Kilasan Masa Lalu

1116 Words
    “Bunda, Bunda pernah nggak ngerasain jatuh cinta sama orang tapi di saat bersamaan ada orang lain yang bikin Bunda tuh nggak nyaman. Tapi nggak nyamannya itu aneh. Kalau orang nggak nyaman kan pasti berusaha ngehindar, berusaha biar nggak berurusan. Kalau ini nggak nyamannya ini tuh malah kebalikannya. Jadi suka diam-diam nyari gitu bikin Bunda meragukan perasaan Bunda sendiri.”     “Dean?”     “Bukan, Bunda. Tadi aku keliru ngasih intro. Ini mah nggak ada kaitannya sama Dean.” Jihan berusaha menghindari pandangan mata Bunda. Bunda hanya bisa tersenyum.     “Terus?”     “Ya itu Bund, kasarannya mah, nggak nyaman tapi ingin liat dari jauh.”     “Kalau jantung kamu berdebar paling kenceng sama yang mana?”     Bunda mendekatkan duduknya ke samping Jihan, membelai lembut rambut Jihan. Menyadari anaknya sudah beranjak dewasa. Sudah mengenal rasa suka yang mendalam ke lawan jenis. Ada rasa sesal yang dalam karena ketika Jihan beranjak dewasa, yang dilihatnya adalah pertengkaran demi pertengkaran. Anaknya lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, tidak percaya diri dalam berteman dan selalu memilih hal baru atau lingkungan baru ketika gagal dalam menjalin pertemanan.     Bunda menghela napas panjang, saat berteman dengan Kanaya dan Tissa, Bunda bersyukur akhirnya Jihan menemukan teman yang tepat untuknya meski masih terkadang anaknya ini masih suka membanding bandingkan dirinya yang banyak kurangnya.     Jihan menoleh ke Bunda, melihat Bundanya dengan tatapan yang dalam. Dirinya sedang membayangkan wajah Dean dan Bagas secara bersamaan. Tapi sama sama membayangkan wajah mereka membuat jantung Jihan berdetak kencang.     “Belum tahu, Bund. Sama sama deg-deg an,” ujar Jihan sedih.     “Eh kok mukanya begitu, mau nangis...kenapa anaknya Bunda itu?”     Jihan kemudian memeluk erat Bunda, menyenderkan kepalanya ke d**a ibunya.     “Jihan jadi kayak ngerasa kelakuan Jihan kayak ayah nggak sih, Bund? Jihan sudah selingkuhin perasaan. Harusnya kan Jihan deg-deg an hanya untuk satu orang saja, cari juga satu orang saja.”     “Hus, deg deg an sama orang bukan berarti selingkuh, dasar anaknya bunda yang kebanyakan over thinking. Bunda kalau liat Lee Minho juga suka berdebar-debar, membayangkan jadi istri sahnya. Pasti mamah masuk surga, karena sudah bawa jadi mualaf,” tawa Bunda membuat Jihan yang mulai meneteskan air matanya ikutan tertawa.     “Bunda ih, halunya ketinggian.”     “Memang kamu nggak? Suka bilang Jeyun mai lop. Bujang bujangku, nggak mgerti Bunda.”     “Ih, itu Jaehyun NCT Bund, my love forever. Yuk Bund kita balapan mualafin mereka,” kata Jihan ngasal. Bunda mengetok kepala Jihan membuat Jihan mengaduh kecil dan memegangi kepalanya. Meski demikian gadis itu masih bergelayut manja di badan ibunya.     “Bunda boleh kasih usul nggak?”     Jihan mengangguk kecil.     “Bunda pengen Jihan nggak tergesa gesa dalam menentukan sikap. Bisa saja suka yang dirasa hanyalah nge-fans semata. Bisa saja, hanya ketertarikan sesaat. Toh ini kan hanya masalah rasa, perasaan yang berdebar. Nggak berujung ke tindakan. Kalau sudah tindakan selingkuh kamu namanya.”     Jihan menelan ludah, Bunda nggak perlu tahu kan kalau Dean sudah mencuri ciuman pertamanya? Jihan langsung menggelengkan kepalanya cepat. Menepis bayangan saat itu. Meski saat bersama Bagas, Jihan ngerasa Bagas terlalu memaksakan skinship yang terlalu sering. Kadang kala Jihan bersyukur bertemu dengan Bagas di keramaian. Rame-rame aja Bagas berani meluk singkat Jihan dan juga pegang-pegang tangan Jihan berkali-kali     “Jadi kalau sudah tindakan artinya selingkuh ya, Bund?”     “Iya, kalau ada hati yang tersakiti saat kita dalam komitmen karena tindakan kita yang berlebihan dengan orang lain, itu yang nggak baik. Bunda nggak ingin...”     Jihan menengadah menyadari suara Bunda berubah serak, pandangan mata Bunda lurus ke depan. Jihan merasa sebentar lagi Bunda akan menangis.     “...nggak ingin kamu kayak ayah kamu.”     Seketika air mata Bunda turun, Jihan segera mengusap air mata Bunda.     “Bunda jangan nangis,” ujar Jihan terisak.     “Bunda nggak nangis,” kilah Bunda ikutan mengusap air matanya.     “Lha ini apa? Bunda kan punya Jihan juga budhe yang meski galaknya naudzubillah bikin orang elus d**a, tapi budhe suka beliin sesuatu ke Bunda kan?”     Bunda menganggukan kepalanya masih terisak. Jihan terus memeluk ibunya hingga akhirnya dia sadar ada bayangan lain di ruangan itu. Jihan menoleh dan mendapati budhenya sedang menatap mereka berdua.     “Ada apa ini? Berisik sampai ke dalam!”     “Maaf, mbak. Ini tadi lagi cerita cerita ke Jihan eh malah nangis,” ujar Bunda menghentikan tangisnya dan menoleh tersenyum ke kakak iparnya. Budhe sampai susah payah keluar kamar dengan kursi rodanya karena mendengar isak tangis di ruang tengah.     “Tentang Hendar?”     Mendengar nama itu tersebut Jihan dan Bunda langsung terdiam membeku. Sudah lama rasanya mereka tidak menyebut atau mendengar nama itu di rumah ini. Jihan lalu gelagapan melihat ke Bunda yang kini tatapannya datar. Nama itu sangat keramat tidak boleh disebutkan atau luka di hati Bunda semakin melebar. Jihan tahu bagaimana susahnya Bunda berusaha melupakan kejadian demi kejadian juga berusaha untuk bangkit sendirian.     “Bukan, mbak,” lirih Bunda, kemudian memutuskan untuk menghindari tatapan mata  budhe.     “Bagus, karena nangisin orang itu cuma buang buang air mata kamu. Kita mungkin malu dengan kelakuannya tapi dia sudah tidak layak dapat perhatian dan jadi beban pikiran. Terutama kamu, Mel.”     Akhirnya Bunda menoleh ke budhe, mereka saling tersenyum dalam diam. Jihan hanya bisa mengamati. Saat seperti ini budhenya memang luar biasa baik tapi kadang kala ketika dalam situasi normal, budhenya suka berbicara menusuk hati. Mungkin memang dasarnya budhe itu jutek masa mudanya.     “Han, makannya budhe mana? Budhe harus minum obat.”     Segera budhe lalu menggerakkan kursi rodanya dengan tertatih masuk kembali ke kamar. Jihan ingin membantu tapi teringat dulu dirinya pernah dibentak budhe. Kata Budhe dia bisa sendiri dan juga dia nggak selemah yang dikira. Bantuin budhe sama saja anggap budhe nggak bisa apa-apa. Beliau nggak suka. Meskipun demikian suka kontradiktif dengan kelakuannya di dalam kamar. Minta diambilin kipas yang jaraknya nggak ada setengah meter dari tangan beliau, minta dinyalain ac padahal remote ada pas di sebelah samping beliau. Jadi intinya permintaan itu harus beliau sendiri yang minta bukan kita yang mengajukan. Ajaib kan? Kadang Jihan saja geleng geleng kepala sama budhe, kelakuannya beda jauh dengan adiknya. Itu yang membuat Jihan ngerasa kenapa Bunda mau merawat budhe. Karena tidak mengingatkannya akan adiknya yang membuat Bunda tersakiti.     “Sudah sana siapin makannya budhe. Inget pesen bunda ya, Han. Nggak boleh aneh aneh pas pacaran, jangan sampai 100% kamu suka dengan orang. Sisakan banyak untuk lebih mencintai diri kamu sendiri. Baru kamu bisa memulai hubungan sehat dengan orang orang di sekitar kamu.”     “Tentang Bagas dan cowok lain yang kamu sedang pikirkan, nggak usah terburu-buru dalam mengambil keputusan. Ingat itu ya?” tambah Bunda. Jihan menganggukkan kepalanya, meyakinkan Bunda bahwa dirinya paham dengan maksud dan kata-kata Bunda,     “Makasih banyak ya, Bund. Jihan sayang banget sama Bunda.”     “Bunda juga sayang sama Jihan.”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD