Bab 11. Posesif

1136 Words
Siang ini, Bara masih berada di kamar. Pria itu terlihat sibuk dengan laptop dan kacamata bacanya, sementara sesekali ekor matanya melirik ke arah ranjang di mana sang istri masih terlelap. Luka di tangan dan kakinya sudah dibersihkan oleh dokter. Jadi, tidak akan ada infeksi atas semacamnya. Tiba-tiba, suara ketukan pintu dari luar yang disusul dengan panggilan dari seseorang membuat Bara mendongak. “Masuk!” ucap Bara mempersilahkan. “Permisi, Tuan. Ini saya Oji!” Bara yang sedari tadi menunggui istrinya segera berjalan menuju sofa. Jika dulu kamar tidurnya akan bebas terlihat dari pintu, kini sudah ada sekat yang terbuat dari bambu sehingga orang tidak akan bisa melihat keadaan atas ranjang. Jangan tanyakan ini usul siapa? Sudah jelas Tisalah pelakunya. Kenapa Bara tidak menolak? Atau, kenapa ia mau-mau saja menuruti kemauan istri kecilnya itu? Alasannya, Tisa dilindungi oh Sanjaya, ayahnya sendiri. Coba bagaimana itu? Bara jelas kalah telak dari Tisa. Mau berdebat pun percuma. Untuk tidurnya, mereka terpisah. Bara di ruang kerja, sedangkan Tisa di ranjang. Semua itu dilakukan karena ia belum bisa menerima keberadaan sang istri dalam hidupnya. “Bagaimana hasil pencarianmu hari ini?” Bara menerima berkas yang diberikan oleh Oji, orang suruhannya. Ia lalu membaca dengan seksama sambil mendengarkan Oji menjelaskan. “Dari saksi yang kami tanyai, Galuh memang sering sekali menganiaya Nona Tisa pada waktu dulu, Tuan,” jeda Ohi terlihat sungkan. “Lanjutkan!” ujarnya memerintah. Ia masih berusaha mempelajari semuanya sebelum mengambil langkah apa yang akan dilakukan. “Bahkan ada suatu kejadian, tepatnya 3 tahun lalu yang mebuat gempar warga sekitar.” Kening Bara mengernyit. “Apa itu? Pembunuhan? Pemerkosaan? Atau, hal lainnya?” “Bukan, Tuan.” “Lalu?” Satu kaki Bara diangkat dan menjadikan kaki yang lain sebagai tumpuan. Punggung bersandar dengan kedua tangan disilangkan di depan d**a. “Tuan Galuh hendak membunuh Nona Tisa dengan samurai.” “Apa?” Dia terkejut, tetapi kembali melanjutkan pertanyaannya. “Bagaimana bisa? Bukankah Tisa itu ponakan nya sendiri?” Bara tak habis pikir dengan pikiran orang seperti Galuh. Mereka melakukan berbagai macam cara untuk melampiaskan kegilaannya. Tindakan kekerasan kepada anak di bawah umur jelas sangat tidak dibenarkan. Akan tetapi, Bara tidak terlalu kaget dengan kelakuan dari Galuh. Ia sudah menduga ketika acara pernikahan yang seharusnya melibatkan anak dari Galuh sendiri, kemudian karena alasan Ratna kabur sehingga menumbalkan Tisa menjadi istrinya. Bara diam bukan karena menerima, melainkan ia sedang mencari cara di mana bisa menghancurkan perusahaan milik Galuh. Pria tua itu terlalu rakus dengan yang namanya harta sehingga membuat gelap mata. Selain itu, Galuh sangat mudah untuk dibodohi oleh orang lain dan Bara sangat menunggu akan kejatuhan dari paman istrinya. “Kejadian itu di mana?” tanya Bara setelah sekian lama terdiam. “Di halaman rumahnya, Tuan. Waktu itu, Nona baru saja pulang dari sekolah dan tiba-tiba pamannya mengeluarkan samurai dan mengancam akan membunuh Nona. Semua warga yang melihat tidak berani menolong karena ketakutan duluan, bahkan,” jeda Oji sambil melirik ke arahnya. “Katakan! Jangan berbelit-belit!” titahnya. “Itu, Nona mengalami luka parah di bagian punggung karena terkena sabetan samurai!” Bara mengepalkan tangannya erat ketika mendengar cerita dari masa lalu Tisa. “Ternyata masa lalunya begitu menyedihkan,” gumamnya. “Beruntung ada orang yang membawa Nona ke rumah sakit. Jika sedikit saja tak segera ditolong, kemungkinan … tidak tertolong lagi,” tandasnya mengakhiri cerita. Ada perasaan marah dan juga iba, tetapi ia tutupi dengan wajah datarnya. Bara kemudian melempar berkas tersebut di atas meja, menatap Oji sebentar. Seolah tahu apa yang dimaksud, Oji segera membungkuk. “Baik, Tuan. Saya akan melaksanakan perintah, Tuan.” Setelah itu, pria itu undur diri dan meninggalkan Tuannya di kamar. “Ternyata selain rakus, pria tua itu juga psychopath,” gumam Bara. Pandangannya terarah ke arah seiat bambu di mana di belakangnya ada istrinya yang masih terlelap setelah diberi obat penenang oleh dokter. Akhirnya, Bara berjalan menghampiri ranjang. Sebenarnya, ia menyimpan banyak tanda tanya di kepala. Namun, semua pertanyaan itu disimpan sendiri. Apalagi, ketika ia sudah sampai di pinggir ranjang. Wajah polos dan damai Tisa langsung menyapa mata Bara. Tidak ada lagi tangisan, atau teriakan histeris yang sempat tadi pagi memenuhi ruang kamar mereka. “Kapan kau akan bangun? Hm!” Bara menempati sisi kosong di samping sang istri. Tangannya dengan lancang membelai wajah mulus Tisa. Halus dan lembut jelas sangat terasa menyengat kulitnya. Tiba-tiba, ia menguap. Melihat istrinya yang tertidur membuatnya ingin ikut menyelami mimpi. Akhirnya, Bara memutuskan untuk bergabung. Ia menyusupkan tangannya di bawah kepala Tisa secara perlahan, sementara tangan satunya lagi memeluk tubuh mungil itu. Sebelum memejamkan mata, Bara berujar, “Aku harap setelah ini kau baik-baik saja!” Ucapan itu tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam. *** Sore harinya, Bara terbangun sendirian. Matanya mengerjap, mencari keberadaan sang istri. “Bocah! Kamu di mana?” Pria itu meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Setelahnya, ia terpaksa bangun karena tidak menemukan keberadaan sang istri. “Itu bocah ke mana, sih? Orang lagi sakit, kok, malah pecicilan,” dumelnya. Akan tetapi, niat untuk pergi terganjal karena mendengar suara kucuran air, dan nyanyian dari dalam kamar mandi. Untuk beberapa saat, Bara terpukau dengan suara Tisa yang cukup merdu. “Eh!” Bara mengerjap. Ia segera menepis pikiran tersebut. “Sial! Bagaimana bisa aku cemas gegara bocah ingusan itu!” “Sebaiknya aku bersih-bersih di sebelah!” ujar Bara, sebelum akhirnya ia menghilang dari balik pintu ruang kerjanya. Ia akan mandi di sana, lalu pergi ke ruang makan untuk bergabung dengan ayah dan adiknya. Selesai mandi, Bara kembali ke kamar dan menemukan istrinya tengah membebat luka di kakinya sendiri. Ia mendesah lelah sambil berjalan menghampiri Tisa. “Sini!” Pria itu langsung merebut perban yang sedari tadi dipegang Tisa. “O-om.” Suara gadis itu terdengar canggung, lalu Tisa berniat menarik kaki, tetapi segera ditahan oleh Bara. “T-tisa bisa sendiri, kok, Om,” sambungnya terbata. Bara memilih untuk mengabaikan. Ia tetap memperban telapak kaki istrinya seperti yang diajarkan oleh dokter tadi. “Lain kali jangan turun dulu sebelum aku bangun!” “M-maaf, O-om,” cicit Tisa dengan kepala tertunduk. Kening Bara mengernyit, tapi setelah itu menghela napas. Diangkatnya dagu Tisa hingga mereka saling menatap satu sama lain. “Kenapa minta maaf? Hm!” “Tisa udah ceroboh dan buat keributan tadi pagi.” Ada penyesalan, takut, juga malu dari tatapan Tisa. Bara mengangguk mengerti. “Ok, kali ini aku maafkan. Tapi, jika suatu waktu kamu membuatku seperti ini lagi, aku gak janji akan memaafkanmu!” Gadis itu langsung mengangguk dan mengangkat kedua jarinya hingga membentuk tanda ‘v’. “Tisa janji gak akan melakukan itu lagi, Om!” katanya serius. “Auw, sakit, Om!” keluhnya karena Bara menekan bekas lukanya. “Makanya gak usah bikin orang khawatir, Bodoh!” Sebelum pergi, Bara menoyor kening istrinya. Akan tetapi, langkahnya terhenti ketika mendengar suara manja dari belakang bahunya. “Om, gendong!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD