[ Sayang? Kok kamu diem aja sih ngomong dong! Bisa kan kamu ke sini jemput aku sekarang? ] tanya Ria lagi dengan nada manjanya itu.
Elang melirik ke arah Naura yang sedang sibuk dengan ponselnya itu.
[ Sayang? Jawab dong! Aku nih udah kelamaan nunggu di sini! ]
Tut ! Tut ! Tut!
Dengan kesal Elang memutuskan sambungan telepon.
"Siapa yang nelepon kamu?" tanya Naura saat Elang kembali naik ke tempat tidur dan berbaring.
"Itu nggak penting, sayang. Yang penting sekarang aku bisa berduaan terus sama kamu," jawab Elang sambil memeluk tubuh Naura lalu mencium keningnya dengan lembut.
Naura yang ditatap sedalam itu oleh Elang hanya bisa menunduk malu.
Elang menghela napas lega, bertemu kembali dengan Naura sudah seperti ia telah mendapatkan kembali jiwanya yang hilang. Kini wanita cantik itu telah berada di pelukannya dan ia tak akan pernah melepaskan Naura lagi, ia akan terus berusaha untuk itu.
"Kamu nggak akan pergi ke manapun lagi, Naura," bisik Elang.
Naura tersenyum nakal. "Emang kamu bisa ngurung aku terus?" tantangnya.
"Bisa," balas Elang dengan tatapan tajamnya yang membuat perempuan di luar sana terpesona padanya.
"Coba buktiin," tantang Naura lagi.
"Siapa takut!" Elang berada di atas tubuh Naura kemudian mereka mulai bermesraan lagi.
"Selama ini kamu ke mana?" tanya Elang lagi, kini ia dan Naura sudah duduk santai di balkon hotel dengan minuman di tangan mereka masing-masing.
Naura terdiam sejenak, ia menatap ke arah lain sedangkan Elang terus menatap ke arahnya sedang menunggu jawaban darinya.
Naura menghela napas. "Entahlah, El. Tapi maaf untuk saat ini aku belum bisa cerita ke kamu tapi yang pasti aku baik-baik aja kok."
"Kamu juga udah cerai kan sama si benalu itu?" tanya Elang.
Mendengar hal itu wajah Naura berubah datar, ia pun mengangguk dengan pelan.
Elang merasa lega sekarang, ia pun tak perlu tahu mengapa sekarang Naura mau dengannya yang pasti saat ini dan untuk kedepannya wanita itu miliknya, miliknya seorang.
Di tempat lain tepatnya di bandara, Ria masih terus menggerutu kesal karena Elang tak bisa dihubungi lagi. Akhirnya terpaksa ia menghubungi sopir pribadinya untuk menjemputnya di bandara.
"Awas kamu, El. Kalau kita ketemu nanti aku bakalan omelin kamu terus! Bisa-bisanya kamu biarin aku nungguin kamu di sini sendirian tapi kamunya malah nggak dateng."
Sementara itu
Seorang wanita yang terlihat modis itu baru saja masuk ke dalam rumah dan ia tak terkejut ketika melihat keberadaan Aldo di rumahnya. Ya, wanita itu Mirna ibunya Elang yang baru saja pulang dari luar negeri.
"Ngapain kamu bawa laki-laki itu ke dalam rumah ini!" seru Mirna dengan penuh amarah, ia menatap sinis ke arah Aldo.
Aldo nyengir karena kaget ia tak sebagai menjatuhkan sendok ke lantai.
Jennifer langsung berhenti makan lalu ia berdiri dari duduknya dan menghampiri ibu tirinya itu.
"Mama, tenang aja ya jangan tiba-tiba marah kayak gitu aku minta maaf, Ma. Mama mendingan istirahat dulu ya di kamar soalnya Mama kan capek habis pulang dari luar negeri," ujar Jennifer dan ia yang membawakan tasnya Mirna.
"Suruh dia pergi dari rumah ini atau kamu yang saya usir dari rumah ini mau kamu hah?" ancam Mirna yang membuat Aldo dan juga Jennifer terbelalak kaget.
"Kejam bener nih calon ibu mertua gue," lirih Aldo yang merinding.
"Jangan dong, Ma. Jangan usir aku dari sini nanti aku mau tinggal di mana, Ma? Emangnya Mama nggak kasihan ya sama aku? Mama nggak kasihan sama Zaki anak aku?" Jennifer tampak memelas.
"Ya udah kalau gitu kamu tinggal pilih lah! Saya mau istirahat!" balas Mirna kemudian ia berjalan menuju ke arah kamarnya yang berada di lantai bawah.
Jennifer membawakan tas Mirna ke kamar ibu tirinya itu kemudian ia kembali ke meja makan untuk menemui Aldo.
"Mas, mendingan kamu pulang aja dulu ya takutnya malah kita nggak jadi nikah loh. Kan kamu tau sendiri gimana sifat Mama Mirna itu? Jangan sampai rencana kita untuk sehidup semati itu gagal ok?"
Aldo mengangguk terpaksa. Oke deh, ya udah aku pulang aja ke kontrakan aku. Kamu baik-baikin aja tuh Mama Mirna biar beliau bisa nerima hubungan kita ini."
"Iya, Mas. Makasih ya atas pengertian kamu."
"Iya."
Jennifer mencium pipi Aldo sebelum kekasihnya itu pergi dari rumah.
Di luar rumah mewah itu Aldo tampak kesal melihat rumah itu.
"Dasar tua bangk* nggak tau diri udah mau meningg*y aja masih aja sombong kayak gitu!" ucap Aldo.
***
Naura memoleskan lipstik berwarna merah ke bibirnya kemudian ia menatap wajah cantiknya itu di cermin.
"Hari ini aku bakalan bikin kamu kaget, Jennifer. Aku pastiin kamu bakal kaget sekaget kagetnya liat aja liat aku yang sekarang," ujar Naura dengan tatapan datarnya. "Siapa yang menabur dia juga yang akan menuai."
Naura turun dari mobil mewahnya sambil menenteng tas brandednya itu kemudian ia merapikan gaun selututnya yang berwarna biru muda. Ia menghela napas untuk mengontrol emosinya barulah setelah itu ia mencoba untuk tersenyum.
Naura masuk ke dalam kafe yang ramai pengunjung, ia pun langsung disambut oleh Celine, teman barunya di geng terhits di sosial media.
"Aduh Naura yang cantik udah dateng!" seru yang lainnya.
"Maaf ya aku datengnya agak telat," kata Naura.
"Nggak apa-apa kok, Ra. Yuk duduk di sini yuk!" ajak yang lainnya dengan ramah.
"Iya."
Naura mulai berbaur dan mengobrol dengan mereka dengan sangat seru. Merekapun mulai berfoto, makan bersama dan berfoto lagi.
"Aduh tas kamu tuh mewah banget deh, ini pasti mahal kan ya? Aduh kemarin aku liat loh tapi aku belum beli," ujar Sinta anggota geng itu juga dengan takjub melihat tas milik Naura tersebut.
Naura tersenyum lembut. "Iya, aku baru beli kemarin," jawabnya dengan anggun.
"Eh aku juga besok mau beli ah! Eh gimana kalau kita pada beli tas kayak punya Naura semua? Biar cocok gitu kalau foto biar samaan gitu? Gimana?" usul Sinta pada teman satu gengnya dan mereka semua pun mengangguk setuju.
"Boleh tuh setuju biar samaan kita! Biar geng kita ini makin viral di sosmed! Biar banyak yang ngikutin ya nggak?" sahut Lisa.
"Iya tuh bener tuh! Hebat ya Naura jadi trend setter loh!"
Jennifer baru saja datang ke kafe, ia datang dengan wajah yang cemberut entah sedang ada masalah apa.
"Aduh Jen, kamu kok baru dateng sih? Kita kita udah pada selesai makan, udah pada foto loh kamu telat deh!" ujar Sinta yang menatap Jennifer dengan tatapan tak sukanya yang sangat kentara itu.
"Iya nih maaf ya soalnya macet di jalan jadinya telat gini deh," ujar Jennifer mencari alasan.
"Iya udah nggak masalah yang penting kamu udah sampai sini," sahut Celine. "Kenalin nih member baru kita, Naura!" ujarnya.
Jennifer terbelalak kaget melihat keberadaan Naura di antara anggota gengnya itu. Sejak kapan ada si Naura di geng aku? Sejak kapan dia gabungnya? Dan kenapa bisa? batinnya tak percaya. Ia menutup mulutnya dan matanya masih mendelik kaget.
Naura tersenyum licik melihat Jennifer yang sangat terkejut itu.