikhlaskan handphone nya.
"Sabar, Van. Cuman handphone, kok," kekeh Dave.
"Berisik!"
"Nanti deh, gue kirimin vidio yang banyak kalau lo mau," ucap Lukman.
_
Istirahat tiba, dengan semangat, Riola memasukan buku-bukunya ke dalam tas.
"Kamu keliatan semangat banget?" tanya Violet heran. Ia melihat saudarinya ini tidak berhenti tersenyum merekah.
"Seneng banget. Ola mau nemuin Rivano dan ngasih handphone nya ke dia," jawab Riola masih mengembangkan senyumnya. "Duluan, ya." setelah menutup rapat tasnya, Riola berjalan menuju ke pintu.
"Eh, tunggu!" teriak Violet dan berjalan menuju tempat di mana Riola berdiri.
Riola menoleh, "ada apa?"
"Bayar iuran buat dekorasi kelas," ujar Violet. Riola memeriksa saku roknya dan menyerahkan selembar uang.
"Udah ya, Ola mau ke kantin." dengan cepat, Riola melanjutkan langkahnya menuju kantin.
Violet menagih uang untuk lomba lusa dan menghitungnya. Bersamaan dengan itu, kelas sudah kosong dan hanya ada dirinya seorang.
"Hai," sapa seseorang. Violet melihat pintu, terlihat Daniel tengah berdiri di sana dengan tangan terlipat di perut nya.
"Hai, kak," sahut Violet hangat.
"Nggak ke kantin?" tanya Daniel seraya berjalan mendekat.
Violet menggeleng. "Nggak, kak. Sebentar lagi mau latihan di Aula buat lomba ballet nanti," jelasnya.
"Kapan?"
"Tiga minggu lagi."
"Semoga lancar," katanya. Daniel duduk di samping Violet dan menatap gadis itu lekat-lekat. "Gimana semalam makan malamnya?" tanyanya.
"Nice, kak. Lain kali, ajakin Vio keluar lagi ya," kekeh Violet penuh canda.
"Serius nggak kapok semalam makan sama gue?" tanya Daniel memastikan.
Violet menggeleng. "Nggak lah, kak."
Semalam, setelah pertengkaran kecil antara Prabu dan Riola, Violet diam-diam keluar rumah dan menemui Daniel untuk makan malam sesuai dengan yang telah mereka janjikan.
"Ya udah, nanti--" Daniel berpikir sejenak. "Gue ajakin kamu ke suatu tempat," lanjutnya.
"Ke mana?" tanya Violet antusias.
"Ke tempat yang spesial, untuk orang yang spesial," jawab Daniel asal.
"Aku spesial? Why?" tunjuk Violet pada dirinya.
"Karena hanya satu dari ratusan siswi di sini, yang berbakat, pintar, baik hati dan anggun. Yaitu, kamu," jelasnya.
Violet tersenyum malu dan memasukkan sekumpulan uang iuran ke dalam tas.
"Kalau gitu, aku ke Aula dulu ya, kak." Violet pamit kemudian berdiri.
"Gue boleh liatin?"
"Emangnya kakak gak sibuk?"
"Nggak. Lagi santai malah," jawabnya.
"Yaudah, yuk." Violet dan Daniel berjalan bersampingan menuju ke Aula. Sesekali, keduanya berbincang banyak hal tentang hobi dan kesukaan masing-masing.
_
Riola duduk disamping Rivano sejak tadi. Namun laki-laki disampingnya seolah tidak melihat ada mahluk yang tengah memperhatikannya dengan penuh cinta. Cowok itu memilih fokus pada makanannya dan melahapnya santai.
Sementara Dave dan Lukman, izin ke kamar mandi dan belum balik lagi sejak tadi. Jika saja perut Rivano tidak lapar, dia akan segera beranjak dari sini. Mungkin sebentar lagi, menunggu nasi liwet dan telur semur nya habis.
"Rivan, tanya dong sama Ola.... Nanti Ola kasih hadiah, sumpah," ujar Riola lelah. Dia sudah berkali-kali meminta perhatian cowok itu, menginjak sepatunya, merampas sendok,, mencubit pipinya, mencolek belasan kali dan mengoceh tak jelas pun, tak ada yang berhasil membuat Rivano memperhatikannya.
Laki-laki itu sudah cukup marah padanya saat kejadian pagi tadi, rasanya sangat menjengkelkan jika dia mengganggu waktu istirahat nya juga.
"Rivan tahu gak, tadi Ola nemu sesuatu yang berharga banget. Mau tahu gak?" tanyanya.
Rivano menggeleng malas.
"Beneran gak mau tahu?" tanya Riola lagi.
"Nggak!" tegas Rivano agak meninggi.
"Ya udah, tadinya Ola mau kasih handphone-nya Rivan." Riola berdiri angkuh dan hendak pergi.
Rivano tersedak sesaat, dengan cepat tangannya meraih lengan Riola. "Serius?" tanyanya.
Riola menggigit bibir bawahnya senang. "Dua rius!" Riola kembali duduk dan mengeluarkan benda itu dari saku rok nya. "Tadi Ola nemuin ini di gerbang sekolah, kayaknya pas Rivan jatuh handphone-nya juga ikut jatuh." Riola tersenyum di ujung kalimatnya.
Rivano menatap Riola cukup lama, mengambil handphone nya dengan cepat. "Thanks," ungkap nya kemudian memalingkan wajah, meneguk sebotol air mineral dan berdiri.
"Cuman gitu doang? Gak ada niat kasih tumpangan ke Ola?" tanya Riola ikut berdiri.
"Emangnya gue ojek lo?"
"Kan sebagai tanda terima kasih. Coba bayangin kalau handphone nya orang lain yang nemu pasti udah di jual entah kemana," jelas Riola.
"Tapi hape gue jatuh gara-gara lo juga, kan? Kalau lo gak halangin jalan gue, gue sama hape gue gak bakalan jatuh. Paham?" tajam Rivano kemudian melangkah pergi.
Rivano mengecek handphone-nya dan ternyata baterainya habis. "s****n," umpatnya.
_
To be continued.
Terima kasih sudah membaca ^^