Pria Mencurigakan

1000 Words
Naura terbangun dari tidurnya, napasnya memburu dan seluruh tubuhnya berkeringat. Ternyata itu hanya mimpi, pikirnya. Ia menghela napas lega karena semua yang ia lihat itu tidaklah nyata. "Mungkin aku terlalu parno kali ya gara-gara dengerin omongan si Elang itu jadi kebawa mimpi kayak gitu. Itu bocah emang sok tau, dari mana dia tau tentang Mas Aldo? Emangnya mereka kenal?" Naura melihat jam dinding ternyata sudah jam lima sore, ia pun beranjak dari tempat tidurnya ingin mandi. Sebelumnya ia pun masak air terlebih dahulu untuk mandi Aldo. Naura tersenyum lembut. "Aku masakin air buat Mas Aldo mandi, semoga aja nanti Mas Aldo pulang biar nggak kedinginan kalau mandi," ujarnya. Setelah itu barulah Naura masak untuk makan malam ia dan suaminya. Dan setelah selesai masak ia pun mandi dan memakai piyama kali ini. Ia duduk di ruang tamu ditemani segelas teh hangat menunggu suaminya pulang. Ia pun sudah masak "Mungkin habis ini Mas Aldo pulang," gumam Naura. Ternyata Aldo memang pulang, ia mengetuk pintu kemudian Naura yang bergegas membukakan pintu. "Kamu tuh lelet banget sih bukain pintu aja lama banget!" bentak Aldo yang membuat Naura langsung menunduk ketakutan. "Maaf, Mas." Naura tak berani menatap wajah suaminya itu. "Kamu udah masak belum?" tanya Aldo. "Udah, Mas. Aku udah masakin makanan kesukaan Mas Aldo yaitu sayur lodeh dan lauknya ayam goreng." Aldo langsung melotot mendengar penjelasan dari Naura tersebut. "Apa kamu bilang? Kamu masak ayam goreng? Eh Naura yang super lelet, ngapain kamu masak ayam goreng segala? Kamu jangan boros dong kamu nggak usah makan ayam, makan yang lain aja dan duitnya kamu kumpulin buat modal usaha aku. Kan lumayan tuh kalau berhasil duitnya kan jadi banyak!" "Iya maaf, Mas." "Ayamnya buat aku aja kamu jangan makan ayam! Itu kan ada ayam goreng dua potong doang jadi biar aku yang ngabisin kamu makan pakai sayur aja!" "Iya, Mas." "Aku mau mandi dulu nih baju basah semua kehujanan! Gara-gara kamu juga sih ngapain kamu telepon segala tadi aku kan emang lagi males pulang tapi terpaksa deh pulang jadinya kehujanan gini!" Aldo memarahi istrinya itu dan Naura hanya diam menunduk takut. "Maafin aku, Mas." "Maaf maaf terus! Awas minggir aku mau lewat!" hardik Aldo. Ia sengaja menyenggol bahu Naura membuat istrinya itu oleng sedikit. Di lain tempat, terlihat Elang yang sedang berkumpul dengan teman-temannya di basecamp. Di meja ada banyak sekali makanan ringan dan juga minuman es teh. "Keren banget tadi gokil sih gua akuin lu keren dah!" seru Tirta pada Elang. "Ya iyalah siapa dulu dong, bos kita!" sahut Niko temannya Elang dengan bangga. Elang hanya diam saja karena ia sedang sibuk menatap foto wanita cantik di ponselnya itu. Siapa lagi kalau bukan Naura. Ia tersenyum tipis menyentuh foto Naura yang sedang di kantin sekolah itu. "Mas kok akhir-akhir ini nggak pulang sih? Emang tidurnya di mana, Mas?" tanya Naura hati-hati. Mereka berdua sudah selesai makan. Aldo berdecak kesal lalu ia berniat untuk membanting ponselnya itu namun ia urungkan niatnya itu karena masih sayang ponselnya. "Berisik banget kamu! Aku mau tidur di mana aja itu bukan urusan kamu!" bentak Aldo. "Maaf, Mas." "Maaf maaf! Udahlah kamu pergi sana! Aku males liat muka kamu yang sok baik sok lemah itu! Pergi kamu dari hadapan aku!" usir Aldo dengan begitu tega. Yang Naura bisa hanya menangis dan ia pun pergi dari ruang tamu seperti yang suaminya itu perintahkan padanya. Ia berjalan cepat ke kamar dan di atas kasur lah ia telungkup sambil menangis tanpa suara. Menangis tanpa suara itu terasa sangat menyakitkan, bagaimana hati tak sakit jika diperlakukan dengan kasar seperti itu oleh suami sendiri? "Aku bahkan nggak tau salah aku tuh apa tapi kenapa hampir tiap hari aku selalu aja salah di mata Mas Aldo? Aku nggak tau salah aku di mana dan kenapa dia keliatan benci banget sama aku?" Naura terisak-isak, dadanya sungguh terasa sesak. "Aku harus gimana biar dia berubah jadi lebih baik? Aku harus gimana?" Naura menghapus air matanya yang terus mengalir dengan deras di pipinya. Hatinya terasa sungguh sakit karena sebagai seorang istri ia malah diperlakukan dengan kejam oleh suaminya sendiri. Tak lama Aldo masuk ke dalam kamar, ia tersenyum licik melihat Naura. Aku harus bersikap baik ke dia biar rencanaku berhasil batinnya. "Kok kamu belum tidur sih, Sayang? Oh aku tau kamu lagi nungguin suami kamu ini ke kamar ya? Ini aku udah di kamar, sayang." Naura bingung mendengar ucapan Aldo tersebut, itu terdengar mesra dan ia pun bingung dibuatnya. Ia pun duduk menghadap Aldo yang tersenyum padanya itu. "Iya, Mas aku emang lagi nungguin Mas Aldo," jawab Naura takut-takut. "Ya udah aku temenin," balas Aldo sambil naik ke tempat tidur. Naura tampak bingung dengan perubahan sikap Aldo yang seratus delapan puluh derajat itu. "Kamu kok malah bengong gitu sih? Ayo sini bobo Mas temenin kok." Aldo pun berbaring di kasur. "Iya, Mas." Meski Naura masih bingung dengan sikap Aldo yang tak biasa itu namun ia menuruti suaminya itu. Ia pun berbaring di samping Aldo dan ia membiarkan suaminya itu memeluknya. Ia tersenyum lega karena berpikir suaminya sudah mulai berubah. Setelah memastikan Naura sudah terlelap Aldo pun mencoba menghubungi seseorang. Ia perhatikan lagi istrinya yang tertidur pulas itu. Tak berapa lama seorang pria terlihat masuk ke kamar mereka melewati jendela yang tak dikunci. "Gimana?" tanya pria bertopeng itu pada Aldo. "Aman kok, dia udah tidur. Udah lu bawa aja dia sekarang tapi lu serahin dulu duitnya bayar sekarang jangan pakai lama gue butuh banget tuh duit," balas Aldo. "Iya beres." Naura yang mendengar percakapan mencurigakan itu pun terbangun dan ia terbelalak kaget begitu melihat ternyata ada pria lain di dalam kamar mereka. Sejak kapan pria bertopeng tak dikenal itu bisa masuk ke kamar itu? Dan apa maksudnya Aldo mengatakan hal itu? "Istri lu malah bangun gimana nih? Katanya tadi lu bilang sendiri dia udah tidur pules!" protes pria bertopeng itu panik. "Gampang lah udah bawa aja bukan urusan gue lagi dia itu!" Semakin ketakutan lah Naura mendengar ucapan Aldo tersebut. Tubuhnya bergetar ketakutan dan refleks ia duduk dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya yang cantik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD