Aldo tampak puas setelah ia menikmati malam yang indah dengan wanita lugu yang ia bawa ke rumah barunya sebagai asisten rumah tangga.
"Aku takut kalau kita ketahuan, Mas," ucap Cindy, si wanita lugu yang sudah memberikan mahkotanya yang berharga pada Aldo dengan iming-iming ia akan dinikahi itu dan ia juga tak merasa keberatan jika harus menjadi yang kedua yang penting ia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
"Kamu nggak usah takut, sayang. Kamu tenang aja ya Jennifer nggak akan tau kok." Aldo mencium pipi Cindy dengan mesra. "Yang penting kamunya itu harus tutup mulut ok?"
"Iya, Mas." Cindy mengangguk patuh.
"Gitu dong! Ini nih yang aku suka dari kamu, sayang. Kamu itu wanita yang patuh dan manis, kamu beda jauh dari Jennifer yang kasar itu. Perempuan kok kasar iya kan? Harusnya jadi perempuan itu yang kayak kamu ini yang lugu, lemah lembut dan juga keibuan dan yang penting kamu itu penurut." Aldo terus memuji Cindy yang menurutnya mirip dengan Naura mantan istrinya itu yang dulu sangat baik hati dan penurut. Ia tak bisa munafik kini setelah ia bercerai dari Naura, ia begitu merindukan sosoknya itu.
Besok aku harus cari tau soal Naura, apa benar yang dibilang sama Jennifer kalau Naura itu bisa punya uang banyak, aku kan jadi penasaran batin Aldo.
Esok harinya
Jennifer pergi ke dapur dan ia merasa kesal karena tak melihat Cindy asisten rumah tangganya yang itu berada di dapur.
"Duh dia itu ke mana sih? Kok bisa sih dapur malah berantakan kayak gini dan bisa-bisanya udah jam segini tuh orang belum masak! Aku sama Mas Aldo mau sarapan pakai apa kalau kayak gini caranya!" Jennifer menggerutu kesal.
"Cindy!" teriak Jennifer dengan penuh amarah sambil berkacak pinggang.
Cindy datang tergopoh-gopoh menghampiri Jennifer.
"Iya, Nyonya saya di sini," jawab Cindy sambil menunduk takut.
"Kamu tuh dari tadi belum bangun? Iya! Kamu ngapain aja kok belum masak, belum cuci piring tuh dapur masih berantakan kayak kapal pecah kayak gitu kamu malah enak-enakan tidur! Kamu itu tinggal di sini makan gratis, apa aja gratis jadi harusnya kamu itu tau diri dong! Kamu harus rajin kalau mau kerja terus di rumah saya ini! Jangan malah males kayak gitu!" seru Jennifer memarahi Cindy.
"Iya maaf deh, Nyonya. Saya minta maaf soalnya saya tadi ketiduran," ucap Cindy.
"Udah jangan banyak alesan kamu ya! Cepetan kamu masak dan lain-lain!" bentak Jennifer.
"I...iya, Nyonya."
Cindy mulai mengerjakan pekerjaan rumah sementara Jennifer pergi ke kamarnya.
Jennifer masuk ke kamar kemudian ia menghela napas panjang. Ia melihat Aldo yang masih tidur pulas itu membuatnya semakin bertambah marah.
"Aku harus banyak-banyak sabar biar nggak cepet mat* nih bisa gawat kalau aku mat*," gumam Jennifer.
"Pagi gini mereka berdua udah bikin aku emosi, yang satunya lelet dan yang satunya lagi malah masih ngebo," gerutu Jennifer.
***
Naura masuk ke sebuah rumah mewah kemudian ia duduk dengan anggun di ruang tamu.
"Gimana perkembangannya?" tanya seorang pria tampan yang berkacamata itu dengan serius.
Naura terdiam sejenak kemudian ia menatap ke arah pria itu, Arsyad namanya.
"Sejauh ini sih lumayan kalau menurut aku," jawab Naura dengan tatapan datarnya itu. Ia kemudian meneguk minuman yang dibawakan oleh asisten rumah tangga di rumah itu.
"Bagus kalau gitu," sahut Arsyad lagi.
"Yang paling penting kamu udah bisa dapetin hati bocah itu," ucap Arsyad lagi.
Naura meneguk lagi minumannya itu kemudian ia letakkan di atas meja dengan anggun.
"Kalau soal itu sih udah dari lama sebenarnya," ujar Naura.
"Maksudnya?" tanya Arsyad bingung.
"Dari lama bocah itu emang udah ada rasa ke aku, dia pernah bilang dulu waktu aku masih punya suami." Naura menjelaskan.
"Terus?" tanya Arsyad lagi ingin tahu.
"Ya jelas aku tolak lah waktu itu kan pas itu aku masih punya suami. Lagian apa yang mau diharapkan dari orang bucin kayak aku ini yang malah nggak tau apa-apa soal si Aldo itu." Naura merasa kesal jika ia teringat saat dirinya dibohongi dan dikhianati oleh Aldo.
Arsyad juga merasakan marah pada Aldo. "Kamu tenang aja, Naura. Aku bakalan terus ada di pihak kamu, biar si pecundang itu dapet balesan yang setimpal atas apa yang dia lakukan ke kamu," janjinya dengan sepenuh hatinya.
"Aku percaya kok sama kamu," sahut Naura.
Arsyad tersenyum tulus sambil menatap ke arah Naura.
Ponsel Naura berdering dan ia pun segera mengangkatnya.
[ Hallo, Naura? Kamu lagi di mana sekarang? Kita jalan yuk ke Mall, aku tau loh tempat makan yang enak! ] itu Sinta yang menelepon.
[ Oke deh. Aku lagi di rumah nih, kamu kasih tau aja alamatnya nanti aku ke situ deh. ]
[ Oke deh! Aku share ya! ]
[ Iya. ]
Sambungan terputus dan Naura pun segera memeriksa notifikasi pesan dan muncul alamat yang telah Sinta kirimkan padanya.
"Telepon dari siapa?" tanya Arsyad.
"Dari temen arisan aku, Sinta namanya. Dan yang aku liat dia itu juga benci sama Jennifer."
Arsyad tersenyum. "Wah bagus dong itu, kamu deketin aja Sinta jadi kan kamu bisa korek informasi apapun dari dia siapa tau bisa berguna buat kamu." Ia memberikan saran pada Naura.
"Iya ide cemerlang tuh," sahut Naura sambil tersenyum senang.
"Iya." Arsyad masih tersenyum.
"Ya udah aku berangkat dulu ya!" pamit Naura sambil beranjak dari duduknya.
"Iya. Kamu hati-hati ya di jalan. Apa perlu aku yang anterin kamu?" Arsyad menawarkan diri.
Naura menggelengkan kepalanya. "Nggak usah lah, aku bisa sendiri kok. Aku pergi ya."
"Iya." Arsyad mengangguk.
Naura pun pergi sedangkan Arsyad menghela napas panjang.
"Semoga aja Naura nggak beneran jatuh cinta sama bocah itu karena aku yang berhak jadi calon suaminya Naura," ujar Arsyad dengan raut wajah yang begitu tulus.
Di Mall
Naura dan Sinta mulai berkeliling melihat-lihat baju yang ada di toko dengan penuh antusias. Sebenarnya yang paling antusias adalah Sinta karena Naura hanya pura-pura saja sebenarnya ia bukan tipe orang yang suka berbelanja. Namun ia sengaja pura-pura seperti itu agar ia bisa lebih dekat dengan Sinta agar tujuannya tercapai yaitu ingin mengorek informasi dari Sinta tentang Jennifer.
Kini mereka berdua sudah berada di dalam restoran untuk mengisi perut mereka yang sudah lapar.
"Wah seru juga ya jalan-jalan hari ini. Ya nggak, Naura?" ujar Sinta dengan penuh antusias dan Naura pun mengangguk setuju.
"Iya bener banget tuh."
"Eh liat deh! Tuh ada anak sekolah yang malah kelayapan di sini padahal sekarang ini kan lagi jam sekolah ya kan?" ujar Sinta sambil menunjuk ke arah gerombolan siswa sekolah yang sedang asyik nongkrong di restoran itu.
Naura melihat ke arah yang ditunjuk oleh Sinta dan ia pun terkejut karena Elang yang termasuk ada di dalam gerombolan itu kebetulan sedang menoleh ke arahnya lalu mengedip genit padanya. Lantas ia menatap ke arah lain karena ia tak ingin Sinta melihatnya sedang berinteraksi dengan Elang bisa gagal semua rencananya.
"Naura kamu kenapa sih kok kayak orang bingung gitu?" tegur Sinta.
"Aku nggak apa-apa kok, itu tadi orang yang aku kenal lewat tapi aku males liat dia jadi buang muka deh," dusta Naura. Ia kemudian menyeruput jus jeruknya dengan anggun.
"Oh gitu? Iya sih buat apa ya kan kita meladeni orang yang bikin kita males ih buang-buang waktu aja deh iya kan?"
Naura mengangguk. "Iya bener capek capek tenaga, buang-buang energi."
"Iya lah, nggak penting soalnya," sambung Sinta lagi lalu ia memakan keripik kentangnya.
"Sinta, aku ke toilet dulu ya! Aku kebelet banget nih!" pamit Naura yang langsung bergegas pergi tanpa menunggu jawaban dari Sinta yang sibuk makan itu.
"Iya oke." Sinta lanjut makan, kali ini ia makan ikan bakar.
Dalam perjalanan Naura menuju toilet, tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik lengannya dengan pelan membuatnya memekik kaget.
"Maaf, sayang. Aku udah bikin kamu kaget ya?" itu suara Elang.
Naura lantas membuka matanya dan ia menghela napas lega karena ia tahu orang itu adalah Elang.
"Gimana nggak kaget kamu tiba-tiba aja narik tangan aku kayak gitu!" omel Naura sambil bersilang d**a.
Elang nyengir kuda. "Hehehe maaf, Sayang. Aku kangen banget sama kamu soalnya."
"Kemarin udah ketemu kok masih kangen aja sih?" tanya Naura.
"Abisnya kamu itu seksi banget dan juga ngangenin," ujar Elang sambil menjawil dagu Naura.
"Gombal ah!" balas Naura.
"Serius, sayang."
"Woy, El! Lu di mane dah! Nih anak-anak udah pada mau balik lagi ke sekolahan nih lu di mane!" seru temannya Elang yang membuat Elang dan juga Naura panik.
"Duh tuh kamu udah dicariin sama temen kamu, buruan kamu ke sana aku mau ke toilet udah kebelet pipis nih," kata Naura sambil beranjak pergi namun lengannya digenggam oleh Elang sehingga ia pun berhenti.
"Eit! Cium dulu dong!" pinta Elang sambil menunjuk ke bibirnya namun Naura menciumnya di pipi kemudian berlari. Elang tersenyum geli sambil memegangi pipinya itu.