"Dasar cewek pelak*r gatel! Beraninya kamu rebut Elang dari aku!" seru Ria dengan penuh amarah. Ia pun menghampiri Naura kemudian ia berniat untuk menamp*r pipi Naura namun tangan Elang menahannya.
"Kamu jangan kasar dong sama Naura!" bentak Elang sambil melepaskan tangan Ria dengan pelan.
Ria menatap Elang dengan tatapan kecewa. "Kamu belain dia? Kamu belain si cewek pelak*r ini? Kamu lebih belain dia dari pada aku tunangan kamu sendiri?" tanyanya sedih. Ia menatap Elang dengan tatapan tak percaya. "Harusnya aku yang kamu bela, El! Bukan dia!" serunya penuh amarah.
"Aku pergi dulu, lebih baik kalian selesaikan urusan kalian berdua," pamit Naura dengan wajah datarnya itu. Ia pun pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua.
"Naura tunggu!" panggil Elang. Namun percuma saja karena Naura tak mau berhenti dan terus melanjutkan langkahnya dengan cepat.
"Ngapain kamu kejar si pelako* itu udah biarin aja dia pergi dari sini!" seru Ria lagi.
"Kamu tuh berisik banget ya. Asal kamu tau ya, Ria. Naura itu bukan cewek gatel dan dia juga pelako* kayak yang kamu tuduhkan itu!" ujar Elang dengan tatapan tajamnya.
Ria mendengus lalu ia tertawa. "Apa? Kamu bilang dia itu bukan pelak*r? Terus apa dong? Perebut tunangan orang? Iya kan? Udah jelas-jelas kok dia itu tadi ciuman sama kamu dan dia pakai bajunya aja menggoda kayak gitu kok kamu bilang dia bukan pelak*r sih!"
"Udah lah aku males jelasin ke kamu!" Elang memotong ucapan Ria kemudian ia pun pergi meninggalkan tunangannya itu.
Ria mencak-mencak sendirian di sana lalu ia bersilang d**a. "Awas aja ya liat aja apa yang bakalan aku lakuin ke si cewek yang namanya Naura itu!" ancamnya.
"Kita liat aja nanti siapa yang bakalan menang, aku tau si cewek gatel nggak tau diri itu," ucap Ria dengan mata yang berkilat marah.
Ria pun segera angkat kaki dari vila itu kemudian ia pergi dengan mobilnya. Ia mengemudikan mobil mewahnya itu dengan ugal-ugalan di jalan untuk melampiaskan rasa amarahnya itu.
"Dasar cewek sial*n!" teriak Ria sambil terus mengemudi.
Elang masuk ke dalam vila pribadinya itu sambil memanggil Naura, ia mencari wanita kesayangannya itu untuk memberikan penjelasan agar Naura tak salah paham padanya. Ia takut wanita itu akan pergi meninggalkannya lagi dan ia tak ingin ia ditinggalkan lagi.
"Sayang?" panggil Elang sambil masuk ke dalam kamarnya dan di dalam sana tepatnya di atas tempat tidur tampak Naura yang hanya memakai kemeja putih tipis itu sedang berbaring seolah menggodanya. Ia tersenyum mes*m lalu menghampiri wanita cantik itu.
"Aku cari-cari kamu ternyata kamu di sini hm?" Elang naik ke atas tempat tidur lalu ia memeluk tubuh indah Naura.
"Aku kan nggak mau ganggu kamu sama dia, El," bisik Naura sambil mengalungkan lengannya di leher Elang ketika pemuda itu berada di atas tubuhnya.
"Udah jangan bahas dia lagi, aku pengen bahas tentang kita aja sekarang ini," bisik Elang lalu ia pun mulai mencium bibir Naura. Ia senang mendengar desahan yang lolos dari bibir Naura ketika ia mencium lehernya dengan lembut.
"Mau lanjut, Sayang?" tanya Elang dengan suaranya yang serak karena bernafsu. Naura mengangguk sebagai jawaban dan ia pun mulai mencumbu Naura dengan penuh kelembutan di setiap sentuhannya yang mampu membuat wanita di bawahnya itu mabuk kepayang dan meminta lebih.
Naura menggigit bibirnya ketika sentuhan Elang menuju ke bawah, rasanya sungguh luar biasa. Sejak bersama Elang ia bisa merasakan dirinya terbang karena sentuhan panasnya. Sungguh pemuda tampan itu menurutnya sangat jago di atas ranjang.
"Lagi, sayang?" bisik Elang saat ia menyentuh Naura secara lebih dan Naura hanya bisa mengangguk lemas dengan wajah yang memerah dan keringat bercucuran.
Sungguh pemandangan yang indah di mata Elang melihat Naura seperti itu, yang sangat membutuhkannya seperti itu.
Dan Elang tak merasa keberatan ketika kuku Naura mencak*r punggung kekarnya itu, ia tahu Naura merasakan perasaan yang bahagia oleh sentuhannya.
Beberapa saat kemudian, Elang pergi ke balkon untuk merokok dan minum kopi sendirian. Naura sedang tertidur lelap jadi ia tak ingin menganggu wanita kesayangannya itu. Lagipula ia sendiri juga lumayan lelah setelah bermain bersama Naura di ranjang.
Ponselnya berdering, dengan malas Elang mengangkatnya.
[ Hallo? ]
[ Woy, bro! Lu lagi di mane sekarang? Sini ke basecamp nih anak-anak udah pada ngumpul semua nih cuman elu doang yang belum ke sini ] itu suara temannya Elang yang menelepon.
[ Lain kali aja gua lagi sibuk! ] Elang menolak ajakan temannya itu.
[ Lagi sibuk apaan lu? Sibuk sama cewek lu? Ya udah lah kalau gitu gua sih no komen dah! Ya udah ye bye! ]
Tut! Tut ! Tut!
Telepon mati, Elang meletakkan kembali ponselnya di atas meja dekat kopi.
"Sayang?" Mendengar suara Naura yang memanggilnya itu membuat jantung Elang berdegup kencang.
"Iya, sayang?" Elang memenuhi panggilan Naura, ia memat*kan rokoknya itu kemudian membuang puntungnya ke lantai. Ia berjalan menuju ke dalam kamar.
Elang tersenyum melihat Naura yang sudah bangun itu.
"Kamu udah bangun, sayang?" tanya Elang. Ia naik ke tempat tidur lalu mencium bibir Naura dengan lembut.
"Iya nih, aku lama ya tidurnya?"
"Nggak kok." Elang mengelus pipi Naura dengan lembut kemudian ia kecup pelan membuat Naura tersenyum.
"Aku mau main di kamar mandi," bisik Naura dengan tatapan nakalnya itu.
"Oke, sayang," balas Elang sambil tersenyum lalu ia mengangkat tubuh Naura dan memberinya ciuman lembut di bibirnya lagi dan lagi. Naura mengalungkan lengannya di leher Elang agar ia tak terjatuh. Mereka berciuman dalam perjalanan ke kamar mandi.
Setelah sampai di kamar mandi, kedua insan yang saling dimabuk gaira* panas itu pun kembali melanjutkan percintaan mereka untuk yang entah keberapa kalinya.
Sementara itu Aldo sedang melangsungkan pernikahan dengan Jennifer di tempat yang rahasia. Ya mereka menikah tanpa ada yang tahu karena Jennifer tahu betul ibu tirinya itu tak akan merestuinya menikah dengan Aldo.
"Sekarang kita udah sah jadi suami istri nih, aku lega banget loh, Mas. Aku bahagia banget, aku sayang banget sama kamu," ucap Jennifer sambil memeluk Aldo.
Kini mereka berdua berada di dalam rumah kontrakan yang mewah untuk mereka tinggali. Aldo yang mengusulkan hal itu karena ia mengatakan Jennifer tak akan nyaman bila tinggal di kontrakannya yang sederhana itu.
"Iya, sayang. Aku juga nih. Aku cinta banget sama kamu." Aldo mencium bibir Jennifer dengan lembut. Mereka pun mulai bercint* sebagai sepasang suami istri.
Setelah memastikan Jennifer tertidur lelap, Aldo pun pergi ke ruangan lain. Di dalam ruangan itu ternyata sudah ada seorang gadis cantik yang hanya memakai daster pendek yang membuat Aldo tersenyum mes*m. Gadis itu menunduk malu-malu duduk di tepi ranjang sambil menarik-narik ujung dasternya agar menutupi pahanya itu.
Aldo duduk di samping gadis lugu itu lalu ia memeluknya dengan mesra.
"Jangan, Mas..." bisik gadis itu malu-malu namun ia membalas pelukan Aldo. Ia bahkan membiarkan pria beristri itu menyentuhnya.
"Nggak apa-apa, sayang. Mau ya?" bisik Aldo dengan bujuk rayunya.
Gadis itu mengangguk membiarkan Aldo menyentuhnya malam itu.