[ Mana ada suara perempuan! Kamu tuh dasar aneh nuduh orang sembarangan! Orang aku di sini lagi sendirian kok nggak ada orang! Kuping kamu aja tuh yang salah denger! ]
Naura terisak mendengar makian yang amat kasar dari suaminya itu. Ia hanya bertanya tapi tega sekali Aldo memakinya seperti itu.
[ Maaf, Mas. Maafin aku.]
Selalu seperti itu, Naura selalu minta maaf pada Aldo meski ia tak salah sekalipun.
[ Udah deh nggak usah banyak bac*t kamu ya sekarang juga teleponnya aku matiin kamu tuh ganggu aja orang lagi nyantai! ]
Naura hanya bisa pasrah saja dan terus menangis sambil memegangi dadanya yang sesak. Betapa sangat menyakitkan mencintai Aldo yang seperti tak pernah membalas rasa cintanya.
Tut! Tut! Tut!
Naura kembali teringat saat masa masa indah dulu saat ia bersama Aldo. Saat itu setiap ia pulang dari kerja Aldo selalu menjemputnya di tempat kerja dengan motornya. Mereka pulang berboncengan bersama dengan Naura yang memeluk perut Aldo dan ada canda tawa mereka di perjalanan pulang.
Awal mereka berpacaran dengan modal rayuan gombal dan jajan lima ribuan Naura perlahan luluh dalam jerat cinta seorang Aldo yang pengangguran sejati karena pria itu memang malas bekerja. Aldo bisa hidup karena uang yang ia dapatkan dari hasil jual tanah warisan orang tuanya karena Aldo itu anak orang yang berpunya. Namun kini semua tanah warisan sudah ludes untuk berfoya-foya.
"Aku sayang banget sama kamu, Mas." Naura duduk di sofa sambil menangis.
"Padahal dulu pas abis nikah kamu nggak kayak gitu, Mas. Kamu dulu nggak pernah bentak aku dan kamu juga nggak pernah marah ke aku tapi kenapa kamu sekarang berubah, Mas? Kenapa..." Isak tangis masih terdengar di rumah kontrakan yang sepi itu karena hanya ditempati satu orang, Aldo kan jarang pulang.
"Tapi aku harus kuat aku harus sabar semoga aja Mas Aldo bisa balik lagi kayak Mas Aldo yang dulu, suamiku yang baik dan sayang banget sama aku." Naura masih percaya bahwa suaminya itu akan kembali mencintai dirinya.
Di lain tempat
Aldo duduk di samping Jennifer. "Aduh, sayang. Kok kamu tadi malah bersuara sih kalau sampai si Naura curiga sama kita gimana coba? Nanti dia ganggu hubungan kita aku takutnya gitu," keluhnya takut-takut. Ya, ia memang takut pada kekasihnya itu kan Jennifer itu yang berkuasa. Ia bisa punya uang bisa foya-foya kan hasil dari uang yang selalu Jennifer berikan padanya hingga ia bisa.
Jennifer mendelik dan hal itu yang ditakutkan oleh Aldo, pria itu langsung menundukkan wajahnya.
"Kamu kok malah nyalahin aku sih? Emang salah ya kalau aku tadi ngomong? Iya? Aku kan punya mulut ya bebas lah suka-suka aku mau ngomong apa mau diem kok jadi kamu yang nyalahin aku sih? Aneh banget deh kamu itu dasar cowok aneh!" sembur Jennifer.
Aldo pun berlutut di kaki Jennifer sambil memohon maaf padanya agar kekasihnya, sumber uangnya itu tak marah lagi padanya. Bisa rugi ia kalau Jennifer semakin marah padanya dan tak mau memberinya uang.
"Sayangku cintaku kasihku, aku minta maaf ya aku yang salah kok. Aku yang salah tadi itu aku cuma asal ngomong aja kok aku nggak bermaksud nyalahin kamu," pinta Aldo memelas.
"Maaf maaf nggak ada kata maaf buat kamu!" balas Jennifer sambil membuang muka tak sudi untuk menatap Aldo.
"Aku jangan gitu dong, cantik. Biarpun kamu itu cantik tapi kalau kamu marah ya cantiknya kurang," rayu Aldo, ia masih terus berusaha untuk mendapatkan maaf dari Jennifer.
Jennifer menatap Aldo kemudian ia tersenyum licik. "Kamu bakalan aku maafin asal kamu ngasih aku sesuatu yang enak dan yang lama," tantangnya.
Tentu saja Aldo tersenyum lebar mendengar tantangan dari Jennifer. Ia pun mencium tangan Jennifer lalu ia kembali duduk di atas kasur.
"Itu sih gampang, sayang," bisik Aldo sambil menjawil dagu Jennifer dan wanita itu terkikik senang lalu duduk di pangkuan Aldo. Mereka mulai berciuman mesra mungkin akan lama.
Sementara itu
Elang yang berada di dalam kamarnya, ia melepaskan kancing seragamnya lalu ia tersenyum menyeringai menatap banyak foto yang berjejer rapi di dinding kamarnya yang bernuansa gelap itu. Ia mengambil salah satu foto wanita cantik itu kemudian ia mencium fotonya Naura. Ya, semua foto yang terpajang di dinding kamarnya itu adalah semuanya foto Naura dalam berbagai situasi. Ada foto Naura yang sedang berjualan di toko baju, foto Naura yang sedang berjalan sendirian di taman, foto Naura yang duduk sendirian di depan toko baju pun ada. Ia mengambilnya secara diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun.
Elang menempelkan satu foto Naura saat berjualan di kantin, ia lalu tersenyum jahat.
"Kamu harus tau, sayang kalau ada seseorang yang cinta banget sama kamu yaitu aku," ucap Elang sambil menunjuk dirinya sendiri. "Kamu akan tau hal itu, Naura."
Elang mengambil rokoknya dan mulai merokok. Ia tersenyum jahat lagi.
"Sebentar lagi bukan cuma foto kamu doang yang ada di kamarku ini tapi kamu juga bakalan nempatin kamar ini dan tidur bareng aku, Naura. Kamu tunggu aja ya, sayang," ucap Elang penuh tekad. Ia memang sudah seperti stalker saja kan? Sikapnya yang seperti itu terlihat sangat menyeramkan.
Ponselnya Elang yang tergeletak di atas kasur itu berdering tanda ada yang meneleponnya. Elang berdecak kesal karena menurutnya itu sangat menganggu.
"Siapa sih yang nelepon ganggu gua aja!"
Elang mengangkat teleponnya.
[ Hallo, bro! Lu lagi di mana sekarang? ] tanya seseorang yang meneleponnya.
[ Gua lagi di rumah, ada apaan? ] tanya Elang tanpa minat.
[ Sekarang juga lu ke sini dong! Noh ada si Tirta yang nantangin lu balapan! Belagu banget tuh dia kesel banget gua! ]
[ Oke. Di mana? ]
[ Tempat biasa. Oke lu ke sini yak! ]
[ Iye. ]
Tut Tut Tut! teleponnya langsung dimatikan membuat Elang kesal.
"Lah kampret tuh bocah main matiin telepon aje!"
Elang pun segera siap-siap untuk ke lokasi balapan.
Di sisi lain, Naura terbelalak kaget ia tampak shock berat melihat video yang isinya adalah suaminya sedang berhubungan intim dengan wanita lain yang tak lain dan tak bukan adalah Jennifer. Ponsel yang ia genggam terjatuh karena tangannya bergetar, ia menutup mulutnya guna meredam suara tangisnya diiringi air matanya yang mengalir deras membasahi pipinya.
"Tega kamu, Mas! Kamu bener-bener jahat Kamu keterlaluan! Aku benci sama kamu, Mas!" seru Naura.