Di Kolam Renang

1242 Words
"Sini dong, kenapa kamu malah diem aja kayak gitu ngelamun!" panggil Celine pada Jennifer yang masih shock itu. Naura yang melihat reaksi dari Jennifer tersebut hanya tersenyum licik. Kaget kan kamu sekarang, Jennifer? Kamu tunggu aja karena aku bakalan ngasih kamu kejutan yang lainnya batinnya. "I...iya." Jennifer pun menghampiri mereka dan ia memeluk mereka satu per satu hingga saat giliran Naura ia pun menjadi canggung. "Hallo, Jennifer? Kenalin aku Naura," ucap Naura dengan senyuman yang ramah yang seolah-olah ia baru pertama kali mengenal sosok Jennifer. Jennifer sempat terdiam lagi setelah ia melepaskan pelukan Naura. "Jennifer?" panggil Naura. "Hah? Apa?" Jennifer tersadar dari lamunannya lalu ia tersenyum paksa. "Kamu kenapa sih kok ngelamun aja?" tegur Sinta. "Perasaan kamu itu kan banyak uang tapi kok kayak orang bingung gitu sih? Kamu kan nggak mungkin lagi bingung mikirin utang atau cicilan," cibirnya. Ia memang tak suka pada Jennifer, terlihat dari lirikan matanya yang sinis pada Jennifer. "Nggak kok, siapa juga yang lagi ngelamun!" bantah Jennifer. Ia pun segera duduk bersama mereka lalu ia meneguk air minum yang sudah tersaji di meja. "Ya udah kalau gitu kita mulai aja yuk arisannya!" ucap Celine selaku tuan rumah. Jennifer diam-diam masih melirik sinis ke arah Naura yang duduknya di samping Sinta di depannya itu. Aku masih nggak abis pikir deh kok bisa sih si Naura yang miskin itu bisa tiba-tiba aja gabung di arisan ini? Setau aku kan yang bisa ikut gabung cuma orang yang berduit aja. Sedangkan Naura itu kan nggak mungkin punya uang banyak batin Jennifer. "Kita kocok yuk! Yuk yuk siapa yang dapet arisan kali ini?" seru Celine dan ternyata yang berhasil menang arisan adalah Naura. "Wah selamat ya, Naura!" seru Celine sambil tersenyum lebar. "Aduh aku kirain aku nih yang dapet arisan tapi ternyata bukan. Tapi nggak apa-apa deh kalau Naura yang dapet, aku ikutan seneng juga. Selamat ya, Naura," ujar Sinta. Naura tersenyum lembut. "Iya, Sin. Moga aja kamu dapetnya depannya ya," katanya. "Harus dong!" sahut Sinta diakhiri tawa. "Ih apaan sih nggak jelas banget!" cibir Jennifer lirih. "Abis ini kamu mau ke mana, Naura?" tanya Celine pada Naura. Acara arisan telah selesai jadi mereka sekarang ini sedang santai sambil menyantap makanan yang tersaji di meja makan. "Kayaknya aku abis ini nggak ke mana-mana deh," jawab Naura. "Oh gitu? Aku kirain kamu mau pergi sama pacar kamu," ujar Celine. "Nggak kok." Naura kemudian melirik ke arah Jennifer. "Aku kan belum punya pacar lagian aku abis cerai," lanjut Naura dan ia tersenyum licik melihat Jennifer yang tiba-tiba saja tersedak dan terbatuk-batuk karena mendengar ucapannya itu. "Kamu kenapa, Jen?" tanya Celine dan yang lainnya. "Aku nggak apa-apa kok," jawab Jennifer berbohong. "Ya udah aku duluan ya, aku mau jemput anak aku di sekolah. Aku duluan ya gengs! Bye!" Ia pun pergi karena tak ingin lagi mendengar sindiran halus dari Naura. "Oke deh hati-hati ya di jalan!" sahut yang lainnya. "Jennifer kenapa ya kok jadi ini dia keliatan aneh banget sih?" tanya anggota arisan yang lain. "Tau tuh mungkin dia lagi ada masalah sama lakinya kali ye," sahut Sinta. "Iya tuh mungkin aja," sahut yang lain. "Udah udah kita jangan jadi tukang gosip, kasian Jennifer kalau dia denger. Mendingan kita lanjut ngobrol yang lain aja yang jauh lebih penting buat hidup kita, tentang bisnis kita misalnya," ujar Celine dengan bijak. Anggota yang lain menuruti Celine, sedangkan Naura tersenyum puas sekarang. Ini baru pembalasan pertama batinnya. "Aku yakin deh tadi si Naura itu lagi nyindir aku, emang sial*n tuh dia! Beraninya dia ngomong kayak gitu bahas soal perceraian. Itu pasti yang lagi dia bahas itu perceraian dia sama Mas Aldo. Sial*n banget dia itu bener-bener kurang aj*r!" Jennifer mengumpat kesal setelah ia keluar dari rumah megah milik Celine tersebut. Jennifer pun pergi ke kontrakan Aldo, ia lebih dulu menoleh ke arah kanan dan kirinya ingin memastikan terlebih dahulu bahwa tak ada orang yang melihatnya masuk ke dalam kontrakan sederhana itu. Ia pun masuk ke kamar Aldo karena ia tak melihat pria itu di ruang tamu. Ia merasa kesal karena pria itu sekarang masih tidur. "Mas Aldo, bangun Mas ini sekarang udah jam berapa kamu malah masih tidur aja!" seru Jennifer sambil membangunkan Aldo. Aldo yang terkejut itupun seketika terbangun dan membuka matanya lalu ia menguap. "Kamu kok bisa ke sini sih?" tanya Aldo sambil mengucek matanya lalu ia menguap lagi. "Aduh bau banget sih kamu! Sana kamu ke kamar mandi dulu cuci muka terus gosok gigi terus mandi sekalian biar seger!" seru Jennifer sambil menutupi mulutnya. "Iya iya ah cerewet banget sih kamu!" balas Aldo namun ia langsung bungkam ketika ia melihat Jennifer melotot padanya. "Iya iya maaf, sayang. Aku ke kamar mandi dulu ya, kamu duduk aja di sini," ujarnya takut-takut. Ia pun pergi ke kamar mandi. "Dasar jorok! Jam segini kok belum mandi sih!" ucap Jennifer yang kesal pada Aldo. "Jennifer jadi perempuan kok galak banget gitu sih mana suka menghina pula ngatain aku ini jorok karena belum mandi. Udah ke sini nggak bawa makanan apapun malah hina aku. Dia itu ternyata jauh banget kalau harus dibandingkan sama Naura yang lemah lembut dan nggak pernah ngelawan ke aku dan Naura juga istri yang menurut. Kalau aja aku nggak cinta sama Jennifer dan kalau aja dia itu bukan anak orang kaya ogah aku lanjutin hubungan sama dia. Mendingan aku cari cewek yang lain yang jauh lebih seksi dan lebih cantik tapi penurut," ucap Aldo panjang lebar saat ia sudah masuk ke dalam kamar mandi. Ia rupanya kesal pada Jennifer yang menurutnya kasar itu. Setelah selesai mandi dan berpakaian, Jennifer pun mulai menceritakan tentang pertemuan dirinya dengan Naura di acara arisan di rumah Celine kepada Aldo. "Ah yang bener kamu?" tanya Aldo. Tentu saja ia terkejut mendengar cerita dari Jennifer tersebut. "Iya, Mas. Nah kan kamu kaget juga sama kayak aku tadi juga kaget liat dia ada di sana. Yang aku heran tuh kenapa dia bisa gabung di geng arisan aku? Yang bisa masuk ke geng arisanku tuh yang duitnya banyak banget sedangkan dia itu kan nggak punya duit." Aldo masih mencerna informasi dari Jennifer tersebut. Apa iya yang dikatakan kekasih gelapnya itu benar adanya? Atau hanya halusinasi Jennifer saja? "Kamu salah orang kali? Kan nggak mungkin tiba-tiba ada Naura di acara kamu itu dia kan nggak punya duit, aku ini kan mantan suaminya jadi aku yang paling tau soal dia," ujar Aldo. Namun ia berhenti bicara saat ia tersadar bahwa setelah mereka bercerai ia sudah tak tahu menahu di mana Naura tinggal dan bagaimana keadaannya. "Tapi bisa juga dia sih orangnya, bisa aja itu emang Naura," ucap Aldo sambil berpikir. Jennifer berdecak kesal. "Ya iyalah itu Naura, emang yang aku liat tadi itu dia. Emangnya aku ini nggak bisa liat apa!" Aldo nyengir. "Hehe iya maaf, sayang." "Aku harus cari tau tentang dia," ucap Jennifer dan Aldo pun mengangguk setuju. "Tapi yang penting kamu nggak diapa-apain sama dia kan?" tanya Aldo. "Ya enggak lah!" "Bagus deh" Diam-diam Aldo tersenyum licik tanpa sepengetahuan Jennifer. Di lain tempat tepatnya di pinggir kolam renang terlihat Naura yang sedang berbaring santai di atas dipan sambil melihat ponselnya. Elang muncul dari dalam kolam renang lalu ia naik ke atas dan menghampiri Naura. Mereka berciuman lalu Elang duduk di dipan yang ada di sebelah tempat Naura berbaring santai sore itu. "Oh ternyata kamu lagi sama cewek lain? Pantesan kamu nggak peduli aku dateng! Kamu jahat, El!" seru Ria yang tiba-tiba saja datang menghampiri mereka dengan wajah marahnya itu. "Ria?" Elang terkejut begitu pun dengan Naura yang ternganga lalu ia menutup mulutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD