Ketahuan

1000 Words
"Aku serius, Naura. Aku cinta banget sama kamu dan cuma aku yang sayangnya tulus ke kamu!" balas Elang yang dengan berani ia menggenggam tangan lembut Naura. Ia menatap dengan tatapan yang tajam ke mata cantik wanita idamannya itu. "El, udah deh bercandaan kamu tuh nggak lucu! Sama sekali nggak lucu!" balas Naura sambil melepaskan tangannya dari genggaman tangan Elang. Ia menatap ke arah lain karena tak ingin terpengaruh. "Aku nggak lagi bercanda, aku serius seratus persen serius kalau aku sayang sama kamu." "Nggak! Itu nggak bener itu nggak pantes tau nggak! Kamu nggak pantes dan nggak sopan bilang kayak gitu ke istri orang!" bentak Naura. Ia pun berjalan menerobos hujan dan langsung mencegat angkutan umum yang lewat dan ia pun naik tanpa menghiraukan panggilan Elang. "Sh*t!" maki Elang yang marah karena Naura kabur begitu saja. Di perjalanan Naura terus melamun, ia kembali teringat pernyataan cinta dari Elang. Ia tak habis pikir dengan Elang yang menurutnya bocah itu sangat tak sopan dan tak sepantasnya bicara seperti itu terutama saat menjelekkan Aldo. Mas Aldo itu orang yang baik, dia suamiku dia sayang sama aku dan dia nggak mungkin selingkuh! ucap Naura dalam hati. Ia sangat percaya pada suaminya itu meski memang Aldo sering memperlakukan dirinya dengan kasar namun ia percaya suaminya itu tipe pria yang setia, ia tak mungkin mengkhianatinya. "Turun di mana, Kak?" tanya pak sopir dengan sopan. Naura tetap diam saja dan terus melamun, ia sama sekali tak mendengar pak sopir yang bertanya padanya. "Kak turun di mana? Tuh ditanya pak sopir." Penumpang wanita yang duduk tepat di sebelah Naura sampai bertanya pada Naura karena masih sibuk melamun. "Di depan sana, Bang," jawab Naura. "Makasih ya, Buk udah ingetin saya," ucap Naura dengan sopan. "Iya sama-sama, Neng." Sementara itu, Elang pulang ke rumahnya yang mewah. Ia pergi ke dapur lalu membuka kulkas untuk mengambil air dingin dalam botol dan meminumnya dengan beberapa kali tegukan. Setelah selesai minum, Elang berniat ingin pergi ke kamarnya yang berada di lantai atas. "Kamu dari mana aja, El? Kok jam segini kamu baru pulang sekolah sih? Dari mana aja kamu hah? Main sama temen-temen kamu yang pada nggak jelas itu? Iya?" tegur Jennifer, sang kakak. Ya, Jennifer itu adalah kakaknya Elang. Elang menghentikan langkahnya lalu ia melirik sinis ke arah kakak perempuannya yang sedang duduk lesehan di depan televisi sambil membaca majalah tersebut. "Kenapa sih Kak Jennifer kepo banget? Gua mau pergi ke mana aja itu bukan urusan lu! Urus aja tuh pacar lu si pecundang nggak guna itu!" balas Elang dengan sinisnya lalu ia pun melanjutkan langkahnya menuju ke lantai atas. Ia malas meladeni kakak perempuannya yang menurutnya cerewet dan sok ngatur itu. Jennifer mendelik kesal. "Dasar adek nggak tau diri, aku nanya baik-baik sebagai Kakak yang baik yang perhatian sama adeknya eh malah jawabannya kayak gitu nylekit banget," gerutunya kesal. "Awas aja nanti kalau dia minta apa aja nggak bakalan aku kasih biar dia tau rasa nah rasain tuh. Si El itu kan bisanya cuma minta dan dia kalau udah minta tuh harus, bikin kesel aja emang tuh adek satu!" Jennifer pun memutuskan untuk pergi menemui Aldo di hotel karena kekasih gelapnya itu masih berada di sana dengan uang yang ia bayarkan. Sampai di dalam kamar hotel, Aldo menyambutnya dengan pelukan mesra dan juga ciuman mesra di pipinya namun hal itu tetap tak bisa membuat senyuman di wajahnya muncul. Rupanya ia masih sangat kesal dengan Elang yang tak pernah bisa menghormatinya sebagai seorang kakak. "Dasar adek nggak tau diri nggak tau diuntung! Kalau nggak ada aku mana mungkin kamu bisa hidup," gerutu Jennifer sambil duduk di tepi tempat tidur kemudian ia melemparkan tas mahalnya itu ke lantai karena saking kesalnya ia. "Kamu kenapa sih, sayang? Kok tiba-tiba aja kamu udah marah-marah kayak gitu? Ada apa sih, sayangku cintaku kasihku cantikku imutku?" Aldo ikut duduk di samping sang kekasih gelap lalu ia memeluk tubuh Jennifer. Jennifer menoleh ke arah pacarnya itu lalu ia menyandarkan kepalanya di bahu Aldo, ia ingin bermanja-manja dengan pria itu. "Itu, sayang. Masa si El itu nyebelin banget sih masa ya dia itu tiba-tiba aja pulang, udah pulangnya terlambat terus udah gitu tanpa nyapa aku padahal dia lihat aku loh lagi duduk lesehan. Dan pas aku yang nyapa dia tapi dia malah jutek banget gitu ke aku Kakaknya sendiri. Dia tuh nggak menghargai aku, aku kesel banget deh, kesel parah tuh bocah emang selalu bikin aku emosi tingkat tinggi." "Ya udahlah, sayang yang kayak gitu mah nggak usah kamu pikirin itu nggak penting, bikin capek otak kamu aja. Lagian dia itu kan emang kayak gitu dari dulu juga makanya nggak usah kamu ambil hati lah adek kamu itu," ujar Aldo menenangkan Jennifer sambil mengusap-usap punggung kekasihnya itu dengan pelan. "Iya juga sih, emang ngeselin banget tuh bocah," balas Jennifer. "Emang ngeselin tuh si Elang jadi mendingan udahlah biarin aja ngapain kamu capek capek mikirin adek kamu itu mendingan kamu mikirin aku aja," sahut Aldo lagi yang diakhiri dengan alisnya yang turun naik menggoda Jennifer. Jennifer tertawa dan ia pun memeluk Aldo kemudian ia cium pipi pria itu dengan mesra. Ponsel Aldo berbunyi membuat kemesraan mereka berdua terganggu. Jennifer yang amat marah langsung berdecak kesal. "Dih ganggu aja sih siapa sih yang nelepon kamu mendingan kamu angkat gih biar nggak ganggu lagi!" Aldo pun kesal. "Iya iya." Ia mengangkat teleponnya. Ia semakin kesal saat melihat siapa yang meneleponnya yang mengganggunya saat sedang bermesraan dengan Jennifer. [ Hallo, Mas Aldo? ] sapa suara Naura di seberang sana. [ Ngapain kamu telepon aku! Ganggu tau nggak! Kamu mau ngomong apa sama aku cepetan jangan basa basi nggak jelas! ] Jennifer tersenyum puas saat Aldo membentak Naura. "Rasain! Siapa suruh jadi istri nggak becus makanya suami kamu selingkuh sama aku," ucap Jennifer lirih. Di rumahnya, Naura terbelalak kaget begitu ia mendengar suara wanita yang bersama Aldo di telepon. Refleks ia menutup mulutnya dan tanpa terasa air matanya menetes di pipinya, jantungnya pun berdegup kencang. Apakah yang dikatakan Elang tadi itu benar adanya? [ Mas, itu kok ada suara perempuan? ] Naura memberanikan diri bertanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD