Alunan musik instrumental terdengar mengalun pelan di perpustakan kampus utama. Jihan sedang ingin mengunjungi daripada harus ke perpustakaan di kampusnya sendiri. Perpustakaan utama berada di area rektorat. Meski buku-bukunya tidak sekomplit di perpustakaan tiap kampus, tapi Jihan cukup puas harus mencari ketenangan di sini.
“Han…” Jihan mendongak melihat siapa yang berhasil menemukannya bersembunyi di sini. Setelah melihat, Jihan terdiam cukup lama sebelum akhirnya mempersilahkan orang tersebut duduk dengan senyuman di wajahnya. Badan jihan duduk dengan tegak dan dirinya lalu menunduk, berpura-pura fokus ke bacaannya.
“Lo tumben ke sini?” tanya laki-laki itu.
“Lagi pengen nyari suasana baru aja. Lo juga tumben ke perpus. Selama gue ke sini nggak pernah tuh gue liat lo dan anak Teknik lainnya,” bisik Jihan dengan nada juteknya.
“Karena gue sengaja ngikutin lo.”
Wajah Jihan mulai memerah, mengumpat dalam hati. Kenapa hanya dengan kalimat seperti itu saja jantungnya mulai berdetak tidak karuan, belum lagi dia merasakan panas di pipinya. Ingatan tentang kejadiaan saat terakhir mereka bertemu membuat Jihan semakin menundukkan wajahnya, salah tingkah di depan Dean.
Mereka saling terdiam setelah itu, Jihan sendiri akhirnya memilih untuk memalingkan wajahnya karena Dean duduk tepat di depannya. Batas pertahanan Jihan hanyalah pada tumpukan buku yang dia pinjam tadi. Bukan hanya terkait mata kuliahnya, Jihan juga meminjam buku terkait fashion dan make up yang ajaibnya tersedia di perpustakaan kampusnya.
Jihan mengamati sekeliling, tidak ada yang dia kenal kecuali laki-laki di depannya ini. Ada yang sedang memilih buku, ada yang membaca sambil mendengarkan musik dengan headsetnya, ada juga yang bercanda dengan suara kecil karena petugas perpustakaan sedang melihat ke mereka. Peraturan di sini sama seperti kebanyakan perpustakaan yang ada. Di larang makan dan minum serta tentu saja menjaga ketenangan.
Dean menyandarkan punggungnya, menatap Jihan yang kini tidak mau melihatnya. Gadis itu mencepol rambutnya ke atas hingga anak rambutnya terlihat masih mengurai. Rasa gatal di tangan terasa, ingin rasanya Dean anak rambut Jihan atau malah menurunkan cepol rambutnya. Selama mereka berkumpul, belum pernah Dean melihat Jihan mencepol rambutnya. Gadis itu selama ini hanya menguncir rambutnya dengan sederhana. Hingga akhirnya Dean menyadari ada yang baru menghiasi wajah Jihan. Poni.
Jihan memotong rambutnya dan membentuk poni yang membuat wajahnya bertambah menggemaskan. Keinginan Dean untuk mengacak-acak rambut Jihan semakin kuat. Saat dirinya ingin menggoda Jihan, sesuatu menyadarkan Dean. Dia tidak di sini untuk menggoda Jihan. Dia tidak ada di sini untuk mengulang kesalahan saat itu, mencium Jihan. Bahkan dirinya sendiri tidak menyangka bisa berbuat hal se-implusif itu. Dean memejamkan mata sejenak, menghapus bayangan Jihan di otaknya dengan memikirkan mantan yang selama ini masih menganggu hidupnya.
Saat membuka mata, Netra mereka justru bertemu. Jihan melihatnya dengan pandangan syahdu, matanya membulat sempurna dan kadang berkedip berkali-kali karena salah tingkah, wajah polosnya seperti tidak berdosa sama sekali menyuguhkan muka imut. Dean tiba-tiba terserang kepanikan luar biasa di dalam tubuhnya.
“Ngapain lo liatin gue?!” sentak Dean membuat petugas perpustakaan ikut menoleh karena suara Dean yang besar dan dalam. Jihan terjengit sedikit dan membelalakkan matanya tanpa membuka mulutnya. Gadis itu langsung mengernyitkan dahi, bingung, kesalahan apa yang dia perbuat hingga Dean membentaknya. Jihan melihat ke petugas perpustakaan yang memandang mereka dengan tatapan tajam.
“Ssstt, lo kenapa sih? Abis kesambet setan gara-gara nggak pernah masuk perpus?” bisik Jihan melotot ke Dean.
Iya, kesambet setan. Setannya lo!
Dean menggerutu kecil, mengalihkan pandangannya ke tumpukan buku hingga ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
“Lo lagi tertarik dengan fashion dan make up?”
Seakan sadar maksud Dean, Jihan langsung meraup buku yang dimaksud dan dipindahkan ke sebelahnya, ke tempat yang tidak akan tertangkap oleh penglihatan mata Dean.
“Bukan urusan lo.”
Dean akhirnya paham dengan beberapa perubahan yang ada dalam diri Jihan. Gadis itu mulai belajar untuk berbusana dan merias dirinya. Selain membentuk poni, Dean menyadari bibir Jihan lebih berwarna. Yang biasanya saja tanpa pewarna membuat Dean ingin menciumnya -walaupun sudah terlaksana tapi keinginan itu ada lagi- apalagi sekarang bibir gadis itu sudah berhiaskan warna yang membuatnya tambah mempesona.
“Sejak kapan lo motong poni dan pakai lipstick?” tanya Dean membuat Jihan langsung memegang poninya. Perasaan tidak percaya diri itu muncul bahkan seketika pertanyaan pertanyaan mengenai kepantasan melintas di otaknya.
“Memang kenapa? Nggak pantes ya?” tanya Jihan masih sibuk melihat ke poninya.
“Pantes kok, lo keliatan beda.”
Jihan menghentikan aktivitasnya dan menatap Dean, “dalam artian negatif atau positif?”
“Positif.”
“Serius?”
“Seriuslah, nama baik gue dipertaruhkan kalau gue bohong.”
“Memang lo ada nama baik?” kilah Jihan lalu terkikik kecil. Dean yang tadinya hendak membalas perkataan Jihan memilih diam mendengar merdua suara tawa kecil Jihan.
“Baru tadi pagi sih gue motong poni dan pakai lipstik. Dan tahu nggak? Ini hasil potong gue sendiri loh,” ucap Jihan membanggakan dirinya.
“Bagus loh, kamu berbakat itu karena cuttingnya rapi,” ujar Dean membuat Jihan mengayun ayunkan kepalanya ringan, kegirangan.
“Lo dari rumah langsung kesini?” tanya Dean ingin memastikan sesuatu. Dean sebenarnya tanpa sengaja melihat kendaraan Jihan melintas menuju area Rektorat saat Dean hendak ke kampusnya. Dengan tekad, akhirnya Dean memutar balik mobilnya mengikuti Jihan, menemukan motornya terparkir di parkiran perpus.
Jihan yang masih kegirangan mulai mengangguk kecil. Dean tersenyum menyadari dia orang pertama di kelompok mereka yang melihat Jihan dalam kondisi ‘terbarunya’. Jihan yang akhirnya tidak merasakan malu lagi, mulai mengembalikan buku tentang fashion dan make up ke atas meja, menyandingkannya dengan buku mata kuliahnya.
“Han, lo itu harus percaya sama diri lo sendiri.”
“Iyakah? Tapi gue kan banyak kurangnya.”
“Emangnya gue nggak?”
Jihan lalu mulai mengamati wajah Dean dan penampilan laki-laki itu. Padahal penampilannya sungguh sangat sederhana. Kaos berkerah berwarna biru tua serta celana jeans berwarna hitam, tapi mengapa di mata Jihan itu masih sangat mempesona ya? Jihan lalu mendengus dalam hati, dia tahu apa yang membedakan yaitu kasta dan aura. Kalau orang punya memang auranya suka ngadi ngadi, nggak ngotak efeknya. Dean berdiri saja dahlah pasti sudah banyak yang kesengsem. Kayak sekarang, beberapa mata yang melintasi meja mereka seakan tidak ingin melepas pandangannya ke Dean apalagi diikuti oleh wajah gantengnya yang mirip Song Kang. Tahu kan si mas kupu kupu? Hanya saja lesung pipi Dean terlihat sangat kentara ketika dia tertawa, memperkuat garis wajahnya yang tegas. Jihan masih mengamati, mencari celah kekurangan Dean. Hingga dirinya teringat umpatannya sendiri di hari itu.
“Gue tahu apa kekurangan lo.”
“Apa?”
“Lo itu attitudenya yang kurang, bisa bisanya lo kurang saja nyium...gue,” ujar Jihan akhirnya terbata bata menyadari dia harus mengingatkan mereka kejadian di malam itu. Apalagi tatapan kosong Dean saat dirinya bilang itu ciuman pertama Jihan. Tidak ada permintaan maaf, tidak ada juga sanggahan atas apa yang Dean lakukan.
Dean tertegun sesaat sebelum akhirnya terkekeh ringan. “Then? Gue dan lo sama sama nggak terikat dengan seseorang kan? Lo juga nggak nolak.”
“Lo aja kali, gue enggak,” balas Jihan dengan wajah galaknya. Seketika Jihan sadar dia keceplosan sesuatu.
“Lo enggak? Maksud lo, lo sudah ada hubungan sama orang? Lo udah pacaran sama Bagas?” nada dalam suara Dean mulai menginterogasi Jihan. Jihan mulai terdiam dan panik. Tangannya yang gemetar disembunyikan di bawa meja.
“Gue udah memperingatkan lo sebelum lo mutusin jauh seperti ini? Lo berapa lama jadian? Sebulan? Dua bulan? Ada yang lebih lama daripada lo.”
“Maksud lo? Ada yang lebih lama daripada gue? Mantannya? Memang banyak. Dia sudah cerita semua tentang mantannya ke gue.”
Dean menggelengkan kepala, “serah deh. Kalau ada apa apa, gue tutup mata dan telinga saja.”
Dean langsung berdiri, berlalu meninggalkan Jihan. Melupakan niat awalnya menanyakan ke Jihan kenapa gadis itu menghindarinya dan juga menghindari teman temannya. Setidaknya ada satu alasan yang sudah terjawab.
Jihan masih melongo dengan kata kata Dean, berusaha mencerna dengan kemampuan berpikirnya. Masih belum paham apa maksud dari lebih lama. Tidak ada yang salah kan dengan pernah lebih lama dari dirinya. Dia sendiri ketika menjalin hubungan tentu ingin lebih lama. Jihan kemudian menoleh dan mendapati Dean juga menoleh padanya. Saat pandangan mereka beradu, Jihan menyadari satu hal. Tatapan mata yang menggelap itu akan terus menghantuinya.