Menyatakan Cinta

1003 Words
Naura pun pergi ke dapur untuk membuatkan kopi. Setelah selesai ia kembali ke ruang tamu, suaminya itu sedang asyik mengobrol di telepon. "Ini, Mas kopinya," ucap Naura sambil meletakkan secangkir kopi panas ke meja di hadapan Aldo. Ia berusaha untuk sabar saat suaminya itu tak menghiraukannya. Naura memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian, saat ia kembali ke ruang tamu suaminya itu sudah tak ada di sana. Ia pun memanggil nama suaminya itu namun tak ada jawaban dan saat ia mencarinya juga tak menemukan keberadaan sang suami. "Aku tinggal bentar kok Mas Aldo udah pergi lagi ya? Pergi ke mana ya dia?" ujar Naura. Ia terlihat kecewa dan sedih karena waktunya bersama sang suami sekarang sudah sangat berkurang. Ia semakin hari semakin merasakan kesepian karena sering ditinggal pergi. "Nggak apa-apa deh, moga aja nanti malem Mas Aldo pulang." Naura tetap berpikir positif pada suaminya itu. Namun harapan Naura ternyata hanya tinggal harapan karena Aldo lagi dan lagi tak pulang membuatnya kecewa dan hanya bisa menangis meratapi kesendirian. Statusnya memang menikah namun hatinya terasa kosong karena Aldo tak pernah mau dekat padanya akhir-akhir ini entah karena apa. Besoknya "Alhamdulillah dagangan hari ini laris manis lagi," ucap Naura dengan penuh rasa syukur. "Aku siap-siap dulu deh biar pulangnya nggak kesorean moga aja Mas Aldo udah pulang." Naura pun mulai bersiap-siap menutup warungnya itu. Ia membawa masuk barang-barang ke lemari dengan sangat telaten. Setelah selesai, Naura bersiap untuk pulang, ia berjalan dengan anggun hingga sampai keluar pintu gerbang sekolah. Ia pun berdiri di sana untuk menunggu angkot bersama para murid yang juga sama-sama sudah pulang sekolah itu. Naura mendongak ke atas melihat langit yang mendung lalu ia menghela napas berat. "Aduh gimana nih mana udah mendung lagi, kalau bentar lagi hujan gimana nih." Sudah beberapa menit Naura menunggu namun belum ada satupun angkot lewat. Ia terus melihat ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan jam setengah tiga sore. "Pulang bareng aku aja yuk, Kak!" Elang menghentikan motornya di depan Naura. Naura menoleh untuk melihat Elang. "Nggak usah, El. Aku pulang naik..." "Udah pulang bareng aku aja, Kak. Nanti aku anterin sampai rumah." Elang langsung memotong ucapan Naura. Ia tak menerima penolakan kali ini. "Ya udah deh ok." Naura pun duduk di jok belakang motor Elang. Elang menoleh ke belakang. "Pegangan aja, Kak. Nggak apa-apa kok." Naura mengangguk, ia memegang seragam Elang dengan gugup karena bagaimanapun Elang itu adalah laki-laki yang bukan suaminya. Elang melajukan motornya meninggalkan sekolah. Senyumnya terus mengembang terlihat dari matanya yang tak tertutup helmnya itu. Tiba-tiba saja hujan turun di tengah perjalanan, Elang menghentikan motornya di toko yang tutup. Mereka berdua pun turun dan berteduh di sana. "Nggak apa-apa ya, Kak kita neduh dulu di sini," ujar Elang. Naura mengangguk sambil menjawab iya. Elang yang melihat Naura kedinginan seperti lantas ia melepas jaket jeansnya sendiri lalu ia kenakan di tubuh Naura membuat wanita itu terkejut. "Nih pakai aja jaketku ya, Kak biar anget." "Harusnya kamu aja yang pakai, El." "Udah pakai aja aku nggak kedinginan kok," balas Elang. "Makasih ya, El." Elang mengangguk sambil tersenyum penuh arti, ia merasa senang melihat jaketnya dipakai oleh Naura. Di tempat lain, Aldo sedang asyik bermesraan dengan Jennifer di kamar wanita itu. Ya, saat ini Aldo sedang menikmati kebersamaannya dengan wanitanya di rumah Jennifer si janda seksi. "Aku kasian deh sama istri kamu itu yang malang itu, dia pasti sekarang ini lagi kedinginan di rumah," ujar Jennifer sambil memainkan kancing kemeja yang dikenakan Aldo. "Ngapain kamu kasian sama dia, dia itu kan perempuan nggak guna. Duit aja dia nggak punya kok apalagi kecantikan dan keseksian yang kami punya ini, sayang," balas Aldo sambil menjawil dagu Jennifer dengan gemas. "Ah kamu bisa aja deh, sayang." Jennifer tertawa kecil karena merasa senang dan bangga mendapatkan pujian seperti itu. "Kalau kamu emang udah nggak sayang sama Naura, kenapa nggak kamu ceraikan aja dia dan nikah sama aku?" "Udahlah nggak usah ngomongin dia lagi mendingan kita lanjut happy happy aja." Aldo kembali berada di atas tubuh Jennifer melanjutkan lagi kesenangan mereka berdua. "Iya nih, hujan hujan gini emang paling pas buat itu," bisik Jennifer. "Iya dong." Di toko yang kosong itu Elang dan Naura masih berteduh di sana karena hujan belum juga reda malah semakin deras. "Waduh kayaknya nih hujan nggak bakalan reda, jangan-jangan kita tidurnya di sini," gurau Elang lalu ia tertawa kecil. Naura yang berdiri di sebelah Elang tampak cemas. "Duh jangan dong moga aja nggak lama lagi hujannya udah reda jadi aku bisa pulang." "Ngapain pulang?" ceplos Elang. "Ya kan biar bisa ketemu sama keluarga kamu dan aku bisa ketemu sama suami aku," jawab Naura. "Suaminya Kak Naura nggak bakalan pulang lagi percaya deh sama aku," ceplos Elang lagi. Sontak Naura menoleh dan menatap Elang dengan tatapan bingung. "Maksud kamu gimana, El? Kok kamu bilang kayak gitu sih?" Dahinya mengernyit heran. Elang menghela napas berat. "Iya. Suaminya Kak Naura itu tukang selingkuh, aku pernah liat dia lagi jalan di Mall sama cewek lain." Naura terbelalak kaget mendengar ucapan dari Elang. Apa? Suaminya selingkuh di belakangnya? Aldo sudah mengkhianatinya? Itu tidak mungkin! batinnya. "Elang kamu jangan bercanda ya, apa maksudnya tiba-tiba kamu ngomong kayak gitu? Mas Aldo nggak mungkin selingkuh? Dia itu suami aku dia nggak mungkin ngelakuin hal itu!" serunya penuh amarah. "Aku cuma ngomong apa yang sebenarnya, Kak," balas Elang. "Nggak! Nggak mungkin!" bantah Naura sambil mendelik tajam dan air matanya pun tak bisa ia bendung lagi sehingga mengalir di pipinya. "Kamu jangan asal nurut orang sembarangan! Kamu itu kan nggak kenal sama suami aku!" teriak Naura lagi sambil sesekali mengusap air matanya. Elang sebenarnya tak tega melihat tangisan Naura namun ia harus mengatakan hal tersebut. "Aku cinta sama kamu, Naura. Aku sayang sama kamu makanya aku nggak mau kamu terus menerus disakitin dan dibohongi si pecundang nggak tau diri itu. Aku nggak rela dia berlaku semena-mena sama kamu," ujar Elang dengan tatapan mata yang tajam. Naura bertambah terkejut dengan pernyataan Elang yang mendadak tersebut. "Kamu tadi udah ngejelekin suami aku dan sekarang kamu bilang cinta sama aku? Kamu itu udah nggak waras ya?" seru Naura yang marah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD