Jam telah menunjukkan pukul 14.30, waktunya bubaran SMA VENUS di hari Jum'at ini. Setelah seharian menikmati hari bebas, mereka akan kembali belajar aktif hari Senin nanti. Seluruh siswa mulai berlarian menuju gerbang untuk menunggu jemputan, atau ada yang langsung ke parkiran bagi mereka yang membawa kendaraan. Intinya, semua murid ingin segera terbebas dari hari melelahkan ini.
Violet dan Daniel baru saja keluar dari UKS sehabis mengobati kaki kiri Violet yang terkilir.
"Gue anterin balik ya," tutur Daniel tak mungkin membiarkan Violet pulang sendirian.
"Iya, kak."
"Kamu bisa jalan gak sampai parkiran? Kalau gak kuat gue gendong," katanya.
"Nggak usah, kak. Aku bisa jalan, kok." perlahan, Violet berdiri dan dibantu jalan oleh Daniel menuju parkiran.
Sementara di parkiran, Riola tengah menunggu pemilik motor ninja hitam disampingnya muncul. Hari ini, Riola akan minta diantar pulang seperti yang biasa ia lakukan. Matanya menangkap dua orang yang sedang berjalan untuk memasuki mobil, Riola melihat Violet yang jalannya sedikit pincang.
"Vio!" teriak Riola. Daniel dan Violet menoleh.
"Kaki Vio kenapa?" tanya Riola seraya menghampiri.
"Tadi terkilir pas di ruang olahraga. Tapi udah mendingan. Gue sekarang mau anterin dia balik," jelas Daniel.
"Begitu, ya. Kalau gitu, hati-hati ya Vio."
"Iya. Kamu pulang sama siapa, La?" tanya Violet.
"Lagi nunggu Rivan. Kalian duluan aja, gak usah ngajak Ola."
"Siapa juga yang mau ngajak lo," ujar Daniel setengah bercanda.
"Yey kak Daniel, jahat. Ola gak bakalan restuin kalian," cibir Riola.
"La, itu Rivan udah jalan ke parkiran," tunjuk Violet pada Rivano yang sedang berjalan santai.
"Ah, iya. Kalau gitu Ola pergi ya, bye-bye Vio."
Riola kembali menghampiri motor ninja Rivano dan memakai helm yang ada di sana tanpa izin. Sedangkan mobil Daniel sudah melaju bersama Violet di dalamnya.
Rivano berdecak sebal saat melihat Riola tengah tersenyum merekah ke arahnya. "Ngapain lo pake helm gue? Buka!" titahnya.
"Kan mau pulang bareng," sahut Riola enteng.
"Enak aja. Gak ada bensin. Rumah gue sama rumah lo itu gak deket."
"Ola ongkosin, tenang aja."
Rivano menggaruk kepalanya sebentar, maksud dia bukan begitu. Tadinya Rivano sengaja bilang tidak ada bensin supaya Riola tidak jadi ikut, berada di dekatnya lama-lama bisa membuat dirinya gila perlahan-lahan.
Rivano memakai helm kemudian menaiki motornya. "Gue gak mau."
"Permintaan kedua?" ucap Riola.
"Huh?"
"Permintaan kedua Ola. Rivan tadi ngasih Ola tiga permintaan, kan? Yang keduanya Ola pake sekarang. Pengen diantar pulang setiap hari," jelas Riola.
Rivano bernapas gelisah. Habis sudah riwayatnya, hari-harinya akan sangat menjengkelkan jika bersama Riola terus.
"Oke. Tapi hanya sebulan aja, oke?"
"Iya, deh. Setuju!"
"Buruan naik," titah Rivano.
Dengan senang, Riola menaiki motor Rivano.
"Jangan meluk gue! Awas lo!" tajam Rivan.
"Iya, gak akan."
Motor pun melaju, membawa keduanya beriringan bersama kendaraan lain di bawah cakrawala yang terlihat mendung.
_
Hari Sabtu, waktunya pengumuman lomba "Kelas Kerapihan" yang akan di umumkan di Aula. Para juri yang merupakan guru di SMA mereka, sudah menjelajah seluruh kelas dan menilai semuanya. Dari masing-masing kelas, dekorasinya sangat luar biasa. Namun tidak termasuk kelas XI IPS 1, dekorasi kelas mereka bisa dibilang biasa saja karena sempat mengalami kerusakan kemarin.
Seluruh siswa dan siswi SMA Venus sudah berkumpul di dalam Aula yang sangat luas ini. Setiap siswa harus duduk berdekatan dengan teman sekelasnya. Atau lebih tepatnya, tidak boleh ada yang duduk dengan kelas lain.
"Gue gak yakin kita bakalan menang," ketus Vanessa putus asa.
"Kalau aja kelas kita tetap pada dekorasi awal, pasti bakalan menang. Sayangnya, ada tangan kotor yang merusak dekornya." sang ketua kelas Rio menatap Riola tak suka.
"Ngapain Rio liat Ola sinis gitu?" tegur Riola berani.
"Dih, ngebacot lu tukang ngerusak kelas," cibir Rio emosi.
"Bukan Ola yang rusakin!"
"Halah, munafik."
"Ola gak munafik!"
"Kalau emang nggak ya lo ngaku dong," kesal Rio.
"Harus ngaku apa kalau emang bukan Ola yang rusakin?" teriak Riola ikut emosi.
"Hei, udah!! Kalian gak malu apa sama kelas lain?" Violet berusaha menegahi keduanya. Rio dan Riola saling bertatapan sinis beberapa saat sampai akhirnya kembali fokus ke depan untuk memperhatikan pengumumannya.
Setelah beberapa sambutan dan pembicaraan soal hadiah, kini mulai memasuki pengumuman yang di nanti-nanti semua orang. "Dan, untuk pemenang lomba Kelas Kerapihan tahun ini, jatuh kepada...."
Suara bu Dea membuat seluruh murid gemetar, rasa tidak sabar menguasai diri mereka. Bukan apa-apa, kategori kelas terbaik ini sangat diperebutkan setiap tahunnya. Selain mendapat beberapa hadiah, juga bisa di cap sebagai kelas dengan murid teladan oleh semua guru.
"Selamat untuk kelas XII IPA 3," teriak bu Dea di depan mic-nya.
Kelas Daniel, alias kelas XII IPA 3, langsung bersorak bahagia. Sementara kelas Riola menunduk sedih kehilangan kesempatan besar ini. Daniel, sebagai perwakilan dari kelasnya ke depan untuk menerima beberapa hadiah.
Setelah selesai, semua murid mulai keluar dari Aula dan beriringan ke kelas mereka masing-masing.
"Yey gak menang!! Pasti seneng nih si Itu, karena rencananya berhasil," sindir Vanessa.
"Yoi, selamat ya cewek munafik, lo berhasil," timpal Rio.
Riola berjalan bersampingan dengan Violet, ia merasa panas mendengar u*****n Rio dan Vanessa yang tepat berada di belakangnya.
"Penghancur di kelas kita ya cuman si Itu. Padahal kalau gak ada dia, udah kompak nih kelas kita," cibir Vanessa lagi.
"Udahlah, gak ada gunanya mengumpat sama si Itu, mending kita ke kantin yuk, guys!!" teriak Rio.
Teman sekelasnya langsung bersorak heboh dan berlarian menuju kantin, kecuali Violet dan Riola.
"Kamu nggak kesel dikatain sama mereka?" tanya Violet saat teman-teman mereka sudah tidak ada di sekitarnya.
"Kesel, sih."
"Terus kenapa nggak ngomong apa-apa?"
"Biarin aja, nanti juga capek sendiri. Iya, kan?" tutur Riola.
Violet mangut-mangut, "Sabar, ya. Aku yakin suatu saat mereka bakalan sadar."
Riola hanya membalasnya dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Tiba-tiba mata Riola berbinar, menatap ke arah seseorang dengan bahagia.
"Eh, Rivano!!" teriak Riola saat melihat Rivano ada di depan perpustakaan.
"Ola ke perpus dulu ya, Vio." dengan cepat, Riola berlari menghampiri Rivano.
"Kok gue belum puas ya mainin si Riola? Harus gue buat dia lebih terpuruk lagi?" gumam Violet seraya memperhatikan Riola yang jauh dari pandangannya. Violet melipat tangannya di d**a dan tersenyum sinis. "Ola.. Ola.. Gue seneng banget liat lo digituin sama semua orang."
_
"Gawat-gawat, gue harus pergi dari sini," ujar Rivano kepada Dave dan Lukman ketika melihat Riola mendekatinya. Dengan cepat, Rivan masuk ke dalam perpustakaan.
"b**o, emangnya kalau dia masuk, si Ola bakalan pergi apa?" ujar Dave pada Lukman.
"Bukan Riola namanya kalau gak ikut masuk," sahut Lukman.
Benar kata Lukman, bukan Riola namanya jika tidak ikut masuk ke perpustakaan. dengan langkah cepat Riola masuk ke perpustakaan dan mencari di mana Rivano duduk.
Mata sipit Riola menangkap sosok Rivano di kursi ujung ruangan. Cowok itu sedang memainkan handphone nya tanpa berkutat dengan buku apa pun.
"Hai Rivan," sapa Riola. Ia duduk disampingnya dan menatap Rivan lekat.
Rivano berdecak sebal. "Mau apa?"
"Mau ketemu," jawabnya enteng.
"Ngapain ketemu gue? Gak ada hal penting, kan?" sinis Rivano masih terfokus pada handphone nya.
"Udah Ola bilang, kalau Ola nemuin Rivan artinya KANGEN!" Riola menekankan kata terakhirnya.
"Serah lo."
Riola berdiri, menatap selidik setiap buku yang tertata rapi di lemari dekat mereka. "Rivan suka baca buku?" tanya Riola seraya meraih salah buku yang entah apa.
"Gak."
"Ola juga nggak,"
"Emang ada yang nanya?" Rivan menoleh Riola seolah mengejeknya.
"Rivan, liat. Ada buku cara-cara memasak," ujar Riola antusias. Riola duduk, ia membuka buku resep memasak yang ia temukan dengan semangat.
"Terus?"
"Ola pengen banget bisa masak."
"Kenapa harus lapor ke gue?" sarkas Rivano.
"Rivan mau dimasakin apa? Nanti Ola coba-coba deh masak di rumah."
"Gak usah. Gue gak mau makan makanan buatan lo," cibirnya angkuh.
Riola membuka halaman selanjutnya. "Wah, ada resep membuat kue red velvet, besok Ola buat ini, ya? Besok kan Rivan mau ajarin Ola matematika? Inget kan janji Rivan?" jelas Riola panjang lebar. Bahkan beberapa orang yang sedang fokus membaca pun, menoleh ke arahnya dengan tajam.
"Jangan keras-keras ngomongnya! Orang lain keganggu. Emang besok hari apa?" tanya Rivano tak tahu.
"Hari minggu, Rivan. Besok jemput Ola jam sembilan, ya." Riola berdiri, berjalan ke meja penjaga perpustakaan dan izin untuk meminjam buku resep itu.
Setelah itu, Riola melambaikan tangan ke arah Rivano dan bergegas pergi. Rivano memanjatkan syukur, akhirnya tanpa diminta, gadis itu pergi dengan patuh.
_
To be continued.
Terima kasih sudah membaca ^^