'Tiga Permintaan'

1212 Words
Rivano duduk malas didepan perpustakaan yang tidak dihuni oleh siapa pun, wajahnya gelisah dan pandangannya kosong menatap lapangan utama didepannya. "Van, buruan! Lo gak mau lihat tim Cakra tanding basket?" tanya Dave berkejar-kejaran dengan napas yang menderu. "Lumayan, bisa liat banyak cewek cantik di sana," timpal Lukman. Cakra adalah seorang kapten basket yang tampan dan sangat populer di sekolah mereka, tak heran jika tim Cakra tanding, hampir seluruh siswi akan datang dan melihat aksinya. "Lo gak liat apa muka gue lagi kusut gini?" sentak Rivan seraya menunjuk mukanya. "Elah, tiap hari muka lo emang kusut, kan?" ceplos Lukman. "Ada masalah apa sih, Van? Gue lihat lo itu hidup gak ada happy-happy-nya." Dave duduk disebelah kanan Rivano diikuti Lukman yang duduk disisi yang lain. "Lo liat jam tangan gue yang item gak? Tadi jatuh gak tahu ke mana," ujar Rivan frustrasi. Itu adalah jam kesayangan Rivano yang selalu ia jaga sejak kecil. Rivano selalu memakainya kemana pun dan kapan pun. "Jam tangan pemberian almarhum nyokap lo itu?" tanya Lukman shock, tidak percaya sohibnya menghilangkan barang berharga itu. "Iya. Gue gak tahu harus cari ke mana lagi. Gue udah keliling sekolah dari tadi," ucap Rivano putus asa. "Lo udah cek di ujung dunia?" tanya Dave serius. "Bacot lu, bantuin gue, kek!" tanpa segan, Rivano menjitak kepala Dave. "Kalau jam tangan itu ketemu, lo mau kasih apa ke orang itu?" tanya Lukman. "Kasih ucapan makasih aja cukup," jawab Rivano enteng. "Elah, gak seru banget sih hidup, lo. Nih ya, Van, kalau lu mau mendapatkan sesuatu, setidaknya lu juga harus mengorbankan sesuatu." Lukman menepuk bahu Rivano pelan. "Ya udah, kalau jam tangan gue ketemu sama orang, gue janji bakalan kasih tiga permintaan sama orang itu," jelas Rivano. "Nah gitu, dong. Otw cari gue! Nanti gue mau minta dibeliin pabrik mobil," celetuk Dave. "Sebelum elo gue duluan yang bakalan nemuin, siapin aja delapan cewek cantik sebagai permintaan gue," ujar Lukman tak mau kalah. "Heh, ogah gue kasih kalian berdua yang mahal kayak gitu. Kalau minta itu pake otak." Rivano menjewer telinga Dave dan Lukman sekaligus. "Lepasin, Van, gue mau cari jam tangan lo, nih," mohon Dave kesakitan. "Rivanooo!!!" Rivano melepaskan jewerannya serentak. Ia langsung mengusap wajahnya terganggu tiap kali mendengar suara menyeramkan itu. Siapa lagi jika bukan Riola Permata yang selalu mencari Rivano ke mana pun. "Dari tadi Ola nyariin kemana-mana eh ada di perpus," ujar Riola riang. "Ngapain lo ke sini?" tanya Rivano. "Rivan, kalau Ola nemuin Rivan berarti hanya ada satu alasan," ucap Riola mengangkat telunjuknya tinggi-tinggi. "Apaan tuh?" tanya Dave dan Lukman serentak. "Kangen," jawab Riola kemudian tersenyum manis seperti yang biasa ia lakukan. "Gak sekarang deh, Ola. Gue lagi mumet, mending lo pergi." Riola manyun. "Mulai, deh, kenapa sih Ola selalu di usir?" "Karena lo itu nyamuk yang hobinya keliling di sekitar gue. Ganggu!" cibir Rivano pedas. "Ya udah, Ola pergi. Tapi ingat, lho, nanti Rivan yang bakalan nyariin Ola! Suatu hari nanti!" Riola berjalan mundur menjauhi Rivano. "Liat aja nanti." "Terserah," ketus Rivano masa bodoh. "Awas aja kalau Rivan jatuh cinta!" "Gak bakalan!" "Bakalan!" "Gak akan!" "POKOKNYA RIVANO GAK AKAN BISA HIDUP TANPA OLA!!" teriak Riola. Dave, Lukman dan Rivano langsung melindungi telinga mereka dari teriakan maut itu. "Euh, gadis pecicilan, tuh suara apa toa masjid," cecar Rivano seraya menatap kepergian Riola. Tiba-tiba mata Rivano membulat sempurna, ia berdiri dan langsung mengejar Riola. "Oi Van, lu mau ke mana?" teriak Dave dan Lukman. Rivano tak menggubris, ia terus mengejar Riola. "Riola," panggilnya. Riola tertegun, ia mengenal suara serak basah itu, suara yang selalu terngiang di telinganya siang dan malam. Riola menoleh. "Apa?" tanyanya sombong. "Gue.. Gue..." "Sekarang Rivan suka kan sama Ola? Itu namanya karma!" Riola kembali berjalan. namun dengan cekatan, Rivan menarik lengan Riola dan membuat langkahnya terhenti. "Ada apa, sih? Kalau suka bilang!" "Enak aja, gue cuman mau jam tangan yang lo pake itu," ujar Rivan to the point. "Jam tangan?" Riola mengamati jam yang melingkar di lengan kirinya. "Itu punya gue!" sentak Rivano. "Oh, jadi ini punya Rivan, toh. Tadi Ola nemu di taman di bawah pohon beringin." Riola melepaskan jam tangannya dan menyerahkannya dengan suka rela. Meskipun Riola menyukai jam tangan itu, tetap saja dia tidak mau mengambil barang milik orang lain. Tadinya, dia juga akan mencari siapa pemiliknya, hanya saja dia terhambat karena ingin menyapa Rivano dulu. "Van, kasih si Ola tiga permintaan!" teriak Dave dan Lukman serentak yang muncul entah dari mana. Rivano melotot tajam. "Tiga permintaan apaan?" "Sesuai janji lu PEA, gak usah ingkar deh," ujar Lukman. "Tiga permintaan?" tanya Riola tak paham. Dave dan Lukman menceritakan tentang janji Rivano beberapa menit lalu. Rivano terpojok, ia harus menepati janjinya itu. Bagaimana pun, dia bukan seorang pengecut. "Ya udah, karena lo yang nemuin jam tangan gue, gue kasih lo tiga permintaan. Apa aja asal jangan JADI PACAR GUE!" Jelas Rivano dengan penekanan diakhir kalimat. "Serius? Tiga permintaan?" Riola menatap takjub, tak percaya. Rivano mengangguk. "Iya." "Ola mau.. Em.." Riola berpikir seraya menggigit bibir bawahnya. "Ajarin Ola matematika selama sebulan!" Rivano melongo. "Apa?" "Rivan kan jago matematika, tuh. Ajarin Ola sampai pinter ya, please.." Riola mengatupkan kedua tangannya memohon. "Iya-iya. Tapi jangan tiap hari, seminggu sekali aja!" "Oke. Enaknya hari apa? Gimana kalau hari minggu? Rivan jemput ke rumah Ola pagi-pagi, nanti kita belajar di luar biar gak mumet, gimana?" usul Riola. Rivano mengangguk setuju. Habislah sudah, selama satu bulan minggu paginya akan benar-benar buruk bersama Riola. "Yes! Ola punya dua permintaan lagi, ya? Ola bakalan minta nanti, deh. Bye-bye Rivan." Riola melambaikan tangan kemudian pergi berlalu. "Habis riwayat gue!" pekik Rivano putus asa. _ Daniel dan Violet berada di ruang olahraga dan mencoba berbagai macam alat olahraga yang ada di sana. Keduanya bahkan sudah sangat berkeringat siang ini. Violet merebahkan tubuhnya di atas matras dan bernafas lelah. "Capek juga ya olahraga. Awalnya aku benci olahraga, kak. Tapi karena kakak yang ajak, ternyata menyenangkan juga," kekeh Violet. Daniel menghampiri dan menyerahkan sebotol air mineral. "Gimana kalau skipping?" tantang Daniel. Violet meneguk habis air mineral ditangannya. "Boleh, siapa yang paling banyak dia menang." "Hadiahnya apa, ya?" Daniel berpikir. "Gimana kalau traktir pizza?" "Setuju!" Mereka langsung berdiri, setelah beristirahat sebentar keduanya langsung semangat kembali. Apalagi akan taruhan pizza yang sepertinya akan menyenangkan. "Ready?" tanya Daniel bersiap memulai. "Yes!" Keduanya langsung melompat bersamaan dengan skiping yang mereka putar. Mereka tertawa, melihat wajah lelah masing-masing dari pantulan cermin besar dihadapan mereka. "Aku udah gak kuat," ujar Violet saat sudah memasuki hitungan seratus ke atas. "Jangan paksain," teriak Daniel. "Tapi aku menolak kalah!" Violet tertawa keras. "Oke, kita lihat siapa yang bakalan bertahan," tantang Daniel. "Ketua osis, atau..." Violet berpikir sejenak, mencari nama yang cocok untuknya. Dia tidak punya gelar apa pun di sekolah ini. "Puteri ballerina," sela Daniel. Violet tersenyum. Skiping masih berputar dan sudah memasuki seratus lima puluh lebih. "Aw," pekik Violet dan langsung terjatuh ke lantai. Daniel terkejut, menghentikan olahraganya dan menghampiri Violet cemas. "Vio, kenapa?" "Kaki Vio terkilir," ringis Violet. Daniel menyentuh mata kaki Violet, membuat gadis itu berteriak. "Sakit, kak!" "Ya udah, gue anter kamu ke UKS, ya." Daniel balik badan. "Ayo naik," titahnya. "Naik ke punggung kakak?" tanya Violet. "Iya, buruan. Kaki kamu harus cepat diobatin," katanya. Violet menurut, ia menaiki punggung Daniel dengan susah payah. Daniel keluar dari ruang olahraga dan menuju ke UKS untuk mengobati Violet. _ To be continued. Terima kasih sudah membaca^^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD